
.
Pagi hari.
Sinar mentari masuk menembus tirai jendela, menyorot tepat di wajah Alucard. Malam tadi, adalah malam yang sulit baginya. Sebab, Esme membuatnya sangat jengkel karena hasratnya tak terpenuhi, padahal sudah akan mencapai puncak keberhasilan. Tapi, Alucard tidak bisa marah apalagi sampai membentak dan memukulnya, ia hanya memendam kekecewaan itu seorang diri. Berlalu untuk tidak memikirkannya terus menerus, kemudian tertidur di atas ranjang.
Esme yang sedari subuh sudah bangun, saat ini sedang mempersiapkan sarapan diatas meja makan. Ia berjalan masuk ke kamar, berniat membangunkan Alucard untuk sarapan bersama.
Sesampainya di kamar, langkah kaki Esme terhenti tepat di samping ranjangnya, melihat keadaan kamar yang masih gelap. Ia berjalan membuka tirai jendela, lalu berbalik dan menatap wajah Alucard dengan pandangan kasihan, dan rasa bersalah.
Sebenarnya, malam tadi itu Esme sengaja menggodanya, ia hanya ingin melihat sebagaimana kesembuhannya itu. Apakah benar-benat sudah sembuh total atau belum. Pada awalnya, ketika Alucard menindih tubuhnya dari atas, Esme tidak merasakan apapun, traumanya tidak kambuh. Tapi, saat Alucard menarik tangan Esme untuk menyentuh kepunyaannya, otot-otot tubuhnya langsung menegang, jantungnya berpacu cepat, keringat dingin bermunculan.
Esme segera menghentikan itu semua, ia menyembunyikan kekambuhan trauma nya dari Alucard dengan cara masuk ke kamar mandi, berpura-pura ingin membersihkan diri. Padahal di dalam sana, tubuhnya gemetar hebat, bayangan-bayangan pelecehan itu meyerangnya lagi, Esme benar-benar kacau saat itu. Tapi, syukurlah, ia bisa mengendalikan dirinya sendiri tanpa harus pingsan dan membuat Alucard cemas.
Aku tidak akan kapok. Aku akan terus mencobanya lagi dan lagi, sampai aku sembuh. Aku benar-benar tidak bisa melihat Alucard sekecewa malam tadi. (Batin Esme)
"Al," panggilnya dengan nada suara yang lirih.
Tidak ada jawaban.
Alucard masih tertidur dengan kemeja putih dan celana kantornya.
Esme menghela nafas panjang, kemudian ia terduduk di samping Alucard yang tengah tertidur nyenyak.
Perlahan, Esme membuka kancing kemejanya yang tersisa, lalu melepaskan kemeja putih itu sekuat tenaga, karena menahan tubuh Alucard lumayan berat.
Setelah meletakan kemeja putihnya di keranjang cucian, Esme melepaskan ikat pinggangnya. Alucard masih saja tertidur. Untunglah hari ini masih dalam rangka libur pernikahan. Jadi, Esme tak perlu membangunkannya buru-buru.
Saat akan menarik ikat pinggang itu, bulu kuduknya langsung merinding, karena Esme tak sengaja melihat ke arah bagian bawah pusar Alucard. Esme segera memalingkan pandangannya, ia menelan salivanya, berusaha menahan agar tidak kambuh lagi.
Tidak, Esme!! Masa kau mau terus-terusan seperti ini? Kau harus lebih kuat dari trauma itu! Dorong dia ke luar dari otakmu!! Pikirkan saja Alucard, kau harus membahagiakannya sebagai istri yang baik dan itung-itung balas budi atas kebaikannya. (Batin Esme)
Esme menarik ikat pinggang itu secepat kilat, karena tidak ingin berlama-lama. Tiba-tiba, Alucard langsung menahan tangan Esme.
Esme terbelalak, ia sangat terkejut dengan sentuhan yang tiba-tiba itu.
"Tenang, ini aku, suamimu."
Esme mengatur nafasnya, ia sudah kembali tenang saat ini.
"Sini, tidur disampingku," kata Alucard.
Esme menaikkan halis kirinya, karena terheran, wajah Alucard terlihat santai sekali.
"Apa kau mau menghukumku karena kejadian malam tadi?" tanya Esme yang masih mematung di samping lutut Alucard.
