
.
Kadita beranjak dari duduknya. Ia berjalan mendekati keributan di kafe itu. Garry langsung menyusulnya. Ia pun dibuat penasaran, ada kejadian apa yang membuat seisi kafe heboh seperti ini?
"Leo?" Kedua mata Kadita terbelalak setelah menerobos kerumunan orang-orang. "Jangan-jangan, Esme bertemu dengannya? Tapi, bagaimana bisa, Alucard dan Esme bersama? Bukankah Alucard sedang ke luar Kota?" gumamnya.
Kadita melihat Leo ditarik paksa oleh beberapa orang berbaju hitam dengan tampang sangar. Mereka adalah orang-orang Alucard yang disuruh oleh Claude untuk menyingkirkan Leo.
Kadita berjalan menghampiri Leo.
"Leo, kau!! Kau membuntuti Esme sampai kesini? Dasar gila!" tatapan mata Kadita sangat menakutkan.
"Tidak, Kadita. Aku dan dia hanya bertemu tidak sengaja disini," kata Leo. Leo segera memberontak. "Lepaskan aku! Lepaskan!!!" teriaknya pada para pengawal.
Kemana si Rey itu? Bukannya membantuku malah menghilang! (Batin Leo sangat jengkel)
"Jangan! Jangan sampai orang ini lepas. Bawa dia, ikuti aku sekarang juga!" Kadita berjalan penuh emosi ke luar dari kafe itu.
Garry mengikutinya dari belakang. "Kadita, kau mau bawa dia kemana?" tanyanya.
"Aku mau membawanya ke Bandung. Surat-surat pernikahan mereka sudah selesai kemarin. Besok pagi, dia harus segera menikah dengan Alice, agar tidak mengganggu Esme terus menerus!"
Menikahi Alice? (Batin Leo terhentak)
"Tidak! Aku tidak mau menikah dengannya!" Leo semakin menggila, hingga beberapa pengawal yang lain turun tangan menahannya. "Kadita, kau jangan lancang, ya!"
Kadita tak mengkhiraukannya.
"Masukkan dia ke dalam mobilku. Kalian berdua juga ikut masuk, ikat dia sekuat mungkin. Jika terus berontak, pukul atau bungkam saja mulutnya!"
"Kadita! Hey, hey... kau ini teman atau musuh? Senang sekali membuatku menderita," geram Leo.
Garry terbelalak. Dapat dari mana sipat psikopat dari istrinya itu? Membuatnya bergidik ketakutan.
"Claude, katakan pada Alucard aku meminjam dua pengawalnya...," teriak Kadita pada Claude yang sedang memperhatikan mereka dari pintu masuk kafe.
"Tidak masalah," ucapnya singkat.
Garry dan Kadita segera masuk ke dalam mobil. Mobil itupun melaju dengan cepat.
********
Sesampainya di area parkir apartemen, Esme segera memarkirkan mobilnya. Mereka berdua berjalan ke luar, lalu masuk ke dalam lift.
Ting...
Pintu lift terbuka, Alucard merangkul pinggang Esme. "Boleh ya, aku seperti ini?" tanyanya.
Cup...
Esme mencium pipi kiri Alucard. "Seperti itu juga boleh," katanya sambil terus berjalan ke depan.
Alucard terbelalak, mulutnya menganga.
Ia mendapatkan serangan tak terduga lagi dari Esme. Dan, itu membuatnya meleleh.
Alucard berlari mengejarnya.
__ADS_1
Sekarang, mereka berjalan bersama. "Ehem... Esme, apa kau benar-benar sudah sembuh? Kau sudah tidak mengingat hal itu lagi?" tanyanya penasaran.
Esme memperlambat langkah kakinya. "Aku juga belum yakin. Bukankah kita akan memastikannya, sekarang?" kata Esme dengan entengnya.
Dia benar-benar kelewatan! Godaannya sudah naik level. Sangat terang-terangan sekali. Aku sudah tidak kuat lagi ingin melahapnya. (Batin Alucard)
Alucard mengeluarkan kartu apartemennya. Pintunya langsung terbuka.
Esme masuk duluan. "Kau berhutang penjelasan padaku," katanya sambil menyimpan heels di rak sepatu.
"Penjelasan apa?" Kening Alucard mengernyit.
"Bukankah kau bilang pagi ini ada pekerjaan mendadak ke luar Kota dan pulang besok pagi?" sahut Esme.
"Oh, itu. Memang benar pagi ini aku ke luar Kota. Tapi, sore hari aku langsung pulang, dan tidak sengaja bertemu dengan Claude juga temanku yang lainnya. Mereka langsung mengajakku ke kafe untuk minum-minum."
"Oh,"
Alucard terduduk di sofa.
"Kau juga berhutang penjelasan padaku." Saat Esme melewatinya, ia langsung menarik tanganya, hingga Esme duduk di lahunannya.
Kedua mata mereka beradu lagi. Wajahnya sangat dekat.
"Penjelasan apa?" tanya Esme, sambil menahan tubuhnya yang semakin dekat dengan tubuh Alucard.
"Kenapa bisa Leo memelukmu di dekat toilet?" tanyanya balik.
Esme terbelalak. Ternyata Alucard tahu mereka berpelukan. Tapi, itu bukan salah Esme. Leo lah yang menarik dan memeluknya paksa.
"Yang mana yang harus di jelaskan? Aku dan dia hanya bertemu tidak sengaja di sana," kata Esme sambil mengelak. Ia sangat tidak ingin membahas masalah Leo saat ini.
