
.
Alice mematikan pendengarannya, ia benar-benar ketakutan saat itu. Keringat dingin mulai bermunculan, yang ada di pikirannya hanyalah, bagaimana? bagaimana? dan bagaimana?
Kadita beranjak berjalan mendekati Alice yang sedang mematung memunggunginya.
"Hey, Alice?" panggilnya lagi sambil memutar paksa tubuh Alice.
Alice hanya tertunduk ketakutan, wajahnya sangat pucat, pinggangnya pun terlihat membengkak, tidak selangsing biasanya.
"Duduklah. Ayo, bicara jujur padaku," katanya sambil terus menatap curiga.
Dag, dig, dug.
Jantung Alice serasa hampir copot. Ia benar-benar panik, entah harus beralasan apalagi, karena sudah benar-benar terpergoki.
Alice pun duduk di tepi ranjang, sambil memainkan jari tangannya.
"Alice, apa kau hamil?" tanya Kadita yang saat itu tengah berdiri dengan tangan yang dilipat di atas perutnya.
Deg.....
Kedua bola mata Alice terbelalak, keringat dingin semakin membasahi tubuhnya, tangannyapun sudah dingin membeku. Ia mati kutu saat ini.
"Jawab dengan jujur, Alice ! Apa kau hamil?" tanya Kadita yang mulai kesal dengan kebisuan Alice.
"Ya !" ucapnya singkat. Seketika air mata Alice mengalir. Kadita terkejut, matanya membulat dengan sempurna. Percaya tak percaya, tapi itulah pengakuannya.
Ingin sekali ia mencaci maki Alice atas perbuatan tercelanya itu, tapi melihat tubuh Alice gemetar hebat ketakutan, Kadita merasa kasihan padanya.
Kadita menghela nafas yang terasa berat, ia menepuk jidatnya. Kemudian, Kadita menutup dan mengunci pintu kamar rapat-rapat.
"Siapa? ... Siapa laki-laki yang sudah berani menghamilimu?" tanyanya, dengan raut wajah sangat marah.
Alice hanya menangis terisak isak di tepi ranjang. "Aku tidak bisa mengatakannya pada Kakak," ucapnya pilu.
Kadita semakin emosi. "Apa kau mau, aku memberi tahu ayah dan ibumu tentang kehamilan ini?" ancamnya.
Alice mendongakkan wajahnya, ia menatap takut. "Tidak !" Kemudian, ia berlari menjejakan kedua lututnya di hadapan Kadita. "Tidak, Kak. Jangan beritahu ayah dan ibu... aku mohon jangan." Air mata Alice mengalir semakin deras.
Kadita pun merasakan sedih yang Alice rasakan. Ia mengangkat tubuh Alice untuk berdiri.
"Sekarang jujur padaku. Katakan siapa ayah dari bayi ini?" tanyanya dengan suara lirih.
Alice mengusap air matanya. Wajahnya sudah sangat merah karena kesedihan dan ketakutan yang teramat dalam dirasakan.
"Dia ... dia adalah Kak Leo," ucapnya sambil tertunduk ketakutan.
__ADS_1
Kadita membatu dengan kedua mata yang membulat. "Apa ! Leo? Leo yang mana yang kau maksud?" Kerutan di dahinya sudah bukan main.
"Direktur utama Mord Grup,"
Brak...
Kadita menghentakkan tubuhnya ke dinding, dengan tatapan kosong melompong.
"Leomord? Ba-bagaimana mungkin?" Mata Kadita melirik cemas. "Bagaimana mungkin kau dan dia ...." Kadita Menyengkram keras rambutnya sendiri. Ia benar-benar tak habis pikir bagaimana hal itu bisa terjadi.
"Alice ! Kau tahu kan, Leo itu tunangan Esmeralda, dan Esme adalah sahabatku. Mereka akan menikah beberapa hari lagi !" kecamnya penuh emosi.
Tangisan Alice semakin menjadi. Ia benar-benar telah pasrah dengan keadaannya saat ini.
"Satu tahun yang lalu, aku bertemu dengan Kak Leo. Aku memang sudah tahu, dia memiliki kekasih di Amerika, dan dia sudah berjanji akan memutuskan hubungan dengan kekasihnya. Tapi, aku tidak tahu kekasihnya itu ternyata adalah Kak Esme," jelasnya dengan deraian air mata.
"Kalau sudah tahu dia memiliki kekasih, kenapa masih bersamanya? ... Alice, aku kira kau adalah wanita yang bermartabat. Bisa-bisanya kau menjadi wanita yang seperti ini sekarang !" geram Kadita dibalut emosi.
"Ya, aku mengakui kesalahanku. Lalu, sekarang aku harus bagaimana Kak? Aku tidak menginginkan anak ini ! Kakak harus membantuku menggugurkan kandunganku," ucap Alice tanpa sadar.
Kadita langsung menoleh tajam ke arahnya.
"Apa? Dasar gila ! Apa kau sadar, dengan yang kau ucapkan itu? Kau mau membunuh bayi yang tidak berdosa ini?... Alice, kau harus mempertanggung jawabkan atas semua tindakan yang telah kau perbuat !" Kadita semakin memanas.
