Air Mata Pengantin

Air Mata Pengantin
Pertemuan Keluarga


__ADS_3

.


Tangan Garry ditarik masuk oleh Kadita.


Kadita benar-benar dibuat emosi setelah berbicara dengan Alice mengenai perihal Esme, hingga tanpa sadar ia melupakan sesuatu, ia belum juga melepaskan tangan Garry.


Garry hanya terdiam melihat tubuh bagian belakangnya. "Kadita, sebenarnya ada apa dengan Alice dan Esme?" tanya Garry.


Kadita langsung tersadar, ia melepaskan begitu saja tangan Garry.


"Mm... seperti yang sudah kau dengar," Kadita berlalu meninggalkan Garry.


Garry langsung menarik tangannya hingga tubuh mereka beradu dan Garry memeluknya dari belakang.


"Kadita, maafkan aku...," bisiknya lembut. Nafas Garry meresap masuk menggeliat di sekitar leher Kadita.


Maaf? Apa maksudnya? (Batin Kadita)


Kadita berusaha melepaskan pelukan erat itu, tapi tangan Garry yang melingkar di perutnya begitu sulit dilepaskan.


"Lepaskan aku!" nada bicaranya sedikit meninggi.


"Aku akan melepaskanmu, tapi kau harus berjanji mau memaafkanku," lagi-lagi nafas yang berhembus dari hidungnya membuat Kadita menggeliat geli.


"Aku tidak mengerti dengan apa yang kau bicarakan! Cepat, lepaskan!" Kadita semakin kesal.


"Aku minta maaf karena sudah membuat rumah tangga kita berantakan seperti ini. Kita hanya salah paham saja. Jadi, kau jangan marah lagi padaku, ya. Kita bangun rumah tangga seperti pada umumnya."


Ada apa dengannya? Apa Garry mulai tertarik padaku? Atau, dia hanya berpura-pura saja agar bisa mendapatkan tubuhku? (Batin Kadita)


"Aku akan menerima permintaan maafmu jika kau melepaskan aku," ancamnya.


"Diam, jangan bergerak!!! Satu hal lagi... maafkan aku sudah membuatmu sangat cemburu," ucap Garry.


"Cemburu? Kapan aku cemburu?" Kadita menyangkalnya.


"Sudahlah, tidak perlu ditutup-tutupi lagi. Sekarang aku sudah tahu kau itu menyukaiku, setiap kali aku membawa wanita kerumah, kau berpura-pura tegar dan bersikap dingin, menutupi kecemburuan itu dengan berpura-pura baik pada wanita yang aku bawa, sebenarnya hatimu sangat sakit 'kan saat melihatnya?" kata Garry.


Jantung Kadita berdegup kencang. Pipinya merah merona. Sejak kapan Garry menyadari hal itu?


Garry memutar tubuh Kadita yang masih mematung. Ia memeluk mesra tubuhnya.


"Tidak usah takut. Jatuh cinta itu bukanlah sebuah kejahatan," ucapnya lirih sambil mengelus-elus rambut Kadita. "Kadita, sebenarnya aku baru menyadari bahwa aku juga mencintaimu. Jadi... bagaimana jika kita tata ulang rumah tangga kita? Kita mulai dari nol lagi, ya? Besok kita minta libur kerja, aku akan membawamu bulan madu. Kau mau pergi kemana?" tanya Garry.


Blush...


Wajah Kadita benar-benar sangat merah saat mendengar Garry mengatakan 'bulan madu'.


Suara detak jantung Garry pun terdengar jelas di telinga Kadita yang sedang menempel di dadanya. Sepertinya Garry berpura-pura berani mengakui cintanya, tapi sebenarnya di dalam hatinya ia sangat gugup.


Kadita tersenyum kecil.

__ADS_1


"Aku... aku masih ragu. Aku takut, jika aku memberikan hatiku, kau malah menyakitinya." Kadita melepaskan pelukan itu.


Garry langsung berpikir keras, bagaimana cara membuktikannya?


Kemudian ia memalingkan tubuh Kadita, mendorongnya hingga punggung Kadita terhentak ke dinding, Garry mengurungnya dengan kedua tangan kanan dan kirinya.


Tatapan mereka beradu..


Wajah Garry semakin mendekat.


Dag..


Dig...


Dug...


Semakin dekat...


Jantung Kadita sudah meletup-letup bagaikan popcorn. Instingnya sudah mengetahui, hal apa yang akan terjadi selanjutnya.


Tubuhnya enggan, tapi jiwa dan pikirannya memaksa.


