
.
Pagi hari.
Matahari sudah menyorot tepat di luar jendelanya. Tapi, Esme masih saja terbaring di atas ranjang meringkuk di dalam selimut tebal, tak seperti biasanya.
Bi Inah mengetuk pintu kamar Esme, karena Ny.Hilda yang menyuruhnya.
"Non Esme ! Bangun, Non. Sudah siang," panggil Bi Inah dari luar pintu sambil terus mengetuk pintu kamarnya.
Mata merah membengkak, Esme pun mengerjapkan matanya. Ia berusaha membuka kedua mata yang sangat berat dan bengkak itu. Semalaman Esme menangisi nasib hubungannya yang sudah kacau karena perselingkuhan Leo.
Esme ingin segera membuka pintu kamarnya, tapi tubuhnya tak mau digerakkan. Hanya ingin terus saja berbaring di atas ranjang empuk miliknya.
"Non, Esme. Bangun, Non !" panggil Bi Inah lagi.
"Bibi kan punya kunci cadangan kamarku. Pakai saja kunci itu untuk membukanya !" Esme sedikit berteriak.
Bi Inah langsung membukanya dengan kunci cadangan. Saat masuk kedalam kamar Esme, Bi Inah menatap cemas, karena Esme masih meringkuk tidak seperti biasanya.
Bi Inah segera menghampirinya.
"Non, ada apa? Apa Non Esme sakit?" tanyanya sangat cemas.
Esme tak ingin menoleh, jika ia menoleh pasti Bi Inah langsung membawakan batu es untuk mengompres mata bengkaknya lagi.
"Aku hanya ingin rebahan saja, Bi. Ini kan hari sabtu, semua kantor libur," katanya beralasan.
Bi Inah menatap curiga.
"Oh ya, Bi. Tolong bawakan aku nasi dan telur ceplok, ya. Tiba-tiba saja aku ingin sarapan dengan itu," ucap Esme beserta perintahnya.
Bi Inah menghela nafas lega.
"Hmm... jika Non tidak apa-apa, ya sudah. Bibi akan segera membuatkannya." Bi Inah pun ke luar dari kamar Esme, lalu menuju dapur.
Esme kembali termenung, meratapi nasibnya.
Kemudian, ia mengambil ponsel dan segera menelepon Hanabi.
Tidak perlu menunggu lama, Hanabi pun segera mengangkatnya.
"Ya, apakah ada perintah lagi untukku?" tanya Hanabi di balik telepon itu.
Esme menghela nafas yang terasa berat.
"Hanabi, aku harus bagaimana?" tanyanya dengan raut wajah datar tanpa ekspresi.
"Apa?" Hanabi mengernyit heran. "Oh, masalah malam tadi...?" Ia merasa kasihan pada Esme.
"Kau sudahi saja hubunganmu dengannya. Batalkan pernikahanmu, karena satu kali sudah selingkuh maka akan terus seperti itu," katanya dengan santai.
Esme melamun, wajahnya terlihat pucat.
"Akupun berpikir seperti itu. Tapi, kau tahu 'kan, melepas seseorang tidak semudah membalikan telapak tangan? Pasti aku membutuhkan banyak waktu untuk bisa melepasnya," ucap Esme tanpa sadar.
__ADS_1
"Hmmm... Esme, semua keputusan ada di tanganmu. Sebelum hari pernikahanmu tiba, sebaiknya kau memikirkan keputusan itu matang-matang. Tapi, aku sih menyarankan, tutupi semua yang sudah kamu tahu pada semua orang termasuk Leo tentang perselingkuhan itu. Jangan melepaskannya begitu saja, kau harus membuat pelajaran dulu untuk lelaki seperti itu sebelum membuangnya !" Hanabi tersenyum usil disana.
Esme termenung, sangat penat sekali pikirannya. Air matanya sudah enggan untuk menetes lagi. Yang ada hanyalah kekecewaan dan rasa sakit yang teramat dalam.
