Air Mata Pengantin

Air Mata Pengantin
Dalangnya.


__ADS_3

.


Cuaca hari ini begitu cerah. Alice yang baru saja ke luar dari kamar mandi terduduk di kursi meja rias. Wajahnya terlihat pucat, perutnya semakin membesar, berat badannya pun semakin meningkat.


Alice jarang ke luar rumah. Sekalinya ke luar rumah, ia akan berpakaian serba longgar dan berdandan sedikit, agar orang tua atau siapapun yang melihat tidak akan mencurigainya. Sebegitu ribetnya 'kah hamil di luar nikah? Setiap hari harus selalu menyembunyikan kehamilan dan berpura-pura baik-baik saja. Padahal di dalam hatinya, sangat gemetar ketakutan dan gelisah, jiwanya hancur berantakan.


Beberapa hari lagi ia akan menjalani Ujian Nasional. Tapi, pikirannya sangat kacau, ia tak bisa konsentrasi dalam belajar. Ketakutan selalu menghantuinya. Ketakutan jika orang tuanya tahu ia hamil, ketakutan jika Leo tak kunjung menikahinya, karena Leo masih mencintai Esme.


Alice sudah pasrah dengan cita-cita yang tidak akan mungkin bisa ia raih, karena setelah lulus sekolah, ia akan menikah, mengurus anak, suami dan rumah.


Mungkin pada saat itu, rasa cemburu dan penyesalan yang sebenarnya akan menyerangnya. Ia akan melihat teman-temannya bisa bermain kesana kemari tanpa beban. Sedangkan Alice, harus mengurus anak dan suaminya dirumah.


Sudah dua hari Alice tidak masuk sekolah, karena belakangan ini teman-temannya mulai curiga dengan postur tubuhnya. Pandangan mereka membuat Alice takut dan sangat marah. Ketika Alice jalan melewati teman-temannya, pandangan mereka terus saja menatap perutnya. Keadaan yang seperti inilah membuat Alice semakin terpuruk dan ketakutan.


Sering kali terlintas dipikirannya, apakah anak yang ada di dalam kandungannya itu harus digugurkan? Bukankah jika ia benar-benar menggugurkan bayinya itu akan membuat hidupnya kembali normal? Jika benar-benar digugurkan, Alice bisa menunjukan pada teman-temannya bahwa pandangan dan praduga mereka semuanya salah.


Tapi, bagaimana dengan konsekuensi yang akan dia dapat jika Alice bersikekeh ingin menggugurkan kehamilannya? Dampak yang paling mengerikan jika menggugurkan kandungan adalah dosa yang harus di terimanya. Sudah berbuat zinah apalagi membunuh janin yang ada di dalam kandungannya, bukankah itu sebuah dosa besar? Dan, melakukan aborsi pasti berpengaruh pada kesehatannya.


Setiap kali berpikiran seperti itu, Kadita selalu datang dan merangkulnya, menemani dan menenangkannya. Pikiran jahat itupun tersapu dengan sendirinya.


...


Hari ini, Leo berniat mendatangi rumahnya seorang diri dengan seikat bunga mawar merah berbentuk love. Ia ingin berbicara pada orang tua Alice tentang masalah pernikahan.


Leo sudah mempersiapkan dirinya untuk bertanggung jawab, meskipun di dalam hatinya masih terbentang luas nama ESMERALDA. Kemauan Leo menikahi Alice ini berkat Kadita yang selalu saja datang ke rumahnya, membujuk Leo dengan beberapa nasihat yang membangun.


Leo menaiki angkutan umum untuk sampai ke rumah Alice, karena semua fasilitas termasuk mobil yang ia miliki sudah di ambil oleh perusahaan.


Sampailah di depan rumah Alice.


Dengan jiwa yang gemetar hebat, Leo memberanikan diri menekan bel, kemudian tidak lama pembantu di rumahnya membuka pintu. Ia mengintrogasi Leo sebelum memasuki kediaman Gubernur.


Setelah mendapati penjelasan yang cukup logis, si pembantu membuka lebar gerbang rumah, mempersilahkan Leo masuk.


Si pembantu menyuruh Leo duduk di sofa ruang tamu. Kemudian, ia segera berjalan menuju kamar Ny.Irina, melaporkan bahwa ada tamu yang datang ke rumahnya.


Leo yang baru pertama kali berkunjung ke rumah Alice merasa terpana dengan desain rumah Gubernur ini.


