
.
Pukul 04:08 WIB
Suasana pagi buta ini begitu ramai. Ny.Hilda beserta orang-orang suruhannya bertugas mendekor pernikahan Esme di rumah maupun di gedung yang sudah mereka pesan.
Setelah selesai mandi dan melaksanakan salat subuh di salah satu ruangan yang ada di dalam gedung, wajah Esme mulai di rias. Menurut si perias pengantin, wajah Esme ketika tidak ber-make up sangatlah cantik dan mewah (wajahnya terlihat seperti kalangan kelas atas sungguhan). Jadi, si perias pengantin berniat meriasnya dengan simple, tapi tetap elegan karena wajahnya sudah terlihat mewah.
Saat kedua matanya tertutup karena akan diberikan eye shadow, mata Esme tidak mau diam, Esme pun memainkan jari jemari tangannya. Ia merasa sangat gugup dan gelisah.
Si perias pengantin sudah bisa menebaknya, karena sering kali ia merias para calon pengantin yang menunjukkan kegugupannya sebelum menikah.
"Apa kau sangat gugup?" tanya si perias.
Esme langsung menganggukkan kepalanya.
"Tarik nafasmu dalam-dalam, lalu buang perlahan. Lakukan itu sampai kau merasa lebih baik."
Esme mengikuti apa yang perias itu bilang. Setelah mengatur nafasnya dan sudah merasa baik, si perias mulai merias wajah Esme lagi.
Sudah menghabiskan hampir 2 jam untuk merias wajahnya, akhirnya selesai juga. Esme terlihat bagaikan boneka hidup. Karena mata aslinya sudah bulat dan besar, si perias memakaikan Esme softlens berwarna abu-abu dengan diameter 18.8mm untuk membuatnya seperti boneka sungguhan, itu sangat cocok sekali dengannya. Yang membuat Esme lebih terlihat fancy adalah kombinasi warna coklat tua dengan taburan eye shadow berglitter emas. Bulu mata lentik tebal, hidung mancung, kedua pipinya merah menggoda, bibir tipis mungil dengan lipstik berwarna nude, senada dengan gaun pengantin yang akan Esme kenakan hari ini.
Si perias dibuat takjub dengan hasil tangannya sendiri.
Kemudian, si perias menyuruh asistennya untuk mengambil gaun pengantin beserta penutup atau penghalang rambut (hijab) juga alat lainnya yang akan di perlukan.
Saat gaun pengantinnya datang, jantung Esme semakin berdebar, gaunnya terlihat sangat mewah. Ia masih tak menyangka akan menikah dengan Leo hari ini, tapi dalam hati kecilnya masih ada keraguan.
Esme melepaskan piyamanya, lalu ia memakai gaun pengantin elegan itu di bantu oleh si perias dan asistennya.
Karena tubuh Esme yang tinggi dan ideal, gaun pengantin yang belum pernah ia coba itu ternyata cocok dan sangat pas sekali ditubuhnya.
Setelah selesai merias dengan model hijab kekinian, si perias tak lupa dengan sentuhan terakhirnya, yaitu memasangkan mahkota di atas kepala Esme.
Esme di giringnya menatap cermin besar. Kedua matanya terbelalak, tak menyangka yang ada di dalam cermin itu adalah dirinya sendiri.
"Apa kau suka?" tanya perias itu sambil tersenyum.
Esme menganggukan kepalanya cepat.
"E'em... aku sangat suka sekali." Wajahnya terlihat sangat bahagia.
Masih pukul 07:28, Esme sudah siap. Padahal pernikahannya di gelar pukul 08:30.
Esme menunggu di ruang tunggu, si perias meninggalkannya karena harus merias Ny.Hilda dan Lolyta yang sudah menunggu sedari tadi.
Saat sedang sendirian keraguan itu mulai menyerang lagi.
"Apa aku yakin harus tetap menikah dengan Leo?" gumamnya sambil merenung.
Esme menoleh ke arah Lolyta yang saat itu sedang berjalan mengikutin si perias ke ruangan lain.
"Apakah Leo dan Lolyta saling mencintai? Apakah Lolyta mencintainya seperti aku mencintai Leo? Jika aku melanjutkan pernikahan ini, apakah aku termasuk manusia egois? Apakah aku kakak yang jahat?" Air matanya membendung, tapi Esme menahannya sekuat yang ia bisa agar air mata itu tidak terjatuh membasahi pipinya.
Esme mengedarkan pandanganya, tidak ada siapapun diruangan ini. Tn.Harits sedang ikut membantu para pendekor, meskipun sebenarnya ia tak merelakan anaknya menikah dengan seorang pengkhianat. Ny.Hilda dan Lolyta berada di ruangan sebelah, sedang di make up. Pak Lampir dan Bi Inah sedang sibuk di dapur, menjamu orang-orang pekerja.