Pernikahanku tinggal menghitung hari. Apakah aku bisa melepaskannya begitu saja? (Batin Esme)
Kemudian, Esme memaksakan tersenyum.
"Baiklah, terimakasih atas sarannya." Esme langsung menutup panggilan telepon itu.
Ia memaksakan tubuhnya untuk bangun, dan beranjak masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Saat akan menggosok gigi. Esme merasakan mual, ia muntah beberapa kali disana. Tubuhnya semakin melemah, wajahnyapun semakin pucat. Tapi, Esme memaksakan diri untuk mandi.
Setelah mandi, tubuhnya terasa segar. Tiba-tiba terdengar suara ketuk pintu dari luar. Esme langsung membuka pintu dengan tubuh yang masih dibalut handuk.
Ternyata, Bi Inah yang membawakan sarapan yang Esme pinta.
Esme tersenyum padanya, dan mengambil nampan berisi sarapannya itu, lalu menutup pintu kamarnya.
Setelah selesai mengenakan pakaian dan merias sedikit wajahnya, Esme langsung menyantap telur ceplok itu.
Baru saja telur dan nasi itu masuk ke dalam mulutnya, Esme langsung merasakan mual lagi. Ia segera berjalan ke kamar mandi untuk memuntahkan nasi beserta telur ceplok itu.
Esme membasuh mulutnya dengan air beberapa kali.
Setelahnya ia kembali. Esme duduk di tepi ranjang sambil mengusap-usap perutnya. Rasa laparnya sudah hilang, ia tak berselera makan sekarang.
Kemudian, tak sengaja matanya melirik ke arah kalender.
Deg....
Sudah tanggal 20? (Jantungnya berdebar)
"Aku sudah telat datang bulan dua minggu !" Esme membelalakan matanya, lalu ia mengingat perkataan Kadita saat di kantor yang membahas tentang 'pertanda awal kehamilan'. Jantungnya semakin berpacu dengan cepat. Pikirannya kemana-mana, sudah tidak karuan. Tangannya pun membeku, raut wajahnya sangat cemas.
"A-apa mungkin aku hamil?" gumamnya dengan tatapan kosong.
Esme beranjak dan mengambil tasnya. Ia berjalan cepat ke luar dari kamarnya, tak menyadari sudah melewati ayah dan ibunya begitu saja.
"Hey, hey, Esmeralda ! Mau kemana kamu? Semakin dewasa semakin tak beradab saja," geram Tn.Harits yang merasa di abaikan oleh Esme.
Esme langsung menghentikan langkah kakinya. "Ah ! Emm, hehe... maaf ayah, aku sedang terburu-buru." Esme kembali menghampiri ayah dan ibunya, lalu bersalaman begitu saja.
"Jawab dulu, mau kemana?" tanya Ny.Hilda penasaran.
Esme menggaruk keningnya yang tidak gatal.
"Mm, aku ada urusan dengan rekan kerjaku. Sudah hampir telat. Aku pergi dulu, ya ayah, ibu. Assalamualaikum !" Esme berjalan cepat menghindari tatapan curiga Ny.Hilda yang semakin menusuk.
Ia masuk ke mobilnya dan segera menancapkan gas.
Mobil Esme mengarah ke rumah sakit.
Setelah sampai di rumah sakit, sebelum ke luar dari mobilnya, Esme memakai topi dan kaca mata dulu agar tidak ada yang mengenalinya disana.
__ADS_1
Esme berjalan masuk dan menuju ruang dokter kandungan.
Setelah di periksa, di cek urine dan segala macam pemeriksaan. Kata dokter, Esme harus menunggu dulu hasilnya.
Jantung Esme berdetak hebat, tangannya semakin dingin membeku, pikirannya sudah sangat kacau, tidak tenang hatinya.
Kemudian, dokter berjalan ke arahnya menunjukan hasil pemeriksaan.
"Nona Esmeralda. Kehamilan anda sudah menginjak 6 minggu."
Deg....
"A-apa?" Esme terbelalak.
