Air Mata Pengantin

Air Mata Pengantin
Acara Pernikahan


__ADS_3

.


"Esme, kenalkan... ini Adamson, ini Aldous, ini Claude dan ini Akai. Mereka berempat adalah anakku, adik-adiknya Alucard," ucap Ny.Bae memperkenalkan jagoan-jagoannya menggunakan bahasa Indonesia yang mulai fasih.


Wah, banyak sekali. Tapi, bagaimana bisa? Sudah melahirkan sampai 5 orang anak, Ny.Bae masih terlihat awet muda sampai sekarang. (Batin Esme)


Adamson dan Aldous berusia 25 tahun, seusia dengan Esme, mereka adalah anak kembar, mereka lebih muda satu tahun dari Alucard. Claude berusia 23 tahun, pemilik perusahaan Mord yang sebenarnya. Akai berusia 22 tahun, baru saja lulus kuliah dari Universitas terbaik di Korea.


Turunan Ny.Bae dan Tn.Aganor memang yang terbaik. Bisa dilihat langsung dari wajahnya, tampang kebangsawanan dari wajah mereka sangat terpancar jelas. Mereka terlihat dingin, namun tatapannya sangat lembut.


Adik-adik Alucard beranjak dari duduknya, mereka membungkukkan tubuh mereka masing-masing sebagai ungkapan rasa hormat pada kaka iparnya.


Wah... aku benar-benar merasa tersanjung. (Batin Esme sambil memperhatikan mereka satu persatu)


Alucard menciutkan kedua matanya.


"Apa yang menarik dari para kurcaci itu? Sampai Esme tidak berkedip sama sekali!" gumam Alucard, merasa kesal.


Tiba-tiba Tn.Harits datang menghampiri Esme yang sedang duduk dengan keluarga Alucard.


Sebelum berpamitan, Tn.Harits berpesan sesuatu pada menantunya.


Alucard harus bisa membuat Esme lupa akan masalalunya yang kelam. Ia harus menjadi pria yang bertanggung jawab, yang benar-benar bisa menjaga Esme juga membahagiakannya, dan jangan sampai ia melukai hati anaknya seperti yang sudah-sudah.


"Tuan, bolehkah saya membawa Esme ke kampung halaman saya di Korea?" tanya Alucard, sungkan dan sedikit ragu.


"Panggil saja, ayah," ucap Tn.Harits. "Semua terserah kamu, nak. Mau di bawa keliling dunia atau dibawa kemanapun, kamu harus tetap bisa menjaga Esme. Tapi, dua hari ini tetaplah di Indonesia dulu. Biarkan Esme beristirahat, saat ini dia pasti kelelahan," sambungnya.


Kemudian, Tn.Harits berbisik pada Esme.


"Esme, ayah pulang dulu, ya. Ayah percaya, Alucard akan menjagamu dengan baik. Kau harus sembuh, dorong sindrom trauma itu keluar dari pikiranmu. Jadilah istri yang solehah. Dia 'kan mualaf, dampingi dia agar menjadi imam yang baik untukmu," bisiknya sambil memeluk erat tubuh Esme.


"Baik, ayah. Tapi, bagaimana dengan ayah, dan... mereka?" tanyanya sedikit ragu.


"Tidak usah memikirkan ayah. Ayah sudah menceraikan wanita itu. Saat ini, ayah sedang menunggu keputusan dari Lolyta dan Balmon, mau ikut dengan siapa mereka," kata Tn.Harits sambil mengusap lembut kepala Esme.


"Oh ya, Esme. Ayah akan berbicara sedikit mengenai ibumu. Ibumu sudah meninggal saat kamu berusia 1 tahun karena suatu penyakit. Besok, kunjungi makamnya bersama Alucard, ya. Ayah akan mengirimkan alamatnya melalui pesan. Maaf, ayah baru bisa memberitahukannya sekarang," sambung Tn.Harits yang dirundung rasa bersalah.


Pantas saja Tn.Harits tidak mengundang ibunya hadir di pernikahan Esme, rupanya ibunya sudah meninggal. Esme sangat sedih mendengarnya, tapi apa boleh buat jika takdir berkata lain.


Esme memperlihatkan senyumnya pada Tn.Harits. Senyuman yang menyiratkan semuanya akan baik-baik saja.

__ADS_1


Saat ini, apapun yang dilakukan Esme harus dengan persetujuan dari Alucard, bukan ayahnya lagi. Esme semakin memantapkan diri untuk menjadi istri yang baik. Ia akan berusaha sebisanya.


Tn.Harits berpamitan pada seluruh keluarga Alucard. Kemudian, ia berjalan meninggalkan gedung pernikahan, dengan rasa haru, bahagia, dan sedih, semua menjadi satu.


