Air Mata Pengantin

Air Mata Pengantin
Kelicikan Ara


__ADS_3

.


Ara berlari mengejar Esme dan Alucard yang sudah masuk ke dalam rumah.


"Kakak, tunggu!" Ara menyergahnya, ia berdiri tepat di hadapan mereka. "Lepaskan," ucapanya sambil merebut paksa tangan Alucard dari Esme.


"Ara, kau ini apa-apaan?" Alucard menggeram, ia segera melepaskan genggaman tangan Ara.


"Bukan aku, tapi dia!" Jari telunjuknya mengarah lurus ke wajah Esme. "Dia yang apa-apaan. Seenaknya saja masuk ke rumah ini sambil menarik tangan Kakak."


"Ara, jaga sikapmu, hormati dia! Dia adalah istriku!"


Deg...


"A-apa?... I-istri?" Ara tak bisa berkutik. "Tidak! Tidak mungkin," ucapnya tanpa sadar. Perasaan Ara langsung meremuk, ia menatap dengan tatapan kosong. "Kakak, kau... ada apa dengamu? Jika ini benar, lalu kenapa tidak ada yang memberitahu aku tentang pernikahanmu?"


"Aku tidak tahu. Mungkin orang tuamu menutupinya darimu karena cemas. Mereka pasti sudah tahu, jika kau mendengar berita mengenai pernikahanku, kau akan bersikap seperti ini," jelas Alucard.


Perasaan Ara semakin meremuk setelah mendengar perkataan dari Alucard. Ia tak menyangka orang tuanya tega tidak memberitahukan ini semua padanya.


Alucard merangkul bahu Esme. Ia memapahnya menaiki anak tangga.


"Tunggu!... Aku tetap tidak percaya. Dari kecil Kakak selalu bilang padaku, Kakak suka wanita yang cantik, tapi kenapa kau malah memilih wanita seperti itu untuk dinikahi?" Ara terkekeh.


Langkah kaki Alucard terhenti. Ia menoleh ke belakang, raut wajahnya sangat marah. Berani-beraninya, dia menghina istrinya.


"Kau bertanya alasanku menikah dengannya? Mudah saja, karena dia sudah mencuri hatiku. Aku jatuh cinta padanya. Dia wanita yang menarik, memiliki kepribadian yang kuat, juga tubuh yang sexi," celetuk Alucard.


Esme hanya bisa terdiam, sebab ia tak tahu apa yang sedang mereka bicarakan. Yaa... pastinya, mengenai kesalahpahaman itu. Esme percaya pada suaminya, Alucard pasti bisa membuat gadis itu mengerti, begitu menurutnya.


Perasaan Ara semakin melemah, jiwanya hancur berantakan. Ia hanya bisa mematung dengan tatapan yang kosong. Siapa yang tidak akan sesakit ini, jika mengetahui pria idamannya tiba-tiba menikah dan juga membawa istrinya pulang.


Aku tidak pernah kalah. Meskipun dia memang istrinya, lalu kenapa? Aku masih bisa merebutnya. Tubuhku lebih menarik darinya. Aku yakin jika dipancing sedikit, Kak Alucard pasti akan kembali kepelukanku. (Batin Ara)


Esme dan Alucard sudah hampir sampai di atas tangga. Ara memikirkan rencana jahatnya, lalu ia segera beraksi.


"Kak, tunggu... aku mau minta maaf padanya," Ara berlari kecil menaiki anak tangga mengejar mereka. Ia menyentuh tangan Esme, saat Esme menoleh, Ara pura-pura terpeleset.

__ADS_1


"Aahhhh!!"


Tubuhnya jatuh terguling-guling kebawah, kepala dan tangannya menghantam tangga.


"ARA!!" teriak Alucard, kedua bola matanya menatap panik dan cemas.


Bruk...


Dahi Ara berdarah. Ia sedikit kehilangan kesadaran. Alucard segera berjalan menghampirinya.


"K-Kak?"


A-apa-apaan ini. (Bola mata Esme terbelalak, mulutnya menganga. Ia tidak tahu apa yang terjadi, dan apa yang gadis licik itu rencanakan)


Alucard mengangkat kepalanya.


"Kak, aku... aku hanya ingin meminta maaf pada Kakak Ipar. Tapi... aku tidak tahu jika dia sudah sebenci itu padaku, aku tidak menyangka dia tega mendorong aku," ucap Ara, ia memerankan raut wajah yang perlu dikasihani.


Huh, sakit sekali. Aku tidak menyangka jidatku akan sobek dan mengeluarkan darah. Tapi, tidak apa-apa. Cinta itu 'kan butuh pengorbanan. Luka sekecil ini aku bisa menahannya sedikit, demi merebut perhatian Kak Alucard. (Batin Ara)


"Apa yang dikatakannya?" tanya Esme penasaran.


Apa!


"Tidak! Aku tidak mendorongnya sama sekali. Dia hanya menyentuh lenganku, dan saat aku menoleh... dia tiba-tiba -"


"Sudah cukup! Bukan waktunya memperdebatkan siapa yang salah! Lukanya harus segera di tangani!" bentak Alucard, raut wajahnya semakin panik saat melihat darah yang terus mengucur dari kening Ara.


Deg...


