Air Mata Pengantin

Air Mata Pengantin
Kemurahan Hati


__ADS_3

.


Kadita menghampiri Alice yang sedang menghapus air matanya. "Sudah, jangan terus -terusan mengutuk diri sendiri. Sekarang kau sudah bersuami. Jangan jadi gadis kecil yang cengeng lagi," kata Kadita sambil mengusap lembut punggung Alice.


"Hey, pengecut! Mau sampai kapan kau di dalam sana?" teriak Garry pada Leo yang masih berdiam diri di KUA.


"Ck," Leo mendecak. Ia pun berjalan ke luar, menghampiri Alice. "Ayo, kita pulang," katanya tanpa menoleh pada Alice.


Dasar bajing*n tengik! Masih saja belaga sombong seperti itu. (Batin Kadita)


"Alice, aku dan Garry akan langsung pulang, ya? Kau baik-baik disini, jaga bayimu. Ajak Leo untuk memeriksakan kandunganmu ke dokter," kata Kadita sambil merogoh tasnya. "Nih," ucapnya sambil memberikan sebuah amplop putih.


"Apa ini, Kak?" tanya Alice terheran.


"Ambillah, ini uang dariku dan Garry. Mulai dari sekarang kau harus bisa mengatur keuangan. Jangan dipakai seenaknya. Leo saat ini masih pengangguran. Kakak akan mencoba carikan lowongan di Bandung untuknya," ucap Kadita


Alice mengambil amplop berisi uang itu, ia langsung memeluk Kadita. "Hikss... Kak, terima kasih banyak, ya? Kakak sudah banyak sekali menolongku. Aku, aku tidak tahu harus membalasnya pakai apa," Alice menangis sesegukkan.


"Cukup jadi wanita yang baik. Jangan pernah lagi untuk menjahati seseorang," tutur Kadita, ia melepaskan pelukannya. "Sudah, ya. Aku harus segera pulang. Eh, dimana Leo?" Mata Kadita mencari-cari Leo.


Ternyata, Leo sudah berjalan menjauh.


"Dia itu benar-benar, ya!!!!" Kadita sangat jengkel. "WOY!!!" teriaknya sambil berlari menghampiri Leo.


"Hey, Leo! Kau ini baru beberapa jam saja menikah sudah seenaknya menelantarkan istrimu. Cepat gandeng dia, perlakukan Alice dengan baik! Awas saja jika kau membuatnya menangis lagi!" ancam Kadita.


Leo ingin sekali membantah, tapi tatapan mata para pejalan kaki menatapnya aneh. Nyalinya menjadi menciut.


"Rrrghhhh... baiklah. Huuuhhh."


Leo berjalan kembali menghampiri Alice.


Kadita dan Garry masuk ke dalam mobil mereka.


"Ayo, masuk! Aku akan mengantar sampai depan kontrakan kalian," ucap Garry pada Leo dan Alice.


Tatapan dan ucapan Garry disalah artikan oleh Leo. Leo mengira, Garry sedang meledeknya, karena saat ini Leo sudah benar-benar tidak mempunyai apa-apa.


Alice masuk ke dalam mobil mereka.


Leo pun mau tak mau harus masuk, karena jarak dari KUA ini ke kontrakannya sangat jauh.


Mobil melaju dengan normal.

__ADS_1



..


*******


Setelah berziarah ke makam ibunya, Esme dan Alucard segera masuk ke dalam mobil, mereka pergi menuju kediaman Tn.Harits untuk berpamitan.


Sesampainya di rumah lamanya. Esme masuk begitu saja ke dalam, karena pintu gerbangnya sudah terbuka.


"Assalamu'alaikum,"


Esme berdiri di ambang pintu. Suasana rumah sangat hening, seperti tak berpenghuni. Kenapa pintunya terbuka? Dimana Bi Inah dan Pak Lampir? Kenapa mereka tidak menyambut kedatangannya?


Sudah lama sekali Esme tidak mengunjungi rumah ini. Keadaan rumah masih sama seperti yang dulu, tapi suasananya sudah sangat berubah. Menjadi kelam.


"Ayah?" panggilnya, pandangan matanya di edarkan sambil perlahan berjalan masuk ke dalam.


Alucad yang habis memarkirkan mobil, segera menyusul Esme.


Tn.Harits berjalan dari atas tangga. Wajahnya berseri-seri saat melihat kedatangan Esme dan Alucard. "Esme?" panggilnya dengan senyum yang lebar.


Esme tidak melihat siapapun lagi disini. "Dimana yang lain?" tanyanya penasaran.


"Ah, tidak perlu repot-repot. Kita kemari hanya ingin berpamitan, kita akan pergi ke Korea siang ini," ucap Alucard yang sudah terduduk santai di atas sofa.


"Ke Korea? Oh iya, kita sudah pernah membicarakan ini sebelumnya. Apakah, kalian akan menetap disana?" tanyanya penuh rasa khawatir.


"Mm... tidak, kita hanya beberapa hari saja disana," kata Alucard.


"Baiklah. Eh, tunggu sebentar, ya...." Tn.Harits berjalan menuju dapur, ia membawakan minuman untuk Esme dan Alucard.


"Ayah, memangnya kemana Bi Inah dan Pak Lampir?" tanya Esme yang semakin penasaran.


