
.
Aku ingin berhenti menangis, ingin sekali. Namun rasanya masih ada lubang yang sedikit menganga dalam jiwa. Yang begitu menyakitkan, begitu menyesakkan, begitu mencekik untuk terus menderaikan air mata. Hingga senyumanku bersembunyi di balik luka. (Batin Esme)
.....
Triing... triiing...
Dering ponsel Esme berbunyi. Saat ini ia sedang berada di rumah sakit, mengobati luka di tangannya yang tertancap serpihan kaca.
"Hanabi, tolong ambilkan ponselku di atas meja," ucapnya yang tengah terbaring dengan tangan kanan yang sedang dijahit di beberapa bagian punggung tangannya.
Hanabi yang saat itu sedang terduduk menunggu Esme segera mengambilkan ponselnya, lalu memberikanannya pada Esme. Setelahnya, ia kembali duduk.
Bi Inah? Ada apa, tumben sekali? Perasaanku jadi tidak enak.
"Hallo, Bi...,"
"Non, cepat pulang!" Bicara Bi Inah tergesa-gesa.
Esme mengerutkan dahinya.
"Ada apa, Bi?" tanyanya panik hingga tanpa sadar ia terbangun dan membuat jahitan di tangannya yang masih di jahit oleh dokter tergores.
"AH !" teriak Esme, ia menggigit bibir bawahnya menahan sakit.
Bruk...
"Esme, apa yang terjadi?" Tiba-tiba Alucard dan Roger muncul mendobrak pintu.
Hanabi, Esme dan dokter menatapnya heran.
Blush...
"Ehemm... d-dimana toilet?" tanya gugup Roger sambil membenarkan posisi jasnya, alasan itu terbesit begitu saja dipikirannya, kedua pipinya sangat merah karena tersipu malu, begitu juga dengan Alucard. "Ya, kemana arah toilet?"
Hah? Sedang apa mereka disini? Apa mereka mengikutiku ke rumah sakit? (Batin Esme)
Dokter langsung memberitahukan arah menuju toilet. Alucard dan Roger pun bergegas menuju toilet. Entah apa yang akan mereka lakukan di sana.
Esme kembali mendekatkan ponsel di telinganya. "Halo, Bi! Cepat katakan ada apa?"
"Non, nyonya sedang bertengar hebat dengan tuan, Bibi tidak berani menahan nyonya. Non, cepat pulang, ya. Bibi khawatir dengan kondisi tuan." Bi Inah berbicara dengan nada rendah, lalu segera mematikan panggilan telepon itu, ia takut ketahuan oleh Ny.Hilda.
Esme terhentak. "Ayah?" tatapan matanya kosong. "Dok, tolong cepat sedikit !"
Setelah lukanya di balut, Esme segera beranjak dari bangsal. "Hanabi, aku minta tolong sekali lagi... antarkan aku pulang ke rumahku, sekarang,"
Hanabi mengernyitkan dahinya, instingnya mengatakan ada yang tidak beres lagi dengan Esme. "Baik. Tapi, kita harus mengurus administrasinya dulu," katanya.
"Administrasinya sudah dibayar oleh dua pria tadi," ucap salah satu perawat.
Hanabi dan Esme bertatap muka, mereka menaikkan halis kirinya, terheran-heran.
"Sudahlah. Sekarang, cepat antar aku pulang !" Esme semakin panik, perasaannya pun semakin tidak tenang. Tn.Harits masih dalam kondisi sakit, Esme hanya takut keadaan ayahnya bertambah parah.
Mereka masuk ke dalam mobil. Hanabi segera menancap gas menuju rumah Esme.
Sesampainya di depan rumah Esme, Esme segera keluar menutup pintu mobil. "Esme! Apa yang terjadi?" Hanabi membuka kaca mobilnya.
"Sepertinya, ibuku sangat marah karena pernikahanku gagal," jelasnya tergesa-gesa.
"Baiklah. Ini urusan keluargamu, aku akan langsung pulang. Hubungi saja aku, jika kau butuh bantuanku. Bye !" Hanabi memutar mobilnya dan berlalu meninggalkan Esme.
Esme menajamkan pendengarannya, suara Ny.Hilda yang sedang membentak Tn.Harits terdengar sampai ke luar rumah. Esme langsung masuk ke dalam rumahnya.
Ia berdiri di ambang pintu, terlihat Ny.Hilda yang sedang menaikkan kedua tangan di atas pinggang. Raut wajahnya sangat marah.
"Aku sudah bilang, jangan menghalangiku !" bicaranya meninggi.
"Kau sudah berani membentak suamimu karena masalahan uang? Sadarlah Hilda, kau ini benar-benar sudah dibutakan oleh uang !" Tn.Harits sedikit mengotot.