Hati kecilnya merasa malu, telah menghamili anak Gubernur. Entah bagaimana reaksi mereka ketika tahu Alice hamil.


Ny.Irina berjalan menuruni tangga, melihat dari jauh siapa yang bertamu hari ini.


"Mm... anak muda ini mau mencari siapa, ya?" tanya Ny.Irina ramah, sambil melihat seikat bunga mawar yang Leo genggam.


Leo yang sedang menatap foto besar Alice beserta kedua orang tuanya yang terpampang di dinding, terkejut.


"Ah!" Leo langsung beranjak dari duduknya. "Maaf mengganggu, saya kemari ingin bertemu dengan Alice," kata Leo. Ia benar-benar sangat gugup.


Sepertinya ini ibunya Alice. Tapi, dimana ayahnya? Aku akan bersyukur jika ayahnya tidak berada di rumah. (Batin Leo)


"Oh, Alice. Ada keperluan apa dengan anak saya?" tanyanya dengan sorotan mata yang meneliti.


Sial!! Aku sangat gugup. Bagaimana cara bicaranya, ya? (Batin Leo)

__ADS_1


Leo menelan salivanya. "Mm, saya... saya Leomord, kekasihnya, Nyonya. Saya kemari ingin melihat keadaan Alice. Malam tadi, dia menelepon katanya sedang tidak enak badan." Leo beralasan, padahal Alice tidak menghubunginya seperti itu.


Ny.Irina menundukan wajahnya. "Oh, kekasihnya." Ucapannya seperti tidak bersemangat. "Kau temui saja ke kamarnya, bujuk dia makan, atau ajak dia bermain ke luar. Beberapa bulan ini, dia selalu mengurung diri di kamar dan jarang pergi ke sekolah, padahal Ujian Nasional hampir tiba. Entah masalah apa yang sedang menimpanya, karena Alice membantah keras tidak ingin membicarakan masalahnya dengan ayah dan ibunya. Aku sebagai ibunya, sangat khawatir dengan keadaannya yang seperti itu," jelas Ny.Irina, raut wajahnya sangat bersedih.


Leo termenung, ia semakin merasa bersalah.


"Mm, jika boleh tahu dimana kamar Alice? Semoga saya bisa membujuknya," kata Leo.


"Kau naiki anak tangga, kamar Alice berada di bagian kiri, pintu pertama." Ny.Irina mempersilahkan begitu saja. Ia tak ingin ambil pusing, yang ia harapkan saat ini hanya keadaan Alice. Semoga saja Leo dapat membuat Alice berbicara tentang masalah yang selalu ditutupinya, begitulah menurut Ny.Irina.


Leo sedikit sungkan, kemudian ia berjalan perlahan menaiki anak tangga menuju kamar Alice. Ia mengambil bagian sebelah kiri dan terlihatlah pintu pertama yang sedikit terbuka.


Di depan pintunya tertempel pajangan kayu yang bertuliskan 'Princes Alice'.


Karena pintunya sudah terbuka sedikit, Leo masuk tanpa mengetuk pintu itu.


Leo mengedarkan pandangannya, ia mendapati Alice sedang berdiri mengarah ke luar jendela, memunggunginya. Tapi, sepertinya Alice sedang menelepon seseorang. Ponsel yang di pegangnya tertempel di telinga kiri Alice.


Dengan siapa Alice berbicara?


Terdengar suara Alice yang seperti berbisik, nada bicaranya sangat rendah sekali.


Leo mengerutkan keningnya, ia sedikit penasaran, kenapa menelepon orang sampai berbisik-bisik seperti itu?


Leo berjalan mendekat tanpa sepengetahuan Alice.


"Apa! Bagaimana bisa ada yang mengetahui tempat persembunyian itu? Tenang saja, aku menyuruh penculik profesional, mereka tidak akan mudah tertangkap. Sekarang, cepat! Suruh para penculik itu memindahkan si Esme ke tempat persembunyian yang lain. Sebelum di buang ke laut, rusak saja wajahnya, agar mayatnya tidak di kenali !!"


Deg...


Leo segera memutar balikkan tubuh Alice, hingga Alice terhentak kaget sekaget-kagetnya.


"K-k-kak Leo?" Matanya membulat, mulutnya menganga, tangan yang sedang menggenggam ponsel bergetar hebat.


Leo menyentuh kedua bahu Alice, mendorongnya, dan menghentakan tubuh Alice ke dinding. Di kedua bola matanya seperti ada api yang membara. Begitu menakutkan tatapannya, hingga tubuh Alice menegang ketakutan.


