
.
Esme, aku menerimamu apa adanya. Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku, dan aku berjanji akan mengganti semua penderitaan yang telah menimpamu dengan kebahagiaan murni dariku!!! (Batin Alucard saat menatap Esme berbenah bangsalnya)
Alucard, maafkan aku... aku menerimamu karena mungkin hanya kamu pria yang bisa menerimaku, wanita bekas yang mengalami sindrom trauma. Dan, entah kenapa saat berada dekat denganmu aku merasa aman. (Batin Esme yang sedang memunggungi Alucard)
"Esme, apa kau merasa lapar?" tanyanya.
Esme yang sedang menyenderkan punggung langsung menganggukan kepalanya.
Alucard segera mengambilkan makanan dan berniat menyuapinya.
"Ayo, buka mulutmu." Ia terduduk di samping bangsal Esme sambil menyodorkan sesuap sup yang sudah dingin karena dibiarkan lama.
"Aduduhh... kau menduduki tanganku!" Esme mengernyit kesakitan.
Alucard terkejut dan langsung beranjak.
"Ah! Apakah luka lebamnya belum sembuh?" tanyanya cemas, sambil memeriksa tangan Esme.
Esme menganggukan kepalanya.
"Lukanya ada dimana-mana dan masih terasa sakit," katanya.
Benar-benar biadab mereka, menjadikan Esme separah ini! (Batin Alucard)
"Kenapa kau bisa masuk perangkap para penculik itu? Bukankah kau bisa menghindar?" Alucard jadi merasa kesal karena terlalu mencemaskan Esme.
Pertanyaan Alucard membuat Esme mengingat lagi kejadian itu, ia langsung merinding sejadi-jadinya, dan tiba-tiba saja Esme merasa pusing dan mual.
"Ada apa?" tanya Alucard
Esme mengacuhkannya, ia segera beranjak dan berusaha berjalan menuju toilet.
Esme langsung mengunci rapat pintu toilet, dan membuat Alucard semakin mencemaskannya.
Ada apa dengannya? (Batin Alucard)
Alucard mematung di depan pintu toilet, ia menajamkan pendengarannya.
Terdengar suara keran air yang menyala dan suara muntahan.
"Kenapa dia muntah-muntah? Apa aku tidak salah dengar?" gumamnya.
Dor... dor... dor...
"Esme! Apa kau baik-baik saja?" tanyanya sambil terus mengetuk pintu.
Tidak ada jawaban dari dalam. Yang ada hanya suara keran air saja yang menyala.
Sudah beberapa menit Alucard menunggu sambil mondar mandir kesana kemari. Esme tak kunjung ke luar dari toilet. Rasa cemasnya semakin bertambah.
Alucard menggedor kembali pintu toiletnya.
"Esme!!!" panggilnya dengan suara tinggi. "Esme, apa kau bisa mendengarkan aku?"
Tetap, tidak ada jawaban.
Alucard mengerutkan keningnya, ia merasa ada yang tidak beres.
Ceklek...
Tiba-tiba saja Tn.Harits datang membuka pintu perlahan.
"Ah, Alucard? Kau masih disini menemani Esme?" sapanya, ramah.
Alucard terkejut dan menjadi gugup. "A-emm, ya."
Tn.Harits berjalan mendekati bangsal. Ia tak melihat Esme ada disana. "Dimana Esme?" tanyanya.
"Oh, Esme sedang berada di toilet," katanya, semakin gugup berhadapan dengan calon mertua.
Tn.Harits menghela nafas lega. Ia berjalan dan duduk di sofa sambil membayangkan kejadian pertengkaran dengan istrinya sewaktu dirumah.
__ADS_1
Alucard menghentak-hentakkan kakinya ke lantai, ia semakin tidak tenang karena Esme tak kunjung ke luar juga dari toilet.
Tn.Harits yang melihat tingkah anehnya, merasa heran. "Ada apa, nak?"
"Mm... aku hanya merasa cemas, Esme dari tadi di toilet belum keluar juga," katanya.
Tn.Harits menciutkan kedua matanya. Ia segera berjalan menuju toilet. "Esme! Esme ini ayah. Ayah datang menjengukmu," ucapnya.
Tn.Harits menempelkan telinganya ke pintu toilet. Menajamkan pendengarannya.
Tapi, ia tidak mendengar apa-apa.
Alucard dan Tn.Harits bertatap mata. Insting mereka mengatakan ada yang tidak beres.
Dorr... dor... dor...
"Esme! Jangan main-main. Buka pintunya, ayahmu sudah datang. Bukankah kau menantikan kedatangannya?" Alucard meninggikan suaranya lagi.
Masih tidak ada jawaban juga dari dalam. Alucard semakin panik. Ia segera mendobrak pintu kamar mandi.
Bruk...
Slot kuncinya langsung hancur dengan satu kali tendangan, hingga membuat Tn.Harits terkejut.
Alucard segera masuk kedalam.
Deg...
