
.
"Hanabi, sepertinya aku harus pulang sekarang. Bajuku basah dan ini juga sudah larut malam. Aku takut, Al khawatir," kata Esme sambil menarik sedikit baju basahnya agar tidak menempel di kulit, karena Esme merasa kedinginan.
"Aku tidak membawa mobil. Kau telepon Alucard, suruh dia menjemputmu. Tidak baik wanita cantik pulang sendiri larut malam. Kalau terjadi sesuatu padamu, suamimu pasti kerepotan," kata Hanabi yang mencemaskan sahabatnya.
"Apa kau baru saja mencemaskan aku? Hahaha... aku Esmeralda, siapa yang berani mencelakai aku?" ucapnya sombong, sambil tertawa kecil.
"Aiss... kau menganggapnya berlebihan. Ya sudah aku tidak jadi menyarankan itu. Pulanglah, aku pesankan taxi online." Hanabi sangat perhatian.
"Lalu, kau?"
"Aku? Aku akan pulang setelah kau pergi. Jangan mencemaskan aku. Tidak ada yang akan berani mendekati wanita bertato dengan tampang sangar sepertiku." Hanabi menggerakkan badannya seperti Hulk.
Aduh, dasar Hanabi. Apa dirumahnya tidak ada kaca? Wajahnya sangat cantik begitu malah dibilang tampang sangar. (Batin Esme)
"Sudahlah. Aku akan menyuruh Alucard menjemputku. Kau pulang saja duluan, nanti suamimu marah lagi!" seru Esme.
"Suamiku? Hmm... ya, baiklah, aku akan pulang lebih dulu. Mentalnya baru saja pulih, aku takut mental buruknya hidup lagi." Hanabi merogoh isi tasnya. Ia memberikan sebotol minuman pada Esme.
"Nih, minumlah. Tubuhmu butuh cairan banyak untuk memberantas para pelakor seperti wanita tadi," kata Hanabi sambil tersenyum penuh arti. Tak lupa, ia pun mengambil sebatang rokok dari bungkusnya.
Esme mengambilnya sambil tersenyum. "Kau memang yang terbaik, Hanabi. Pulanglah, dan jangan terlalu sering merokok. Tidak baik untuk kesehatan."
"Baik, baik. Aku akan pulang. Kau sudah seperti ibuku saja, selalu bilang begitu. Padahal satu hari, aku cuma menghabiskan 2 bungkus rokok, tidak lebih," gumamnya sambil berbalik meninggalkan Esme.
Kalau bukan karena suamiku, aku akan menunggu Esme sampai di jemput suaminya. Aku sangat kasihan padanya, dari pertama kali bertemu dengannya, hidupnya penuh dengan masalah. Jika aku jadi dirinya, belum tentu aku bisa sekuat dia. (Batin Hanabi, sambil berjalan dan mengisap rokoknya)
"OY, HANABI!! TERIMA KASIH," teriak Esme sambil melambaikan tangannya.
Kini, Esme sendirian dalam kesunyian. Ia melihat botol minuman yang Hanabi berikan tadi, dahaganya langsung meronta kehausan. Esme membukanya dan tak tanggung-tanggung ia menghabiskan satu botol minuman itu.
"Aaahhh... pikiranku jadi fresh kembali. Tapi, minuman ini rasanya sedikit aneh. Apa Hanabi mencampurkan obat perangsang di dalamnya, ya? Hahahaaa.... aku berpikir berlebihan," gumamnya sambil tertawa kecil.
Perlahan tawanya menyusut. Wajahnya menjadi datar, dan bibirnya tiba-tiba menyerucut dengan kerutan tajam di dahi.
Esme melemparkan botol minuman itu ke sembarang arah dengan perasaan yang sangat hampa dan sedih. Air matanya mulai menetes.
__ADS_1
Esme menunduk, lalu menutup wajahnya dengan kedua telapan tangannya. "Hikss... hikss... sebenarnya aku sangat lelah menjalani hidup seperti ini. Aku ingin hidup tenang dan damai, tapi kenapa selalu saja ada masalah. Masalah ini selesai, datang masalah baru, dan begitu saja seterusnya. Aku tahu, aku bisa melewati semua ini. Tapi, masalah hidupku datang terlalu bertubi-tubi. Apa Tuhan tidak tahu kalau sebenarnya aku sangat lelah, aku ingin istirahat sejenak. Hikss...," gumamnya sambil terus saja menangis terisak-isak di luar Club.
Tiba-tiba saja ada yang memeluk tubuhnya dengan sentuhan yang amat lembut. Pelukan ini seperti menyiratkan pada Esme, silahkan menangis sederas-derasnya, keluarkan semuanya, jangan ditahan. Kau berhak berkeluh kesah, dan silahkan beristirahat sejenak jika lelah, tapi kau tidak boleh menyerah.
Tidak tahu siapa yang memeluknya, juga tidak perduli siapapun itu. Esme sangat merasakan maksud dari pelukan ini. Dan... benar saja, Esme menangis terisak-isak di dalam pelukan itu, air matanya membasahi baju orang yang memeluknya. Ia benar-benar lelah dengan perjalan hidupnya.
