
.
Esme segera membenarkan posisi duduknya, bajunya pun ia kancingkan kembali.
Alucard duduk di bagian kemudi, ia membuka botol minuman, lalu meneguknya habis. Sangat haus sekali setelah bercinta dengan Esme.
Santai sekali wajahnya, seperti tidak punya dosa saja. (Batin Esme)
"Ehemm...," Esme mendehem.
"Ehem juga," sindir Alucard sambil terus menatap wajah Esme yang masih memerah dan penuh dengan keringat.
"Apa sih?" gumam Esme. Ia mentap kancing di bagian dadanya, takutnya Alucard cari kesempatan lagi.
"Esme?"
"Hem, apa?"
"Apa kau tahu? Mencintaimu, menciummu, dan bercumbu denganmu itu seperti narkoba. Sekali dicoba membuatku candu, tidak dicoba bikin penasaran, jika ditinggalkan malah bikin sakau (cemas, depresi, dan halusinasi)," ucap Alucard.
Esme menganga, ia sangat dibuat terkejut saat Alucard mencoba menggodanya dengan perkataan gombal seperti itu. Uh, tubuhnya jadi merinding.
"Apa kau sadar dengan apa yang kau ucapkan?"
Alucard mengangguk.
"Berarti, kau sudah pernah mencoba narkoba?" celetuk Esme, matanya melotot.
"K-kau berani memelototi aku?" ucap Alucard dengan nada bicara yang tinggi.
"Ya! Memangnya kenapa?" Esme tak ingin kalah bersuara tinggi darinya.
"Kau memelototi aku dan itupun nampak cantik bagiku!"
"WHAT!"
Ada apa dengannya?... Selesai melakukan itu, tingkahnya jadi aneh, ucapannya membuat bulu kudukku jadi merinding. Jangan-jangan.... (Batin Esme yang terheran dengan tingkah suaminya)
Esme menyentuh kening Alucard, ia berpikir, takutnya Alucard demam atau jangan-jangan suaminya itu sedang terserang virus bucin. 🤣
Ah, tidak panas... (Batin Esme yang telapak tangannya masih menempel di kening Alucard)
"Kenapa?" tanya Alucard.
"Kau tiba-tiba berbicara manis, aku kira kau sakit. Tapi, tubuhmu tidak panas, lalu kenapa wajahmu itu sangat merah?" tanya balik Esme, sambil memperhatikan wajah Alucard yang saat ini memang terlihat memerah.
"Oh, itu karena ada kamu disini," celetuk Alucard.
Dasar kampret!! Aku serius, dia malah semakin menjadi. Rgghh... (Batin Esme yang semakin tak habis pikir)
"Keluar!" ucap Esme.
Alucard menatap aneh. "Ada apa?"
"Sudahlah, cepat keluar. Aku akan membawamu ke rumah sakit sekarang juga. Sepertinya otakmu bermasalah." Esme menarik paksa tangan Alucard ke luar dari mobil.
"Tapi, aku baik-baik saja," bantah Alucard.
"Jangan banyak bicara!... Cepat duduk, patuhlah!"
Alucard langsung terdiam, dan segera mengikuti perintah istrinya.
Jika Ibu Negara sudah memerintah, tidak akan ada yang berani membantahnya.
Ada apa dengan Esme? Apa aku salah bicara? Aku 'kan hanya menggombalinya saja agar dia semakin cinta padaku, karena saat memarahi Lolyta, dia memujiku sebagai pria sekaligus suami yang baik. Eh, jangan-jangan Esme malah menyangka aku gila? (Batin Alucard)
Brumm...
__ADS_1
Mobil pun melaju, Esme yang mengemudikannya.
Malang nian nasib Alucard. Berniat membuat Esme semakin cinta dengan rayuan kata-kata gombalnya, eh, Esme malah menyangka otak Alucard sedang bermasalah.
...
Di waktu yang bersamaan.
Mobil yang ditumpangi Ara sudah sampai di Gwanghwamun Square, ia membuka sedikit kaca mobilnya, matanya melirik kesana kemari mencari keberadaan Alucard. Tetapi, ia tak menemukannya. Yang terlihat hanyalah kerumunan orang-orang yang sedang melihat proses syuting.
"Pak Shin, Mira! Kalian cepat keluar, temukan Kak Alucard. Jika sudah menemukannya, segera kabari aku," ucap Ara.
"Baik, Nona."
