Air Mata Pengantin

Air Mata Pengantin
Kehancuran


__ADS_3

.


Esme berlari ke luar gedung dengan deraian air mata. Alunan musik pengantin langsung terhenti. Para tamu berdiri panik dan menatapnya heran. Ada apa dengan calon mempelai wanita?


Leo semakin menggeram, ia berjalan menyingkirkan tubuh Tn.Harits yg sedang menghalangi jalan, lalu berlari mengejar Esme.


"ESMERALDA!" teriakannya menggelegar di seluruh sudut ruangan. Acara pernikahan ini sudah benar-benar kacau.


Kedua orang tua Leo dan Ny.Hilda dibuat sangat malu atas kekacauan yang terjadi.


"Kenapa kau menghentikan aku?" bentaknya pada Tn.Harits dengan emosi di jiwa. "Balmond, cepat kejar Esme. Seret dia kemari, pernikahan ini tidak boleh gagal!" suruh Ny.Hilda sambil mengepalkan tangannya.


Tn.Harits langsung menatap tajam ke arah Balmond, ia memelototinya. Meskipun tubuh besar doyan makan, Balmond adalah anak yang tunduk pada ayah dan ibunya.


Saat melihat raut wajah marah ayahnya, ia jadi tak berani.


Di luar gedung.


Hanabi baru saja sampai dengan mobilnya, ia berniat ingin menghadiri acara pernikahan Esme. Saat ke luar dari mobilnya, tiba-tiba Esme masuk begitu saja ke dalam mobilnya dengan nafas terengah-engah. "Cepat jalan!" ucapnya panik.


Hanabi melongo, ia bertanya-tanya. Ada apa ini?


"HANABI ! Cepat kemudikan mobilnya, bawa aku kemanapun kau mau," bentaknya. Riasan make up di wajah Esme sudah berantakan karena tangisan.


Hanabi melihat Leo yang sedang berlari ke arahnya, ia tersadar dan langsung memahami situasi yang sedang terjadi saat ini. Hanabi pun masuk lagi ke dalam mobilnya, dan mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi.


Leo menggertakan giginya. "SIAL !!" Ia berlari ke arah mobilnya dengan amarah yang besar, tapi Alice langsung menahan tangannya.


"Kak, jangan dikejar! Biarkan Kak Esme pergi," ucapnya pilu.


Leo langsung menepis kasar tangan Alice, hingga membuatnya terdorong jatuh ke aspal.


"Jal*ng! Pasti kau yang membongkar semuanya pada Esme 'kan?" Leo menunjuk-nunjuk Alice. Ia menarik paksa tubuhnya untuk berdiri, lalu mendekatkan bibirnya di telinga Alice sambil mencengkram kasar tangannya. "Aku sudah bilang, gugurkan kandunganmu. Apa uang 100 juta yang aku berikan semalam masih tidak cukup untuk menutupi mulutmu dan menggugurkan anak haram ini!"


Tubuh Alice gemetar hebat setelah mendengar ucapan dari mulut Leo, air matanya mengalir tak mau berhenti. Sakit, perih dan pahit sekali ucapan Leo sampai menusuk ke dalam hati.


Plak...


"Dasar BANGS*T !!" 😠


Kadita tiba-tiba datang dan langsung menampar pipi kanan Leo, lalu mengambil alih tubuh Alice. "Jaga ucapanmu kepar*t! Perkataanmu itu lebih menyakitkan dari pada di gigit seekor anjing liar." Kadita mengepalkan kedua tangannya.


Rahang Leo mengeras menahan emosi, ia tak ingin berdebat dengan Kadita, karena mobil yang ditumpangi Esme sudah semakin menjauh dari pandangannya. Leo berjalan cepat, ia segera masuk ke dalam mobilnya dan mengejar Esme.


"MAU KEMANA KAU PECUNDANG!" Teriak Kadita, ia sangat murka.


Alice langsung menahannya. "Sudah Kak, tidak perlu memaksanya. Aku akan baik-baik saja."