...
15 menit lagi, acara pernikahan akan segera di mulai.
Kemudian, Esme berjalan mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja. Ia berniat mengirim pesan pada Leo tentang kesiapannya disana.
__ADS_1
Tiba-tiba, seseorang masuk mengendap-endap begitu saja, tanpa mengetuk pintu. Esme sedikit terkejut dan terheran. Orang itu memunggungi Esme, ia mengintip ke luar dengan kewaspadaan tinggi.
Esme mengerutkan keningnya. Siapa wanita berambut panjang, bergaun kuning dengan aksesoris bunga matahari di rambutnya?
Wanita itu menutup pintu rapat-rapat, lalu menoleh ke arah Esme.
"Alice?"
Bukankah, dia teman Lolyta.
Esme semakin terheran-heran dengan sikap anehnya itu.
Alice menundukkan kepalanya, ia berjalan perlahan dengan mata yang berkaca-kaca menghampiri Esme.
Ada apa dengan raut wajahnya? (Perasaan Esme jadi tidak tenang)
Bruk...
Alice menjatuhkan tubuhnya, ia menjejakkan kedua lutut di hadapan Esme. Sontak, kedua mata Esme terbelalak. "Alice! Ada apa?" tanyanya panik.
Alice terdiam sambil menitikan air matanya, ia tak tahu harus menceritakannya dari mana. Air matanya menyiratkan bahwa betapa sedihnya perasaannya saat ini.
Esme menarik tubuhnya dan memapahnya duduk di atas sofa dengan penuh tanda tanya.
"Kak Esme, aku... aku minta maaf," katanya begitu pilu.
Esme mengernyitkan dahinya. Ia tak tahu kenapa Alice tiba-tiba meminta maaf padanya.
"Sebelumnya aku minta maaf, jika permintaanku ini lancang. Tapi... aku mohon, kau harus membatalkan pernikahanmu dengan kak Leo." Tubuh Alice bergetar hebat saat mengucapkan kata demi kata.
Deg....
Alice menyentuh kedua tangan Esme, ia menundukkan kepalanya lalu mulai mengungkapkan kebenaran yang sesungguhnya di hadapan Esme.
Setelah mendengar sebagian kenyataan pahit itu, tubuh Esme menegang, raut wajahnya menjadi datar tanpa ekspresi, yang terlihat hanyalah mata putih yang memerah dengan genangan air di dalamnya.
Ternyata selingkuhan Leo bukanlah adikku sendiri! Melainkan temannya, Alice? (Batinnya meremuk)
"Dan, saat ini aku sedang mengandung anaknya. Aku harap Kak Esme mengerti." Alice menghapus air matanya yang tak kunjung mereda.
Deg...
Jiwanya semakin terhentak, sudah benar-benar remuk bagaikan butiran debu.
Apa? Alice sedang mengandung anak Leo? Ya Tuhan, lelucon apa lagi ini? ... Leo, kau tidak mungkin sejahat ini padaku 'kan? (Batin Esme berusaha tak ingin meyakinkan perkataan Alice)
"Heh...." Esme menunggingkan senyumnya. Ia berusaha tegar. "Tidak perlu membohongiku dengan kehamilan palsumu agar aku melepaskan Leo. Itu terlalu kuno!" ucap Esme. Ia menutupi kesakitan di benaknya dengan berpura-pura bicara sinis.
Esme beranjak, berjalan meninggalkan Alice, ia tak ingin lebih sakit lagi dari sekarang. Tapi, Alice langsung menyentuh kakinya. "Kak aku tidak bohong. Aku benar-benar sedang mengandung anak Kak Leo, dan usia kandunganku sudah menginjak 3 bulan. Jika Kakak tidak melepaskan Leo, anakku akan lahir tanpa ayah. Ayahku adalah seorang Gubernur, dia pasti akan sangat malu jika mengetahui ini semua. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi, aaaaa...." Alice menangis terisak-isak.
Mendengar Alice menangis sampai memohon-mohon seperti itu di kakinya, hati Esme tergerak.
Ya Tuhaaannn... Haruskah aku yang mengalah? 😭 Disini akulah korban yang sebenarnya, aku yang lebih merasakan sakitnya! Dan, harusnya aku marah! Tapi kenapa malah aku yang terlihat bersalah?
Esme menghapus air matanya. Ia mulai menggunakan topeng dustanya.
"Aku tidak perduli dengan kehamilanmu! Itu adalah kesalahanmu sendiri. Jangan membuat orang lain menderita karena kesalahanmu. Aku sudah memimpikan menikah dengannya sejak SMA, apa kau pikir aku akan mengasihanimu dengan membatalkan pernikahan ini dengan mudah!" ucapnya sinis. Esme berjalan ke luar meninggalkan Alice dengan ketegaran palsunya.
