
.
Brak...
Alucard membuka pintu ruang kerja Esme secara kasar. Ia melihat Ara yang sedang berbicara berdiri sambil marah-marah pada Esme yang sedang duduk dengan tatapan menantang.
"Apa-apaan ini, Ara! Bukankah kau kemari akan meminta maaf padanya?" teriak Alucard dengan amarah yang semakin menggunung. Suaranya membuat para karyawan terhentak kaget.
Ara berjalan menghampiri Alucard dengan kedua mata yang berkaca-kaca. "Sampai kapanpun aku tidak akan pernah meminta maaf padanya. Toh, aku dalam situasi yang benar. Aku hanya mempertahankan sesuatu yang harus aku perjuangkan!" ucapnya penuh percaya diri.
"Ara, jangan membuat kesabaranku habis!" kecam Alucard, tangannya sudah sangat gatal ingin menampar Ara, tapi tetap ia tahan.
"Kakak, aku mengenalmu dari sejak aku kecil. Kau tidak akan mudah jatuh ke pelukan wanita lain. Tapi, sekarang kau sudah sangat berubah. Bahkan kau sudah berani membentak aku karena dia!"
"Aku peringatkan padamu... kecilkan nada bicaramu!!" Tanduk Alucard perlahan muncul. Amarahnya terasa sedang mengalir ke sekujur tubuhnya.
"Tidak usah memerintahku!" teriaknya. "Kakak sangat mencintainya 'kan? Apa dia benar-benar menggunakan tubuhnya untuk menarik perhatian Kakak? Jika memang begitu, aku pun akan melakukan hal yang sama!"
"Jangan lancang kamu, Ara!"
Plak...
Tangan Alucard sudah siap siaga akan menampar Ara, tapi didului oleh Esme.
"Esme?" Alucard tercengang.
"Kau sangat lambat, sayang. Aku sudah sangat gemas dari tadi!" bisik Esme.
Ara merintih kesakitan, ia menyentuh pipi merah yang saat ini sedang berdenyut. "Kau!!" Kedua mata Ara terbelalak, didalamnya seperti ada api yang sedang membara. "Berani-beraninya kau menampar aku!"
Cklek...
Tiba-tiba saja pintu terbuka. "Silahkan, Nyonya, Tuan." Sekretaris Kim mempersilahkan seseorang masuk ke ruang kerja Esme.
Ara, Alucard dan Esme terkejut dengan siapa yang dilihatnya saat ini.
"Ny.Bae, Tn.Aganor?"
"Ayah, ibu?"
"Pa-paman, bibi?"
Ny.Bae dan Tn.Aganor berjalan masuk, dan duduk di sofa tanpa di persilahkan. Raut wajah kedua orang tua ini terlihat sedang tidak bersahabat.
Glek...
Esme menelan salivanya. "Salam hormat dari menantu," ucap Esme sambil membungkukan tubuhnya.
"A-ayah, ibu... aku tidak menduga kalian akan datang secepat ini." Alucard tergagap, karena ia belum mempersiapkan mentalnya dengan benar ketika menghadapi kedua orang tuanya mengenai masalah berita Esme itu.
Merah padam, mendominasi seluruh wajah mereka. Tn.Aganor dan Ny.Bae enggan menatap wajah Esme.
Gawat! Jangan sampai wanita itu bilang kalau aku yang membuat berita bohong itu pada paman dan bibi. Arggghh... bagaimana, ini? (Batin Ara, ia berpikir keras untuk menutupi kebohongannya)
__ADS_1
Bruk...
Ara segera memeluk erat tubuh Ny.Bae dengan ekspresi wajah yang seperti sedang ditindas. Air matanya menetes perlahan. Hebat juga aktingnya.
"Bibi, apa kau sudah tahu mengenai berita Kak Esme yang sudah membuat keluarga besar kita malu?" ucapnya manja.
Esme menunduk sedih, karena memang sebagian dari berita itu benar adanya. Esme akan sangat malu jika membahas berita tentang masa lalunya di hadapan mertuanya.
