Air Mata Pengantin

Air Mata Pengantin
Kalah Telak


__ADS_3

.


Setelah mendapatkan izin dari Ny.Bae untuk pergi ke luar, Esme langsung memesan taxi online. Padahal, Ny.Bae sudah menyuruh pengurus Feng untuk mengantarnya, tapi Esme menolak.


Tidak lama, taxi online pun datang, dan berhenti tepat di hadapannya. Esme menyuruh supir taxi untuk pergi ke rumah sakit terdekat. Semoga saja Alucard dan gadis itu ada di rumah sakit itu, begitu menurut Esme.


Esme sedikit kesulitan berinteraksi dengan supir taxi itu, karena si supir kurang paham dengan bahasa Inggris, begitu juga dengan Esme yang tidak paham sama sekali dengan bahasa Korea.


Setelah sampai di rumah sakit, Esme langsung mengeluarkan dompetnya dan membayar si supir dengan uang 20.000 Won atau jika dirupiahkan menjadi 242.159,60.


Esme segera ke luar dari taxi itu dengan tergesa-gesa. Ia tak menyadari sudah mengeluarkan uang yang cukup banyak hanya untuk membayar supir taxi.


"Nona! Nona!!!... Ini kembaliannya!!" teriak si supir taxi dari dalam mobil. Tapi, Esme tidak mendengarnya, ia hanya berjalan cepat lurus ke depan.


Saat Eme akan bertanya pada salah satu perawat yang sedang lewat di hadapannya, tiba-tiba ia melihat Alucard yang akan memasuki suatu ruangan sambil membawa makanan ditangannya.


Ia segera berlari mengejarnya. Namun, Alucard sudah masuk dengan menutup pintunya.


Esme pun berjalan mengendap-endap, ia mengintip dari kaca yang menempel di pintu ruangan itu, apa yang sedang mereka lakukan di dalam.


Terlihat, Alucard sedang menyimpan makanan itu di atas meja.


"Makanlah, aku harus pulang. Seseorang pasti sedang menungguku di rumah," ucap Alucard.


Ara, yang luka di dahinya sudah di obati segera menarik tangan Alucard, ia tak rela Alucard pergi begitu saja.


"Kak, tinggallah beberapa jam disini. Aku merasa sangat pusing dan lemah, aku mau Kakak menyuapiku," pintanya dengan sangat manja.


Esme memang tidak mengerti dengan apa yang mereka bicarakan. Namun, ia bisa menebaknya dari gerak-gerik Ara. Instingnya mengatakan, Ara sedang merengek minta disuapi oleh suaminya.


Melihat wajah Ara yang sok polos, dan sok lugu di hadapan Alucard, membuat jiwa Esme memanas. Ia mendobrak begitu saja pintu ruangan itu.


Bruk...


"K-k-k-k-k-kau!!!" Ara terbelalak dan sangat terkejut.


"Esme?!" Alucard pun sedikit terkejut.

__ADS_1


Esme tak memandang wajah Alucard.


Tatapan penuh kebenciannya ia tuangkan semua pada Ara.


Ia berjalan mendekati meja yang berada di samping bangsal Ara. Kemudian, Esme meraih mangkuk berisi nasi, dan duduk di samping bangsal Ara.


"Ma-mau apa kau kemari?" tanyanya menggunakan bahasa Korea.


Esme tak menjawabnya, wajah datar tanpa ekspresinya sudah sangat nampak menyeramkan. Membuat keringat di tubuh Ara bermunculan.


"Open your mouth! (Buka mulutmu!)" ucap Esme, sinis.


*Selanjutnya mereka berinteraksi dengan bahasa Inggris*


"Siapa kau? Beraninya memerintahku, dan kenapa juga aku harus membuka mulutku? Apa kau akan meracuniku?" tanya Ara dengan nada bicara meninggi.


"Seharusnya memang begitu. Tapi, sayangnya, aku masih memiliki rasa kemanusiaan," ucapnya tajam. "Bukankah kau minta disuapi? Ayo, buka mulutmu!"


"A-aku memang minta disuapi. Tapi, itu ditujukan pada Kak Alucard. Bukan kamu!"


"Aku disini untuk bertanggung jawab! Bukankah kau bilang aku yang mendorongmu dari atas tangga hingga membuat dahimu berdarah?" Esme menyiuk nasi tersebut, kemudian ia sodorkan pada Ara.


Ara menepis kasar lengan Esme, hingga membuat sendok dan mangkuk itu pecah. Nasipun berserakan di atas lantai.


Alucard yang melihat itu langsung segera menarik tangan Esme. "Ara! Aku bilang kau harus menghormatinya. Dia kemari hanya ingin bertanggung jawab, kenapa kau malah bersikap kasar begitu?" bentak Alucard.