"Alice." Kadita menatap tak tega, kemudian ia memberikannya pelukan. Alice pun tak bisa lagi menahan tangisannya, ia menangis menjerit di pelukan Kadita.


..


Alucard yang sedari tadi sedang memperhatikan dari jauh di dalam mobilnya, langsung bergerak. "Kim, cepat ikuti mobil wanita bertato itu," titahnya.


Sekretaris Kim menganggukan kepalanya dan langsung melaju dengan kecepatan tinggi.

__ADS_1


Kenapa wanita itu menutupi rambut dan kepalanya dengan kain? Bukankah ini hari pernikahannya? (Batin Alucard yang tidak tahu menau tentang 'hijab' yang Esme pakai)


Roger pun tak mau ketinggalan, entah sejak kapan ia mau mengurusi masalah orang lain.


"Sepertinya, wanita itu menemukan fakta baru dari perselingkuhan Leo," gumamnya sambil berlari menuju mobilnya, Roger berniat menyusul mobil yang Esme tumpangi.


...


Leo mengemudikan mobil seperti orang kesurupan, tak menghiraukan mobil-mobil di hadapannya. Ia menyalip sangat gesit, hingga pada akhirnya mobil Hanabi pun terkejar.


Leo segera membanting setir, menempatkan mobilnya di depan mobil Hanabi.


Hanabi terhentak kaget, ia segera menginjak pedal rem sekuat yang ia bisa. "Esme, b-bagaimana ini?" ucapnya panik.


Tubuh Esme menegang, ia hanya terdiam membisu.


"ESMERALDA! Cepat ke luar," teriak Leo sambil menggedor-gedor kaca mobil Hanabi.


"Jangan! Jangan buka pintunya, Esme," ucap Hanabi yang sangat khawatir karena Leo benar-benar seperti orang kesurupan.


"ESME! Kalau tidak ke luar juga, akan aku pecahkan kaca mobil ini!" ancam Leo.


Dengan kesiapan mental, Esme pun membuka pintu mobil itu dan keluar menghadapi apapun yang akan terjadi.


"Esme!" Hanabi menatapnya cemas.


Leo langsung menarik lengan Esme, ingin membawa masuk kedalam mobilnya. Tapi, Esme langsung menghempaskan tangan Leo.


Seketika, langkah kaki Leo terhenti. Ia menoleh hampa ke arah Esme.


"Sayang, kita bicarakan baik-baik di mobilku, ya." Leo mencoba menarik tangan Esme lagi, tapi Esme langsung menghindar dengan ekspresi sangat dingin.


"Esme!"


"Esme, maafkan aku... Aku -"


"Cukup, Leo! Kali ini aku tidak bisa memaafkanmu." Air mata Esme menetes, tetes demi tetes.


"Tidak-tidak, jangan bicara seperti itu. Kesalahan apapun yang aku perbuat dan sebesar apapun kekecewaanmu padaku, kau pasti akan selalu memaafkan aku. Ayo, kita lanjutkan pernikahan kita sekarang." Leo menarik tangan Esme.


Esme kembali menepis kasar tangan Leo dengan amarah yang semakin membeludak.


"BETAPA TIDAK TAHU DIRINYA KAU MEMANFAATKAN KEBAIKANKU !" bentaknya penuh emosi. "MENGAPA KAU MENGKHIANATI CINTA TULUSKU? APA KAU TAHU SEBERAPA SAKITNYA KETIKA AKU TAHU KAU BERSELINGKUH DI BELAKANGKU HINGGA WANITA ITU HAMIL !!"


Pyar...


Esme sangat murka, ia menonjok kaca mobil Leo, hingga cairan kental berbau amis itu keluar dari tangannya dan mengalir menodai gaun pengantinnya. Serpihan kaca itu menancap di beberapa bagian kepalan tangan Esme.


Ia sama sekali tidak merasakan sakit, karena rasa sakit di hatinya begitu terlampau besar dari rasa sakit tertusuk serpihan kaca.


Hanabi terbelalak.


Leo pun sangat-sangat terkejut dan panik. "Esme, apa yang kau lakukan?"


