
Noted : Hari ini, author up 3 epsd ya. Semoga di reviewnya barengan di waktu yang sama. Harus baca sampai epsd 83 ya! Semoga kalian syuka ❤
.
Esme berjalan menghampiri Tn.Roky, ia duduk kembali disana dengan keadaan yang sangat tenang.
"Ada apa, Bu Direktur?" tanya Tn.Roky penasaran.
"Ah, tidak ada." Esme tersenyum tajam.
Tiba-tiba, si pelayan datang membawa beberapa botol minuman. Ia meletakannya dan membukakan botol tersebut. Tn.Roky mengangkat gelasnya, lalu si pelayan menuangkan minuman berwarna merah keunguan itu ke dalam gelasnya.
"Untukmu, Bu Direktur." Tn.Roky memberikan gelas berisi minuman itu pada Esme. Lalu, ia mengambil gelas yang lain dan si pelayan menuangkan minuman itu kembali.
Di waktu yang bersamaan.
Leo berjalan cepat menghampiri Ara dan Alice yang sedang menyamar. Ia menarik kasar tangan Alice.
"Dasar jal*ng!! Sedang apa kau disini?" bentaknya di tengah-tengah alunan musik EDM sedang menderum.
"Ah!" Alice terbelalak, ia gemetar ketakutan. Dari mana Leo tahu kalau Alice menemui Ara disini? Bisa lebih gawat jika Leo tahu Alice dan Ara akan menjebak Esme, wanita yang dipujanya.
Ara berjalan mendekat. "Kalian saling kenal?" tanyanya terheran-heran.
Uh, gawat!! Jangan sampai Nona Ara mengetahui kalau Alice adalah istriku. Kalau ketahuan, kesempatan untuk mendekati Esme akan hilang selamanya. (Batin Leo)
"Emm, itu tidaklah penting. Nona Ara, kau menyuruhku kemari untuk apa?" tanya Leo.
Alice hanya terdiam, karena instingnya mengatakan jika ia membuka mulut Leo pasti akan memarahinya.
"Yaa, kemari. Duduklah," ucap Ara.
Merekapun berjalan duduk. Leo sangat penasaran dan sangat bingung. Sejak kapan Ara dan Alice kenal? Lalu, sedang apa mereka disini, dan lagi... apa yang Ara akan bicarakan dengannya.
Leo dan Alice terduduk. Leo sama sekali tidak menatap Alice. Itu membuatnya muak, setelah kebohongan tempo hari yang Alice lakukan. Orang tuanya yang katanya akan bertamu ke kontrakannya itu ternyata bohong.
"Alice, aku ingin berbicara berdua dengan Nona Ara," Leo memberi kode agar Alice menjauh darinya.
__ADS_1
"Tapi, -"
Bicara Alice terputus saat kedua mata Leo menatapnya tajam. Auranya sangat menakutkan.
"Baiklah. Aku akan menunggu di sana," ucap Alice dengan senyum yang terpaksa. Ia pun berlalu menuju meja yang lain meninggalkan Leo dan Ara.
Ara menuangkan minuman ke dalam gelasnya, lalu meminumnya dengan ekpresi yang tenang. Auranya memancarkan kebahagiaan.
"Aku menyuruhmu kemari untuk membantumu," kata Ara.
"Membantuku?"
"Ya." Ara meletakkan gelas di atas meja. "Lihat kesana. Wanita pujaanmu sedang bertemu dengan seorang pria tua."
Leo langsung menoleh ke arah yang Ara tunjukkan. Dan, ya! Esme disana sedang berbincang dengan pria tua berjas. Mata Leo langsung membulat.
"Kau??... Kau mau apakan dia?" Leo gemetar cemas.
"Hahhahaa... tenanglah. Aku tidak akan terlalu kejam." Ara menyenderkan bahunya. "Alice menyuruhku memasukan obat perangsang ke dalam botol minumannya. Malam ini dia akan tidur dengan pria tua itu. Aku menyarankan pada Alice, pria yang seharusnya tidur dengan Esme itu kau. Tapi, Alice bersikekeh menolaknya, ia malah mencari pria tua itu untuk menikmati tubuh wanita pujaanmu," jelas Ara. Ia sengaja membuat Leo panas.
