Air Mata Pengantin

Air Mata Pengantin
Pembuktian


__ADS_3

.


Setibanya di kafe 86, para pengawal langsung membuka pintu mobil bagian Esme. Mereka mempersilahkan Esme keluar, lalu ia berjalan masuk sambil di kelilingi para pengawal.


Aduuhh... para pengawal ini membuatku menjadi sorotan utama di kafe. Benar-benar membuatku malu. (Batin Esme sambil mengumpat dibalik tas yang ia tempelkan di samping pipinya)


"Stop!! Kalian tunggu saja di luar," kata Esme. "Lihat tidak, para pengunjung kafe menatapku karena kehadiran kalian yang terlihat menyeramkan," bisiknya.


"Mm... Nyonya, kita harus terus memantau anda. Jika terjadi sesuatu, kita semua akan dapat masalah besar," ucap salah satu pengawal dengan sedikit gugup.


Esme menggeram di dalam hatinya. Wajahnya datar tanpa ekspresi. "Percayalah, tidak akan ada yang berani menyakitiku," tutur Esme penuh percaya diri.


Salah satu pengawal, sedari tadi terus saja menghubungi Alucard. Tapi, sayangnya tetap tidak ada hasil. Alucard tak menjawab panggilan telepon itu. Membuat para pengawal tidak tenang.


"Coba kau telepon sekretaris Kim," bisik salah satu pengawal pada pengawal yang lainnya.


"Aku sudah mencobanya beberapa kali, semua sama saja, tidak ada yang mengangkat teleponku," semua pengawal dibuat cemas.


Esme sudah masuk ke dalam kafe, mencari keberadaan Kadita.


Tatapan matanya langsung terhenti saat melihat teman baiknya itu melambaikan tangan padanya dari jauh.


Ternyata, Kadita bersama Garry. (Batin Esme)


Esme segera menghampirinya sambil memperlihatkan senyum cerianya. Sementara para pengawal itu ditinggalkannya di luar kafe.


"Aduhhh, Kadita maaf menunggu lama," kata Esme sambil terduduk.


"Ah, tidak apa-apa. Ayo, pesan makan dan minum dulu," ucap Kadita.


Kadita memanggil pelayan kafe, lalu memesan makanan dan minuman untuk 3 orang.


"Esme, apa para pengawal di depan sana suruhan Alucard?" tanya Garry penasaran.


Esme menganggukan kepalanya. "Dia khawatir jika terjadi sesuatu padaku," jawab Esme dengan wajah malas.


"Bagus lah... itu baru suami yang sangat perhatian. Sepertinya kau benar-benar sudah menaklukan hati presdir Mord Grup. Hihihi...," Kadita tertawa geli.


"Bagus apanya? Itu terlalu berlebihan. Aku tidak biasa dikawal seperti ini. Ini bukan gaya hidupku," bantah Esme.


"Maka dari itu, kau harus membiasakannya mulai dari sekarang," ucap Kadita. Kadita mendekatkan mulutnya di telinga Esme. "Eh, ngomong-ngomong bagaimana dengan traumamu? Apa sudah ada kabar baik?" Kadita mencolek genit bagian dada Esme, ia tersenyum nakal.


"Ah, hahaa... a-apa yang kau sentuh dasar tangan laknat?" Kedua pipi Esme memerah, karena perlakuan usil Kadita membuatnya terkejut dan malu di hadapan Garry.


"Ayolah, aku tahu kau pasti bisa ke luar dari trauma itu. Aku sudah megenalmu sejak SMA. Kau adalah wanita tangguh, wanita hebat dan cerdas. Kau tidak akan kalah begitu saja."


Ternyata, di mata orang lain aku adalah wanita yang seperti itu, ya? Kalau seperti itu, aku harus lebih semangat lagi untuk sembuh. (Batin Esme yang baru menyadari bahwa dirinya sehebat itu)


"Ya, kau benar. Aku adalah Esmeralda, aku tidak akan membiarkan trauma itu bersemayam lebih lama di dalam diriku," ucap Esme penuh ambisi.


Kadita tersenyum lebar melihat kegigihannya.


Tiba-tiba pesanan yang sudah ia pesan, datang. Pelayan kafe meletakkan satu persatu menu makanan dan minuman di atas meja. "Selamat menikmati."


Mereka segera melahap makan dan minuman itu.


Setelah selesai, Esme menyandarkan punggungnya, ia merasa sangat kenyang.


"Kadita, aku pergi ke toilet dulu, ya." Esme segera beranjak dan berjalan mencari kemana arah toilet.


"Hey, hey. Apa kau tidak mau aku temani?" teriak Kadita.


Garry langsung menarik tangan Kadita. "Biarkan saja, kau ini sudah bagaikan pengawalnya saja," kata Garry.