"Harits! Lolyta sebentar lagi akan lulus sekolah dari sekolahan ter-elite, kita membutuhkan biaya yang besar. Tabungan kita sudah mulai menipis. Ini semua gara-gara kamu yang tidak becus mengurus bisnis !"
Hati dan perasaan Tn.Harits meremuk.
"Kenapa kau terus saja menyalahkan aku? Aku tahu Lolyta sebentar lagi akan lulus, tapi kita juga tidak boleh mengorbankan kebahagiaan Esme. Dia juga anakku, aku sangat tidak rela menikahkan Esme dengan si pengkhianat Leo !"
"Perset*n dengan kebahagiaannya! Dia hanya anakmu. Bukan anakku!"
Ctarrr ⚡
Bagaikan petir yang menyambar disiang bolong. Esme yang sedang berdiri di ambang pintu terhentak kaget sekaget-kagetnya dengan kenyatan itu.
"Tutup mulutmu, Hilda !" geram Tn.Harits
__ADS_1
Kedua bola mata Esme membulat sempurna.
"A-apa maksud ibu?" Esme berjalan mendekat.
"Esmeralda!" Tn.Harits terbelalak. Ia segera menghampiri Esme.
Ny.Hilda menoleh dengan raut wajah datar, sambil menghapus air matanya.
"Tidak. Jangan menghentikan aku, ayah." Esme melewati ayahnya begitu saja. "Ibu, apa yang baru saja ibu katakan tadi?" Esme menatap getir kedua bola mata Ny.Hilda.
Kebisuan Ny.Hilda membuat rasa penasaran Esme semakin bergejolak. "Ibu ! Katakan yang sejujurnya." Bicara Esme meninggi.
"Esme, ibumu sedang emosi. Dia hanya asal bicara saja," kata Tn.Harits.
Ny.Hilda mengambil nafas dalam-dalam, lalu membuangnya cepat. "Aku tidak asal bicara. Esme, sebenarnya aku tidak pernah mengandung dan melahirkanmu. Aku... bukanlah ibu kandungmu,"
Ctarrrr ⚡⚡
Petir menyambar semakin keras.
"Ini semua kesalahan ayahmu !" Ny.Hilda menunjuk Tn.Harits. "Dia berselingkuh dengan temanku, lalu hamil dan melahirkan kamu !" Ia mengepalkan kedua tangannya.
Tuhan ! Katakan padaku, ini hanya lelucon kan? Aku bisa memaafkan kenyataan pahit perselingkuhan Leo. Tapi, untuk lelucon yang satu ini, aku ....
Tn.Harits mengusap kasar wajahnya. Ia tak tahu harus bagaimana lagi, karena semua kenyataan ini benar adanya. Kesalahan di masa lalu di ungkitnya dan terbongkarlah sudah.
Esme meneteskan air matanya dengan senyuman yang menungging.
Disaat luka dihatinya belum sembuh, ia harus berpura-pura tegar lagi di hadapan semuanya.
Esme menghapus air mata nya.
"Heh. Pantas saja, Ibu, Balmond dan Lolyta memiliki karakter yang berbeda dariku...," ucapnya sambil ternyuman tipis. "Kalau seperti ini kenyataannya... aku sangat bersyukur sekali. Ternyata aku tidak sedarah dengan para pengkhianat seperti kalian."
Ny.Hilda, Lolyta dan Balmond terhentak kaget, karena reaksi Esme sangat tak terduga.
"Esme! Lancang sekali ucapanmu." Balmond langsung berjalan mendekat dan menyekik leher Esme, hingga Esme kesulitan bernafas.
"BALMOND!" teriak Tn.Harits. "Apa yang kau lakukan. Cepat lepaskan! Lepaskan adikmu!" Tn.Harits berusaha melepaskan tangan besar Balmond dari leher Esme.
"A-a-a... j-jik-a kau be-berani, b-bunuh sa-saja ak-u!" Esme merintih kesakitan.
"Bunuh saja, Kak! Selama ini aku sudah muak dengan tingkahnya. Cuih...!" bisik Lolyta, ia menunjukkan wujud aslinya.
Esme membulatkan matanya, ia menatap tajam ke arah Lolyta hingga membuat Lolyta bergidik ketakutan.
Tn.Harits berusaha mendorong tubuh Balmond sekuat yang ia bisa, hingga akhirnya Balmond terjatuh.
Uhuk... uhuk..
Esme terjatuh, ia menjejakkan lutut dan kedua tangannya di lantai.
"Inah! Inah, cepat ambilkan minum untuknya," teriak Tn.Harits.
Lolyta melihat balutan perban di tangan kanan Esme, ia segera menginjaknya karena sudah berani mencaci maki ibunya.
"AAA !!" teriak Esme. Luka yang baru saja di jahit itu robek kembali dan mengeluarkan darah lagi.
Tn.Harits segera beranjak, dan...
Plak..