"Tapi, sebentar lagi aku akan lulus sekolah. Aku tidak mau berhenti begitu saja !" katanya dengan air mata yang tak kunjung mereda.
Tubuh Alice semakin bergetar hebat, ia menggigit jari jemari tangannya. Tangisannya kembali mengguyur deras.
"Aaaa... 😭 Kakak, aku mohon. Jangan terlalu menyudutkan aku, aku sudah sangat membatin karena semua ini. Aku tahu... aku sudah menyadari kesalahanku. Tapi, aku ingin menuntaskan sekolahku dulu."
Kadita menyapu kasar wajahnya.
"Berapa bulan usia kandunganmu?" tanyanya tergesa-gesa.
Tubuh Alice bergetar, nafasnya terengah-engah.
"A-aku sudah telat datang bulan sekitar tiga bulan."
Kadita terbelalak. "Apa? Tiga bulan? Itu... itu sudah lumayan besar. Lalu, berapa bulan lagi kau lulus sekolah?" tanyanya lagi.
Alice menghapus air matanya. "Ujian Nasional akan di adakan dua bulan mendatang," jawabnya gugup.
"Lalu, saat ini dimana Leo?"
"Kak Leo dan yang lainnya sudah menuju ke pantai," jawab Alice tanpa sadar, sambil menggigit bibir bawahnya.
"Yang lainnya? Yang lainnya siapa?" Kadita mengernyit dibuat semakin penasaran.
__ADS_1
"Mm... Ny.Hilda, Lolyta dan Balmond," ucapnya lirih sambil menutup kedua matanya.
"Mereka... bukankah mereka semua itu keluarga Esme?" Kadita semakin panik.
Alice pun mengganggukan kepalanya perlahan.
Betapa terkejutnya Kadita dengan semua kenyataan pahit yang menimpa sahabatnya itu. Lututnya bergetar hebat, Kaditapun terjatuh ke lantai dengan tatapan tak percaya.
"Jadi... keluarganya-pun tahu hubungan gelapmu dengan Leo?"
Mau tak mau Alice mengakui semuanya di hadapan Kadita. Ia mengangguk untuk jawabaannya. "Tapi, mereka tidak tahu kalau aku sedang hamil."
Kadita menyandarkan punggungnya ke dinding, tubuhnya tak kuasa mendengar semua pengakuan gila dari Alice.
Ternyata kehidupan Esme lebih menyakitkan dari kehidupannya.
Ya Tuhaannn !! Tidak bisa aku bayangkan jika aku menjadi Esme. Betapa sakitnya jika dia mengetahui semua ini. (Batin Kadita yang merasakan kesedihan yang begitu pilu untuk sahabatnya)
"Aku tak habis pikir. Ini benar-benar gila. Esme juga bagian dari keluarganya, tapi kenapa keluarganya malah menutupi itu semua dari Esme?" Kadita sudah tak bertenaga, pandangannya kosong melompong.
Alice menundukkan kepalanya. Ia benar-benar merasa sangat bersalah sekarang.
"Perusahaan ayahnya akan bangkrut. Kak Leo menyumpalnya dengan memberikan mereka jaminan hidup," jelasnya singkat. "Kakak, kau harus membantuku memutuskan hubungan Kak Leo dengan Kak Esme," pintanya tidak tahu malu.
Kadita lagi-lagi menoleh tajam ke arahnya.
"Memutuskan hubungan Leo dan Esme? Heh...." Ia menunggingkan senyumnya.
"Leo tidak akan mungkin melepaskan Esme begitu saja. Apa kau tahu penyebabnya?" Alice langsung menggelengkan kepalanya.
"Saat ini Esme adalah aset perusahaan yang berharga. Kinerjanya sangat bagus dan sudah terlihat nyata hasilnya. Dia bisa memulihkan kembali bisnis yang hampir bangkrut dalam waktu kurang dari satu bulan. Kehadiran Esme adalah sebuah keuntungan besar untuk bisnisnya, juga bisa memajukan perusahaannya. Jadi, aku berpikir Leo tidak akan melepaskannya dengan mudah."
Alice terkejut mendengarnya. "Lalu... bagaimana dengan nasibku?" Ia pun menjatuhkan tubuhnya ke lantai, perasaannya benar-benar sangat kacau berantakan. Merasa dirinya sedang berada di titik paling rendah.
"Kalian hanya di peralat saja olehnya. Aku tidak menyangka, Leo ternyata lelaki ******** yang seperti itu ! Tega sekali dia menyelingkuhi sahabatku dan membuat keponakanku hamil ! Dasar keparat !!!" Kadita beranjak sambil mengepalkan kedua tangannya. Amarahnya sudah terlihat sangat jelas diwajahnya.
"Cepat, kemasi barang bawaanmu. Kita kepantai sekarang !" katanya, dengan nafas yang terengah-engah penuh emosi.
"Aku ingin melihat ekspresi terkejutnya Leo, saat dia melihat kau dan aku datang bersama kesana." Kadita memendam kebencian yang begitu mendalam pada Leo.
...
BERSMABUNG !!!
Mana tanda penghargaannya nih, hikss...
Like, Komentar & Vote ❤
__ADS_1