
.
Saat berjalan dengan tatapan kosong menuju mobilnya yang sedang terparkir di area parkiran rumah sakit, kaki Esme tak sengaja tersandung, hingga kedua lututnya menapak aspal dan terluka. Esme tak segera bangkit, ia malah menangis terisak-isak disana sambil memegangi perutnya dan menutup mulutnya dengan punggung tangannya.
Kesedihan yang begitu pilu, kesakitan yang mendalam, dan juga kehampaan menjadi satu, membalut jiwanya.
Alucard dan Roger berjalan dari arah yang berbeda menuju area parkir karena mobil mereka ternyata terparkir di tempat yang sama.
Lagi-lagi mereka melihat Esme yang sedang menangis sambil memeluk lutut di samping mobil Honda Jazz berwarna hitam. Sebenarnya, hati mereka saling tergerak melihatnya, tapi karena ego yang besar, mereka memilih untuk memperhatikannya dari dalam mobil masing-masing.
Tiba-tiba ponsel Esme berbunyi, ia langsung menghapus air matanya dan mengangkat telepon itu sambil berusaha tertatih karena lutut yang terluka.
"Ya, Ibu. Ada apa?" tanya Esme, ia menyembunyikan suara serak bekas tangisannya.
"Ibu, Lolyta dan Balmond akan pergi ke pantai siang ini dan menginap satu malam di sana. Kau sibukan saja dulu dirimu, ya. Ada Bi Inah dan ayah yang menemanimu," ucap Ny.Hilda langsung ke inti.
Esme terhenti sejenak, ia merasa aneh. Mengapa Ny.Hilda tidak menawarkan Esme untuk ikut dengan mereka ke pantai.
"Mm, yaaa... aku memang sedang sibuk." Esme terpaksa berbohong sambil tersenyum. "Baiklah, tidak masalah. Hati-hati di jalan, Bu-" Belum juga selesai bicara, Ny.Hilda malah langsung mematikan panggilan itu begitu saja. Esme mengernyit heran.
Saat tengah melamun, tidak di duga ada seorang copet yang sedang berlari karena di kejar masa.
Copet !! Copet !!
Copet itu berlari mengarah ke Esme yang masih mematung di sana.
Seketika, Esme tersadar dari lamunannya karena suara riuhnya para warga memanggil-manggil 'copet'.
Alucard dan Roger yang masih memperhatikan Esme dari dalam mobilnya merasa khawatir, karena copet dan para warga semakin dekat ke arahnya.
Kedua mata mereka hanya terbelalak menatap cemas, tidak ingin menghadang si copet atau bertindak layaknya pahlawan karena ego besar dari dalam diri mereka masing-masing.
Untuk apa menolongnya? Pasti wanita itu langsung bersembunyi masuk ke dalam mobilnya. (Batin Roger dan Alucard yang terus memperhatikan dengan keadaan hati yang tidak tenang)
Si copet semakin dekat.
Esme langsung menoleh ke arahnya yang sedang berlari panik. Ia segera jongkok di balik mobil Honda Jazz berwarna hitam itu.
Saat si copet melewati mobil hitam itu, Esme langsung menjulurkan kaki kirinya. Si copet pun masuk perangkap, ia tersandung, jatuh terguling-guling di jalanan. Esme segera berlari mengambil tas yang copet itu pegang. Tak lupa ia memotret wajah pencopet yang sedang merintih kesakitan dengan ponselnya. Berjaga-jaga kalau copet itu lolos.
"DI SINI COPETNYA !" teriak Esme. Ia melambaikan tangan pada warga sambil menggenggam erat tas milik orang lain itu.
Kedua mata Alucard dan Roger terbelalak, mereka terkejut dengan apa yang Esme lakukan.
Saat Esme akan beranjak, kaki kanan si copet meluncurkan tendangannya ke perut Esme. Untunglah Esme langsung mundur beberapa langkah, kurang satu senti saja, pasti perutnya sudah merasakan nyeri terkena tendangan kencang itu.
Para warga mendekat, si copet berbalik dan berniat akan kabur. Tapi, Esme langsung menendang bokongnya, hingga ia terjatuh lagi. Bukan hanya itu, Esme menendang sedikit alat vitalnya, agar si copet diam. Bukannya diam, si copet malah berteriak keras karena kesakitan sambil menyentuh alat vitalnya.
Uh !!