"Tidak, aku tidak akan menghukummu. Aku tahu, pasti kau punya alasan kenapa malam tadi kau menghindar. Ayo, tidur disini dan ceritakan perlahan. Aku akan mencoba memahaminya," ucapnya lembut.
Al, kenapa kau baik sekali? Kalau kau seperti itu, aku jadi merasa bahwa diriku ini sangat kejam. (Batin Esme)
"Kenapa melamun? Kau tidak mau tidur disampingku? Tidak apa," kata Alucard.
Esme segera melompat dan meringkuk di samping tubuh Alucard. "Anak pintar," sindirnya sambil memeluk tubuh Esme. Sekarang, tubuh Esme sudah bersembunyi dipelukannya.
"Al?"
"Hmm??"
__ADS_1
"Mm... kenapa dadamu sangat putih mulus sekali? Dan sialnya sorotan mentari itu membuat kulitmu mengkilap," ucap Esme basa-basi.
"Aku tidak tahu, tanyakan saja pada ibu dan ayahku, bagaimana bisa mereka membuat aku yang sangat tampan dan mempesona seperti ini." Sipat narsisnya kambuh lagi.
Keadaan kembali hening.
"Al?"
"Hmm??"
"Apa kau sangat marah dan kecewa padaku?" tanyanya, merasa sangat bersalah.
"Memangnya, semalam traumanya kambuh lagi?" Alucard balik bertanya.
Esme melirik panik, lalu perlahan ia menganggukan kepalanya.
"Mmm... jadi begitu. Aku memang sangat kecewa, sih. Tapi, apa boleh buat, aku akan terus menunggumu sampai kau mau melakukannya. Tenang saja, aku tidak akan memaksa," kata Alucard dengan santainya.
Esme menghela nafas lega. Alucard betul-betul suami yang paling pengertian.
"Al?"
"Apa lagi??"
"Mau mencobanya lagi tidak?" celetuk Esme.
"Coba lagi?" Alucard langsung terdiam, lalu ia menghembuskan nafasnya. "Baiklah," katanya.
"Tapi, bagaimana jika traumanya kambuh lagi?" Esme menjadi dilema.
"Tidak apa-apa. Kita memang harus sering mencobanya 'kan? Jika sering mencobanya, kau akan terbiasa, dan lambat laun trauma itu akan menghilang dengan sendirinya," jelas Alucard.
"Hey?"
"Mm, apa?" Esem pun menoleh. Kedua mata mereka beradu.
"Yang mana yang mau aku cium?" tanyanya sambil tersenyum samar.
Esme tertawa kecil, ia merasa geli mendengarnya. Lalu, ia mendongakan wajahnya, dan menyodorkan bibir mungilnya pada Alucard.
"Yang ini?" tanya Alucard. Esme langsung mengangguk cepat.
Muaahhh... 💋
"Bagaimana? Terasa tidak?" tanya Alucard. Esme menggelengkan kepalanya.
"Huh, baiklah...."
Alucard mengecupnya lagi, lalu melum*t bibir Esme penuh gairah. Tubuh Esme menegang panas, birahinya mulai menggelora di dalam tubuh. Jari jemari kakinya bergerak-gerak karena nafsunya yang mulai meningkat.
Alucard semakin liar, turun mengecup-kecup leher Esme dan memberi tanda merah dibeberapa bagian. "Aku memberi tanda, bahwa ini punyaku," katanya.
Kemudian, tangannya bermain kemana-mana, merem*s kedua buah dada Esme, hingga Esme mendes*h.
Alucard membuka kancing baju Esme dengan gigi dan tangan kirinya. Buah dada yang cukup berisi dan putih mulus ini, bukan hal baru baginya, Alucard tak terkejut lagi melihatnya, karena sudah pernah beberapa kali menyelamatkan Esme ketika bajunya terlucuti.
"Esme, apa aku boleh?"
__ADS_1
Esme merasa dirinya masih baik-baik saja. Ia segera menganggukan kepalanya.
Alucard merasa tak tega, tapi ini harus dilakukan, karena demi kesembuhannya. Ia mengecup-kecup bagian buah dadanya, pusat buah dada Esme yang berwarna sedikit gelap langsung menegang berdiri menantangnya. Alucard menjil*tnya penuh nafsu.