"Obat perangsang?" Leo menoleh ke arah Esme. Esme sedang memegang botol minuman itu dan hendak diminumnya.
Leo beranjak, ia ingin menahan Esme agar tidak meminum minuman itu. Leo sangat khawatir pada Esme. Tapi, aksinya terhenti saat tangan Ara menahan lengannya.
"Tunggu! Jangan terburu-buru untuk menghentikannya. Biarkan dia minum dan biarkan obat perangsang itu bekerja," Ara menahannya sekuat tenaga. Jika Leo benar-benar menghentikan Esme minum minuman itu, rencananya akan gagal total.
"Tidak!... Aku tidak bisa membiarkan Esme meminumnya. Kau boleh saja menggunakan aku sebagai kambing hitam, tapi jangan perlakukan Esme seperti ini. Dia sudah sangat menderita karena aku, kau jangan membuatnya semakin sakit!" bantah Leo.
Ups, sayangnya aku harus membuat penderitaannya semakin sakit. (Batin Ara)
Leo meronta, berusaha melepaskan genggaman tangan Ara. Jantungnya berdetak hebat saat melihat Esme akan meneguk minuman itu.
"Nona Ara!! Aku mohon lepaskan tanganku!" geramnya. Kedua matanya merah menahan amarah.
Sayangnya, genggaman tangan Ara sangat kuat.
Esme, aku mohon jangan meminumnya! (Batin Leo)
__ADS_1
Na'as. Esme tak mendengar suara hati Leo. Ia meminum minuman itu sampai habis tak tersisa.
Tidak, ESME!!! (Batin Leo melemah)
"Terima kasih atas minumannya, Tn.Roky," ucap Esme.
Hah, ada untungnya juga kita bertemu di Club. Pencahayaan redup dan jaket yang Alucard berikan ini sangat membantu rencanaku. (Batin Esme, kecerdikannya sedang bermain)
"Ah, jangan terlalu sungkan. Ayo, minum lagi." Tn.Roky dan si pelayan itu tersenyum bahagia. Rencananya berhasil. Si pelayan pun berlalu meninggalkan mereka, karena tugasnya sudah selesai.
"Maaf, Tuan... tapi, satu gelas kecil ini sudah cukup bagiku. Ini sudah malam. Aku harus pulang." Esme memeriksa dulu isi tasnya, takutnya ada yang tertinggal sebelum meninggalkan Club ini.
Tiba-tiba...
"Ah!" Esme memijat keningnya. "Kenapa aku merasa sangat pusing?"
Tn.Roky menatap nakal pada Esme sambil menjilati bibirnya sendiri. Bagaikan melihat mangsa menggiurkan di hadapannya.
"Ehmm... ada apa denganmu, Bu Direktur?" tanyanya berpura-pura tak tahu.
"Aduuhh!! Maaf, Tuan... aku... aku merasa sangat kepanasan. Uh," ucap Esme, ia mengibas-kibaskan tangannya. Wajahnya terlihat memerah. Tiba-tiba saja....
Brukk...
Tubuh Esme ambruk. Pipinya menempel di atas meja. Esme sudah kehilangan kesadarannya.
"Bu Direktur?" panggil Tn.Roky. Ia berjalan mendekat, dan menggoyangkan tubuh Esme.
Esme tidak bangun.
"Hahahaa... aku tak mengira rekasi obatnya sangat cepat," gumam Tn.Roky, ia sangat antusias.
Sudah ku duga. Minuman ini diberi obat perangsang. Untung saja aku tidak meminumnya. Aku hanya berpura-pura minum di depannya saja, padahal semua minumannya aku tuangkan ke lengan jaket berbulu yang Alucard pakaikan. Ara, Alice, Leo. Kau harus melihatku, aku sudah kehilangan kesadaran. Ayo cepat, kita selesaikan permainan ini. (Batin Esme yang masih berpura-pura pingsan)
Akting Esme sangat sempurna. Pembacapun hampir saja terkecoh dan naik darah. Penghargaan apa sih yang layak diberikan pada wanita secerdik Esme?
...
__ADS_1
Sebelum lanjut LIKE & KOMEN nya dulu dong. Udah up 3 epsd nih, masa masih tega ga ngasih apresiasi apapun? Hikss 😭