Alucard dan Roger semakin terbelalak dengan mulut yang membulat. Mereka tak menyangka, Esme berani melawan copet itu, bahkan sampai menendang alat vitalnya, membuat mereka bergidik ngeri melihat alat vital itu ditendang.
Para warga langsung mengerumuninya, membangunkan copet itu dengan kasar, dan langsung menggiringnya ke kantor polisi.
Seorang wanita paruh baya dengan kaca mata minus berlari menghampiri Esme, ia langsung mengambil tas itu dari genggaman tangan Esme dan memeluknya erat. "Aduhhh, tasku...," ucapnya dengan perasaan yang sangat lega.
Saat Esme menoleh, ia sedikit terkejut, karena yang dicopet adalah tas dokter kandungan yang tadi memeriksanya.
__ADS_1
Wanita paruh baya itu pun terkejut melihat Esme.
"Wah, ternyata kamu yang sudah menolong saya. Terima kasih banyak, ya !" katanya sambil tersenyum dan menyentuh tangan Esme. "Ah ! Tapi, bagaimana bisa kamu mengahadapi copet itu? Apa kamu tidak mengkhawatirkan kandunganmu ini?" tanyanya yang merasa cemas.
Esme tersenyum menunduk. "Tidak apa-apa. Perutku tidak sampai terluka, kok." Esme menyembunyikan perutnya di balik tas miliknya, karena merasa tidak enak membahas kehamilannya di muka umum.
"Dimana suamimu? Apa kau sedang menunggunya menjemputmu?" tanya dokter itu, penasaran.
Esme terbelalak, ia menjadi panik.
Aduh ! Bagaimana ini? Jika aku bilang tidak dengan suamiku, apa dokter ini akan curiga? (Batin Esme)
Esme segera mencari korban untuk menipu dokter itu. Matanya melirik ke segala arah. Semua mobil yang terparkir tidak terlihat ada orangnya di dalam. Kemudian, tidak sengaja matanya melihat ke arah mobil berwarna putih yang di dalamnya ada seseorang, tapi Esme melihatnya tidak jelas karena kaca mobilnya buram, hanya terlihat bayangan hitam saja.
"Mm, suamiku baru saja sampai. Dan, dia sedang menungguku disana," ucap Esme tanpa sadar sambil memaksakan senyumnya, dan menunjuk ke arah mobil berwarna putih itu.
Jantungnya berdebar karena telah membohongi seseorang. Kemudian, Esme berusaha kabur dari situasi yang sudah sangat mencekam. Ia segera berjalan menuju mobil berwarna putih agar dokter itu tidak menatapnya curiga lagi.
Saat berjalan, Esme merasakan sakit di lututnya karena tersandung tadi. Ia jalan terpingkal-pingkal.
Dokter itu mengernyit dengan perasaan yang sangat cemas, takut jika penyebab kakinya terluka itu karena telah menolong tasnya dari copet.
"Ada apa dengan kakimu? Apakah ini karena si copet itu?" tanyanya cemas. Esme semakin terpojok, dan semakin panik.
"Ah, bu-bukan. Kakiku hanya -"
"Sudah. Biar saya bantu kamu berjalan sampai mobil suamimu." Dokter itu memotong pembicaraan Esme, dan langsung memapahnya begitu saja.
Ya Tuhaann !!! Bagaimana ini? (Batin Esme, semakin tidak tenang)
Terpaksa Esme berjalan dipapahnya menuju mobil putih itu. Jantungnya berdebar hebat, bulir-bulir keringat mulai bermunculan.
Esme terkejut dan menelan salivanya, sambil memainkan jari jemarinya karena panik juga bingung.
"Mm, yang mana mobil suamimu?" tanya dokter itu dengan suara yang lembut.
Deg ....
Yang mana? Akupun tidak tahu yang mana. (Batin Esme, ingin sekali ia mengutuk dirinya karena kecerobohannya itu)
"Ehemm... yang ini. Yang sebelah kiri," ucapnya sambil menunjuk. Esme menutup kedua matanya karena tak kuasa melihat kekacauan apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Apa benar mobil suamimu yang ini? Kenapa dia tidak membukakan pintu mobil untuk istrinya?" tanya dokter itu yang mulai curiga lagi.
"Ah ! Mm, mungkin dia sedang tidur di dalam," ucapnya penuh dusta, sambil menyapu keringat di dahi.
