Air Mata Pengantin

Air Mata Pengantin
Lipstik?


__ADS_3

.


Setelah mengantarkan Alice pulang ke rumahnya, Leo segera mengantarkan Esme dan Lolyta pulang.


Saat di perjalanan Lolyta membuka pembicaraan, ia memaksa pada Leo bahwa dirinya ingin sekali berkujung ke rumah Leo yang sekarang ditinggalinya. Esme yang melihat sikap lancangnya itu, langsung segera memelototinya.


"Tak apa Esme. Bukan sesuatu yang pribadi, kok. Kau juga sampai sekarang belum tahu tempat tinggalku, kan?" kata Leo, menghentikan tatapan tajam Esme pada Lolyta.


"Ya, tapi sepertinya aku akan kesusahan berjalan." Esme menunduk melirik kaki kirinya yang masih terasa nyeri.


"Apa kau memberiku kode untuk menggendongmu?" sindir Leo.


Esme terbelalak. "Hah? Dasar narsis!"


Leo malah tersenyum lebar.


"Memangnya ada apa dengan kakak?" tanya Lolyta, penasaran.


"Kakakmu memakai sepatu hak tinggi yang sangat tinggi. Ketika sedang menyeberang jalan, haknya terlepas. Akhirnya kaki kakakmu ini terkilir," jelas Leo. "Sudah, sebaiknya sekarang kita menuju ke tempat tinggalku."


Leo segera memutar setir mobil dan melaju ke rumahnya, tapi Esme mengerutkan keningnya karena jalan yang mereka tempuh persis dengan jalan ke perusahaan Mord.


Sampailah mereka di kediaman Leo. Esme dan Lolyta malah tercengang karena dihadapan mereka saat ini menjulang gedung yang cukup tinggi bukan sebuah rumah.


"Ini kan gedung apartemen ter-elite di Jakarta? Jangan-jangan, kak Leo menyewa salah satu apartemen disini?" ucap Lolyta terbelalak kagum.


Esme yang baru pulang dari Amerika belum tahu apa-apa tentang perubahan pesat yang terjadi di Jakarta saat ini.


Leo hanya tersenyum, "Ayo, masuk!" Ia segera berjalan menunjukan arah sambil memapah Esme.


Lolyta pun mengikutinya dari belakang.


Masuklah mereka kedalam lift.


"Kak Leo, sejak kapan kakak tinggal di apartemen mewah ini?" tanya Lolyta penasaran.


"Aku pindah baru-baru ini, kok. Dari rumahku kesini membutuhkan banyak waktu. Apartemen ini hanya pilihan alternatif para pebisnis saja, karena disini sangat dekat dengan kawasan pusat bisnis," jelas Leo dengan wajah santai.


Lolyta termanggut-manggut. "Pasti biaya sewanya sangat mahal ya, kak?" tanyanya.


Esme langsung memelototi Lolyta lagi, karena ke-kepoannya itu membuatnya geram.


"Mm... sebenarnya aku langsung membelinya," jawabnya singkat.


Sontak, Esme dan Lolyta terbelalak dan menganga.


Pintu lift pun terbuka. Leo langsung keluar dari lift itu dengan kedua tangan yang di masukkan kedalam saku celana.


Saat Leo menoleh kebelakang, tidak ada Esme dan Lolyta yang mengikuti.


Leo pun kembali memeriksa lift. Terlihat Esme dan Lolyta yang sedang mematung dengan mulut menganga. "Ada apa dengan kalian? Ayo, bukankah ingin melihat tempat tinggalku?" katanya.


"Ah, emm ... bantu aku berjalan lagi." Esme beralasan.


Leo pun segera meraih tubuh Esme dan kembali memapahnya keluar dari lift sebelum pintu lift tertutup dengan sendirinya.


Sampailah mereka di pintu apartemen, Leo segera merogoh kantung celananya mengambil dompet dengan sebuah kartu.

__ADS_1


Pintupun terbuka, Leo kembali memapah Esme masuk dengan Lolyta yang mengikutinya.


Esme dan Lolyta tercengang, karena melihat desain apartemen Leo yang begitu membuat mata takjub. Apartemennya menggunakan gradasi warna cokelat, dari gelap ke terang untuk komponen-komponennya.


Desain interior dan permainan warna yang digunakan membuat apartemen ini terlihat simple namun tetap terkesan metropolis.


Leo membawa Esme menuju sofa, menekan sedikit pundaknya agar Esme terduduk disitu.


Tanpa di suruh, Lolyta pun duduk di samping kakaknya, sambil terus melihat sekeliling ruangan itu.