Alice bersujud dengan tangisan yang amat pilu mendengar perkataan dari mulut Esme yang sangat jahat.
Saat Ny.Hilda dan Tn.Harits akan membuka pintu, Esme langsung ke luar dari situ. Ia tersenyum bahagia di hadapan kedua orang tuanya. Esme menutup kembali pintu itu rapat-rapat.
__ADS_1
"Kau sangat cantik, sayang. Ayo, Leo dan rombongannya sudah berjalan masuk," kata Ny.Hilda dengan senyum lebarnya.
Para tamu undangan sudah hampir memenuhi seisi gedung.
Leo berjalan masuk di dampingin orang tuanya, Roger, Garry dan rombongan yang lainnya.
Setelah acara penyambutan selesai, lalu di lanjut dengan acara ijab kabul. Suasana begitu sakral, dan sangat menegangkan.
Leo terlihat sudah duduk di kursi mempelai pria, di hadapannya ada penghulu, Tn.Harits, juga beberapa saksi.
Esme keluar dari persembunyiannya, ia berjalan di dampingi Lolyta dan Ny.Hilda, mereka memapah Esme menghampiri Leo.
Tak hanya Leo, Roger dan Garry, tapi semua mata tertuju pada kecantikan Esme. Boneka hidup sedang berjalan dan akan melaksanakan pernikahannya.
Tidak ada senyuman sama sekali di wajahnya, ekspresi Esme sangat dingin saat duduk bersanding di samping Leo.
Alice mengintip acara itu dari celah pintu yang sedikit terbuka dengan air mata kesedihan.
Bergetar tubuh Tn.Harits saat tangannya bersentuhan dengan tangan Leo. Ia masih mengutuk dirinya sendiri sebagai ayah yang jahat.
Sebelum mengucapkan ijab kabul, Tn.Harits ingin berpesan sesuatu dulu untuk Leo.
Balmond segera memegang mic yang di dekatkan dimulut Tn.Harits.
"Leo, saya sebagai ayah dari Esmeralda tidak mengharapkan satu sen pun dari harta yang kau punya. Yang saya harapkan adalah bahagiakanlah anak saya selama-lamanya. Jangan sekali-kali kau menyakiti anak saya. Jangan sekali-kali kau zolimi anak saya, apalagi kau duakan anak saya, karena sakit hatinya akan menyakiti seluruh keluarga. Saya percaya kau bisa membimbing anak saya. Arahkan anak saya menuju surga, dan jadikan anak saya sebagai bidadari di surganya Allah, nanti." Bicara Tn.Harits bergetar. Perasaan seorang ayah yang keras seperti baja pun bisa hancur berkeping-keping. Sekarang ia akan mulai menikahkan anaknya dengan si penghianat Leo.
Semua para tamu undangan menitikan air matanya saat mendengar perkataan dari Tn.Harits yang begitu membuat bulu kuduk merinding.
Ayaaahhhh..... 😭😭😭😭
Batin Esme menjerit, ia menutup mulutnya dan menggigit bibir bawahnya.
Harus sekuat apa lagi ia menahan kesakitan juga kesedihan ini.
Saat Tn.Harits akan mulai mengucapkan ijab kabul. Esme langsung berdiri, air matanya pecah sudah tidak bisa di bendung lagi.
Ia segera memeluk ayahnya.
Ny.Hilda, Lolyta dan seluruh para tamu undangan dibuat terkejut.
"Ayaaahhh... aaaaa... 😭" Esme menangis pilu dipelukan ayahnya. Akhirnya, tangisan Tn.Harits pun pecah bersamaan.
"Ayah, maaf. Esme tidak bisa melanjutkan pernikahaan ini lagi. Maafkan Esme... 😭"
Semua mata terbelalak mendengar ucapan mengejutkan dari Esme.
Leo langsung berdiri dengan sorotan mata penuh emosi. "Esmeralda! Apa yang baru saja kau ucapkan?" Kerutan di dahinya sudah bukan main.
"Esme! Apa yang kau bicarakan?" bisik Ny.Hilda yang menahan amarah.
Esme sudah tidak sudi menatap Leo dan para pengkhianat itu. Ia melepaskan pelukannya dan segera berlari ke luar gedung.
Masa bodo dengan pernikahan itu!
Ny.Hilda, Lolyta dan Balmond sangat marah, mereka segera menyusul Esme. Tapi, Tn.Harits langsung menghadang mereka dengan tubuhnya.
....
BERSAMBUNG !!!!
Jangan lupa dong Tips, Like, & Komennya untuk author ❤
__ADS_1