Air Mata Pengantin

Air Mata Pengantin
Romeo


__ADS_3

.


Hari berganti begitu cepat. Kehamilannya sudah menginjak trimester 3. Perutnya sudah sangat membesar. Begitu juga dengan badannya, bagian pipi, tangan dan wajahnya membengkak.


Alucard senang sekali melihat Esme yang sekarang, bohai dan semok katanya. Dia jadi makin cinta.


Selama ini Esme tidak pernah ngidam yang aneh-aneh. Hanya ingin selalu dekat dengan Alucard saja. Kemana-kemana pasti ikut. Mau rapat atau bertemu dengan investor pun Esme akan senantiasa menantinya di sampingnya.


Para karyawan yang melihatnya jadi gemas, dan ingin segera menikah, karena Alucard dan Esme sering kali membuat hati para jomblo memanas.


Seperti hari ini. Sekarang Alucard ada jadwal rapat. Tentu saja Esme juga hadir, karena ia adalah Direktur Pemasaran di perusahaannya. Padahal Alucard sudah menyuruhnya untuk berhenti bekerja, tapi Esme menolak dan sipat keras kepalanya itu membuat Alucard tak ingin berdebat.


Alucard dan Esme masuk ke ruang rapat. Ia duduk di kursi agungnya, dan Esme duduk di kursi lain.


Alucard membuka rapat pagi ini, Esme terus saja menatap wajahnya dengan tatapan tergila-gila. Anggota rapat yang lain melihatnya sudah tidak aneh. Apalagi Roger, Kadita dan Garry, mereka mengerti keadaan Esme, itu disebabkan karena hormon ibu hamil katanya.


Ditengah-tengah pembicaraan rapat, Alucard semakin merasa tidak enak karena ditatap terus menerus dengan mata elangnya itu. Ia menoleh ke arah Esme.


Apa? Lanjutkan saja rapatnya. Jangan pedulikan aku. (Batin Esme berbicara)


Jangan menatapku terus menerus! Ini sedang rapat. (Batin Alucard, membalas)


Memangnya kenapa? Apa kau akan menghukumku? (Batin Esme)


Jika kau yang memintanya, dengan senang hati aku akan menghukummu. Tunggu aku di rumah jam 8 malam. Aku akan membuatmu tak bisa merangkak lagi, Esme! (Batin Alucard)


Haiss, sebelum kau menghukumku, aku duluan yang akan menghukummu. (Batin Esme)


Anggota rapat yang melihat tingkah Esme dan Alucard terheran-heran, sedang apa mereka pandang memandang dari tadi? Apa mereka sedang melakukan telepati?


Setelah Roger memberikan pendapat dalam rapat hari ini, Alucard beranjak dan mengakhiri rapat itu. Semua anggota rapat ke luar dari ruang rapat.


Saat Alucard akan ke luar, Esme langsung mencegatnya, ia menghalangi pintu dengan tangan dan kakinya.

__ADS_1


"Ada apa, ibu hamil?" tanyanya dengan suara yang lembut. "Tidak perlu dihalangi dengan tangan dan kaki. Badan besarmu saja sudah menghalangi jalan."


"Kau bilang apa barusan? Apa kau sedang menyindir aku gendut?" geramnya. Esme segera menutup pintu rapat-rapat. "Aku harus buat perhitungan denganmu. Ayo, maju!"


"Hey, kita sedang ada di ruang rapat. Aku tidak mau membuat keributan," kata Alucard sambil melihat sekeliling ruang rapat.


"Ayolah, aku janji aku tidak akan membuat keributan." Esme menarik dasi Alucard, hingga tubuh Alucard sedikit bungkuk di hadapannya.


"Kenapa aku selalu tak bisa tahan dari godaanmu?" bisiknya. Alucard menciumi setiap inci leher Esme. Harumnya sangat menggoda. Lalu, ia membuka kancing baju Esme, dan segera menikmatinya.


"Esme perutmu semakin membesar, aku kesulitan!" keluhnya. "Aduh anakku, baik-baik ya kau didalam," gumam Alucard.


Saat sedang seperti itu tiba-tiba ada yang membuka pintu. Esme dan Alucard langsung panik membenarkan posisi. Esme segera mengancingkan bajunya dan menurunkan roknya, Alucard pun segera menarik resletingnya celananya.