Ny.Bae hanya terdiam membisu, ia tak ingin berkata apapun. Sangat sakit hatinya melihat Esme, menantu yang disayanginya, saat ini sedang merasakan kegelisahan di hadapannya. Perasaannya tergerak dan jadi tidak enak.
"Saat mendengar berita itu kita langsung kemari," ucap Tn.Aganor. "Alucard, Esme... jawab dengan jujur, apa benar yang dikatakan berita itu?"
Alucard memberi isyarat pada Esme agar tidak mengakuinya. Esme jadi panik, ia melirik kesana-kemari kebingungan. Jawaban apa yang harus ia katakan?
Brak...
"Jika ada orang bertanya, cepat jawab!" Tn.Aganor marah-marah karena kesal.
Ara tersenyum menungging, dengan tatapan mengejek.
"Tidak, ayah... emm -" Alucard tergagap.
Esme menarik nafas dalam-dalam, lalu membuangnya hampa. "Ya, berita itu memang benar adanya. Tapi, hanya sebagian saja yang benar, sebagian lainnya hanya dilebih-lebihkan oleh seseorang yang iri." Esme melirik ke arah Ara.
Apa? Kenapa kau melirikku? (Batin Ara)
"Esme!!! Kenapa kau malah jujur?" bisik Alucard. "Rghh... kau benar-benar keras kepala!"
****** kau Esme! (Batin Ara)
"Benar 'kan, bibi? Makanya aku tidak menyetujui Kak Alucard bersama dia karena masa lalunya pasti akan membuat keluarga kita malu," celetuk Ara dengan sombongnya.
Plak...
Tangan Ny.Bae melayang tinggi, dan langsung menampar pipi Ara.
"Ah!" Ara sangat terkejut, kedua matanya terbelalak besar. "Bibi, a-apa... apa yang kau lakukan? Bukan aku, tapi wanita itu yang seharusnya ditampar!" Ara menyentuh pipi merahnya yang lagi-lagi kena tamparan.
Esme dan Alucard sangat terkejut melihat Ny.Bae tiba-tiba menampar Ara. Benar-benar diluar dugaan. Tapi, dari situ mereka langsung bisa menyimpulkan, sepertinya Ny.Bae dan Tn.Aganor sudah tahu masalah ini yang sebenarnya.
Ha! Kena kau. Terlalu banyak berbicara manis, maka terbongkarlah kedokmu. (Batin Esme)
"Nyonya, kau menampar orang yang tepat!" gumam Esme, sambil tersenyum menungging.
Ny.Bae mengerutkan keningnya, sambil memelototi Ara. "Ara, kau terlalu naif. Di keluarga kita, norma, etika dan moral sangat dijunjung tinggi. Aku adalah Nyonya besar keluarga Aganor. Sebelum bertindak, aku sudah mencari tahu dulu kebenarannya," ucap Ny.Bae dengan tatapan yang sangat tajam, setajam silet. "Apa kau tidak punya hati nurani? Tega sekali kau memanfaatkan masa lalunya demi kepentingan pribadimu!"
"Bukan begitu, bibi. Aku hanya ingin membuat dia tahu diri. Kehidupan kelamnya tidak sebanding dengan kehidupan kita. Itu sangat bertentangan dan akan membuat reputasi keluarga kita hancur!"
Ny.Bae menoleh tajam ke arah Ara. "Yang membuat reputasi keluarga Aganor hancur adalah kau! Kalau kau tidak mengumbarnya menjadi sebuah berita, maka tidak akan ada yang tahu!"
Deg...
Dada Ara terasa sangat sakit, bagai tertusuk seribu duri.
__ADS_1
Alucard menghela nafas lega. Syukurlah dia terlahir dari keluarga yang berilmu. Setiap ada masalah, ayah dan ibunya selalu bersikap bijak dalam menyikapinya.
"Bagaimana cara Chan dan Kattie mendidikmu selama ini? Perlakuan sebronomu sudah membuat dampak besar bagi keluarga kita!" kecam Tn.Aganor.