"Penculik? Wajahnya dirusak sebelum di buang kelaut, agar mayatnya tidak dikenali, apa maksud ucapanmu itu, Alice? Dan kenapa kau menyebut nama Esme?" Urat di kepala dan di leher Leo terlihat sangat jelas.


Kebisuan Alice membuat amarah Leo semakin meronta-ronta.


Leo merampas kasar ponsel yang ada di genggaman tangan Alice. "Halo? Halo? ...," ucap Leo.


Sayangnya, panggilan itu langsung dimatikan.


Leo melihat nama dari si penelepon.


"Ny.Hilda?" Matanya langsung terbelalak.


Leo semakin menggeram.


Kemudian, ia mengutak-atik ponsel Alice, dan membuka kotak pesan masuk.


Alice berusaha mengambilnya, tapi tangan Leo yang tinggi membuatnya kesusahan.

__ADS_1


"Diam, Alice!!!" perintah yang seperti menyiratkan ancaman itu membuat jantung Alice semakin berdetak hebat.


"Kak, berikan ponselnya padaku! Tidak ada apa-apa disana," ucap Alice gemetar. Ia terus berusaha mengambil ponselnya. Keringatnya mulai bercucuran.


Sebuah pesan di deretan utama, membuat rasa penasaran Leo semakin menjadi. Ia segera memeriksa pesan itu.


• Malam ini kami sudah berada di perusahaan Mord. Korban terlihat sedang di seret oleh seorang pria berjas ke sebuah gang.


• Singkirkan saja pria berjas itu. Cepat bawa dia ke tempat yang sudah aku tunjukan pada kalian. (Balasan Alice)


• Kami sudah menyingkirkan pria itu, dan membawa korban ke rumah di tengah hutan yang kau suruh. Selanjutnya bagaimana?


• Pastikan dia tidak membawa ponsel atau barang apapun. (Balasan Alice)


• Bos, wanita ini sangat menawan. Bolehkan kita mencicipinya?


• Lakukan saja semau kalian. Buat dia menderita seperti aku! Kalian tetap disitu, tunggu perintah selanjutnya dariku. (Balasan Alice)


Jika bisa di gambarkan, tanduk Leo saat ini sudah muncul di atas kepalanya. Api mengembara di seluruh tubuhnya setelah melihat pesan itu.


"Alice, kau !!" Tatapan mata Leo begitu kecewa dan marah.


PYARRR....


Leo membanting keras ponselnya beserta seikat bunga mawar ke arah cermin yang menempel di lemari bajunya, hingga ponsel dan cermin itu hancur bersamaan sudah bagaikan serpihan.


Bunga mawarnya berjatuhan kemana-mana. Kacau sudah keadaan kamar Alice saat ini.


Alice menutup telinganya, tubuh Alice semakin gemetar ketakutan, keringat dan bendungan air matanya muncul.


"APA KAU SADAR DENGAN APA YANG KAU LAKUKAN INI, ALICE !!"


Teriakan Leo membuat gendang telinga Alice kesakitan.


Ny.Irina dan pembantunya masuk ke kamar Alice. Mereka terkejut saat melihat pecahan kaca yang berceceran ke segala arah.


"Ada apa ini?" Mata Ny.Irina terbelalak, ia menatap cemas pada anaknya.


Leo mendekatkan mulutnya ke telinga Alice.


"Alice! Jika terjadi sesuatu pada Esme, kau dan anakmu akan membayar semuanya! Aku tidak pernah main-main!" bisik Leo penuh ancaman.


Tubuh Alice merosot ke bawah, ia memeluk erat dengkulnya. Alice menangis tanpa ekspresi di wajahnya.


Ingin sekali Leo menyekik leher Alice. Tapi, ia lebih memilih pergi dari rumah itu.


Leo berjalan melewati Ny.Irina dengan hawa yang mengerikan.


Ny.Irina menarik tangan Leo. "Ada apa ini? Apa yang kau lakukan pada Alice?" teriak Ny.Irina.


Leo mendelekan matanya, rahangnya mengeras. Ia menepis kasar tangan Ny.Irina, dan berjalan keluar dari kamar itu dengan kepalan ditangannya. Amarahnya mengalir di seluruh tubuh hingga merasuk ke dalam darah dan dagingnya.


...

__ADS_1


BERSAMBUNG !!!!


hey inget untuk memberikan Like, Komen & Vote ❤ Seberapa gregetnya kamu sama novel AMP ini...?


__ADS_2