Air Mata Pengantin

Air Mata Pengantin
Kafe 86


__ADS_3

.


Pukul 06.31 WIB.


Esme terbangun dari tidurnya. Ia baru sadar, dirinya tertidur dengan masih mengenakan mukena. Tidak biasanya Esme bangun sesiang ini.


Pandangan matanya langsung ia edarkan. Mencari sosok pria yang baru satu hari menjadi suaminya, karena suasana kamar sangat sepi dan hening.


Esme beranjak dari tidurnya, ia melipat lalu memasukan mukena itu ke dalam lemari.


Ia berjalan ke luar dari kamarnya.


Dimana Alucard? Matanya terus mencari sosok pria itu ke sekeliling ruangan.


Kriing... Kriing...


Ponselnya berdering. Ada panggilan masuk.


Esme mengambil ponselnya dan memeriksa siapa yang meneleponnya sepagi ini.


"Suami?" Esme mengerutkan keningnya. "Rasanya aku tidak pernah menamai kontak seseorang dengan nama suami," gumam Esme.


Esme mengangkat telepon itu ragu-ragu.


"H-hallo?"


"Esme, aku sedang di perjalanan, ada pekerjaan mendadak ke luar Kota pagi ini. Maaf, aku tidak memberitahumu," kata Alucard. Ia tidak memberitahu Esme karena Esme tertidur sangat pulas, hingga tak berani mengganggunya.


Sudah ku duga, pasti dia sendiri yang menamai dirinya di kontakku sebagai suami. (Batin Esme)


"Mm... bukankah kita sudah mengambil libur kerja untuk beberapa hari kedepan?" ucap Esme.


"Iya, aku tahu. Tapi, perjalanan bisnis ini sangatlah penting untuk perusahaan," kata Alucard di balik telepon.


"Oh seperti itu," tiba-tiba Esme menjadi gugup. "Mm... Al, maaf tentang semalam," ucap Esme, ia sangat kikuk mengatakannya.


Alucard dan Esme menjadi canggung satu sama lain. Alucard hanya terdiam disana, ia tidak tahu harus menjawab apa.


"Ah, kau... kau pulang kerja jam berapa? Jam 8 atau jam 9? Aku akan membuatkanmu makan malam," kata Esme berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Tidak perlu! Sepertinya aku akan pulang besok pagi. Tapi, aku akan berusaha pulang cepat," tutur Alucard. "Oh ya, jangan pergi ke luar seorang diri. Aku sudah menempatkan beberapa penjaga di luar pintu apartemen kita. Jika kau menginginkan sesuatu, katakan saja pada mereka."


Esme mengernyit heran. "Memangnya kenapa?" tanyanya.


"Kau sudah tahu 'kan, ada seseorang yang membuntutimu kemarin? Aku tidak ingin terjadi apa-apa padamu. Maka dari itu, aku harap kau patuh!" Alucard langsung menutup telepon panggilan itu.


Esme membatu. Ternyata memang benar ada yang membuntutinya kemarin sore, tapi ia belum tahu pasti siapa yang membuntutinya, apakah benar yang membuntutinya itu Leo atau orang lain? Lalu, dari mana Alucard tahu tentang hal ini?


Esme tersadar, ia menjadi merasa bingung, apa yang harus ia lakukan sekarang? Benar-benar sangat membosankan berdiam diri di dalam apartemen ini.


Esme berjalan masuk ke kamar mandi.


Setelah mandi, ia menuju dapur dengan masih memakai handuk. Tapi langkah kakinya langsung terhenti saat melihat beberapa menu sarapan sudah tersaji di atas meja makan.


"Siapa yang membuatkan sarapan? Apakah Alucard?" gumamnya. "Ah, sepertinya tidak mungkin."


Karena perutnya sudah mengamuk di dalam minta makan, akhirnya tak pikir panjang, Esme langsung melahap sarapan yang sudah tersedia itu.


Setelah sarapan, Esme beralih ke ruang televisi. Ia menonton drama Korea sambil memakan camilan yang kemarin sore dibeli olehnya dan Alucard.


