
.
Pagi hari, Esme membuka matanya perlahan, ditatapnya wajah suaminya yang berada tepat dihadapannya, masih tertidur dengan lelap. Seketika wajahnya memerah, saat mengingat kejadian malam tadi yang begitu panas.
Entah kenapa Esme memintanya duluan, apalagi sampai kecewa yang begitu mendalam saat Alucard menolaknya.
Biasanya ia tak seperti itu.
Sebelum beranjak dari tidurnya, Esme memeluk tubuh Alucard yang sedang bertelanjang dada. Ia mengumpat di dalam pelukannya sambil menempelkan sebelah pipinya di dada Alucard.
Rasanya masih tak menyangka, sedang ada nyawa dalam perutnya. Senang sekali sampai tak sabar, ingin cepat-cepat bertemu dengan si kecil.
Kemudian, Esme membangunkan Alucard, karena hari ini mereka akan mengecek kandungan. Benar atau tidaknya keberadaan bayi kembar di dalam perutnya itu.
Alucard membuka mata dengan malasnya, lalu menutup kembali, karena masih sangat mengantuk.
Kecupan demi kecupan pun telah Esme luncurkan. Tapi, Alucard tak kunjung bangun juga.
"Sayang, bukankah kita akan pergi ke dokter untuk mengecek kandunganku?" bisiknya.
Kedua mata Alucard langsung membulat. Ia segera beranjak dan berjalan ke kamar mandi.
"Siapkan baju untukku," katanya sambil berjalan dengan linglung.
Esme tertawa kecil saat melihat tingkahnya. Alucard sangat antusias jika berbicara tentang calon anaknya.
Tentu saja sangat antusias, karena ini adalah anak pertamanya. Kehamilan Esme merupakan sesuatu yang sudah dinantinya sejak lama.
Setelah mandi, dan kemudian sarapan, Alucard dan Esme pergi dari Hotel berbintang itu.
Ia mengesampingkan dulu pekerjaannya demi mengantar Esme ke dokter kandungan.
__ADS_1
Setelah sampai di dokter kandungan, Alucard memapahnya masuk ke sana. Mereka disambut hangat oleh seorang dokter wanita yang masih muda.
Sedikit berbincang-bincang mengenai kehamilan. Alucard dan Esme menganggukan kepalanya saat diberitahu apa yang boleh dan yang tidak boleh ibu hamil lakukan.
Setelah itu mereka melakukan USG. Dilihatnya ada berapa janin dalam perutnya.
Dokter menatapnya dengan serius, lalu tiba-tiba ia mengerutkan keningnya. Ternyata ada satu janin, bukan dua!
Esme yang sedang tertidur di atas bangsal, menghela nafas hampa, ia sedikit kecewa mendengarnya. Ia kira dokter pertama yang waktu itu datang ke rumah mengatakan hal yang tepat. tapi ternyata salah.
Maklum saja, dokter juga manusia, tak luput dari kesalahan.
Dokter dan Alucard menyemangatinya, karena ini bukan hal yang harus di sesali. Kandungannya sehat, janinnya pun sama.
Semangatnya pun kembali terkumpul. Esme tersenyum saat Alucard mengelus-elus perutnya di depan dokter.
Dokter jadi malu sendiri melihatnya.
Sesampainya disana. Esme mengetuk pintu. Rumahnya yang dulu tidak sama seperti sekarang. Rumah ini jadi istana lengkap untuk orang seusia ayahnya.
Alucard membuat Tn.Harits dimanjakan didalam rumahnya sendiri. Tentu saja, karena di dalam rumah ini ada tempat olahraga, tempat pijat menggunakan alat canggih, tempat berendam air hangat, dan tempat-tempat enak lainnya yang jarang sekali orang miliki.
Maka dari itu Tn.Harits jarang ke luar rumah. Benar-benar masa tua yang membuatnya senang, tenang dan damai, tapi tetap saja kurang lengkap tanpa kehadiran keluarga.
Tn.Harits selalu merindukan Esme, Lolyta, dan Balmond. Meskipun karakter adik kakak itu berbeda dengan Esme, tetap saja mereka adalah anaknya. Rasa rindu pasti selalu ada.
Tn.Harits membukakan pintu rumah untuk Esme. Ia terkejut saat melihat Esme berkunjung kemari. Tn.Harits segera memeluknya dengan sangat erat, memecahkan celengan rindu. Hampir saja air matanya menetes. Benar-benar rindu pada anaknya setengah mati.
Tn.Harits pun menyuruh mereka masuk kedalam. Lalu, beberapa pelayan segera mengambil suguhan untuk mereka.
Esme merasa senang ayahnya baik-baik saja dan malah terlihat jadi lebih muda dari sebelumnya. Ini semua berkat kemurahan hati Alucard yang menyediakan semua perlengkapan aktifitas luar di dalam rumah ayahnya.
Sedikit berbincang dan berkisah kasih selama mereka berjauhan, lalu ditengah pembicaraan Esme memberitahukan ayahnya bahwa ia hamil.
__ADS_1
Tn.Harits langsung membatu. Ia merasa tak menyangka anaknya sedang hamil sekarang. Dilihatnya perut Esme, lalu dilihat wajahnya, dan kembali melihat perut Esme.
"K-kau benar-benar sedang hamil?" Kedua mata Tn.Harits memerah dan bergetar. Satu kedipan saja sepertinya air matanya akan menetes.
Esme tersenyum sambil menganggukan kepalanya.
Tn.Harits segera meraih tangan Esme, ia menggenggamnya erat. Sungguh kehidupan yang tak mudah yang sudah anaknya lalui, sampai bisa bahagia seperti sekarang.
Lihatlah, wajah ceria Esme, senyumnya dan semangatnya untuk hidup begitu murni. Tak seperti tahun kemarin, saat Tn.Harits melihat Esme yang terbaring lemah tak bertenaga di atas bangsal karena pelecehan seksual itu.
Sejauh ini, ia sudah sangat hebat. Melewati cobaan yang masuk ke dalam hidupnya bertubi-tubi. Kegigihan dan semangatnya seperti ibunya saat remaja. Dalam sekejap, Tn.Harits jadi mengenang almarhumah ibunya Esme.
Setelah menghabiskan waktu cukup lama. Alucard dan Esme pun meminta izin pamit. Tn.Harits mengantarnya sampai depan rumah.
Ingin sekali menyuruhnya untuk menginap satu malam disini, tapi rasanya sagat sungkan pada Alucard.
Esme dan Alucard masuk ke dalam mobil. Sebelum pergi, Esme melambaikan dulu tangannya.
"Ayah, baik-baik ya disini. Minggu depan aku akan kemari lagi. Ingin mengajak ayah melihat rumah baruku," kata Esme.
"Iya, hati-hati di jalan. Alucard, kau jangan mengebut-ngebut bawa mobilnya. ya?"
Alucard menganggukan kepalanya. Lalu, mobilpun melaju pergi dari sana.
...
Jangan lupa, buat kalian yg punya aplikasi NOV*LME. mampir ke novelku ya, judulnya WIFE OF A PRISONER.
BERSAMBUNG!!
Dilanjut nanti ya... aku udh ngantuk banget ini mata. Padahal beberapa episode lagi loooo. Tapi mata ga bisa di ajak kompromi.
__ADS_1