"Uh," kedua mata Esme terbelalak, dan kembali sayu lagi. Tubuhnya semakin menegang. Ia berusaha menikmati prosesnya. Esme mengelus-elus kepala belakang Alucard yang masih saja belum melepaskan isapannya.
Alucard kembali naik dan mencium bibir mungil Esme, penuh dengan nafsu. Kedua mata sayunya nampak terlihat jelas.
Alucard melepaskan ciuman panas itu. "Sampai sini, apa kau baik-baik saja?" tanyanya cemas. Ketika sedang seperti itu saja, Alucard masih memperhatikan trauma Esme.
Esme mengangguk perlahan, karena tubuhnya panas dan lemas.
"Mau lanjut atau cukup sampai disini percobaannya?" tanya Alucard.
Esme menggigit bibir bawahnya, ia menatap buah dadanya yang sudah telanjang tak berbusana.
"Kenapa melamun?" Alucard mengecup kedua mata Esme, lalu naik ke keningnya. "Ya sudah, sampai disini saja dulu. Besok-besok, kita lanjut ke tahap yang lebih tinggi, bagaimana?" ucapnya lirih.
"Kau tidak apa-apa?" Esme menatap kasihan.
"Ya, aku tidak akan mati hanya karena hal sepele seperti ini," katanya sambil mengancingi kembali baju Esme.
Alucard beranjak. "Ayo, bangun. Siang ini kita akan pergi ke Korea, mengunjungi rumahku disana," katanya.
Esme langsung terduduk, ia sangat terkejut. "K-ke Korea?... Siang ini?" Matanya membulat.
"Ya, ibuku sudah menyiapkan visa dan paspor untuk kita dari beberapa hari yang lalu," ucapnya.
"Ayah, ibu dan rombonganmu sudah pulang lagi ke Korea?" tanya Esme. Alucard langsung menganggukkan kepalanya.
"Ibu ingin cepat-cepat pulang, karena dia ingin mengadakan pesta penyambutan untuk kita di Korea. Pasti, ibu saat ini sedang shopping, membeli barang ini dan itu untuk mendekor kamar pengantin yang romantis untuk kita," tutur Alucard yang sepertinya sudah sangat kenal sipat ibunya.
"T-tapi...,"
"Kenapa? Kau tidak mau?"
"Bukan! Bukan begitu. Tadinya, siang ini, aku ingin mengajakmu berkunjung ke makam ibuku," kata Esme.
"Ya sudah, kita ke makam ibumu dulu, lalu pergi ke Korea," ucap Alucard dengan santainya.
"Apakah di Korea aku bisa bertemu dengan Lee Min Oh? Aktor Korea yang tampan bagaikan dewa itu?" Mata Esme langsung berbinar-binar.
Bisa-bisanya dia memuji pria lain di hadapan suaminya sendiri. (Batin Alucard)
"Bukan hanya Lee Min Oh, tapi Ji Chang Mook, Park Min Yung, Park Shin Hwe, lalu boyband dan girband seperti EXOS, BST, Black Pinky, Red Vilvet, kau bisa bertemu dengan mereka semua. Karena mereka semua bernaung di bawah DJ Entertainment, perusahaan hiburan terbesar di Korea yang didirikan oleh ayahku, Djordi Aganor," jelas Alucard.
Esme semakin terbelalak. "Be-benarkah? Apa aku tidak salah dengar??"
Oh iya, aku lupa. Alucard sebelum ke Indonesia adalah CEO baru Dj Entertainment 'kan? Jadi, CEO sebelumnya adalah ayahnya, Tn.Aganor. OMG!!!! (Batin Esme kelepek-kelepek, ingin sekali ia pingsan)
"Hey, ilermu ke luar tuh. Sudah, jangan mengkhayal dulu. Suamimu ingin mandi, cepat siapkan airnya," kata Alucard dengan wajah datar, karena tak menyangka, ternyata istrinya adalah K-popers.
"Siap, Tuan!!" Esme sangat gesit, ia berjalan cepat masuk ke kamar mandi, melaksanakan perintah dari suaminya. Ia sangat antusias ingin segera bertemu idolanya di Korea.
....
BERSAMBUNG !!!
__ADS_1
Hey jangan lupa LIKE, KOMEN & TIPS nya. ❤