"Aku tidak pernah menyangka akan menikah dengan orang Korea. Wajah Alucard sangat halus, lembut, putih mengkilat, seperti aktor-aktor Korea yang sering ku tonton di tv. Apakah lelaki Korea semuanya berwajah mulus seperti dia?" gumam Esme. Ia tanpa sadar sudah memperhatikan wajah Alucard.


Mungkin benih-benih cinta sudah mulai berkembang di dalam lubuk hatinya.

__ADS_1


....


Tik... tok... tik... tok...


Waktu sudah menunjukan sore hari.


Kebosanan ini semakin menyerangnya. Film-film di televisipun malah membuatnya semakin bosan. "Bosan sekali. Ingin keluar, tapi masa aku harus diikuti pengawal?" gumamnya. "Tapi... jika tidak di kawal, aku takut terjadi sesuatu," sambungnya dilema.


Kriing... kriing...


Ponsel Esme berbunyi, ia segera mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja.


"Kadita?"


"Esme, apa kau sedang bosan?" tanya Kadita seperti sudah tahu apa yang Esme rasakan.


"Eh, darimana kau tahu?"


"Aku tahu Alucard sedang ke luar Kota. Jadi, aku pikir kau saat ini sedang butuh hiburan. Bagaimana jika jam 7 malam kita pergi ke kafe 86?" kata Kadita yang ingin berusaha membuat Esme tidak bosan lagi.


"Mm... apa kau...,"


"Sudahlah, tidak usah merasa bagaimana. Aku tahu semalam kau belum melakukannya dengan dia, kau masih belum bisa menyerahkan dirimu padanya 'kan? Maka dari itu, malam ini aku mengajakmu ke luar, agar kau tidak terlalu memikirkan tentang itu," jelas Kadita, bermaksud baik.


"Hmm... ya, aku masih terbayang hal itu!" Esme termenung, ia menundukkan wajahnya. "Baiklah, toh Alucard akan pulang besok. Aku akan mengabarimu lagi jam 7."


"Ok, sampai ketemu disana." Panggilan telepon itu langsung dimatikan.


Esme segera masuk ke dalam kamar mandi. Ia menebarkan sabun ke dalam bathup dengan aroma harum yang membuat pikirannya rileks. Uh, aroma sabun ini menyelimuti seluruh ruang kamar mandi. Sangat harum dan menenangkan.


Entah, Alucard mendapatkannya darimana. Dia benar-benar pandai memilih sesuatu yang ajaib. Pikiran Esmepun langsung rileks, hingga tanpa sadar Esme tertidur di dalam bathup itu.


Suara azan magrib membuatnya terbangun. Esme sedikit terkejut saat mengerjapkan matanya, ia melihat dirinya tertidur di dalam bathup. Sejak kapan Esme bisa tertidur saat mandi? Mungkin karena aroma sabunnya terlalu kuat, membuat Esme terlena didalamnya.


Esme berjalan ke luar, ia segera menjalankan ibadah lalu merias diri di hadapan cermin.


Setelahnya, ia segera memilih gaun. Tatapan matanya langsung tertuju pada sekotak hadiah yang diberikan mertuanya. Ya, Ny.Bae memberikan gaun hitam yang sangat cantik itu untuk Esme.


Esme segera mengeluarkan baju itu dari dalam boxnya. Ia tak segan-segan mencobanya.


Saat menatap cermin, kedua mata dan mulutnya membulat. "Wahh... sungguh indah sekali gaun ini. Aku sampai tidak tega memakainya," gumam Esme yang masih terpanah dengan keindahan gaun itu.


Tling...


Ponselnya berbunyi, ada pesan masuk.


"Esme, aku sudah berada di kafe 86, aku juga sudah memesan tempat duduk untuk kita. Kau masih dimana?" isi pesan dari Kadita.


Ah, memangnya sekarang jam berapa? (Batin Esme sambil memeriksa jam)


"A-apa? Sudah jam 7?" gumamnya panik.


Esme segera membalasnya. "Iya, aku sebentar lagi sampai. Ini masih di jalan terkena macet." Esme berdusta.


Ia segera menata rambutnya, dan mengambil tas, lalu berjalan ke luar apartemen.