Supir dan asisten pribadinya itu segera ke luar dari mobil. Mereka berjalan masuk ke kerumunan orang-orang.
Satu jam sudah berlalu. Mereka berdua tidak menemukan keberadaan Alucard. Mereka berpikir untuk kembali ke mobil.
"Nona, kami tidak menemukan keberadaan Tuan Alucard," ucap Pak Shin.
"Bagaimana bisa, padahal sudah satu jam mencari, kalian masih tetap tidak menemukannya?... Mira! Bukankah kau bilang Kak Alucard ada disini!" bentaknya.
"Ah! Emm... menurut gosip yang beredar memang begitu, Nona. Mu-mungkin saja Tuan Alucard sudah pulang," ucapnya tergagap.
"Kau ini bagaimana? Setiap informasi mengenai Kak Alucard, sebelum menyerahkannya padaku seharusnya kau memastikannya dengan benar!... Pokoknya, bulan ini gajimu aku potong!"
Kedua mata Mira langsung terbelalak, bagai tersambar petir disiang bolong. Ia ingin sekali membantahnya, tapi tak berani. Mira hanya bisa pasrah dengan keringat dingin dan tubuh yang gemetar ketakutan. Padahal uang gajinya bulan ini, akan ia kirim pada ibu dan ayahnya yang sedang sakit.
Karakter Ara Dahyun memang seperti itu, selalu saja mengintimidasi seseorang yang lemah. Tidak memiliki hati nurani. Jika segala sesuatu yang ia inginkan tidak ia dapatkan, ia akan sangat marah, dan kemarahannya itu akan berimbas pada siapapun yang berada di dekatnya, sekalipun orang itu tidak tahu apa-apa.
Ara merogoh isi tasnya, ia mengambil ponsel dan mencoba menelepon seseorang.
Kontaknya tertuliskan '미래의 남편 (Calon Suami)'
Tuuutttt... tuuuttt...
"Arrghh... SIAL!! Jangan-jangan Kak Alucard memang sudah pulang," gumamnya. "Pak Shin, cepat putar balik! Pergi ke rumah Ny.Bae," titahnya dengan raut wajah kesal.
Pak Shin segera memutar balik arah mobilnya. Mobil pun melaju menuju kediaman Aganor.
Sesampainya di kediaman Aganor.
Tinn!!! Tinn!!!
Ara membuka kaca mobilnya. Terlihat pengurus Feng sedang berjalan cepat menghampiri mobilnya.
"Ah, Nona Ara?" sapa pengurus Feng.
"Cepat bukakan gerbangnya!" seru Ara.
"Baik."
Gerbang pun dibuka. Mobilnya masuk dan terparkir di tempat parkir yang sudah disediakan disana.
Pak Shin membukakan pintu mobil, Ara ke luar dengan sangat anggun dan arogan sambil membuka kaca matanya, lalu memberikan kaca mata itu pada Mira.
Ara berjalan masuk dengan tingkat kepercayaan yang tinggi. Ia sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan Alucard.
Ssrrrkkk...
Tiba-tiba saja, mobil mewah berwarna hitam masuk dan terparkir di samping mobilnya.
Esme segera ke luar dari mobil diikuti dengan Alucard. Raut wajah Esme terlihat merah merona, ia sangat malu karena insiden memalukan terjadi di rumah sakit.
"Aku 'kan sudah bilang, otakku tidak bermasalah. Kau ini seenaknya saja membawaku ke dokter spesialis jiwa. Kau anggap suamimu ini apa?" ucap Alucard, kesal.
"Hehehe... iya, iya aku minta maaf." Esme tertawa kecil di balik tangan yang sedang menutupi mulutnya. Ia benar-benar merasa bersalah karena tidak peka.
__ADS_1
"Aku akan memaafkanmu jika kau menciumku," pinta Alucard.
Esme segera menutup mulut Alucard, karena suara Alucard sangat kencang. Ia takut dan malu jika ada orang yang mendengarnya.
"Oppa?" panggil seseorang dari dalam rumah, suaranya sangat imut.
Esme mengernyitkan dahinya. Ia segera melepaskan tangannya dari mulut Alucard, lalu menoleh ke sumber suara.
"Ara?" ucap Alucard.
Kedua mata Esme menciut, dadanya terasa panas karena mata gadis itu berbinar ria saat melihat kedatangan Alucard, begitu juga dengan Alucard.
