Air Mata Pengantin

Air Mata Pengantin
Merendah Untuk Meninggi


__ADS_3

.


Tidak hanya disitu. Sepanjang mereka menunggu Esme dan Ny.Bae memasak nasi goreng, Alucard terus saja menyindir Lee. Tentu saja, tujuan utamanya agar Lee tersinggung, hingga ia tak tahan lagi mendengar sindiran dari Alucard lalu pergi dengan tatapan sinis.


"Aku akan kembali, besok!" kata Lee dengan sorotan mata yang tajam, sambil berlalu ke luar dari rumah itu. Alucard tak mengkhiraukannya, ia malah pura-pura mengupil.


Kembali besok? Tidak bisa dibiarkan! Aku harus segera membawa Esme pergi dari sini. (Batin Alucard)


Tidak lama, Esme dan Ny.Bae ke luar dari dapur sambil membawa sepiring nasi goreng yang sudah mereka racik se-enak mungkin.


Bola mata mereka melirik kesana kemari, mencari keberadaan Lee.


"Dimana Lee?" tanya Ny.Bae.


"Dia sudah pergi, ada urusan mendesak tentang perfilm-an katanya," jawab Alucard. "Mana nasi goreng untukku?"


Bibir Ny.Bae dan Esme mengerucut. Mereka jadi tidak bersemangat.


"Nih," ucap Esme, ia meletakan nasi goreng itu di atas meja.


Alucard langsung menyantapnya, tanpa rasa bersalah. Ia malah berseringai ria, merasa telah menang.


"Eemm... enak sekali," gumamnya.


"Kalian mau berdiri sampai kapan? Tidak mau ikut sarapan denganku?" tanya Alucard sambil terus mengunyah.


"Tidak!!" ucap mereka tegas.


"Cih," Alucard berdesis. "Oya, ibu! Aku dan Esme akan pulang ke Indonesia besok pagi."


"Apa! Pulang?" Ny.Bae mengernyitkan dahinya, terkejut. "Kenapa cepat sekali? Belum juga satu minggu disini."


"Aku 'kan harus mengurus perusahaan di sana. Tidak bisa bergantung terus pada Claude. Dia juga punya perusahaan sendiri yang harus di urus," jelas Alucard.


"Ya sudah, kau saja yang pulang. Esme tetap tinggal dengan ibu disini," pinta Ny.Bae sambil mengelus-elus lengan Esme.


"Tidak bisa begitu dong. Aku membutuhkannya untuk berkembang biak. Apa ibu tidak ingin segera menggendong cucu?" celetuk Alucard.


Dasar gila!! Tidak ada kata lain kah selain berkembang biak? Dia anggap aku ini apa? Buaya? (Batin Esme)


"Ah, begitu ya... hmmm," gumam Ny.Bae. Ia tertunduk sedih. Demi keturunan, mau tak mau Ny.Bae harus berpisah dengan Esme.


Sebelum berpisah dengan Esme, Ny.Bae berniat mengajaknya bermain ke tempat-tempat indah di Korea. Membuat beberapa kenangan dulu, agar suatu saat Esme bisa mengingatnya dan secepatnya kembali lagi ke Korea.


Tapi, tiba-tiba saja terdengar suara gerbang yang terbuka. Biasanya, pengurus Feng segera melaporkan pada Ny.Bae atau Tn.Aganor ada tamu yang datang, tapi ini tidak. Itu menandakan ada saudara yang berkunjung.


Ny.Bae mengernyitkan dahinya, sebuah tanda tanya besar di benaknya. Saudara mana yang berkunjung ke kediamannya jam segini?


"Ada apa?" tanya Esme yang merasa resah.


Alucard mengangkat tangan kanannya,


agar Esme diam. Ia menajamkan indra pendengarannya.


Ceklek...


Klotrak...


Klotrak...


Klotrak...


Langkah kaki itu semakin mendekat. Siapa?


Deg...

__ADS_1


"A-Ara?" Ny.Bae terkejut.


Mau apa lagi dia kemari? (Batin Alucard)


Esme yang melihatnya hanya memasang wajah datar tanpa ekspresi. Ia memalingkan wajahnya ke arah lain, tak ingin melihat manusia bermuka dua itu.


"Bibi!!!" panggilnya sambil memeluk Ny.Bae. Raut wajahnya sangat bahagia.


Ny.Bae hanya terdiam membisu. Suasana menjadi canggung saat ini. Ny.Bae segera melepaskan pelukan Ara.


"Ara, dengan siapa kau kemari?" tanya Ny.Bae.


"Aku sendirian."


"Dimana ayah dan ibumu?" tanya Ny.Bae tatapannya sangat hati-hati. Ia takut, Ara membuat ulah lagi.