Langkah kakinya langsung terhenti saat empat pasang mata menoleh padanya.


"Nyonya, ada yang bisa saya bantu?" tanya salah satu pengawal sambil membungkuk hormat.


Esme melirik panik. "Mm... saya ingin ke luar sebentar, kalian disini saja. Tidak perlu ikut," kata Esme.


Esme segera melangkah. Tapi, kedua pengawal itu segera menutup akses jalan dihadapannya. "Apa lagi?" tanya Esme. "Aku sedang terburu-buru. Temanku sudah menunggu di kafe, kalian jangan membuatku jengkel!" Esme sedikit mengotot.

__ADS_1


"Maaf, Nyonya. Tapi, tuan muda sudah berpesan pada kita untuk tidak membiarkan anda keluar," jelas salah satu pengawal.


Rrghh... para pengawal ini membuatku kesal hati. (Batin Esme yang semakin diburu waktu)


Esme merogoh tasnya, ia mengambil ponsel, lalu menelepon Alucard.


Panggilannya masuk, tapi tidak di angkat-angkat. Padahal Esme berniat meminta izin ke luar pada Alucard.


"Ugh, sedang apa sih dia?" gumam Esme yang mulai emosi.


Esme melirik arlojinya. Pukul 19:12 WIB.


"Aduuhh... sudah jam segini," Esme mengernyitkan keninganya.


"Hey! Kalian antar aku ke kafe 86, sekarang! Aku adalah istri atasan kalian, jika kalian menolak, aku akan mengadukannya langsung pada Alucard!"


Tuan Alucard?


Glek.


Tubuh para pengawal itu langsung menegang saat mendengar ancaman dari Esme.


"T-tapi, Nyonya... tuan muda tidak memperbolehkan anda ke luar -"


"Sstttt... tidak usah banyak bicara!!" Esme menjunjung tinggi jari telunjuknya. Ia tidak ingin mendengar bantahan lagi. "Cepat, antar aku kesana." Esme berjalan tergesa-gesa melewati para pengawal yang saat ini sedang lengah karena merasa dilema.


Ternyata, tubuh mereka saja yang besar. Tapi, ketika mendengar ancamanku, nyalinya langsung ciut. Memangnya semenakutkan apa Alucard dimata mereka? (Batin Esme)


...


Di waktu yang bersamaan.


Kriingg... kriing...


Ponselnya berdering kencang. Ia segera mengangkat panggilan yang membuat kupingnya berisik itu.


"Ya... hallo," katanya, tanpa melihat siapa yang meneleponnya.


"Leo, apa kau sibuk?" tanya seseorang yang nada bicaranya seperti seorang pria.


Leo langsung beranjak dari tidurnya. Ia memeriksa ponselnya, sebenarnya siapa yang meneleponnya.


Rey Rhanandra? (Batin Leo)


"Sepertinya kau mengangkat telepon tanpa melihat dulu siapa yang meneleponnya, haha... ada apa denganmu, teman?" ucapnya dibalik telepon.


"Ehem... ada apa meneleponku tiba-tiba?" tanya Leo tak semangat.


"Hey, hey... temanmu baru sampai ke Indonesia, kenapa kau terdengar seperti tidak bersemangat begitu. Apa ini tentang cinta masa kecilmu itu?"


Rahang Leo langsung mengeras tiap kali mengingat semua tentang Esme. "Sudahlah, langsung saja ke intinya. Ada apa meneleponku?" Leo mengusap kasar wajahnya.


"Sepertinya kau butuh bumbu-bumbu kesenangan. Aku tunggu kau di kafe 86. Kita bertemu disana untuk merayakan kedatanganku," kata Rey.


Leo menghela nafas hampa. "Huff... baiklah, demi menyambut kedatangan temanku yang dari luar Negeri, aku akan segera tiba disana!"


Leo mematikan panggilan telepon itu.


Ia masuk ke kamar mandi untuk mencuci mukanya, lalu segera memakai coat dan berjalan ke luar dari rumahnya.


....


BERSAMBUNG !!!!

__ADS_1


Yang katanya mau VOTE mana nih???? 🤧🤧🤧🤧🤧


__ADS_2