
.
Malam ini dilalui dengan penuh kebahagiaan. Alucard memotong kue ulang tahun dan memberikannya pada Esme.
Saat melihat Sekretaris Kim yang sedang duduk sendiri dengan malangnya, rasanya jadi tak tega, kemudian Alucard menyuruhnya untuk bergabung bersama.
Esme memotong kue dan memberikannya pada Sekretaris Kim. Tak lupa, ia mengucapkan kata terima kasih, karena sudah menjaga Alucard dan membantu suaminya mengurus perusahaan.
Kemudian, tiba-tiba Sekretaris Kim terkejut dengan tespek yang tergeletak di atas meja. Ia menganga tak percaya.
"P-presdir, apakah Nyonya sedang hamil?"
Esme dan Alucard tersenyum, lalu mengangguk bersamaan.
"Waaahhh, berita besar! Selamat Nyonya, selamat Presdir. Akhirnya, sebentar lagi aku akan bertemu dengan penerus perusahaan Mord. Semoga saja aku dan dia bisa bekerja sama dimasa mendatang."
"Ck, dimasa mendatang apa? Kalau dia beranjak besar, kau pasti sudah tua, peyot dan reyot. Cepatlah cari pasangan hidupmu, mau sampai kapan sendiri terus?" celetuk Alucard.
"Ah, hahaha... saya sih memang sudah ingin menikah, hanya saja calonnya belum ada."
Merekapun berbincang ria, sampai lupa waktu.
Ditengah pembicaraan, Esme mencoba menelepon video Ny.Bae, mengabari kabar bahagia ini. Pasti Ny.Bae akan sangat terkejut.
Yap, telepon videonya di jawab.
Ny.Bae terlihat sedang menguap, dengan wajah yang sangat mengantuk. "Ah, Esme? Ada apa, sayang? Hoaamm."
Esme lupa, Korea Selatan lebih cepat 2 jam dari Jakarta. Disini masih pukul 9 malam, itu berarti disana sudah pukul 11 malam.
Esme jadi merasa tidak enak. Ia meminta maaf pada Ny.Bae karena sudah mengganggu istirahatnya. Esme berniat mengakhiri panggilan video itu.
Namun, Alucard langsung merampas ponsel itu dari tangan Esme. Ia mengangkat ponsel Esme dengan tangannya, dan tangan yang satu lagi menjunjung tinggi kue ulang tahun.
"Bu, apa kau lupa hari ini hari ulang tahun anak sulungmu?"
"Hah? Memangnya tanggal berapa ini?"
Ny.Bae buru-buru memeriksa kalender, dan... benar, ia melupakan ulang tahun Alucard.
Ny.Bae segera membangunkan Tn.Aganor, ia menyuruhnya untuk mengucapkan selamat dan memberikan doa pada Alucard, sebelum pergantian hari.
__ADS_1
Mereka berdua pun mengucapkan selamat dan memberikannya doa. Mata Tn.Aganor terlihat sangat berat, tapi Ny.Bae malah sebaliknya.
Alucard segera memberitahukan kabar gembira itu, agar semangat ayahnya pulih kembali.
Ia memperlihatkan sebuah tespek dengan dua garis merah. Ny.Bae dan Tn.Aganor langsung melongo.
"I-itu??" Ny.Bae tergagap.
"Ayah, ibu... sebentar lagi kalian akan menggendong seorang cucu. Esme hamil!"
"A-apa?" Medua mata Ny.Bae dan Tn.Aganor semakin membulat sempurna. Bagai mendapatkan kejutan besar sebesar-besarnya.
Ny.Bae terharu sampai meneteskan air matanya. Ia memberikan selamat pada Esme dan memberikan doa untuk calon bayinya.
Mereka akan segera meluncur ke Indonesia. Kabar yang begitu membahagiakan ini harus dirayakan. Setelah berbincang panjang lebar, akhirnya panggilan pun di akhiri.
Sekretaris Kim mohon pamit, karena waktu sudah menunjukan hampir tengah malam.