Leo membawakan dua gelas jus dingin, dan meletakannya di atas meja.


Kemudian, Ia membuka tirai besar yang menghalangi pencahayaan.


Saat dibuka tirainya, ternyata disana bukan jendela biasa. Melainkan kaca besar yang sangat tebal juga anti peluru.


Lolyta berjalan mendekati kaca besar itu. Ia terkejut, karena seluruh Kota terlihat sangat jelas dari atas situ. Dengan suasana terbenamnya matahari, membuat pandangan Lolyta menatap takjub.


"Uh, kak Leo. Apakah aku boleh tinggal disini?" tanya Lolyta dengan tatapan yang berbinar-binar melihat keadaan Kota.


Esme yang sedang menyeruput jus terhentak kaget. "Lolyta, jaga ucapanmu!" Bicara Esme sedikit meninggi.


Leo tersenyum. "Boleh saja, jika aku dan kakakmu sudah menikah kau boleh sering berkunjung dan menginap disini."


Esme beranjak mendekati Leo yang berdiri disamping kaca besar itu, dengan keadaan yang tertatih-tatih, karena Esme tak ingin hanya sekedar duduk dan meminum jus saja. Ia pun dibuat penasaran, ingin melihat juga meraba beberapa furniture yang sepertinya sangat mahal harganya.


Kemudian, Esme meminta izin kepada sang pemilik apartemen untuk melihat kamar tidurnya.


"Tentu, kau boleh kesana melihatnya sendiri," katanya. Leo kembali menatap keadaan Kota dari atas situ sambil termenung. Entah apa yang sedang ia renungkan.


Saat akan menutup pintu kamar karena Esme merasa sudah terpenuhi rasa penasarannya, tiba-tiba saja Lolyta mendorong pintu itu, dan masuk begitu saja kedalam kamar tidur Leo, hingga membuat Esme terkejut.


"Lolyta, jangan lancang kamu!"


Teriakan kecil Esme membuat Leo terhentak, kemudian Leo berjalan ke arah kamarnya melihat apa yang terjadi.


"Ah! Tidak apa-apa, Esme. Biarkan saja." Leo mengelus-elus bahu Esme.


"Aku bawakan beberapa camilan, mau?" tanya Leo.


Esme menghela nafasnya, kemudian ia mengangguk. Leopun segera ke dapur memeriksa isi kulkasnya.


Kenapa Leo tidak ada rasa kewaspadaan sama sekali? Dari tadi, dia memperbolehkan terus tindakan sembrono Lolyta. (Bantin Esme, mendumel)


Esme yang masih mematung di ambang pintu, memperhatikan setiap gerik Lolyta, karena adiknya itu sangatlah ceroboh. Ia hanya takut, jika Lolyta berbuat ulah.


Saat Esme akan kembali menuju sofa, tiba-tiba ia terhenti karena Lolyta menyentuh sesuatu yang terletak di meja, disamping ranjang Leo.


"Apa ini? Sepertinya tidak asing," kata Lolyta terheran, dengan tatapan meneliti. "Ah! Bukankah ini lipstik merk Christian Dior yang harga satuannya hampir jutaan itu?".


Mendengar kata 'lipstik' membuat Esme penasaran.


Kemudian Lolyta membalik posisi lipstik itu. "Benar, ini merk Dior! Ada tulisannya dibelakang sini." Mata Lolyta terbelalak.


"Uh, aku kira tadinya ini adalah cap stemple. Mm... rasanya aku pernah melihat lipstik ini. Tapi, dirumah siapa, ya?" gumam Lolyta, sambil mengingat-ingat.


Esme langsung merampas lipstik itu dari genggaman Lolyta. "Lolyta, hari ini kau membuatku sangat marah! Lain kali aku tidak akan membawamu berkunjung kesini lagi," geram Esme sambil meletakan kembali lipstik itu. Tapi, Lolyta tak menghiraukan kemarahan Esme.

__ADS_1


"Kakak, sini. Mana tanganmu?" Lolyta menarik pergelangan tangan Esme, lalu mengambil kembali lipstik yang sudah Esme letakan, ia membuka lipstik itu. Kemudian, Lolyta menggeratkan lipstik yang berwarna merah bibir alami di telapak tangan Esme. "Lihat kak, warna lipstiknya sangat cantik, kan? Seperti warna merah bibir sungguhan. Setahuku, lipstik ini akan bertahan lama kurang lebih 16 jam. Harganya juga sangat lumayan mahal," jelas Lolyta sambil meletakkan kembali lipstik itu.