"Mm... mereka sudah ayah suruh pulang. Ayah tidak bisa lagi menggaji mereka," ucapnya pilu. Esme langsung merebut baki berisi minuman itu dari tangan ayahnya, lalu Esme meletakkannya sendiri di atas meja.


"Lalu, Balmond dan Lolyta kemana?" tanyanya lagi sambil meleguk minuman itu.


"Hilda pergi ke kampung halamannya, Balmond merantau, dia disuruh bekerja keras oleh ibunya untuk memenuhi semua keinginannya. Lolyta, ikut ayah, kemarin dia meminta izin untuk mencari pekerjaan. Tapi, sampai sekarang belum pulang juga. Ayah jadi cemas," jelas Tn.Harits.


Kemana Lolyta? Awas saja kalau dia jadi wanita tidak benar. (Batin Esme)


Esme menatap getir wajah ayahnya. Rasanya tidak tega meninggalkannya sendirian disini.

__ADS_1


Alucard melihat wajah Esme, sepertinya ia tahu apa yang harus dilakukannya untuk membuat Esme senang. Alucard merogoh saku celananya, ia menelepon sekretaris Kim.


"Hallo, Kim! Carikan beberapa pelayan, lalu tetapkan mereka di kediaman mertuaku, dan carikan arsitek terbaik, renovasi rumah mertuaku, adakan lift, bioskop, kolam berenang, ruang olah raga, ruang spa, ruang santai, ruang untuk melihat pemandangan, pokoknya segala akses yang memudahkan dan menyamankan mertuaku. Kalau perlu belikan barang-barang baru juga untuk mengisi rumahnya. Aku ingin mendengar hasilnya dalam 5 menit!" kata Alucard, ia langsung menutup panggilan itu setelah sekretaris Kim mengiyakannya.


Esme dan Tn.Harits terbelalak. Nafas mereka seperti dicabut paksa saat mendengar Alucard mengatakan itu semua.


Daebak! Dia memang suamiku. (Batin Esme dengan mulut menganga)


"T-tidak perlu repot-repot, nak. Biarkan saja, ayah sangat suka suasana biasa seperti ini," ucapnya.


"Aku tidak merasa direpotkan, anggap saja ini sebagai hadiah kecil dari menantumu," kata Alucard.


Hadiah kecil? Mengadakan bioskop, tempat spa dan lift di dalam rumah di anggap hal kecil baginya? Lalu, hadiah besarnya seperti apa? (Batin Tn.Harits yang masih terkejut)


"Tapi, nak -"


"Tidak perlu khawatir, ayah. Semua biaya, aku yang akan menanggungnya. Seusiamu bukankah hanya ingin ketentraman, dan kedamaian? Tapi, kalau seperti itu setiap hari bukannya sangat membosankan? Maka aku akan segera mewujudkannya, membuat rumah ini tentram dengan fasilitas yang lengkap. Jadi, ayah bisa melakukan semua aktifitas di dalam rumah, tanpa harus kemana-mana," jelas Alucard.


"I-iya, tapi ini semua terlalu berlebihan...," kata Tn.Harits.


"Ini semua adalah bayaran yang sangat pantas untukmu Tn.Harits. Kau sudah membesarkan Esme dengan penuh kasih dan sayang. Atas didikanmu, Esme menjadi gadis yang cantik, baik, pintar, tegar, dan berbudi luhur. Lalu, aku sudah merebut anak emas ini darimu. Maka, semua yang aku berikan untukmu menjadi setimpal," jelas Alucard.


Glek...


Tn.Harits menelan salivanya. Sudah tidak tahu harus berbicara apalagi.


Esme hanya bisa tersenyum manis sambil menatap wajah Alucard diam-diam. Senyumannya menyiratkan bahwa Esme sangat bangga memilikinya.


Setelah berbincang, Alucard mendapat telepon dari sekretaris Kim, bahwa ia akan segera membawa beberapa pelayan dan arsitek terbaik menuju rumah Tn.Harits.


"Ayah, kita harus segera menuju bandara. Urusan renovasi rumah serahkan saja pada sekretarisku dan arsiteknya. Mereka akan tiba disini beberapa menit lagi. Untuk tempat tinggal sementaranya, ayah bisa mengisi rumah baru kami. Ini kuncinya, aku akan mengirimkan alamat rumahnya melalui pesan," ucap Alucard, sambil memberikan kunci rumah hadiah dari Ny.Bae.


Alucard dan Esme berpamitan pada Tn.Harits. Kemudian, mereka berjalan ke luar, dan masuk kedalam mobil.


"Esme, hati-hati di jalan, ya?" ucap Tn.Harits sambil melambaikan tangannya. "Nak Alucard, kau harus menjaga Esme sebaik mungkin!" teriaknya.


Alucard hanya mengangguk dan tersenyum dari dalam mobil. Kemudian, mobil mereka melaju menuju bandara.


Alucard tak memperbolehkan Esme membawa banyak baju, karena disana pasti Ny.Bae sudah menyiapkan semua perlengkapan untuk Esme. Ya, Ny.Bae memang seperti itu, ia sangat baik pada seorang gadis, apalagi saat ini ia sudah mempunyai seorang menantu yang cantik dan pintar seperti Esmeralda. Sepertinya Esme akan dibuatnya bak seorang ratu di kediaman mewahnya.


....


BERSAMBUNG !!!!

__ADS_1


Jangan lupa LIKE, KOMEN & VOTE ❤


__ADS_2