
.
Saat memasuki mobil, Esme kembali termenung meratapi nasibnya yang kini sedang hamil anak Leo. Kemudian, ia merogoh tas, mengambil ponselnya lalu menelepon Leo.
Esme berusaha tegar. "Hallo, Leo! Kau dimana?" tanya Esme, kedua matanya bergetar saat mendengar suara Leo.
"Uh... maaf sayang, aku belum memberitahu kamu. Hari ini aku tidak bisa menemanimu. Aku sedang diperjalanan ke Bogor untuk urusan bisnis," jawabnya sedikit gugup.
Esme terjeda sesaat, ia mengerutkan dahinya. Sinyal curiga mulai berdengung.
Bisnis apa? Aku baru saja bertemu dengan Wakil Direktur Roger. Tadi, dia memakai baju santai, tidak terlihat sibuk ataupun tergesa-gesa. (Batin Esme yang ditumbuhi kecurigaan)
"Mm... ya sudah, tidak apa-apa. Hati-hati di jalan, ya." Esme menunggingkan senyumnya, ia menutup telepon begitu saja.
Kemudian, ia menelepon sekretarisnya Leo.
"Halo, Maria! Ini aku... Esmeralda, Direktur Pemasaran. Apa hari ini kau sibuk?" tanya Esme sambil memperhatikan kuku tangannya.
"Ah, Bu Direktur? Mm, tidak... aku sedang berkumpul dengan keluargaku di rumah. Ada apa, ya?" tanyanya heran.
Sudah mulai terbaca dipikiran Esme, apa yang dicurigainya sepertinya benar.
"Tidak ada hal penting, kok. Aku hanya ingin tahu saja jadwal Direktur Leo hari ini,"
"Oh, sebenarnya hari ini pak direktur ada perjalanan bisnis ke Bogor. Tapi, pagi tadi beliau berpesan pada saya, untuk mengundur jadwal hari ini ke hari senin," jelasnya di balik telepon, dengan sedikit sungkan.
Esme menelan salivanya, ternyata benar dugaannya. Leo lagi-lagi berbohong. "Oh, begitu. Ya sudah, terima kasih Maria. Oh ya ! Jangan beritahu pada Leo aku meneleponmu. Hari ini aku akan memberinya kejutan. Jadi, aku harap kau bisa sedikit membantu rencanaku," ucapnya sambil tersenyum dusta.
"Baiklah, tidak masalah," katanya.
Lalu, Esme menutup panggilan itu.
Kedua mata Esme memerah dan bergetar, ingin sekali ia menangis saat mengetahui kebohongan yang lagi-lagi Leo perbuat. Tapi, untuk apa terus menangisi lelaki seperti itu? Meskipun terasa sesak di dada, Esme berusaha kuat menutupi rasa sakit itu demi anak dalam kandungannya.
Tiba-tiba Esme teringat sesuatu yang membuatnya semakin mencurigai Leo.
"Apakah Leo menghampiri Lolyta ke pantai?" gumamnya. Perkiraannya itu membuat dirinya semakin tidak tahan.
Esme segera menyetir mobilnya, ia melaju menuju rumahnya. Setelah sampai, Esme bergegas menuju dapur.
"Bi ! ... Bi Inah !" panggilnya panik, sambil melihat sekeliling ruangan.
Bi Inah pun ke luar dari kamar mandi, ia mengeringkan tangannya menggunakan kain, dan langsung menghampiri Esme dengan perasaan cemas. "Ada apa Non?" tanyanya panik, karena melihat raut wajah Esme yang juga panik.
"Apa Bibi tahu, ibu, Loly dan Balmond pergi ke pantai mana?" tanyanya cepat.
"Bibi kira, Non Esme ikut bersama mereka," gumamnya. Kemudian, Bi Inah mengingat-ingat obrolan Ny.Hilda dan Lolyta sebelum pergi ke pantai.
"Ah ! Kalau tidak salah, mereka pergi ke Pelabuhan Ratu, Non," jawabnya sedikit ragu.
Setelah mengetahui pantai yang di tuju keluarganya. Esme berjalan cepat menuju mobilnya lagi, benar-benar sudah terbakar jiwanya, hingga ingin menyusul mereka kesana untuk memastikan dugaannya benar atau tidak. Bi Inah semakin dibuat terheran.
Baru beberapa menit mengendarai mobil, tiba-tiba rasa mualnya menyerang. Esme tak bisa menahannya lagi, ia segera turun dan membungkukkan tubuhnya di tepi jalan.
Saat memuntahkan isi perutnya, penghianatan Leo kembali masuk ke pikirannya. Esme mual-mual sambil menangis terisak-isak membayangkan betapa kejamnya Leo menodai cinta tulusnya.
Perjalanan hidup Esme mulai sulit, mulai tidak tenang, mulai kacau semenjak tahu perselingkuhan Leo.