Ia menampar Lolyta dengan emosi yang sudah membeludak.
Ny.Hilda dan Balmond terbelalak.
"Harits! Apa yang kau lakukan?" teriaknya.
Lolyta menyentuh pipi kanannya yang memerah. "Ayah, kau?" Air matanya berlinangan.
"Lolyta! Balmond! Ada apa dengan kalian? Selama ini ayah tidak pernah mengajarkan kekerasan pada kalian !" kecam Tn.Harits.
"Apa yang kalian lakukan pada Esme sangatlah keterlaluan !"
Ny.Hilda langsung menghadang. "Apa yang baru saja kau lakukan pada Loly pun sangat keterlaluan, Harits ! Berani-beraninya kau menampar Lolyta!" Ny.Hilda tak henti-henti meninggikan suaranya.
Esme tidak tega melihat ayahnya di maki oleh wanita ular itu. Ia tak menghiraukan lagi rasa sakit jahitannya yang robek.
"Sudah cukup!" Esme beranjak.
"Ibu... setahuku, seorang istri tidak berhak membentak suaminya meskipun semarah apa dia padanya. Sikapmu ini, menandakan keburukan ilmu dan kerendahan akhlak seorang istri !" kecam Esme.
Jleb !!
Ny.Hilda terbelalak, ucapan Esme bagaikan puluhan anak panah yang menancap ke dalam dadanya. Ia tak pernah membayangkan, ternyata Esme mempunyai mulut yang sangat tajam seperti itu.
__ADS_1
Ny.Hilda melayangkan tangannya, berniat menampar Esme. Tapi, Esme langsung menahan lengan Ny.Hilda dengan tangan kanannya, hingga darahnya mengalir di lengan Ny.Hilda.
"Ibu, asal kau tahu... aku bukan orang lemah yang ditindas akan diam saja. Aku tidak memandang usia pada lawanku. Meskipun ibu lebih tua dariku, jika aku tidak salah maka aku berhak melawan." Tatapan mata Esme sangat tajam.
"Uh!" Tiba-tiba saja Tn.Harits menyentuh dadanya, ia merintih kesakitan. "Hen-hentikan, j-jangan berdebat lagi." Tubuhnya merosot jatuh ke lantai.
"Ayah!" Esme terbelalak, ia segera mengangkat tubuh Tn.Harits. "Ada apa dengan ayah?"
"Minggir!" Balmond mendorong kasar tubuh Esme. "Ini semua karena ulahmu !"
"Balmond, cepat kita bawa ayah ke rumah sakit," ucap cemas Ny.Hilda.
Balmond membawa ayahnya masuk ke dalam mobil, lalu mereka menuju rumah sakit meninggalkan Esme begitu saja.
Ayah?
Kerutan didahinya sudah bukan main, Esme sangat mencemaskan ayahnya. Ia segera mengganti gaun pengantinnya dengan setelan santai, lalu mengendarai mobil menuju rumah sakit.
Tn.Harits sudah dimasukkan ke ruang ICU, kondisinya sangatlah darurat. Dokter spesialis jantung dan beberapa perawat menanganinya dengan cepat.
Ny.Hilda, Lolyta dan Balmond menunggu di luar dengan raut wajah sangat cemas.
"Ibu, bagaimana ini? Ayah masuk rumah sakit pasti biayanya sangat mahal," decak Lolyta.
Keluhan Lolyta membuat Ny.Hilda semakin terpuruk dalam kemiskinan harta.
Ny.Hilda mengerutkan dahinya, ia mondar mandir kesana kemari sambil menggigit kuku tangannya.
Esme sudah sampai di rumah sakit, ia segera mencari ruangan dimana ayahnya berada. Kemudian, terlihat di depan ruang ICU Ny.Hilda dan adik, kakaknya sedang terduduk menunggu. Ia berjalan perlahan mendekati mereka.
"Mau apa kau kemari?" tiba-tiba Balmond meneriakinya.
"Apakah perlu alasan, untuk mengetahui keadaan ayahku sendiri?" jawabnya sinis.
Ny.Hilda menatapnya tajam. "Esmeralda! Ini semua gara-gara ulahmu. Jika saja kau tidak membatalkan pernikahaan itu, mungkin suamiku tidak akan masuk rumah sakit!" Air mata buayanya mengalir.
Esme tertunduk dan merenung.
Lolyta mengelus-elus tubuh Ny.Hilda. "Sudah, Bu. Kita tak perlu menganggap keberadaan Kak Esme lagi!" bisiknya.
Setelah menunggu beberapa jam, akhirnya dokterpun ke luar dan memberikan penjelasan pada Ny.Hilda. "Pasien mengalami gumpalan darah yang menghalangi aliran darah ke jantung. Untung saja segera ditangani -"
"Lalu... lalu b-bagaimana dengan biayanya?" tanya Ny.Hilda, panik.