Karena ini sudah malam, Alucard pun memesan satu kamar di Hotel berbintang ini. Ia tak ingin membawa Esme pulang, karena sudah sangat malam.
Masuklah mereka di kamar Hotel. Suasananya sangat hangat dan nyaman.
Esme mengambil foto untuk diabadikan di akun media sosialnya, dengan caption ungkapan rasa bahagia karena sedang mengandung pewaris perusahaan Mord.
Sebelum beristirahat, Esme menyiapkan air mandi untuk Alucard, karena setelah pulang kerja, mandi itu merupakan hal yang wajib untuknya.
Jika tidak mandi, Alucard tak akan bisa tidur.
Tapi, tiba-tiba saja, Alucard menghentikan Esme. Perasaannya jadi sangat sensitif, karena saat ini Esme tengah mengandung anaknya.
"Biar aku saja. Kau tidurlah," katanya.
"Aku juga mau mandi. Tadi, aku buru-buru kesini, jadi belum sempat membersihkan diri dari adonan kue. Lihat, nih... di kakiku banyak bekas adonan kue yang sudah mengering."
Alucard meraih wajah Esme. Tatapan mereka jadi sangat dekat.
"Ya sudah, kita mandi bersama, ya?" goda Alucard.
"Hihi... aku tak berani menolak. Let's go, baby."
__ADS_1
Mereka pun masuk ke dalam kamar mandi. Alucard membantu Esme membuka gaunnya. Bahu mulus Esme, memicu reaksi dalam tubuhnya.
Glek...
"Kenapa jadi diam?" tanya Esme. Ia berbalik menghadap Alucard.
Esme memeluknya sangat erat. Ia berusaha menggoda Alucard.
"Kau sedang menggodaku, ya?"
Esme mengangguk. Ia menciumi bagian dada Alucard.
"Tidak tahu malu!" celetuknya sambil tersenyum. Alucard melepaskan pelukan itu. "Esme, aku akan menahannya, karena kau sedang mengandung anakku. Aku hanya takut terjadi sesuatu pada kehamilanmu."
Esme tak mendengarkan ucapan Alucard. Ia malah semakin menggila dengan mengecup bibirnya berkali-kali.
Alucard segera melepaskan diri. "Honey, sadarlah! Ada apa denganmu?"
"Aku mau, Al."
"Jangan sekarang, kita konsultasi dulu ke dokter, ya? Kehamilanmu masih sangat muda."
Esme langsung mengerucutkan bibirnya. Air matanya bergelinangan. Entah kenapa, penolakan Al terasa begitu menyayat hatinya. Ia merasa sangat kesal, marah, dan tidak puas. Mungkinkah perasaan yang tak biasa ini disebabkan dari hormon ibu hamil?
"Setiap kali kau minta jatah, aku selalu menurut, tidak pernah menolak. Tapi sekarang, aku mau, kau malah langsung menolaknya," gerutu Esme, sambil memunggungi Alucard.
"Bukan begitu, sayang. Aku hanya sedang mengkhawatirkan kehamilanmu yang masih muda ini."
"Tapi, aku mau, Al."
Alucard berusaha memahami keadaannya.
"Baiklah, baik. Kita melakukannya pelan-pelan saja, ya. Sudah, jangan menangis lagi." Alucard memeluknya dari belakang, sambil mengusap-ucap perut Esme.
Kemudian, ia berbisik pada perutnya. "Dedek bayi, apa boleh ayah masuk ke dalam? Ibumu sangat ingin melakukannya sekarang."
Esme tersenyum lebar sambil berkata dengan suara yang cempreng. "Iya, boleh. Hihihi...."
Alucard menggendong tubuh Esme, ia meletakannya di dalam bathup. Ia pun segera melepaskan pakaiannya, lalu masuk ke dalam air, daannnn.... BERSAMBUNG!!!
Jangan lupa LIKE, KOMEN & VOTE.
__ADS_1