Leo menarik paksa lengan Esme, tapi Alucard dan Roger datang dengan kerutan di dahi, mereka langsung menahan tangan Leo.

__ADS_1


Leo terhentak kaget.


Ia menoleh ke sebelah kiri. "Roger?"


Lalu menoleh ke arah kanan. "A-Alucard?"


Mereka berdua menghempaskan tangan Leo dari lengan Esme.


"Roger kau ?" Leo merasa ditikam. "A-apa yang kalian lakukan disini?" Ia semakin tak mengerti dengan situasinya kini.


Alucard menunggingkan senyumnya, dengan bola mata yang mendelek.


"Lepaskan tangan kotormu. Aku kemari untuk memberi tahukan sesuatu. Claude, adikku sekaligus pemilik asli perusahaan Mord, menyuruhku untuk mengambil alih perusahaan mulai senin depan!! Dia mencopot posisi direkturmu dan memberikannya padaku, karena dia telah melihat laporan keuangan satu tahun terakhir yang semakin menurun karena ketidak becusanmu," jelasnya dengan penuh kesombongan. "Satu bulan ini keuangan naik 3% bukankah karena kehadiran wanita ini di perusahaan? Kau hanya memperbudaknya, apa aku benar?" sambung Alucard.


Deg....


Tubuh Leo menegang, kedua matanya membulat sempurna, keringatnya pun mulai bercucuran.


"Tidak! Tidak mungkin Claude melengserkanku dari jabatan ini. Kau pasti berbohong! ... Dan, aku... a-aku tidak memanfaatkan Esme!" ucapnya gugup dengan tubuh yang gemetar ketakutan.


Alucard mendekatkan tubuhnya pada tubuh Leo, ia seperti menantangnya.


"Kau tidak bisa lari dari kenyataan. Rumah, apartemen, mobil dan semua fasilitas yang kau pinjam dari uang perusahaan akan segera disita!" bisiknya.


Esme dan Roger terbelalak. Ternyata semua kekayaan Leo berasal dari uang perusahaan.


"Esme, kau jangan mempercayainya. Dia hanyalah orang asing yang asal bicara." Leo meyakinkan Esme.


"Bagiku... dia bukanlah orang asing, setelah dengan suka relanya mengulurkan tangan untuk menolongku," celetuk Esme.


Deg.... deg... deg...


Jantung Alucard langsung berdegup tak karuan, pipinya merah merona.


"Apa yang kau bicarakan, Esme? Kau sudah tertipu olehnya !" bantah Leo.


Esme langsung melirik tajam ke arahnya.


"Siapa yang menipu siapa? Bukankah kau sendiri yang seorang penipu?" Esme mengerutkan keningnya.


Leo langsung membatu, ia mati kutu.


Esme berbalik, ia masuk kembali ke dalam mobil Hanabi dengan darah yang masih bercucuran di tangannya.


Alucard berbisik pada Hanabi. "Bawa pergi dia ke rumah sakit," katanya.


Hanabi tak pikir panjang lagi, karena ia pun merasa sangat khawatir pada Esme. Ia segera memutar balikkan arah mobilnya, melaju menuju rumah sakit.


"ESME!" teriak Leo dengan bendungan air mata. Tubuhnya langsung di hadang oleh orang-orang suruhan Alucard.


Esme sudah tak terlihat dari pandangannya. Leo menjatuhkan tubuhnya ke aspal, ia menangis terisak-isak disana menyesali perbuatannya karena telah mengkhianati dan membuat berlian yang amat berharga itu pergi menjauh dari hidupnya.


Alucard dan Roger pun masuk ke dalam mobil mereka masing-masing. Mereka meninggalkan Leo begitu saja dan menyusul Esme ke rumah sakit.


...

__ADS_1


BERSAMBUNG !!!!


Jangan cuma nyuruh up doang, hargai author juga dong dengan memberikan Like, Komen apalagi Tips. Syedih nih, patah semangat karena antusias dari readers kurang :'(


__ADS_2