Esme terlihat sedang memeluk lutut di pojok kamar mandi. Tubuhnya gemetar ketakutan.
Ada apa? Kenapa Esme seperti ini? Bukankah dia sudah kembali normal?
Alucard berjalan mendekat. Ia segera meraih tubuh Esme. "Esme kenapa kau -"
Belum juga selesai bicara Esme langsung mendorong tubuh Alucard, hingga punggungnya menghantam dinding.
"Jangan... jangan mendekat!" Esme beranjak, dan berpindah tempat. Ia kembali memeluk lutut di pojokan. Menjauh dari Alucard.
"Esme, jangan seperti itu. Ayo, kemari. Ayah sudah berada disini," bujuknya. Suara Tn.Harits begitu terdengar lembut.
Bukannya meredam, tingkah Esme malah semakin menggila. Ia menarik rambutnya kencang. Dipikirannya hanya terbayang saat para penculik itu melecehkannya sambil memukul-mukul tubuhnya dengan kasar. Ia benar-benar tersiksa.
Esme menangis sejadi-jadinya. Kemudian tubuhnya lemas tak bertenaga. Esme tak sadarkan diri.
Alucard yang masih berpikir dimana letak kesalahannya dibuat terkejut. Ia segera meraih tubuh Esme dan menggendongnya menuju bangsal.
"A-Alucard! Kenapa... kenapa bisa separah ini?" Hancur sudah perasaan hati seorang ayah melihat anaknya kacau seperti itu.
Alucard tidak menjawab pertanyaan Tn.Harits, ia hanya fokus dengan keadaan Esme. Alucard segera keluar memanggil dokter.
Tidak lama dokter dan psikologpun datang.
Tn.Harits yang sedang menitikan air mata di samping tubuh Esme langsung menyingkir. Ia memberi kesempatan pada dokter untuk memeriksa kondisi anaknya.
"Dia mengalami kejang otot, tapi saat ini kondisinya mulai stabil," kata dokter setelah memeriksa tubuh pasiennya.
"Tuan, apakah tadi di antara kalian ada yang membahas tentang pelecahan itu padanya?" tanya psikolog.
Tubuh Alucard langsung menegang. Ia ingat sebelum Esme bertingkah aneh, ia bertanya tentang yang berhubungan dengan kejadian pelecehan itu.
"Ya, tadi... aku bertanya tentang yang bersangkut paut dengan kejadian itu," kata Alucard.
"Pantas saja pasien seperti ini. Kemarin saya lupa memberitahu, jika seseorang mengalami sindrom trauma pelecehan seksual, sebisa mungkin orang-orang disekitarnya untuk tidak membahas tentang kejadian itu padanya. Jika pasien mengingat dan mendengar berita tentang pemerkosaan atau sebagainya, pasien akan mengalami kejang pada tubuh, mual, muntah, bahkan pingsan seperti ini. Jadi, sangat disarankan jangan membicarakan tentang hal sensitif ini lagi padanya," jelas psikolog.
"Dan, diharapkan kalian terus dorong dia agar keluar dari zona pahitnya, hentikan pemikiranannya, jangan sampai sindrom trauma ini masuk lebih dalam, karena dampaknya akan berpengaruh sangat buruk pada pasien." Setelah menjelaskan beberapa hal penting, dokter dan psikolog pun pergi ke luar, mejalankan kembali tugasnya di ruangan lain.
Tn.Harits benar-benar tak menyangka, anak gadisnya menderita sudah sampai separah ini.
Air matanya menetes sambil mengelus tangan Esme.
Alucard yang merasa bersalah langsung mengampiri Tn.Harits. Ia mengelus-elus pundaknya.
"Tuan, aku bersedia bertanggung jawab pada anakmu. Aku menyukainya, dan aku menerima Esme apa adanya. Aku akan menikahinya, dan akan melindunginya. Aku akan membuatnya sembuh, dan membuatnya melupakan semua kejadian pahit yang menimpanya," ucap pilu Alucard.
__ADS_1
Tn.Harits menghapus air matanya. Ia tersentuh dengan ucapan yang terasa sangat tulus dari lubuk hati Alucard.
Perlahan, Tn.Harits meraih tangan Alucard, ia menyatukannya dengan tangan Esme.
"Alucard, aku lihat kau adalah sosok laki-laki yang baik, dan bertanggung jawab. Aku yakin kau bisa menjaga anakku. Lindungi dia, jangan sampai kesakitan ini terulang kembali. Aku sebagai ayahnya, bersedia menyerahkan Esme padamu. Nikahi dia, lalu bawa dia pergi jauh. Hapuskan semua memorinya tentang kejadian pahit ini," ucapan Tn.Harits begitu pilu. Air matanya mengalir deras.
"Tapi... bila suatu hari nanti kau sudah tidak mencintai Esme lagi. Jangan beritahu dia, beritahu aku. Aku akan membawanya pulang." Tn.Harits segera memeluk Esme, ia mengelus kedua pipinya.