Kemudian, dengan tangan yang gemetar hebat, Esme terpaksa mengetuk pintu itu. Keringat dingin mengguyur seluruh tubuhnya.
Tidak lama, kaca mobil itu terbuka. Terlihat seorang pria yang mengenakan coat hitam di dalam mobil sedang memandang heran ke arahnya.
Esme mengedip-kedipkan mata kirinya.
"Sayang. Cepat, bukakan pintunya. Hehe...," ucapnya dengan senyuman palsu.
Mati aku ! Matiiiii.....
Lelaki bercoat hitam yang tak lain adalah Alucard itu langsung membuka pintu tanpa berkata apapun, seolah sudah mengerti dengan keadaan.
__ADS_1
"Mm, Dokter... terima kasih sudah membantuku berjalan," kata Esme, ia melepaskan genggaman tangan dokter itu dari tubuhnya.
Tapi, dokter itu malah melamun. Ia menatap curiga pada mobil putih sebelah kanan, lalu ia menajamkan penglihatannya. Tiba-tiba, mata dokter itu langsung terbelalak.
"Roger?"
Esme sedikit terkejut, karena nama itu tak asing baginya. Lalu, ia menoleh ke arah yang dokter itu lihat.
"Wakil direktur Roger?" Esme pun terkejut. "Sedang apa dia?" gumamnya.
Uh, untung lah aku tidak memilih mobil itu tadi. Sepertinya dokter ini mengenalnya. (Batin Esme, sambil menghela nafas lega)
Dokter itu langsung berjalan kesana, menghampiri Roger.
Tok... tok... tok...
Ia mengetuk kaca mobilnya.
Roger dengan raut wajah malu karena merasa terpergoki, terpaksa membukanya.
"Ada apa, Bibi?" tanyanya tanpa menoleh, karena jika ia menoleh akan sangat malu pada Esme.
"Sedang apa kau disini? Apa kau tidak lihat, tadi tas Bibi di copet?" ucapnya sedikit geram.
Pada akhirnyapun, Roger menoleh dan tak sengaja melihat Esme yang juga sedang melihatnya. Ia jadi salah tingkah.
"Ah, sudahlah. Cepat, Bibi masuk ke dalam. Aku akan mengantar Bibi pulang." Roger panik tak karuan.
Sebelum masuk ke dalam mobil, dokter itu berpamitan dulu pada Esme.
Kenapa wanita arogan itu menatapku terus? Apa dia tahu dari tadi aku memperhatikannya? Ah ! Tapi, kenapa juga aku memperhatikannya dari tadi? Apa aku sudah gila? (Batin Roger yang ke PD-an)
Roger segera menutup kaca mobilnya dan melaju, meninggalkan Esme begitu saja.
Melihat dokter itu dan Roger sudah pergi. Akhirnya, Esme bisa menghela nafas lega. Ia berjalan kembali menuju mobilnya.
Tapi, tiba-tiba saja lelaki bercoat hitam itu menghalangi jalannya dengan senyum yang menungging.
"Bukan kah tidak sopan, pergi begitu saja tanpa mengucapkan tanda terima kasih pada suamimu yang sudah menolongmu?" sindir lelaki berdagu lancip itu dengan nada sombongnya sambil melipat kedua tangannya di atas perut.
Hah? Suami? ... Dasar gila ! (Batin Esme, sedikit jengkel)
Bukannya merasa tidak enak atau malu, Esme malah membusungkan dadanya. Ia tak ingin kalah sombong dari lelaki di hadapannya.
"Terima kasih," bisiknya singkat, sambil berlalu begitu saja melewati lelaki itu.
Jleb !!!
Alucard terkejut, jantungnya terasa tertancap busur panah. Ia tak mengira, wanita yang tadinya menangis terisak-isak, ternyata mempunyai karakter yang begitu arogan, hingga berani mengabaikannya.
Tubuhnya menggeram, karena di Korea tidak ada wanita yang berani mengabaikannya seperti itu. Satu kali melihat saja, para wanita akan langsung jatuh cinta pada ketampanannya.
Jiwanya merasa tertantang.
Alucard menoleh ke arah Esme yang sudah akan memasuki mobilnya itu, sambil tersenyum tipis. "Menarik !" gumamnya.
...
__ADS_1
BERSAMBUNG !!!!
Biar semangat up tiap hari, boleh dong sumbangan Like, Komen & Vote nya 😂