"Huaaaa.... hiksss, hiksss...." Esme menyengkram erat baju si pemeluk. Kesedihan Esme terlihat sangat mendalam, membuat perasaan siapapun yang melihatnya pasti tergerak.
Tiba-tiba isak tangisnya terhenti, karena ada reaksi berbeda dari dalam tubuhnya. Esme melepaskan pelukan itu, ia masih tak melihat siapa yang sudah memeluknya.
Kenapa perasaannya jadi tidak enak, suhu tubuh Esme menjadi panas tak terkendali. Pipinya pun berubah merah merona. Esme mengusap air matanya dan memikirkan sesuatu.
Ck! Hanabiiiiiii!!... Sudah ku duga, dia pasti memasukkan obat perangsang ke dalam minuman itu. Dia tahu aku akan pulang dengan Alucard, jadi dia ingin membuat aku terlihat agresif saat aku bersama dengan Alucard. (Batin Esme. Seperti biasanya, praduga Esme selalu benar, tak pernah melesat sedikitpun)
Tubuhnya, dibiarkan malah semakin panas. Esme mengibas-kibaskan tangannya sambil memijat keningnya. Lalu, ia menoleh pada orang yang memeluknya tadi.
Esme menciutkan matanya, pandangannya jadi tidak jelas. Tapi, Esme memaksakan melihat dengan jeli siapa orang yang berdiri dihadapannya itu meskipun nampak buram.
C**elaka! Postur tubuhnya memang lelaki. Tapi, dia... dia bukan Alucard. (Batin Esme)
Esme merogoh isi tasnya, ia mengambil ponselnya. "Mm... maaf, Tuan. Pandanganku agak buram, bisakah kau mencarikan kontak dengan nama 'Anak Kambing' di ponselku?" Esme menyodorkan ponselnya. Dalam hatinya, ia berharap orang dihadapannya ini adalah orang baik.
Pria itu pun mengambil ponsel Esme. Ia mengutak-atik ponselnya.
Reaksi obat perangsangnya sudah menjalar kemana-mena, semakin menggerogoti birahi Esme. Esme nampak sangat gelisah, ia terus mengibaskan tangannya dengan nafas yang terengah-engah.
"Tuan, bisakah.... uh, bisakah kau... cepat sedikit?" Esme sangat tidak nyaman dengan keadaan tubuhnya. Lututnya gemetar dan terasa lemas.
Bruk...
"Aduh!" Tubuh Esme lunglai. Hampir saja ia terjatuh, tapi Emse langsung menahannya dengan tangannya sendiri.
Spontan, pria itu pun menahan tubuh Esme agar tidak ambruk. "Ada apa dengan wajahmu? Wajahmu sangat merah," ucap pria itu, cemas.
Plak...
Tangan pria itu yang sedang menahan tubuh Esme, tiba-tiba langsung di hempaskan oleh Alucard.
__ADS_1
"Hey, bajing*n! Jangan sentuh dia!" teriak Alucard, tatapan matanya sangat menakutkan. Alucard tak melihat siapa wajahnya. Ia hanya terfokuskan pada keadaan Esme. "Esme! Esme! Apa kau baik-baik saja?" tanya Alucard, tatapan matanya sangat getir mencemaskan.
"Hos... hoss... hoss...." Esme menoleh, ia tersenyum "Al?" Esme langsung memeluknya.
"Esme... kau?" Alucard terkejut.
Kelakuan Esme ini...? Sepertinya dia diberi obat perangsang. (Batin Alucard)
Alucard menggertakan giginya, rahangnya mengeras. Ia menoleh padabpria di belakangnya. "Apa kau yang memberinya -"
Ucapan Alucard langsung terhenti, saat ia melihat wajah pria itu.
"Roger!" Alucard tercengang.
Roger tersenyum menyeringai. "Ya, ini aku. Sudah lama tak berjumpa, apa kabarmu Presdir."
"Bu-bukankah aku menugaskanmu ke luar Pulau? Sedang apa k-kau disini?" Alucard terbata-bata karena saingan cintanya sudah kembali dari persembunyiannya.
"Beberapa hari yang lalu Claude menyuruhku kembali ke Jakarta. Katanya kau yang menyuruhnya. Dan, aku disini karena Club ini adalah milikku. Aku sedang memantau Clubku," celetuk Roger.
"!!" Alucard terjeda, ia mengingat kembali saat dirinya sedang bertelepon dengan Claude, tak sengaja Alucard menyuruh Claude untuk mempekerjakan Roger lagi di Jakarta.
Sial!! Kau kira Claude tidak menganggapnya serius. (Batin Alucard)
"Ouch, Al! Bisakah kita pulang sekarang? Aku sudah tidak tahan," bisik Esme, ia lebih mengeratkan pelukannya.
"Ah! Em... baik, baik. Kita pulang sekarang."
Alucard dan Roger bertatap mata. Tatapan mereka sangat menyengat dan menakutkan, seperti seekor singa dan harimau yang akan kembali bertarung memperebutkan mangsanya.
....
BERSAMBUNG !!!
Jangan lupa, LIKE, KOMEN & TIPS ❤
__ADS_1
pleas, ini hari senin VOTE yang banyak dung, biar novel ini naik 🤧 (kepengen bgt novelnya naik) Naik kemana? Kepuncak gunung? Hihi...