"Ah, untuk penyelesaian biaya perawatan, anda bisa bertanya ke bagian administrasi," jelasnya. Dokter pun berlalu meninggalkan Ny.Hilda karena tugasnya sudah selesai.
Pasti biayanya tidak murah. Apa yang harus aku lakukan? Aku sangat-sangat frustasi sekarang, belum lagi biaya sekolah Lolyta yang sangat besar !! (Batin Ny.Hilda)
Ny.Hilda berjalan menghampiri Esme. "Esmeralda, karena semua ini kesalahanmu. Maka kau yang harus menanggungnya. Bayar seluruh biaya rumah sakit ini !" sorotan matanya sangat menakutkan. "Dan satu lagi... aku harap kau pergi dari rumahku hari ini juga! Kau bukan hanya mengacaukan semuanya, tapi kehadiranmu malah menambah biaya hidupku. Aku harap kau mengerti!"
Kedua bola mata Esme bergetar, air matanya membendung. Tapi ia berusaha tersenyum dan tegar lagi di hadapan lawannya.
"Baik! Aku akan membayar perawatan ayah sampai sembuh, karena dia ayahku. Dialah satu-satunya orang yang berhati tulus menyayangiku," satu kedipan saja air matanya pasti terjatuh. "Aku juga sudah tidak sudi tinggal satu atap dengan pengkhianat seperti kalian !"
"Esme, kau! Di biarkan malah semakin menjadi !" Balmond mulai murka lagi, tapi Ny.Hilda segera menahannya.
"Ambil semua barangmu, lalu tinggalkan rumah. Malam ini aku sudah tidak ingin melihatmu berada dirumah," Ny.Hilda membusungkan dadanya dengan lipatan tangan di atas perut.
Esme menunggingkan senyumnya. "Heh... apa kau pikir aku akan membawa semua barang-barangku dari rumah kotormu? Aku akan meninggalkan semua kenangan yang menyangkut paut dengan keluargamu. Aku akan menyuruh Bi Inah dan Pak Lampir membuang semuanya, atau ... jika Lolyta sangat tebal muka, dia bisa mengambil semua milikku. Baju, tas dan sepatu bermerk ku masih sangat bagus, Lolyta pasti membutuhkan semua itu untuk menyombongkan diri di depan teman-temannya. Kalian 'kan sangat menolak untuk miskin," ucapnya semakin sombong.
Wajah Loyta sudah sangat merah menahan emosi, ia tak bisa membalas ucapan pedas Esme karena apa yang dikatakannya memanglah benar. Lolyta membutuhkan semua barang-barang bermerk itu.
Esme berjalan dan mendekatkan mulutnya di telinga Ny.Hilda.
"Ibu, kau keliru! Keputusan yang kau ambil ini sangatlah salah. Kau mengusir aku yang kau anggap sebagai aset berharga keluarga? Heh... apa kau tidak tahu, jabatanku di perusahaan Mord?" Esme sengaja membuat Ny.Hilda sadar.
"Jabatanmu tidak sebanding dengan jabatan Leo. Aku akan menjodohkan Lolyta dengannya!" kata Ny.Hilda, ia pun berniat memanas-manasi Esme. Tapi, sayangnya Esme sudah masa bodo dengan hal yang bersangkut paut dengan Leo.
"Hahaha.... silahkan! Silahkan kalian jodohkan Leo dengan Lolyta, tapi jangan kecewa jika Lolyta menjadi istri ke duanya." Ny.Hilda, Lolyta dan Balmond terbelalak, ia tak mengerti dengan apa yang Esme katakan.
"Leo akan segera menikahi Alice, karena Alice sedang mengandung anaknya! Pergi saja mengemis padanya," sambung Esme, ia mendelekan bola matanya.
"A-apa?" Ny.Hilda terkejut, kepercayaannya terhadap Leo mulai retak. "Tidak! Alice hanyalah mainan Leo. Dia tidak mungkin menghamilinya."
Esme berseringai, ia berlalu meninggalkan mereka dan menggantung perasaan mereka yang masih membutuhkan penjelasan darinya. Ia lebih memilih mengurus administrasi rumah sakit.
Kalian akan lebih kecewa saat mengetahui Leo, orang yang kalian agung-agungkan saat ini sudah bakrut ! Kalian pasti akan kembali mengemis padaku. Tapi, jangan harap! Melirik saja aku sudah tidak sudi, apalagi menolong kalian (Batin Esme)
Orang jahat terlahir dari orang baik yang tersakiti!
...
BERSAMBUNG !!!
Hey, jangan lupa Like, Komen & Vote nya ❤
__ADS_1
Maaf ya kalau cara penulisanku sedikit membuat readers bingung atau berbelit-belit, hehe... berbohonglah seperti Esme, katakan padaku 'ngerti ko thor' 😂