__ADS_1


Kadita menghela nafas panjang dan kembali membenarkan posisi duduknya.


..


Setelah mencari-cari dimana tempat toilet berada, akhirnya ketemu juga. Esme segera masuk ke dalam.


Tidak lama, ia pun ke luar lagi dari toilet itu.


Saat ke luar dari toilet, langkah kaki dan pandangan matanya langsung terhenti saat melihat keberadaan Leo yang sedang bersandar ke dinding dengan kedua tangan dilipat di atas perut. Leo menatap tajam ke arah Esme, seakan-akan ia sedang menunggu Esme ke luar dari toilet.


Nafas Esme menjadi berat. Ia segera memalingkan wajahnya ke arah lain.


Leo berjalan mendekat, lalu memeluk Esme. "Esme, aku tidak menyangka akan bertemu denganmu disini," kata Leo, dengan senyum bahagianya.


Esme segera mendorong tubuh Leo. "Apa-apaan kau ini?" sorotan mata Esme sangat tajam.


Leo menaikkan kedua alisnya. "Ada apa? Aku ini adalah Leo, kekasihmu!" ucapnya dengan tidak tahu malu.


Pikiran Esme mulai kacau. Terasa sekali, seluruh tubuhnya mulai merinding.


Ia memalingkan wajahnya ke arah lain, sambil berusaha mengendalikan pikirannya, agar trauma itu tidak kambuh di tempat ramai seperti ini.


Leo yang melihat gerak gerik aneh dari Esme langsung mengetahuinya. "Kenapa dengan tubuhmu?" tanyanya cemas.


"Jangan mendekat!" kecamnya.


Leo belum tahu trauma Esme kambuh saat ia sedang apa. Yang Leo tahu, hanya Esme mengidap sindrom traumanya saja.


"Tidak apa-apa, Esme. Ini aku Leo, aku tidak akan menyakitimu," Leo berusaha meraih Esme.


Esme, kau bisa!!! Kau harus bisa!!! (Batin Esme dengan nafas yang terengah-engah)


Keringat dingin bermunculan. Esme berusaha mengabaikan kehadiran Leo. Ia berjalan fokus ke depan.


"Tenang, Esme. Aku tidak akan melakukan apapun padamu. Aku bukan orang jahat!" Leo terus saja menenangkan Esme. Tapi, caranya salah. Leo malah semakin mengejutkannya dengan menarik dan memeluknya tiba-tiba.


Terdengar percakapan orang-orang yang akan berjalan melewati mereka.


"Hey, Alucard, Claude, bagaimana jika setelah dari kafe ini, kita pergi ke bar dan berkaroke?"


"Tidak, aku akan langsung pulang. Istriku pasti sudah menungguku dirumah," kata Alucard dengan wajah santainya.


Esme terbelalak dan sangat terkejut. "Alucard? B-bagaimana mungkin, dia ada disini?" gumamnya


Esme meronta, ingin melepaskan pelukan Leo. Tapi, Leo tak menghiraukannya. Ia malah semakin mendekapkan pelukannya, hingga tubuh Esme tertutup semua oleh tubuhnya.


Alucard, Claude dan rekannya yang lain melewati mereka yang sedang berpelukan.


"Wow, sadisss... anak muda jaman sekarang selalu terang-terangan, ya?" ucap rekan Alucard yang melewati Leo dan Esme yang sedang berpelukan.


Mereka menoleh dan melihat tajam ke arah orang yang berpelukan itu.


Mereka tidak tahu siapa yang memeluk dan yang di peluk itu. Alucard hanya melihatnya sekilas sambil memperhatikan dari bawah hingga ke atas. Ia mengeraskan rahangnya, lalu melewatinya begitu saja.


Keadaan sudah hening.


Esme mendorong tubuh Leo sekuat tenaga.


Plak..


"Dasar gila!!!" Esme menampar dan bentaknya.


Pikiran Esme sudah kembali normal karena halusinasi trauma itu teralihkan dengan keterkejutannya pada kehadiran Alucard yang tiba-tiba berada di kafe yang sama dengannya.

__ADS_1


"Esme, kenapa kau seperti ini padaku?"


"Benar-benar tidak tahu malu! Leo, kau itu bukan siapa-siapa lagi dihidupku. Aku ini adalah wanita yang sudah bersuami. Berani-beraninya kau menyentuhku!" Esme berjalan melewatinya dengan amarah yang menggunung.


"Esme, aku yakin kau masih menyukaiku. Kau tidak akan mudah menyukai seseorang begitu saja. Aku tahu, sampai saat ini kau belum bisa menyerahkan dirimu pada Alucard karena kau takut 'kan? Kau takut Alucard mengetahui bahwa kau sudah tidak perawan lagi. Alucard mungkin akan kecewa, jika yang sudah memerawani istrinya pertama kali adalah aku."