Tiba-tiba saja, ada uluran tangan menyodorkan sapu tangan pada Esme. Esme mendongakkan wajahnya sambil berderaian air mata.
"Roger?" Kedua mata Esme terbelalak.
Ia langsung menundukkan wajahnya sambil menghapus air matanya, menutupi tampilannya yang kacau dan lemah itu.
__ADS_1
"Awalnya aku menilaimu sebagai wanita paling sombong yang pernah ada di muka bumi ini. Tapi, setelah melihatmu seperti ini... penilaian itu mulai hilang menyusut," sindirnya. Roger memasukkan kembali sapu tangan yang Esme abaikan ke dalam sakunya.
Esme menggertakan giginya, ia betul-betul sangat malu Roger sudah melihatnya muntah di pinggir jalan. Esme terus saja menyembunyikan wajah menyedihkannya itu.
Kemudian, ia bangkit dan mengambil sapu tangan dari saku Roger begitu saja.
Esme menyapu mulutnya, lalu ia remas sapu tangan itu dengan penuh kebencian di hadapan Roger.
Ada apa dengan wanita ini? Dilihat dari matanya, sepertinya dia sedang merasakan kesedihan yang begitu mendalam. (Batin Roger yang sedang menatap tajam kedua bola mata Esme)
"Tidak usah menatapku seperti itu ! Kau bisa saja menaruh hati padaku," celetuk Esme sambil terus menghapus air matanya.
A-apa?
"Haha... mana mungkin aku menyukai wanita arogan sepertimu. Aku curiga, sepertinya kedua mata Leo katarak." Roger menyindirnya balik.
Esme mendelekkan mata sembabnya. Ia segera masuk kedalam mobil. Lalu, tanpa di duga, mual itu kembali menyerang. Bukan waktunya memikirkan harga diri lagi, karena rasa mual yang hebat membuat Esme mau tak mau harus memuntahkan sedikit isi perutnya di hadapan Roger.
Hoeekkk...
Roger terbelalak dengan pandangan yang teramat jijik. "Hey ! Uwh, ada apa denganmu?...." Roger memalingkan pandangannya ke arah lain sambil menutup hidungnya.
Tiba-tiba saja tangan Roger di tarik olehnya.
Wajah Esme terlihat sangat pucat, ia terengah-engah seperti kecapekan, keringat di dahinya pun mulai bermunculan.
Roger langsung menatap panik. "Hey, hey... aduh, itu muntahanmu -"
"Roger ! Tolong bawa pergi aku ke pantai," ucap Esme tak bertenaga, kedua matanya nampak sayu.
Roger mengerutkan keningnya, ia sangat panik dengan keadaan Esme, di tambah lagi para pejalan kaki memperhatikannya.
"Apa dia gila!? Mana ada orang sakit pergi ke pantai," gumamnya.
Roger merasa ragu dan semakin panik, keputusan apa yang harus ia ambil. Mengantar Esme ke rumah sakit atau meninggalkan wanita arogan itu begitu saja di tepi jalan?
Apalah dayanya, Roger langsung memapah Esme masuk ke dalam mobilnya.
Kemudian, Roger mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit.
Sedikit tenaga yang tersisa, Esme melihat ke arah jalan. "Berhenti ! Kau mau bawa aku kemana?" tanyanya dengan mata sayu.
Roger yang sedang menyetir mobil, mengalungkan botol minuman padanya.
"Cepat, minum dulu airnya. Kau bisa mati kekurangan cairan. Itu, wajahmu sudah bagaikan mayat hidup !" ucap Roger panik.
"Ini kan arah ke rumah sakit. Cepat putar balik ! Pergi ke Pelabuhan Ratu. Kalau tidak, aku tidak akan minum, lalu aku akan mati disini dan kau akan hidup di penjara," ancamnya.
"Ke Pelabuhan Ratu? Apa kau ingin bunuh diri disana?" Roger sedikit meninggikan nada bicaranya.
"Apa? Bunuh diri? Haha... ya, benar. Seharusnya aku bunuh diri saja !" ucapnya tanpa sadar.
"Esmeralda! Apa kau sudah gila? Sebenarnya apa yang terjadi denganmu?" tanya Roger, sebetulnya ia tak ingin banyak tanya pada Esme, karena wanita itu sangat menyebalkan baginya.
"Tidak usah banyak tanya. Cepat, bawa aku ke Pelabuhan Ratu sekarang !" kecamnya.
Arrgghh... aku tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan. Masa bodo ! Dasar wanita keras kepala. (Batin Roger)
"Ya sudah. Aku akan mengantarmu ke sana. Tapi, kau harus minum dulu air mineralnya. Aku tidak ingin membawa mayat saat sampai kesana," geram Roger.
Uh, kalau saja tubuhku tidak selemah ini. Aku tidak akan sudi meminta bantuan pada pria menjengkelkan ini. (Batin Esme)
Esme meminum air mineral itu sampai habis tak tersisa.