Esme menatap getir kepergian ayahnya.


"Hey, apa kau lelah?" bisik Alucard dari belakang. "Bilang saja, 'ya'. Aku akan menjadikan itu sebagai alasan untuk meninggalkan acara ini," sambungnya.


Esme menaikkan halis kirinya.


"Memangnya kenapa?" tanya Esme penasaran.


"Aku tidak suka berada di keramaian lama-lama. Kita pulang, ya?" tanyanya lagi.


Pulang? (Batin Esme, otaknya mulai memikirkan hal gila)


"Ya sudah. Terserah kamu saja!" katanya dengan pipi yang memerah.


Alucard beranjak, dan berpamitan pada kedua orang tuanya.


"Dasar anak muda. Tidak sabaran sekali, ini kan masih siang," celetuk Tn.Aganor di tengah-tengah perkumpulan keluarga besarnya itu.


Blush...


"Ah! Tidak usah di dengar. Mulut kakek tua ini memang perlu di jahit. Sudah, kalian pulang saja. Kalian pasti kelelahan," ucap Ny.Bae. "Al, ibu dan ayah memberikan hadiah rumah dan isinya untuk kalian. Apa kalian akan menempatinya sekarang?" tanyanya.


Esme terbelalak.


"Aku dan Aldous juga sudah memberikan 10% saham kita dengan masing-masing memberikan 5%, sebagai hadiah pernikahan Kakak," ucap Adamson menggunakan bahasa Korea.


"Dia bilang apa?" bisik Esme.


"Adik kembarku memberikan hadiah pernikahan berupa 10% sahamnya untuk kita," jawab Alucard.


Esme semakin terbelalak.


Saham dan rumah? Baru beberapa menit aku menjadi bagian dikeluarganya, sudah dibelikan rumah dan saham saja. Sepertinya, aku harus benar-benar siap dengan kebangsawanan yang akan mendampingi perjalanan hidupku. (Batin Esme)


"Al, cepat sudahi obrolan tentang hadiah pernikahan ini. Jantungku hampir copot mendengarnya," bisik Esme.


"Hey, ini baru sebagian keluargaku yang memberikan hadiah. Ini belum semuanya, loh." Alucard tersenyum tipis.

__ADS_1


"Kalau semua keluargamu memberikan hadiah yang mewah. Jantungku sudah loncat kemana-mana, tahu. Sudahlah, ayo kita pulang," ucap Esme tergesa-gesa.


Alucard tertawa geli.


Andai saja, tergesa-gesa Esme ingin pulang ini karena ingin cepat-cepat berhubungan badan dengannya. Tapi sayangnya, bukan.


Alucard beranjak dan segera berpamitan pada keluarganya. Ia mengambil kunci rumah dari tangan ibunya.


Kemudian berjalan memapah Esme keluar dari gedung, memasuki mobil pengantin.


"Esme, apa kau ingin melihat rumah yang orang tuaku hadiahkan?" tanya Alucard.


Esme segera menggelengkan kepalanya.


"Nanti saja. Kita pulang dulu ke apartemen. Aku sangat lelah. Baju pengantin ini sangat berat," ucap Esme tidak semangat.


Apartemen? Wanita ini semakin terang-terangan, ya. (Batin Alucard)


"Benar juga, aku pun sangat gerah memakai jas pengantin ini," gumam Alucard.


"Aku akan memesan kursi pijat untukmu, bagaimana?" tanya Alucard sambil terus mengendarai mobil.


Aduuhhh... dasar orang kaya!!! Aku tahu, sebenarnya dia berniat baik membelikan kursi pijat untukku, karena dia tidak ingin menyentuh aku yang masih dalam keadaan trauma. (Batin Esme)


"Tidak usah, aku hanya perlu istirahat yang cukup," kata Esme.


"Mmm... bagaimana jika aku panggilkan tukang pijat?" tanyanya, ia merasa cemas.


Esme menggelengkan kepalanya.


"Lalu apa? Apa kau sedang mencoba menggodaku? Kau ingin aku yang memijat tubuhmu?" celetuk Alucard.


Esme langsung berwajah datar, ia mendelekan matanya menatap tajam ke arah Alucard, hingga Alucard bergidik ketahukan. Tatapan itu bagikan hantu, seram sekali.


"Baik, baik... kita pulang saja, dan istirahat di apartemen," ucapnya sambil menelan salivanya, jiwanya menjadi ciut.


Esme, aku akan membuatmu jatuh cinta padaku. Tunggu saja, permainan cinta akan segera dimulai! (Batin Alucard)


....


BERSAMBUNG!!!

__ADS_1


Yang katanya mau VOTE, mana nih? Syepiii...


Like, Komen & Tips ☺


__ADS_2