"U-umm...," Ara tergagap. "Dia sudah mencelakai aku, kenapa Kakak masih membelanya. Yang harusnya Kakak marahi adalah dia! Orang tidak berpendidikan begitu kenapa dijadikan istri?"


Esme melepaskan genggaman tangan Alucard. Ia sudah sangat murka dihina begitu oleh orang yang lebih muda usianya dari dirinya.


"Nona Ara, sepertinya kau terlalu banyak membaca novel romantis dan menonton film-film romantis. Apa sekarang kau mencoba memerankan katakter sebagai wanita yang jahat?" Esme menatapnya tajam. "Kau sudah melakukan tipuan yang sangat memalukan hanya untuk seorang pria yang tidak mencintaimu. Apa kau sadar, kau sudah menjatuhkan harga diri kebangsawananmu dan menyia-nyiakan pendidikanmu."


Deg....


Tubuh Ara menegang, setelah tertampar keras oleh perkataan Esme. Begitu tajam, sadis dan menyakitkan.


"Berani-beraninya kau berbicara seperti itu padaku! Apa kau tidak punya kaca dirumahmu? Kau yang sebenarnya sudah merebut Kak Alucard dariku! Bukan Aku," bentak Ara.

__ADS_1


Alucard ingin sekali menampar mulut Ara yang beracun itu. Tapi, tangannya ditahan oleh Esme.


"Heh...." Esme menunggingkan senyumnya. Ia berjalan selangkah lebih dekat dengan Ara. Esme memunggungi Alucard. "Sebenarnya, kau memiliki rasa malu atau tidak? Bukankah menjalin cinta adalah hal yang seharusnya disetujui oleh dua orang?"


Tatapan petir dari Ara dan Esme beradu.


"Kau yang tidak punya rasa malu! Jika kau tahu diri, sebelum kau mengenal Kak Alucard, aku yang sudah mengenalnya lebih dulu. Aku dan dia sudah hidup bersama dari kecil. Kita berdua sudah saling menyukai satu sama lain. Aku pula yang menemaninya dari NOL!!" Ara pun tak ingin kalah dari Esme.


Esme melipat kedua tangannya di atas perut, ia tersenyum dengan santainya. "Ternyata begitu... kau memiliki nasib yang sama sepertiku dulu. Dan, akhirnya sekarang aku menemukan sebuah jawaban yang akan membuatmu langsung kalah," ucap Esme.


"?" Ara menatapnya dengan penuh tanda tanya.


Esme mendekatkan mulutnya ke telinga Ara, ia berbisik, "yang nemenin dari nol, akan kalah sama yang nemenin tidur!"


Apa!! (Batin Ara langsung meremuk)


"A-apa yang kau bicarakan?" tanyanya dengan perasaan yang sudah sangat hampa.


"Apa kau bodoh? Aku dan Alucard sudah menjadi pasangan suami istri. Kita sering tidur bersama dan melakukan adegan panas di atas ranjang. Bahkan saat Alucard sudah mencapai klimaksnya, dia tampak semakin menggoda. Desah*n, dan keringat, juga otot-otot tubuhnya membuatku terlena. Dia benar-benar pria yang luar biasa, bahkan memintaku untuk melakukan ronde ke dua," jelas Esme dengan sombongnya. Ia sengaja memanas-manasi Ara.


Jleb...


Pisau tajam menembus ke dalam dadanya. Wajah Ara merah padam setelah mendengar perkataan itu, nafasnya pun sangat-sangat sesak. Ia memendam amarah yang begitu besar di dalam dadanya, bahkan air matanya pun berlinangan, karena benar-benar tak kuasa menerima semua kenyataan itu. Ingin marah, tapi apa yang harus ia lontarkan, karena ucapan Esme itu menyangkut per-intiman.


Ara sudah kalah telak!


Mengira sudah menang, justru tertipu dan akhirnya menelan kekalahannya sendiri.


Alucard menyapu kasar wajahnya. Kedua pipinya terlihat merah merona, ia benar-benar tersipu malu saat ini, dan hanya bisa memendam rasa malunya itu di dasar hati yang paling dalam.


Karena jika amarah Ibu Negara sudah meluap, itu akan meluber kemana-mana, aibnya pun kini sudah terbongkar semua.


Jadi, selama ini Esme memperhatikan wajahku saat aku klimaks? Uh, memalukan sekali. Tapi, katanya aku sangat menggoda. Haha... dasar! Mengada-ngada saja dia. Awas saja kau Esme, aku akan memberimu pelajaran karena kau sudah membuatku malu di depan Ara! (Batin devilnya meronta ingin menampar mulut pedas Esme dengan bibirnya sendiri)


...


BERSAMBUNG !!!

__ADS_1


Semangatin dong, hikss poin/koin kek 🤧🤧 mon maap, gak maksa tapi harus 😂


__ADS_2