Akhirnya kedua bibir mereka bersentuhan. Garry mulai melum*tnya, memainkan bibir bawah Kadita. Bibir Garry bagaikan kapas yang menempel, begitu lembut menyentuhnya.


Kadita menutup matanya, meresapi apa yang sedang terjadi.


Ciuman lembut ini meneruskan informasi ke otak untuk melakukan aksi selanjutnya.


Ketika kata-kata tidak bisa membuktikan bagaimana besarnya rasa cinta Garry pada Kadita. Garry memilih cara ini untuk membuktikannya.


*****


*****


*****


Hari ini, dua keluarga akan bertemu di salah satu restoran, orang tua dari Alucard dan ayah dari Esmeralda.


Tn.Harits tidak mengikut sertakan Ny.Hilda, karena ia sedang memproses surat cerainya di pengadilan. Ia tak ingin Ny.Hilda membuat keributan atau membuat malu di hadapan besannya.


Tn.Aganor, Ny.Bae dan Alucard menyambut hangat kehadiran Tn.Harits dan Esme di restoran itu.


Kedua orang tua Alucard sangat baik, dan ramah. Apalagi Ny.Bae, baru saja bertemu dengan Esme, ia langsung mengerumuninya, sampai menempel terus pada Esme.


Sebenarnya Ny.Bae memang sangat lembut dan antusian saat melihat gadis muda. Dari dulu selalu saja mendambakan anak perempuan, tapi takdir malah memberikannya 5 orang anak lelaki.


Maka dari itu, kehadiran Esme di rumahnya sebagai menantu akan membuatnya sangat senang.


Tn.Harits sangat lega menyerahkan Esme pada Alucard.


Esme sangat cantik memakai gaun berwarna putih tulang yang Alucard belikan untuknya malam tadi.

__ADS_1


Keadaan Esme akan normal seperti ini, jika tidak ada yang membahas tentang pelecehan itu.


Mereka mulai berbincang-bincang.


Untung saja, Tn.Aganor dan Ny.Bae sudah sedikit bisa berbahasa Indonesia. Meskipun terdengar kaku, tapi Tn.Harits cukup memahami apa yang mereka bicarakan.


Setelah selesai berbincang-bincang mengenai acara pernikahan, mereka memesan makanan dan langsung menyantapnya saat pesanan itu tiba.


Tapi, Alucard hanya terdiam, ia tidak memesan apapun, karena di menunya tidak ada semur jengkol. Padahal ia ingin sekali makan dengan itu.


Di bawah meja makan, Alucard menendang kecil kaki Esme, hingga Esme mengernyit sedikit kesakitan.


"Apa?" bisik Esme dengan mata yang memelotot.


"Mm... tidak!! Hari ini kau cantik sekali." Alucard melebarkan senyumnya, matanya berbunga-bunga.


Cih...


Esme kembali memokuskan pandangannya pada makanan.


Alucard lagi-lagi menendang kakinya di bawah kolong meja makan.


Esme mendatarkan eskpresi wajahnya. Tatapan matanya sangat menakutkan.


"Apa lagi????" geramnya sambil berbisik.


"Apa kau bisa membuat semur jengkol?" tanya Alucard dengan nada suara sangat rendah.


Hah? Semur jengkol? Hahaa... sepertinya saat makan semur jengkol di kantin kantor waktu itu, dia jadi menyukai jengkol. (Batin Esme)


"Tentu saja aku bisa. Memangnya kenapa?" tanya Esme sambil mengunyah makanan di mulutnya.


"Setelah menikah, setiap sarapan pagi kau harus membuatkanku semur jengkol yang enak, ya?" pintanya sambil memainkan mata genitnya.


Uhuk... uhuk...


Esme tersedak. Ny.Bae segera memberikannya minuman.


Esme langsung meminumnya habis.


"Bagaimana? Apa sudah baikan?" tanyanya, cemas.


Esme mengangguk sungkan.


Setiap pagi? Oh tidaakk... seisi rumah pasti akan tercium aroma jengkol yang, uuhhh... Apa dia tidak memikirkan dampaknya? Dia 'kan Presdir perusahaan, bagaimana jadinya, jika setiap hari makan jengkol? Seisi kantor akan geger karena aroma jengkol yang ke luar dari mulutnya. (Batin Esme dengan tubuh yang bergidik)


....


BERSAMBUNG !!!!


Jangan lupa Like, Komen & Vote (Ditabung buat hari SENIN) 😁🙏

__ADS_1


__ADS_2