"Emm... seperti biasa, mereka selalu sibuk," jawab Ara. Ia melirik ke arah Alucard yang sedang meneguk minuman. "Bibi, aku kemari bermaksud untuk berteman dengan istri Kak Alucard."


"Tidak perlu!" sergah Alucard, cepat.


Semua mata langsung tertuju pada Alucard.


"K-kenapa? Aku kesini dengan niat baik!" ucap Ara.


"Seorang wanita berkelas seperti Esme tak membutuhkan teman sepertimu!" bantah Alucard.


Jleb!!


Dada Ara tertusuk ucapan tajam yang ke luar dari mulut Alucard. Tapi, Ara tak gentar, ia malah membalasnya dengan senyuman palsu. Ia berjalan menghampiri Esme.


"Kak, aku benar-benar minta maaf atas kejadian kemarin. Tolong, kau beri pengertian pada Kak Alucard," ucapnya manja sambil menempel pada Esme. Ia berbicara menggunakana bahasa Inggris, karena Ara tahu, Esme tidak bisa bahasa Korea.


Esme sangat meragukan ucapan permintaan maaf dari Ara. Ia akan melihat permainan apa lagi yang akan Ara lakukan.


"Jangan hiraukan. Ayo, kita berkemas!" Alucard berusaha menghindari Ara.


Alucard menaikkan halis kirinya, dan Esme menaikkan kedua halisnya sambil tersenyum menyiratkan bahwa Alucard tidak perlu khawatir, aku adalah Esmeralda, tidak mudah dibodohi begitu saja.


Ny.Bae menyelinap masuk ke dalam kamarnya. Ia akan melihat dari jauh. Jika Ara berani macam-macam. Ny.Bae tak segan, akan segera mengeluarkan taring, tanduk, cakar dan ekornya.


"Karena kau kemari dengan niat yang baik, aku akan langsung memaafkanmu," ucap Esme sambil tersenyum. Raut wajahnya sangat tenang. Tapi, ketenangan dari raut wajah Esme membuat Ara sedikit bergidik ketakutan.


"Mm... benarkah?" tanya Ara sedikit ragu.


"Ya!" Esme mengangguk.


"Uh, terima kasih, Kak. Kalau begitu... ayo, kita pergi main ke luar, aku akan mengenalkan Kakak pada beberapa artis Korea. Aku tahu, Kakak sangat mengidolakan beberapa artis Korea 'kan?" ajaknya, sok akrab.


Bahaya! Ara pasti sudah mencari tahu semua tentang Esme. (Batin Alucard)


Alucard langsung berjalan menengahi mereka. "Aku sebagai suaminya, tidak memperbolehkan dia kemana-mana! Kita akan segera pulang ke Indonesia," sergah Alucard.


Apa? Pulang ke Indonesia? Kalau begitu, aku dan Kak Alucard akan berjauhan lagi? (Batin Ara)


"Ehm... oh begitu, baiklah... aku tidak akan memaksa. Kapan keberangkatan kalian? Aku akan berusaha mengantar kalian ke bandara," kata Ara sambil tersenyum.


"Besok pagi," ucap Esme. "Apa kau tidak mau ikut?" Esme mencoba memancing tanduk Ara agar ke luar.


"Ah!" Raut wajah Ara mulai nampak riang gembira, lalu kembali meredup.


"Kalau kau ikut, kita bertiga bisa satu kamar loohhh...," Esme semakin memancing Ara.


"Eheemm," Alucard berdehem. Ia sangat tidak setuju dengan pemikiran Esme, meskipun ucapan Esme bertujuan untuk memancing Ara.


"Emm... akuuu," Ara berpikir keras. "Sepertinya aku tidak bisa ikut dengan kalian. Aku cukup sibuk disini."

__ADS_1


Alucard menghela nafas lega.


"Sungguh? Kau tidak akan ikut ke Indonesia dan menginap di rumah Alucard?" tanya Esme, meyakinkan.


Ara terjeda sesaat. "Yaa... aku... aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku disini. Tapi, aku berjanji, aku akan datang berkunjung ke sana," ucapnya gugup karena menahan keinginna yang besar.


Heh, ingin mengelabuiku, ya? Aktingmu tidak cukup bagus! Lihat saja dari jari tanganmu yang bergerak-gerak itu. Sebenarnya kau sangat ingin ikut bersama kita, apalagi sampai menginap di rumah Alucard 'kan? Rasakanlah sakitnya menahan keinginan yang besar. (Batin Esme)


"Ya sudah, kalau kau tidak mau aku juga tidak akan memaksa," ucap Esme.


Rahang Ara mengeras. Ia berusaha baik-baik saja dengan tersenyum di depan Esme dan Alucard.