Dokter mengerutkan keningnya.
"Ada apa? Sepertinya anda tidak senang dengan kabar ini?" tanya dokter penasaran.
Esme langsung tersadar, ia menyembunyikan rasa cemasnya agar dokter itu tidak curiga.
"Ah ! Mm... bukan begitu, Dok. Saya hanya bingung saja. Saya melakukan itu dengan suami saya baru dua minggu yang lalu. Tapi, kenapa kehamilannya sudah menginjak 6 minggu?" tanya Esme penuh dusta untuk menutupi rasa curiga dokter itu. Padahal jantungnya berdebar hebat.
"Begini, Nona. Usia kehamilan itu dihitung dari Hari Pertama Haid Terakhir (HPHT), bukan saat bertemunya ****** dan ovum. Dan, tadi Nona berkata haid terakhirnya tanggal 9, bulan lalu?" Esme langsung mengangguk. "Maka dari itu dihitungnya dari tanggal 9 bulan lalu, sampai hari ini tanggal 20," jelas dokter.
Esme berkedip tak percaya. Ia menunduk sejenak. "Oh, jadi ... seperti itu.🙂" Ia memaksakan senyumnya. "Terimakasih, Dok. Saya permisi dulu." Esme beranjak dan keluar dari ruangan itu dengan perasaan yang teramat hampa, meninggalkan topi dan kaca mata di meja kerja dokter.
Esme berdiri di depan pintu ruang kandungan, dengan tatapan kosong melompong. Ia masih tak mempercayainya, ia tengah mengandung anak dari si penghianat Leo.
Baru saja Esme ingin memutuskan hubungan dengan Leo. Tapi, kalau sudah begini, ia harus bagaimana? Jika berpisah dengan Leo, anak yang ada di dalam kandungannya akan lahir tanpa seorang ayah. Esme tak bisa membiarkan itu terjadi.
Roger ke luar dari ruang sebelah kiri. Ia tak menyangka akan melihat Esme di satu rumah sakit yang sama. Roger mengerutkan keningnya, karena melihat Esme melamun dengan tatapan kosong. Tiba-tiba, air mata Esme menetes, sontak hal itu membuat Roger merasa penasaran.
Apa yang terjadi dengannya? (Batin Roger)
Di sisi yang lain, Alucard pun keluar dari ruang sebelah kanan. Tiba-tiba, matanya tak sengaja melihat sosok wanita yang pernah menabraknya itu. Ia tak menyangka bisa bertemu lagi dengan wanita itu di rumah sakit.
Saat sedang memperhatikan wajahnya, jiwa Alucard langsung tergerak. Ia merasa cemas dan juga terheran, karena wanita itu sedang berdiri menangis di sana.
Apa yang terjadi dengannya? (Batin Alucard)
Tanpa sadar, Alucard dan Roger berjalan menghampiri Esme. Tapi, langkah kakinya langsung terhenti, ketika Roger dan Alucard bertatapan mata.
Ah ! Bukankah itu wakil direktur Mord Grup? (Batin Alucard yang sedikit terkejut)
Bukankah itu presdir baru DJ Entertainment dari Korea? (Batin Roger yang juga terkejut)
Mereka berdua sudah sangat dekat dengan Esme, kemudian mereka menoleh melihat ruangan apa yang Esme masuki.
Apa? Ruang kandungan? (Mereka mengernyit terheran)
Esme menghapus air matanya, ia tidak menyadari sedang ada dua pria yang memperhatikannya dengan rasa cemas dari jauh. Ia langsung berjalan lurus, keluar dari rumah sakit itu tanpa menoleh ke manapun.
Alucard dan Roger langsung salah tingkah. Mereka memutar tubuhnya masing-masing, memunggungi satu sama lain, dan berjalan menuju area parkir.
...
__ADS_1
BERSAMBUNG !!!!
Jangan cuma baca aja dong, beri penghargaan sedikit buat author dengan memberi Like, Komen atau Vote 😂 biar semangat ngelanjutin ceritanya.