Alucard berjalan menjauh dari Tn.Harits, ia merogoh kantung bajunya dan mengambil ponselnya. Alucard menelepon seseorang.
"Ayah, segera urus surat nikah untukku. Aku akan menikah akhir minggu ini. Aku sudah punya pilihanku sendiri. Ayah tidak berhak membantahnya! ... Oh ya, satu lagi. Dua keluarga akan bertemu dua hari lagi dari sekarang. Ayah dan ibu harus bersiap, jangan sampai ayah mempermalukan aku di depan calon mertuaku, ya?" ucap Alucard dengan kecepatan bicaranya, ia segera mematikan panggilan itu begitu saja, hingga membuat Tn.Aganor mati kutu.
"Dasar anak sialan! Dia memerintahku seperti merintah siapa saja! Apa dia tidak menghormatiku sama sekali sebagai ayahnya?" ucap Tn.Aganor menggunakan bahasa Korea.
Tn.Aganor ingin membanting ponselnya, karena sangat jengkel sudah membuat istrinya melahirkan anak selancang ini. Namun tertahan oleh istri imutnya, yaitu Ny.Bae Nana.
"Ada apa, sayang? Kita sedang berada di apartemen Alucard, jangan membuat kegaduhan disini!" tanya Ny.Bae penasaran.
"Anak itu menyuruhku mempersiapkan pernikahannya minggu ini. Dia menyuruhku seperti menyuruh kacungnya saja," geramnya.
"Apa? Alucard akan menikah?" Ny.Bae yang sedang duduk langsung beranjak. "Bagus!! Biar aku saja yang mengurus surat pernikahannya."
Tn.Aganor terbelalak, ia kira istrinya tidak akan terima, ternyata ia malah antusias mendengar kabar pernikahan ini.
Ny.Bae segera memilih baju di dalam lemarinya, dan merias wajahnya, kemudian ia mengambil kunci mobil dan berlalu meninggalkan suaminya begitu saja.
"Hey, hey, hey! Sudah cantik begini mau kemana?" tanyanya, dengan tatapan yang menakutkan.
"Aku akan pergi mengurus pernikahan Alucard. Aku sudah tidak sabar ingin mempunyai seorang menantu," jawabnya tergesa-gesa.
"Kau tidak mengajakku bersamamu? Tega sekali kau?" Tn.Aganor memalingkan wajahnya kasihan.
"Kalau mau ikut, cepat ganti bajumu." Ny.Bae mulai merasa jengkel.
"Aku sedang tidak bersemangat karena hari ini aku tidak mendapat ciuman darimu. Hoaammm...," Tn.Aganor beralasan dan berpura-pura menguap.
"Masabodo! Sudah ah, aku pergi ya!" celetuk Ny.Bae.
Jleb...
Hatinya langsung sakit dimasabodokan seperti itu. "Hey, Nana! Satu langkah lagi kau berjalan, aku tidak akan memuaskanmu diranjang!"
Ny.Bae langsung mundur perlahan, bagaikan seekor rubah yang sudah dijinaki.
Tn.Aganor tertawa kecil melihat tingkah istrinya itu. "Ambilkan baju dan celana dilemari, lalu pakaikan untukku. Tubuhku benar-benar lunglai," alasannya itu membuat Ny.Bae geli, karena ia tahu suaminya sedang menggodanya.
Ny.Bae segera mengambil baju suaminya dan memakaikannya ditubuh Tn.Aganor.
Pipinya merah merona saat menyentuh dada bidangnya.
Uh! Aku semakin tidak tahan ... (Batin Ny.Bae)
Ny.Bae melemparkan baju suaminya.
"Dasar ******** tua! Pakai saja bajunya sendiri! Kau mengotori otak polosku!" geram Ny.Bae, ia tidak ingin melakukannya sekarang, karena ingin mengurus pernikahan Alucard dulu.
Tn.Aganor tertawa terbahak-bahak.
"Otak mana yang polos? Kau ini sudah memiliki anak 5, Nana. Apa yang seperti itu masih bisa dikatakan polos. Hahaa.... Sudahlah, ayo, selagi tidak ada Alucard."
Cih...
Ny.Bae mendelekan matanya. Ia merasa kesal sudah disindir seperti itu. Ia segera beranjak dan ke luar dari apartemen, meninggalkan Tn.Aganor.
Benar-benar sudah berani mengacuhkan suaminya.
Meskipun sudah tua dan memiliki 5 orang anak, wajah Ny.Bae sangat terawat, keriputpun tidak terlihat, kulitnya masih mulus bagaikan giok. Maka dari itu, sudah bersama sampai setua ini pun Tn.Aganor masih sangat posesif padanya.
...
BERSAMBUNG !!!!
Mau tau cerita Tn.Aganor & Bae Nana? Makanya baca di novel SURROUNDED SEVERAL BOYS, novel ini kan kelanjutan dari novel itu. hehe... ❤ Like, Komen & Tipsnya ditabung buat hari SENIN ya
__ADS_1