Jantung Ara semakin berdebar kencang, lututnya gemetar hebat.
"P-paman, bibi... masa lalu wanita itu -"
"Cukup!" Tn.Aganor mengangkat tangan kanannya. "Jangan terus-terusan menghakimi dia karena masa lalunya, jika kamu tidak tahu apa yang telah dia lalui dalam hidupnya! Bagiku, seburuk dan sehina apapun masa lalu seseorang, tidaklah penting. Yang terpenting saat ini, dia sudah berubah menjadi pribadi yang lebih baik."
"Ya, benar. Kupu-kupu juga pernah menjadi sesuatu yang menjijikan sebelum menjadi sesuatu yang indah. Ara, kamu harus belajar lagi mengenal arti kehidupan. Ubah prilakumu mulai saat ini," kata Ny.Bae.
Wajah Ara terlihat merah padam, merasa sangat marah, kesal dan juga malu.
"Chan dan Kattie sudah gagal mendidikmu. Jadi, aku yang harus turun tangan," ucap Tn.Aganor. "Kim, kirim dia ke neraka!"
"A-APA!"
Bukan cuma Ara saja, tapi semua mata terbelalak menatap Tn.Aganor.
"Ah, ma-maksudku, kirim dia ke Afrika selama 5 tahun. Dia harus belajar lagi tentang etika, moral dan norma-norma kehidupan!" sambung Tn.Aganor.
"Tidak! Aku tidak mau!" bantah Ara. "Kenapa harus jauh-jauh mengirimku belajar ke Afrika?"
"Kalau tidak jauh, kau pasti akan mengganggu rumah tangga Alucard dan Esme lagi," sindir Ny.Bae. "Ayo, Kim! Cepat, bawa dia. Nanti, aku yang akan menjelaskan semua ini pada Chan dan Kattie. Mereka pasti mengerti."
"Baik, Nyonya!"
Sekretaris Kim menyeret paksa tangan Ara ke luar dari ruang kerja Esme. Meskipun Ara selalu saja memberontak, tapi sekretaris Kim bisa menanganinya.
Semua staf yang sudah menyaksikan kejadian itu dengan mata kepala mereka masing-masing, langsung tersadar. Mereka telah salah memandang Esme, dan sempat percaya dengan berita bohong itu. Tapi kini, semua sudah terselesaikan.
Esme menitikan air matanya. Ia sangat terharu sekali, ternyata bukan hanya suaminya saja, mertuanya pun merupakan malaikat tak bersayap yang dikirim Tuhan untuknya. Mereka semua tidak memandangnya sebelah mata.
Disaat dirinya sudah sangat lelah menghadapi beberapa masalah yang selalu menimpa hidupnya, ternyata masih ada seseorang di belakangnya yang membantunya dan tetap percaya padanya.
Esme tersenyum senang, sambil menghapus air matanya. Ny.Bae yang melihat Esme menangis, langsung menghampirinya.
"Esme, ada apa, sayang? Kenapa kau malah menangis?" tanya Ny.Bae, sambil membantu menghapus air matanya.
"Haha.. hikss, tidak apa-apa, bu. Aku... aku hanya merasa sangat bahagia mendapat perlakuan seperti ini dari ayah dan ibu mertuaku," ucap Esme. "Terima kasih." Ia langsung memeluk erat Ny.Bae.
Dan untuk yang pertama kalinya, Tn.Aganor tersenyum sambil mengelus-elus mesra rambut Esme.
Alucard yang melihat pemandangan haru itu merasa tersentuh hati dan perasaannya. Ia tersenyum tipis sambil membayangkan sesuatu.
Kebahagiaan ini akan terasa lengkap jika saat ini aku dan Esme memiliki seorang anak. 1, 2, 3 atau sekitar 4 orang anak. (Batin Alucard sambil berkhayal)
....
BERSAMBUNG!!!
Hari senin, nih. Author butuh transfusi TIPS hehe.. 😍 LIKE, KOMEN & VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA ❤
__ADS_1