Dilihatnya siapa yang masuk.


Wah ternyata yang masuk adalah Romeo, anak Kadita dan Garry. Sepertinya Romeo sedang belajar jalan, dan tak sengaja malah belok kesini..


Esme tersenyum dan segera menghampiri anak kecil yang menggemaskan itu. Wajahnya bergaris Italia, seperti Garry. Sepertinya Romeo akan tumbuh menjadi pria muda yang tampan.


Esme menggendongnya dan membawanya duduk. "Dimana mami dan papi konyolmu, Meo?"


Romeo hanya tersenyum lebar memperlihatkan empat giginya yang baru tumbuh. Senyumannya seperti berkata pada Alucard dan Esme, hayoooo kalian terciduk.


"Esme, dudukan saja dia di atas kursi, jangan di pahamu. Nanti anakku merasa pengap di dalam." Perasaan sensitif Alucard keluar.


"Tidak apa-apa. Semoga kelak anak kita bisa berteman baik dengannya. Meo mau jajan? JA-JAN, MAU GAK?" tanya Esme membujuk, ia berharap Romeo mengerti ucapannya.


Romeo menganggukan kepalanya. Dasar anak kecil, dikasih jajan aja langsung mengerti.


"Ayo, minta pada Bos Besar. Paman Al banyak uangnya loh. Dompet di saku celananya sangat tebal. Kalau minta selembar dua lembar pun tak akan habis. Mintanya langsung segepok aja, ya hihihi...."


Esme menggendong Romeo, membawanya menghampiri Alucard. Wajahnya dari tadi cemberut, semoga saja Romeo bisa membuatnya tersenyum lagi.

__ADS_1


"Bos Besar, Meo minta uang dooong," Esme mencemprengkan suaranya. "Sudahlah, jangan cemberit terus. Nanti bisa dilanjut dirumah," katanya.


"Hemm." Alucard mengeluarkan dompetnya.


"WOOOW!! Lihat Meo, uang Paman Al banyak kan. Dompetnya sampai tak bisa di tutup begitu, hahaha...."


Melihat Esme tertawa, Romeo pun tertawa.


"Haiss, uang banyak apanya. Ini semua kertas bukti pembayaran. Apa kau tidak sadar, setiap waktu selalu ingin makan ini dan itu. Lihatlah badanmu sudah seperti lontong yang dibungkus daun pisang," celetuk Al sambil mengambil dua lembar uang yang berwarna merah.


"Aku makan kan dibagi dua dengan anakmu. Jangan salahkan aku saja dong,"


"Hmm... aku yakin, setelah ini kau pasti meminta aku membelikan tahu gejrot, dan setelah itu 'sayang belikan aku seblak, sayang belikan aku pizza, belikan aku mie ayam, belikan aku bakso, belikan aku ini dan itu', iya 'kan?" sindir Alucard. Ia memberikan dua lembar uang itu pada Romeo.


Esme menyeringai seperti seekor keledai. Alucard selalu tahu apa yang ada dipikirannya. Jadi malu deh.


"Kalau begitu, let's go. Belikan aku semua yang kau sebut tadi. Ayo, Meo... kita habisakan uang Paman Al." Esme menggendongnya ke luar.


"Haiss, dasar Esme."


Al segera menahan tubuh Esme. Ia merebut paksa Romeo dari pangkuannya.


"Jangan mengangkat yang berat-berat. Aku akan membawanya, orang tuanya pasti sedang mencari dia," ucap Alucard. Ia membawa Romeo keluar dari ruang rapat.


Anak kecil itu menggenggam dua lembar uang dimasing-masing tangannya. Genggamannya sangat kuat sekali.


Tiba-tiba, langkah kaki Esme terhenti. Perutnya terasa sakit menusuk. Ia terlinggal dari Alucard yang sudah berjalan menjauh.


"Aduh," rintihnya. Esme menggigit bibir bawahnya juga mengepalkan tangan, menahan sakit.


Rasanya seperti ada yang memutar paksa bayi di dalam perutnya. Mules, sakitnya sangat menusuk, membuat otot kakinya mati rasa, sulit sekali untuk melangkah.


...

__ADS_1


BERSAMBUNG!!!


Jangan lupa LIKE, KOMEN & VOTE 😍


__ADS_2