Deg...


Langkah kaki Esme lsngsung terhenti, ia tak menyangka, Leo akan mempermalukannya seperti ini. Tubuhnya langsung menegang, dan tertunduk malu. Tiba-tiba...


Bruk...


Leo langsung terguling-guling karena mendapatkan tonjokan keras dari Alucard.


Alucard mengepalkan tangannya dengan tatapan yang menakutkan. Ia terengah-engah menahan amarah. Berani sekali melecehkan istrinya dimuka umum. Cari mati, ya!!


A-Alucard? Dia benar-benar ada disini? (Batin Esme yang merasa terkejut dan merasa bersalah)


Leo beranjak sambil menyusut darah yang ke luar di bagian ujung bibirnya. Ia menatap Alucard sambil berseringai.


Pengunjung kafe berlarian melihat keributan apa yang terjadi.


"Heh... apa kau mendengarnya barusan? Aku yang pertama kali memerawaninya, jadi seharusnya aku yang menikah dengannya. Tapi, kenapa kau merebut dia dariku? Apa kau tahu, Esme sangat mencintaiku. Cintanya padaku sudah mendarah daging. Dia tidak akan mungkin bisa menyukai orang lain lagi, termasuk dirimu!" kata Leo penuh percaya diri.


Alucard sangat marah. Tanduk dan ekor rubahnya sudah mengepak-ngepak. Jiwanya terbakar api yang membara.


Esme berjalan mendekat ke arah mereka. Ia berdiri di samping Alucard sambil menyentuh tangannya, menyiratkan agar Alucard tenang.


Plak...


Esme menampar pipi Leo lagi. "Hey, brengs*k! Apa kau tuli? Aku sudah tidak menyukaimu, apalagi mencintaimu. Cuih!" Esme meludah ke sembarang arah, ia benar-benar emosi karena perkataan tidak bermoral yang keluar dari mulut Leo. "Apa perlu bukti untuk menunjukan padamu bahwa aku benar-benar menyukainya? Baiklah."


Esme menoleh ke arah Alucard, ia meraih wajahnya lalu mencium bibir Alucard di hadapan Leo.


Alucard terbelalak. Ia tak menyangka Esme akan melum*t kasar bibirnya dengan penuh nafsu seperti ini, apalagi tempatnya di muka umum.


Esme, apa kau sudah benar-benar sembuh? (Batin Alucard)


Meskipun Alucard tahu, ciuman ini adalah ciuman keterpaksaan, tapi ya sudahlah, Alucard tidak akan menolaknya, ia berusaha mengerti dan malah bersekongkol dengan Esme untuk membuat Leo paham akan posisinya sekarang.


Alucard meraih kedua pipi Esme, ia membalas ciuman itu dengan sangat nikmat dan penuh kehayatian, seperti enggan melepaskannya. Tangannya mulai nakal, merem*s kedua buah dada esme di hadapan Leo.


Jleb...


Bagaikan puluhan ribu pisau menancap ke dadanya. Bukan hanya Leo saja yang terkejut, tapi para pengunjung kafe juga dibuat terkejut dengan apa yang mereka lihat.


Ini tidak masuk akal, ini benar-benar gila, menurut Leo.


Kadita merasa penasaran, ingin sekali ia melihat apa yang terjadi disana, tapi Garry terus saja menghentikannya, mengatakan bahwa tidak ada yang lebih menarik dari wajahnya.


Esme melepaskan ciumannya.


"Apa kau puas? Aku sudah membuktikannya bahwa sekarang Alucard adalah pria yang aku cintai. Bukankah sebentar lagi kau akan menjadi suami orang dan akan segera memiliki anak? Jadi, urus saja rumah tanggamu sendiri," sorotan mata Esme sangat menakutkan. "Ayo, Al. Kita lanjutkan di ranjang empukmu. Kita lakukan beberapa ronde dengan beberapa gaya," Esme menarik kasar tangan Alucard keluar dari kafe itu. Ia sengaja membuat Leo semakin panas. Rasakan itu!!!


Leo membatu, matanya membulat, mulutnya menganga. Rasa sakit di dadanya benar-benar sudah tidak bisa di jabarkan lagi.


Bagaimana tidak sakit? Esme, wanita yang dicintainya sedari kecil malah berciuman dihadapannya dengan lelaki lain yang saat ini statusnya adalah suaminya.


Sebenarnya kesakitan Leo tidak seberapa dibandingkan penderitaan Esme selama ini.


....


BERSAMBUNG !!!!!

__ADS_1


Hayo, jangan lupa LIKE, KOMEN & VOTE ❤


__ADS_2