"Emm... kalau begitu, aku tidak akan mengganggu kalian hari ini. Kalian pasti harus berkemas dari sekarang," kata Ara.


"Tapi, aku tidak berkemas apapun. Alucard bilang, aku ke sini tidak boleh membawa apa-apa, karena mertuaku sudah menyiapkan semua keperluanku disini. Aku sangat beruntung bisa masuk ke keluarga yang begitu perhatian padaku." Esme memeluk lengan Alucard, ia mengelus-elusnya di hadapan Ara.


Rasa panas di dalam hati Ara sudah mendidih. Ia menahannya sekuat mungkin. Kedua matanya pun nampak berkaca-kaca.


Ara tersenyum. "Ya, keluarga kami memang seperti itu. Aku sangat bersyukur jika Kakak beranggapan begitu pada kami," ucapnya. Ara menarik nafas dalam-dalam, ia membusungkan dadanya. "Kalau begitu, aku akan pulang dulu."


Ara membungkukkan tubuhnya pada Alucard dan Esme. Disaat sedang begitu, kedua matanya membulat sempurna, rahangnya mengeras, raut wajahnya penuh dendam.


"Ara! Maaf, aku tidak bisa mengantarmu ke depan. Aku harus melayani Alucard," ucap Esme.


"Ah, tidak apa-apa. Aku bisa sendiri." Ara tersenyum ramah, lalu berjalan menuju pintu ke luar dengan menopang kebencian yang amat besar.


Esmeralda? Heh, kau sangat meremehkan aku! Kemarin aku memang sudah kalah, tapi itu semua tidak akan mengubah tekadku untuk terus merebut Kak Alucard. Bukan Ara Dahyun namanya jika aku berhenti begitu saja tanpa mencobanya lagi. Kau tidak tahu, bukan? Aku bisa menghancurkan tanpa menyentuh! (Batin Ara)


"Honey!!" panggil Alucard. Ia bermanja-manja dengan memeluk tubuh Esme. "Apa kau tidak curiga dengan sikap Ara?" tanyanya.


"Merendah untuk meninggi!" ucap Esme dengan tatapan yang amat tajam. "Itulah trik yang sedang Ara mainkan. Dia akan berusaha merendah demi mencapai tujuannya, yaitu merebutmu dariku."


"Kau memang wanitaku," Alucard lebih mengeratkan pelukannya. "Tapi, kau harus tetap berhati-hati. Dia sangat licik dan gila, tidak bisa disamakan dengan Alice dan Lolyta," sambung Alucard, memperingati.


"Ya, aku tahu. Keluarga kalian sangat kaya, dia bisa melakukan sesuatu yang jahat padaku meskipun aku berada di Indonesia."


"Tapi, aku tidak akan membiarkan itu terjadi." Tangan Alucard mulai tidak bisa diam. Ia mencari kesempatan dalam kesempitan.


"Akupun tidak akan membiarkan sesuatu terjadi pada diriku sendiri, karena tipe wanita sepertiku sangat langka dan mahal harganya," ucap Esme percaya diri.


"Ya, ya, ya...," Alucard mengecup bahu Esme. "Honey, aku mau lagi!" pintanya, manja.


Esme mengernyitkan dahinya. "Jaga sikap dan ucapanmu. Lihat, pantulan kaca itu! Ibumu sedang mengintip kita dari celah pintu kamarnya!"


Alucard melihatnya diam-diam. Dan, memang benar. Ny.Bae sedang mengintip mereka.


Esme, kau benar-benar membuatku kagum. Kurasa bukan hanya lidahmu yang tajam, tapi matamu juga! (Batin Alucard)


"Biarkan saja. Jika melihat kita seperti ini, pasti ibu rindu pada ayah. Dia akan menelepon ayah, untuk pulang lebih cepat. Hihihi... ayo, kembali ke kamar!" Alucard menggiring Esme menuju kamarnya.


"Hey, hey, hey!!! Aku sedang datang bulan. Jangan macam-macam denganku, atau kau mau menjadi samsak tinjuku?"


"Aku tidak percaya! kau pasti bohong." Alucard terus menggiring Esme menaiki anak tangga.


"Aku serius!!"


"Baiklah, aku akan memeriksanya sendiri!"


"Apa!! Dasar gila!!"


Benar yang diucapkan Alucard. Pipi Ny.Bae memerah saat melihat Alucard dan Esme bermesraan seperti itu. Ia menutup pintu kamarnya perlahan, lalu segera mengambil ponselnya. Ny.Bae mengirim pesan pada Tn.Aganor untuk pulang lebih cepat hari ini.


....


BERSAMBUNG !!!

__ADS_1


Jangan lupa LIKE, KOMEN & TIPS ❤


__ADS_2