Esme mematung di atas tangga, air matanya mulai bergelinangan.


Alucard segera menggendong tubuh Ara, ia berjalan ke luar membawanya masuk ke dalam mobil tanpa berucap apapun pada Esme.


Esme hanya bisa melihat punggung Alucard yang semakin menjauh meninggalkannya.


Mobil Alucardpun pergi, bersamaan dengan mobil Tn.Aganor dan Ny.Bae yang baru saja tiba dari urusannya masing-masing.

__ADS_1


Mereka masuk ke dalam rumah. Ny.Bae melihat raut wajah Esme yang sedang bersedih, mematung di atas tangga.


Ny.Bae segera menghampirinya dengan rasa cemas. "Esme... ada apa? Kenapa kau bersedih?" tanyanya panik.


Esme berusaha kuat agar air matanya tidak menetes. Ia menghirup nafas yang dalam. "Tidak apa-apa, bu. Saya hanya kelelahan saja," ucapnya beralasan, sambil memaksakan tersenyum.


"Lalu, kenapa dengan Alucard? Dia mengendarai mobil sangat terburu-buru. Apa dia melukaimu?" tanyanya.


Esme tersenyum lebar. "Emm... aku tidak tahu. Mungkin Alucard sedang mengurus hal penting." Esme memperlihatkan bahwa dirinya baik-baik saja.


Tn.Aganor menarik paksa tangan Ny.Bae. Ia berbisik pada istrinya. "Jangan ikut campur urusan rumah tangga mereka. Biarkan saja. Yang ada kau malah memperunyam masalah. Ayo, kita ke kamar. Siapkan air mandi untukku."


Ny.Bae menghela nafas panjang. "Esme, sepertinya ada sesuatu yang kau sembunyikan dariku. Tapi tidak apa, aku tidak akan mencampuri. Kau masuklah ke kamarmu, tenangkan dirimu. Aku akan menyuruh pelayan membawakan makanan kesana," ucap lembut Ny.Bae.


Esme tersenyum, jiwanya sangat tersentuh mendengar ucapan dan perlakuan lembut dari mertuanya itu. Kemudian, ia berjalan menuju kamarnya.


"Apa kau lihat matanya?" bisik Ny.Bae pada Tn.Aganor. "Dia sepertinya sedang patah hati," gumamnya menduga-duga.


"Ck, jangan dipikirkan. Itu urusan mereka. Emm... tapi, bisa saja sih dia patah hati, dan itulah akibatnya menikah dengan anakku yang tampan dan rupawan seperti ayahnya. Pasti akan banyak lalat pengganggu. Sudah... ayo, cepat siapkan air untukku," ucap Tn.Aganor sambil menggiring Ny.Bae memasuki kamarnya.


Esme menutup pintu kamarnya, ia mengambil ponsel dan mencoba menghubungi Alucard. Ia berusaha memahami sikap Alucard yang tadi sedikit membentaknya.


Memangnya siapa yang tidak panik melihat seseorang terjatuh dari atas tangga? Apalagi sampai mengeluarkan darah. Pastinya akan segera dibawa ke rumah sakit 'kan, tanpa memperdulikan penjelasan dari siapapun? Esme selalu berpikir positif tetang suaminya.


Panggilannya terhubung, tapi Alucard tidak menjawabnya. Esme mencoba meneleponnya kembali... tetap tidak di angkat. Ia meneleponnya lagi... masih tidak di angkat juga.


Ia melemparkan ponselnya ke atas ranjang. Kemudian, tubuhnya pun ambruk diatas ranjang. Esme menatap hampa ke langit-langit kamar.


"Aku tidak menyangka, gadis itu akan sangat nekat menyakiti dirinya sendiri demi mencari perhatian dari Alucard. Memang benar, jatuh cinta adalah racun. Kita bisa mengorbankan segalanya dan menghalalkan segala cara hanya demi rasa cinta. Dulu, akupun sangat bodoh, bisa kemalingan, lalu berusaha memperjuangkan Leo dan menangis untuknya," Esme beranjak duduk. "Aku belajar dari masalaluku yang menyedihkan, kali ini... aku tidak akan membiarkan sejarah terulang lagi. Aku tidak akan membiarkan siapapun merenggut kebahagiaanku, apalagi sampai berani mengambil Alucard dariku. Cukup sekali seumur hidup terluka karena cinta!" tekad Esme.


Gadis kecil itu mau merebut Alucard dariku, ya? Hahaha... langkahi dulu mayatku! (Batin Esme, penuh ambisi)


Sikap Esme yang seperti ini terlahir dari masa lalunya yang begitu memilukan. Jangan menyalahinya bersikap keji, ia hanya berusaha melindungi sesuatu yang memang miliknya, agar tidak di rampas oleh siapapun lagi.


Esme pun beranjak dari ranjangnya. Ia mengambil, lalu memakai baju lengan panjang dan coat berwarna merah dari dalam lemari. Ia berniat menyusul Alucard dan gadis itu ke rumah sakit, ingin melihat berapa banyak lagi trik licik yang gadis itu mainkan disana.


.....

__ADS_1


BERSAMBUNG !!!!!


Jangan lupa LIKE, KOMEN & VOTE. ❤


__ADS_2