Ara berlari kecil menghampiri Alucard. Ia langsung memeluk erat tubuh Alucard di hadapan Esme.
Esme terbelalak. Dadanya semakin dibuat panas.
Apa-apaan ini. Siapa dia? (Batin Esme)
"Ara, sedang apa kau disini?" tanya Alucard menggunakan bahasa Korea.
"Ih, aku sebal sama Kakak. Kenapa Kakak tidak memberitahu aku kalau Kakak sudah pulang?" ucap Ara menggunakan bahasa Korea.
Esme gigit jari, ia menajamkan pendengarannya. Tapi, sayangnya ia tidak mengerti apa yang mereka bicarakan.
Alucard melepaskan pelukan itu. "Untuk apa aku memberitahumu?" balas Alucard, dingin.
"Hah! Emm...," Ara langsung mati kutu. "Ah, sudahlah, ayo kita masuk." Ara menarik tangan Alucard, ia menghindari ucapan sadis yang keluar dari mulut Alucard.
Ia tak melihat keberadaan Esme sama sekali.
What!!! Apa anak kecil itu menganggapku tembok? Dan, berani-beraninya dia menyentuh Alucard. (Batin Esme)
Esme berjalan cepat menyusul mereka. Ia merebut paksa tangan suaminya dari genggaman wanita lain.
"Eh, siapa kamu?" Ara melihat dari atas kepala sampai ujung kaki Esme. "Oohh... berani-beraninya asisten rumah tangga menarik tangan Kak Alucard. Apa kau tidak tahu siapa aku dan dia!" ucapnya dengan bahasa Korea.
Apa yang dia ucapkan? Mulutnya terlihat seperti sedang komat-kamit membaca mantra. (Batin Esme)
Esme akan mencoba berinteraksi dengan Bahasa Inggris. Ia berharap semoga gadis ini bisa mengerti.
"Sorry, Miss. I can't speak Korean. Introduce, i'm his wife. (Maaf, Nona. Saya tidak bisa berbahasa Korea. Perkenalkan saja, saya adalah istrinya)," ucap Esme sambil menyembunyikan tubuh Alucard dibelakangnya.
*Selanjutnya mereka berinteraksi dengan bahasa Inggris.*
"Hahahaa... kuno sekali triknya. Aku sudah sering mendapati wanita matre yang mengaku-ngaku sebagai istrinya Kak Alucard. Kalau bermimpi jangan terlalu tinggi, takutnya, kau jatuh akan terasa sangat sakit!" ucapnya sinis.
Esme menunggingkan senyumnya. Lagi-lagi ia harus menghadapi benalu yang tidak tahu malu. Ia harus segera menyentil bocah ingusan ini.
"Ara, hentikan!" sergah Alucard dengan mata yang membulat.
"Tenang saja Kak, aku akan menyingkirkan wanita pengganggu ini," ucap Ara percaya diri.
Uh, sebenarnya aku hanya ingin mengingatkan saja pada Ara. Jangan berani-berani mengusik ketenangan Esme, jika tidak... habislah dia. (Batin Alucard)
"Apa kau tidak tahu dengan siapa kau berbicara? Keluargamu dari orang kaya mana? Aku melihat dari gaya pakaianmu, sepertinya kau dari kelas rendahan. Apa kau tahu, keturunan dari nenek moyangku tidak ada yang tidak kaya. Semuanya memilki harta dan kekuasaan. Keluargaku sangat disegani dan dihormati dimana-mana," jelas Ara.
"Heh, anak kecil! Sombong sekali bicaramu. Kau itu hanya sebuah tanah yang diberi nyawa, mau menyombongkan apa sih," Esme mendekatkan mulutnya di telinga Ara. "Dengar, ya. Jangan pernah tertipu dengan pujian. Ingat! Banyak nyamuk mati karena tepuk tangan," bisik Esme, tajam.
Kedua mata Ara langsung membulat sempurna. Amarahnya bergejolak di dalam dada. Sebab, selama ini, tidak ada yang pernah berani untuk melawannya. Baru kali ini, ia mendapat teguran yang sangat tajam dan pedas dari wanita yang tidak dikenalnya sama sekali.
Pandai bersilat lidah rupanya. Cari mati, dia! (Batin Ara, menyeringai. Jiwanya sangat tertantang)
....
BERSAMBUNG !!!
Jangan lupa LIKE, KOMEN & VOTE ❤
__ADS_1