"Kau harus diberi pelajaran, karena tidak patuh pada suamimu!" gumam Alucard.
Bukannya tertunduk malu, Esme malah melayangkan tatapan menantang padanya.
Benar-benar karakter wanita pemberani yang tidak pernah diduga oleh Alucard.
"Esme... tadi, di mobil kau bilang aku dengan sebutan 'sayang' kan?
Esme melirik kesana kemari, ia menjadi gerogi. "Aku... tidak tahu tuh."
"Kau pura-pura tidak tahu!"
"Aku memang tidak tahu!"
"Kamu tahu!"
"Tidak!"
"Tahu,"
"Tidaaakkk... ah, sudahlah. Duduk yang benar, kau sangat berat, tahu!" Esme mendorong dada Alucard.
"Kita belum mencobanya, kau sudah menyerah begitu saja?" kata Alucard yang berusaha membuat Esme diam.
Esme menghela nafas panjang. "Baiklah, kita mulai dari mana?" tanyanya tanpa ada keraguan sedikit pun.
__ADS_1
"Dari... buka bajuku dulu. Aku sangat gerah," kata Alucard.
Alucard dan Esme terduduk. Perlahan tangannya menyentuh dada bidang Alucard, Esme mulai membuka jas hitamnya lalu membuka kancing kemeja putihnya.
"Keringatmu banyak sekali, ini pasti bau! Hoekk...," celetuk Esme.
"Enak saja... seorang Alucard tidak mungkin bau badan. Kau tahu, parfum, sabun, dan semua yang aku pakai adalah merk no satu di Dunia. Satu tetes keringatku ini bisa membuat wanita kelepek-kelepek," jelasnya.
"Cih, aku tidak percaya. Sini, aku akan mengendus baumu," kata Esme sambil menarik tubuh Alucard.
Esme langsung mengendus dibagian lehernya. "Mmm... benar, ternyata kau sangat wangi. Aku sampai mau menjilatnya."
"Jilat saja kalau berani!" kata Alucard tanpa sadar.
Esme tidak menganggap ucapan Alucard sebagai candaan. Ia malah serius. Esme langsung menjilatnya.
"Uh, uh... Esme, hey!!!" Alucard menyapitkan lehernya karena geli.
Esme tak mengkhiraukannya, ia semakin menjilatnya sampai ke telinga Alucard.
"Hahahahaaa.... Esme, hentikan!" Alucard tertawa geli. "Aww... Esme!!! Hey, sudah cukup! Kau sudah membuatnya bangun!" teriak Alucard.
Esme langsung menghentikan keusilannya. Ia melirik kesana kemari seperti sedang mencari seseorang. "Mana? Siapa yang bangun? Memangnya ada orang yang tertidur disini?" pertanyaan polosnya membuat Alucard ingin sekali menggigitnya.
Alucard mendekatkan mulutnya ke telinga Esme. "Ada yang berdiri tegak, tapi bukan keadilan," bisiknya. Ucapan Alucard ini mengandung arti.
"Berdiri, tapi bukan keadilan? Kau ini sedang membicarakan siapa?" Esme samakin kebingungan.
Alucard menarik tangan Esme, ia menuntun tangan Esme menyentuh kepunyaannya yang sudah terbangun, dan saat ini sedang berdiri tegak.
"Kau mau apa?" Esme terbelalak. "Uh, kenapa ini mengeras?" Wajah Esme sudah sangat merah. Bagaikan terbakar birahi.
"Hahaha... dia bangun karena mendapat sinyal darimu, dasar bodoh," Alucard menertawai wajah Esme yang panik. "Pokoknya aku tidak mau tahu, kau harus tanggung jawab sekarang juga!"
Esme memalingkan wajahnya. Walaupun Esme sudah tidak perawan, tapi ia memang benar-benar tidak tahu jika reaksi pria seperti itu.
"Kenapa diam saja? Ayo cepat berbaring. Kau mau di atas atau di bawah? Bukankah kau bilang pada mantanmu, mau melakukan beberapa ronde denganku?" Tertawa Alucard semakin menjadi, karena wajah Esme benar-benar sangat konyol, malu-malu kucing. Namun, tetap saja cantik.
"Iiiiihhhhh, dasar gila!!" Esme menggeliat geli. "Senang sekali menggodaku, ya? Baiklah, kalau begitu, aku tidak akan mencobanya hari ini. Lain waktu saja!" celetuk Esme, sambil mendorong kasar tubuh Alucard, lalu ia segera berjalan mengambil handuk dan masuk kedalam kamar mandi.
Ceklek...
Pintu kamar mandi terkunci.
Alucard mematung dengan wajah datar tanpa ekspresi, matanya membulat. Rasanya, nafasnya sudah terhenti, benar-benar sesak.
Bagaikan sudah naik tinggi ke awan, ketika sudah akan mencapai bulan, Esme malah menghempaskannya jatuh ke bumi.
"Heeyyyy, ESME!!!! Tidak bisa begitu, dong!" teriak Alucard sambil berlari, lalu menggedor-gedor pintu kamar mandi.
Ia merengek-rengek di luar. "Esme, cepat buka pintunya! Aku tidak bisa di beginikan, huhuuuu...," rasa sesak di dada Alucard sangat mendalam, karena tidak jadi melakukannya malam ini, padahal birahinya sudah menggelora di dalam tubuh.
.....
BERSAMBUNG !!!!
Hayooo, jangan senyum-senyum aja.
__ADS_1
LIKE, KOMEN & VOTE dulu dong 😂