__ADS_1
Di tengah perjalanan Roger membelikan makanan asongan untuk Esme, karena wajahnya masih terlihat pucat.
"Makanlah ! Aku membelikannya bukan karena aku perhatian, tapi karena aku takut kau mati di mobilku," ucap Roger dengan kesombongannya.
"Ah ! Bagaimana dengan mobilku?" Esme terbelalak.
"Nanti biar orangku yang mengantarkannya ke rumahmu. Kau berikan saja alamatnya," kata Roger.
Setelah memberi tahu alamat rumahnya, Esme melahap makanan itu tanpa ampun, ia tak lagi menjaga harga dirinya dihadapan orang asing karena perutnya sangatlah lapar. Mungkin anaknya pun meronta butuh asupan.
...
Sampailah Esme di Pelabuhan Ratu. Kini tubuhnya sudah bertenaga, juga sudah tidak merasakan mual lagi.
Esme berjalan ke luar dari mobil Roger begitu saja. Hembusan angin kencang membuat rambut Esme berantakan.
Ia menghampiri penjual topi pantai dan kaca mata, lalu Esme membelinya.
Roger sudah tak ada urusan lagi dengannya. Ia berniat pergi dari situ, tapi hari sudah menunjukan senja nya. Jalanan pulang saat weekend pasti padat. Pada akhirnya Roger memilih untuk menginap satu malam di salah satu Hotel terdekat disitu.
Saat sedang memesan kamar, tiba-tiba tanpa di duga Direktur DJ Entertainment yakni Alucard berjalan masuk ke Hotel itu.
Roger mengernyitkan dahinya, karena setiap bertemu Esme pasti ia bertemu juga dengan Alucard.
"Sudah tiga kali bertemu, tapi kita belum bertegur sapa. Apa kau juga ingin memesan kamar?" ucap Roger memulai pembicaraan.
Alucard tersenyum tipis.
"Tidak. Aku tak perlu memesan, karena Hotel ini milikku !" Alucard melewati Roger begitu saja, ia merasa Roger lah rivalnya. Karena saat bertemu dengan Esme di rumah sakit dan di parkiran Rogerpun memperhatikan Esme.
Cih ! Sombong sekali.
Roger dan Alucard pun berjalan menuju pintu lift untuk segera beristirahat di kamar Hotelnya. Tiba-tiba, pandangan mereka teralihkan saat melihat Esme yang sedang bersembunyi di balik guci besar, raut wajahnya sangat datar, seketika air mata Esme menetes.
Ada apa lagi dengan wanita itu? Setiap kali melihatnya selalu saja menangis. (Batin Roger dan Alucard)
Kemudian, Roger dan Alucard mengikuti pandangan Esme. Ternyata, pandangannya tertuju pada Ny.Hilda, Lolyta, Balmond dan Leomord.
"Leo?" Roger menatap heran. "Sedang apa dia disini? Dan... siapa mereka?"
"Bukankah itu Direktur Mord Grup?" gumam Alucard.
Dilihat dari raut wajah wanita itu, sepertinya ada masalah besar yang membuatnya sampai menangis pilu saat melihat Leo dan beberapa orang lain di sampingnya. (Batin Alucard dan Roger)
Esme tak pernah menyangka, ternyata Ibu dan Kakaknya sendiri pun mengetahui tentang perselingkuhan Leo dan Lolyta.
Saat Esme masih menahan jeritan tangis di balik guci besar itu. Tiba-tiba, Kadita dan Alice berjalan masuk ke Hotel mendekati Leo dan keluarga Esme.
K-Kadita? (Esme sangat terkejut, kedua matanya terbelalak)
Tubuh Esme bergetar hebat. Ia tak kuasa menyaksikan kenyataan pahit itu. Ternyata, bukan hanya kekasihnya, tapi sahabat bahkan keluarganya sendiri pun tahu perselingkuhan Leo, dan mereka ikut serta menyembunyikan itu semua dari Esme.
Esme menggigit bibir bawahnya, air matanya mengalir sudah bukan main. Benar-benar hal tergila yang tak pernah ia bayangkan akan terjadi menimpa hidupnya.
Wajah Esme sudah sangat merah, bukan hanya kekecewaan dan penderitaan biasa yang ia dapat, tapi kepedihan, kesakitan, dan rasa sesak yang teramat dalam.
Esme kehilangan akal sehatnya.
Ia berniat meluapkan amarah kebencian dan mencaci maki semua para pengkhianat yang ada dihadapaannya itu.
Tapi, tiba-tiba saja Roger dan Alucard menahan tangan kanan dan kiri Esme. Mereka sudah mengetahui hal apa yang akan Esme lakukan, karena aura kebenciannya terasa sangat pekat. Mata putihnya pun sudah memerah. Membuat Alucard dan Roger bergidik takut sekaligus sangat cemas.
...
__ADS_1
BERSAMBUNG !!!!
Like, Komen & Vote ❤