"Kak, apakah Kak Leo setiap ke kantor menggunakan lipstik ini? Agar bibirnya terlihat merah segar, seperti oppa-oppa Korea itu loh," Lolyta menggertakan giginya dengan senyum yang lebar.


Esme terjeda sesaat. Ia menundukkan kepala dengan wajah tanpa ekspresi. Entah kenapa, tiba-tiba perasaannya menjadi sedih.


"Ehem... emm, itu milik ibuku. Kemarin, ayah dan ibuku berkunjung kemari. Sepertinya, ibu melupakan lipstiknya, jadi aku menyimpannya, karena aku tahu lipstik itu harganya sangat mahal," jelas Leo yang tiba-tiba saja masuk. Esme menatap curiga padanya.


"Mm, Loly! Aku membawa camilan banyak loh. Ayo, kemari!" sambung Leo, mengalihkan pembicaraan.


Lolyta pun berjalan cepat menghampiri Leo, tiba-tiba Esme menarik tangannya.


Dengan wajah datar, Ia berkata. "Ini sudah hampir larut, sebentar lagi azan magrib. Tidak baik bertamu lama-lama. Ibu pasti mencemaskan Loly karena belum pulang sampai sekarang. Aku bisa membelikan camilan di Supermarket dekat rumah, untuknya. Sebaiknya, kita pulang sekarang!" kata Esme dengan wajah dinginnya.


Leo dan Lolyta mengernyit heran dengan ekspresi wajah Esme.


"Mmm... ya sudah. Ayo, aku antar kalian pulang," ucap Leo.


Esme dan Lolyta pun berlalu, keluar dari kamarnya. Esme menjadi bersikap dingin pada Leo selama mereka berjalan menuju area parkir. Penuh kegelisahan diwajahnya.


Kemudian, Leo mempersilahkan Esme dan Lolyta masuk kedalam mobilnya. Tapi, Esme memilih untuk duduk di kursi bagian belakang bersama Lolyta tanpa berkata apapun.


Leo semakin terheran-heran dengan sikap dinginnya itu.


Kemudian, merekapun menuju rumah Esme.


Di perjalanan pulang, suasana sangat hening. Esme hanya memokuskan pandangannya ke arah jalan dengan wajah datar tanpa ekspresi, dan Lolyta terfokuskan pada ponselnya.


Setibanya dirumah Esme, terdengarlah suara azan berkumandang. Lolyta segera masuk kedalam rumahnya, meninggalkan Esme begitu saja. Saat Esme akan melangkah masuk kedalam rumahnya, tiba-tiba Leo menahan tangan Esme.


"Esme, ada apa denganmu? Kenapa selama diperjalanan kau bersikap dingin padaku?" tanya Leo sangat penasaran.


Esme menghela nafas panjang, lalu ia menoleh ke arahnya. "Aku? Memangnya ada apa denganku? Aku merasa baik," jawab Esme. Kemudian, ia melepaskan genggaman tangan Leo dan melangkah masuk lagi kedalam rumah.


"Esme, kau tidak mengizinkan aku masuk kerumahmu?" tanya Leo yang semakin bertanya-tanya karena sikap anehnya.


Lagi-lagi langkah kaki Esme terhenti, ia kembali menoleh ke arahnya. "Leo, apa kau tidak mendengar suara azan berkumandang? Saat ini waktunya kita beribadah, bukan bertamu!" katanya, tanpa ada senyum sedikitpun dari bibir Esme.


"Terimakasih sudah mengantarku pulang. Sampai jumpa besok, di perusahaan," sambungnya, kemudian Esme berjalan cepat masuk kerumahnya sambil terpincang-pincang.


"Hey, Esme!... Hati-hati jalannya." Leo menatap cemas pada pergelangan kaki Esme. Tapi, Esme mengabaikannya.


"POKOKNYA AKU PERINGATKAN, UNTUK TIDAK BEKERJA BESOK!!" teriak Leo karena Esme sudah tak terlihat dari pandangannya.


Leo mengehela nafas panjang. Perasaannya menjadi hampa, saat Esme tiba-tiba bersikap dingin padanya. Ia mengacak-acak rambutnya, kemudian kembali masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin mobilnya.


Di dalam rumah, ternyata Esme mengintip Leo dari kaca jendela dengan bibir mengerucut. Saat melihat mobil Leo sudah melaju, nafasnya menjadi berat. Ia tertunduk termenung disana.


Kenapa perasaanku menjadi tidak tenang! (Batin Esme dengan tatapan kosong)


...


BERSAMBUNG !!!


Mana nih Vote nya ❤


Biar semangat ngetik, hhe.

__ADS_1


__ADS_2