Air Mata Pengantin

Air Mata Pengantin
Permasalahan Yang Berbeda


__ADS_3

.


Pukul 22:07 WIB.


Kadita memarkirkan mobilnya di garasi mobil rumahnya. Sebenarnya Kadita sudah pulang kerja jam 8 malam, tapi ia melipir ke kafe untuk minum seorang diri, meratapi nasibnya menikahi pria yang tak mencintainya.


Saat sudah berada di depan pintu, ternyata pintu tidak di kunci, Kadita pun masuk begitu saja dengan rasa heran.


Suasana rumahnya memang selalu sepi, dan gelap setiap Kadita pulang kerja. Ia menyalakan lampu, dan berjalan ke dapur mengambil sesuatu untuk bisa di makan dengan keadaan sedikit pusing.


Ia membuka lemari pendingin, dan mengambil beberapa makanan, lalu duduk dan memakannya di meja makan.


Saat tengah melahap yang kesekian kalinya, Garry menuruni tangga dengan piyama tidurnya lalu berjalan ke dapur.


Ia melihat ada Kadita disana, Garry langsung memasang wajah yang tidak enak di pandang.


Kadita memperlihatkan senyum palsunya.


"Kau sudah pulang? Ku kira kau masih bekerja," katanya sambil kembali mengunyah.


Garry hanya melewatinya begitu saja, tanpa berkata apa pun. Sudah biasa bagi Kadita melihatnya seperti itu, sudah tak aneh lagi ia di abaikan beribu kali.


Tiba-tiba, seorang wanita berambut pendek berjalan turun dari tangga dengan piyama yang sama persis dengan Garry. Ia berjalan melewati Kadita dengan tidak tahu malunya.


Kadita terbelalak, tubuhnya menegang, ia berusaha menghiraukan wanita yang sudah ia duga sebagai wanita penghiburnya Garry. Karena kejadian ini bukan satu kali atau dua kali, melainkan berkali-kali.


Kadita tersenyum ke arahnya, tapi wanita itu malah buang muka dengan tatapan meledek.


"Apa kalian lapar?" tanyanya. "Aku punya beberapa makanan dilemari pendinginku. Sebentar, akan aku ambilkan," katanya yang berusaha tegar sambil beranjak menuju lemari pendingin miliknya. Mereka memang satu atap, tapi Garry tidak ingin membagi alat rumah tangganya dengan Kadita. Jadi, terpaksa Kadita harus membeli alat rumah tangganya sendiri.


Saat Kadita sudah akan mengeluarkan beberapa makanan, Garry langsung menyergahnya dengan kerutan di dahi.


"Tidak perlu ! Simpan saja untukmu," ucapnya sambil memunggungi Kadita.


Tangan Kadita pun terhenti, lalu ia memasukan kembali makanan itu kedalam lemari pendingin.


"Sayang, aku lapar...," ucap manja wanita itu sambil menyentuh dada Garry.


Kadita langsung melihat ke sisi lain sambil menelan salivanya.


Garry menyentuh bahunya. "Benar kau lapar?" Wanita itu langsung mengangguk. "Ya sudah, aku akan membeli sesuatu dulu ke luar. Kau tunggu saja disini, ya." Perkataan Garry sangat lembut pada wanita itu.


Membuat telinga Kadita tak kuasa mendengarnya.


"Tidak ! Aku ingin makanan yang tadi istrimu keluarkan," kata wanita itu sambil menunjuk lemari pendingin Kadita. Garry menaikkan halis kirinya, karena tidak tahu yang mana.

__ADS_1


"Hmm, itu loh. Yang bungkusnya warna hijau dan kuning," rengeknya manja.


"Baik-baik. Aku akan membelikannya," kata Garry yang berusaha menenangkan wanitanya.


Kadita sudah tidak tahan dengan tingkah dua manusia yang tak tahu malu itu. Ia berniat kabur dari situasi yang membuatnya sakit.


"Rr... aku hanya ingin yang dimiliki istrimu itu." Wanita itu melipat kedua tangannya di atas perut, dengan memasang raut wajah marah.


Garry hanya menghela nafas panjang karena tingkah manjanya itu.


"Hey, berhenti," ucap Garry. Langkah kaki Kadita pun langsung terhenti. "Ambil yang dia mau. Berikan padanya, nanti akan aku ganti sepuluh kali lipat," ucapannya terdengar begitu sombong.


Kadita mengepalkan kedua tangannya, matanya mulai memerah menahan tangis. Ia menghela nafas penuh kebencian.


"Ambil saja semua yang ada di lemari pendinginku. Tidak perlu kau ganti, aku masih mampu untuk membelinya !" ucap Kadita tanpa menoleh, ia menahan amarahnya.


Kadita melanjutkan langkah kakinya menuju kamar miliknya dengan aura penuh kebencian.


Wanita itu langsung membuka lemari pendingin milik Kadita, dan mengambil beberapa makanan disana tanpa rasa malu sedikitpun.


Garry menatap tajam punggung Kadita yang sudah akan masuk ke kamarnya. Ia mengerutkan keningnya, karena perkataan Kadita tidak selembut biasanya. Kadita mulai berani berbicara seperti itu pada Garry, membuat Garry sangat kesal mendengarnya.


.


*********


.


Hanabi masuk ke rumah miliknya dan milik mantan suaminya itu.


Saat membuka pintu, lelaki berkulit hitam dengan penuh tato di lengan kirinya itu sedang menatap tajam ke arahnya.


"Dari mana saja kau? Apa kau bekerja menjadi wanita penghibur lagi?" tanyanya dengan nada suara meninggi.


Hanabi langsung membuang muka dengan senyum yang menungging.


"Mau apa kau kemari?" tanya Hanabi tanpa menatapnya.


Lelaki itu mengerutkan keningnya dan langsung berdiri dengan raut wajah menyeramkan.


Hanabi menoleh ke arahnya tanpa merasa takut. "Apa?" sorotan mata menantang dari Hanabi membuat lelaki berkulit hitam semakin emosi.


"Kau mau memukulku, menendangku atau mencekikku?" sambungnya.


Lelaki itu terdiam, dengan nafas yang terengah-engah menahan emosinya.

__ADS_1


"Kenapa diam? Apa kau sedang memikirkan cara untuk membunuhku?" tanyanya lagi. Hanabi langsung berjalan ke dapur dengan penuh emosi, ia mengambil pisau dari dapur dan menaruhnya di atas meja.


"Ayo, silahkan. Bunuh saja aku. Hidupku sudah tidak berarti lagi semenjak kau menggugat cerai aku di depan kedua orang tuaku !" ucapnya dengan penuh amarah.


Lelaki itu segera mengambil pisaunya dan melemparkannya keluar.


"Hanabi ! Apa kau masih tidak mengerti dengan keputusanku?" bentaknya. "Aku melepaskanmu dari jeratku, agar kau tidak tersakiti lagi karena ulahku," nada suaranya semakin meninggi.


Hanabi langsung menoleh dengan genangan air dimatanya. "Ya, sampai detik ini pun aku masih tidak mengerti dengan keputusan gilamu itu. Kenapa kau malah lempar tangan begitu saja. Kau tidak perlu mengusirku dari hidupmu, yang seharusnya kau usir itu adalah emosi besar dari dalam dirimu !" Hanabi menunjuk-nunjuk ke dada lelaki itu.


"Kenapa kau semakin lancang padaku?" Lelaki itu mengangkat tangannya, ia ingin sekali mencekik Hanabi yang sudah berani menunjuk dirinya. Tapi ia langsung terhenti, menahan rasa kesal yang sudah mengembara.


Hanabi membulatkan matanya.


"Kenapa berhenti? Ayo, cekik saja aku," Hanabi menggenggam tangan lelaki itu dan menaruhnya di lehernya. "Ayo ... aku sudah sangat terbiasa merintih kesakitan kekurangan nafas !"


Lelaki itu menggertakan giginya.


Plakk...


Akhirnya ia menampar pipi Hanabi, untuk membuatnya diam, karena semakin Hanabi banyak bicara, emosi lelaki itupun semakin melonjak.


Hanabi menyentuh pipinya, lumayan, terasa berdenyut.


"Semakin kau bertingkah kasar padaku, semakin aku tak mau melepaskanmu !" ucap Hanabi sambil berseringai.


"Dasar wanita gila !" Lelaki itu langsung mengambil jaketnya dan berjalan menuju pintu keluar. Tapi, Hanabi langung beranjak berdiri menghalanginya.


"Apa kau ingin mencari mangsa baru untuk melampiaskan setiap emosimu? Mana ada wanita yang lebih sabar dari aku, mana ada wanita yang akan menerima suami yang suka main tangan? Sekali kau pukul saja, wanita itu akan langsung pergi meninggalkanmu. Sedangkan aku... sudah beribu kali kau pukul, hingga luka itu sembuh dan kembali lagi membiru, tapi aku masih berdiri setia di belakangmu. Apa kau benar-benar tidak menghargai ketulusan cintaku ini !" Hanabi menitikan air matanya, ia sudah tidak bisa membendungnya lagi.


Lelaki itu mengerutkan keningnya, merasa tak tega saat melihat Hanabi menangis. Ia mengambil nafas dalam-dalam, lalu membuangnya begitu saja.


"Hanabi, aku tidak bisa menghilangkan emosi besar dari dalam diriku ini. Emosi itu sudah melekat mendarah daging, sangat susah di lepaskan," Lelaki itu menyentuh kedua bahu Hanabi. "Aku memang masih mencintaimu, hanya saja caraku mencintaimu sangatlah salah, maka dari itu aku melepaskanmu. Aku tidak bisa mengontrol emosiku, aku takut suatu hari nanti, aku tidak sengaja membunuhmu," ucap lirih lelaki itu sambil menyingkirkan Hanabi dari jalannya. Tapi, Hanabi langsung menarik tangannya.


"Tidak ! Jangan pergi lagi, aku mohoonnn. Jika kau pergi pun, itu sama saja, kau akan menyiksa hati dan perasaanku." Hanabi menangis terisak-isak. "Aku tidak apa-apa. Aku menerima kau yang seperti ini. Aku yakin suatu hari nanti emosimu akan mereda seiring berjalannya waktu. Kita akan melewatinya bersama-sama." Hanabi menggigit bibir bawahnya, ingin sekali ia menjerit menangis disana.


Lelaki berkulit hitampun merasa bimbang.


Ia menatap langit yang berbintang.


Keputusan apa yang harus ia ambil, karena ia pun masih sangat mencintai Hanabi.


Kembali padanya dan terus menyiksa fisik Hanabi karena emosi besarnya? Atau menghilang dari hidupnya, menyiksa hati dan perasaan Hanabi?


...

__ADS_1


Mau kemana? Klik dulu Jempol & Komentari ❤


__ADS_2