Air Mata Pengantin

Air Mata Pengantin
Aroma Tidak Sedap.


__ADS_3

.


Setelah mengajari Alucard bagaimana cara makan menggunakan tangan, Esme langsung membalikan tubuhnya dan berjalan, berniat kembali ke kantornya.


Tapi, lagi-lagi Alucard menghentikannya.


"Kesalahanmu masih belum ditebus lunas. Jangan berani-beraninya kamu kabur!" seru Alucard. "Duduk! Temani aku makan," sambungnya.


Esme memang merasa bersalah karena sudah menyepelekan pesan itu. Ia tak tahu konsekuensinya, ternyata sangat sulit lepas dari Alucard, bagaikan burung dalam sangkar.


Alucard melirik ke arah Roger yang masih santainya menyeruput minuman dingin. Ia tidak peka sama sekali atau tebal muka? Alucard saat ini hanya ingin berduaan dengan Esme.


Alucard pun memutar otak untuk menyingkirkan Roger.


"Hey, Roger! Apa kau tertarik pada Esmeralda?" celetuk Alucard.


"Uhuk... uhuk...." Roger yang mendengar pertanyaan itu langsung terkejut hingga tersedak minuman yang sedang diminumnya.


Esme dan Roger langsung menatap tajam ke arah Alucard.


"Apa tadi yang kau ucapkan?" Roger balik bertanya.


"Sudahlah, tidak usah berpura-pura tuli. Cepat katakan, apakah kau tertarik pada Esme?" tanyanya lagi.


Kenapa Presdir bodoh ini tiba-tiba menanyai hal memalukan seperti itu sih? Dasar gila! Mana mungkin Roger menyukaiku! (Batin Esme)


"Hah? Hahaha... ma-mana mungkin aku, aku menyukainya?" Roger tertawa gugup.


"Lalu, kenapa kau masih ada disini bersamanya? Makananmu juga sudah habis, apa lagi yang kau tunggu?" kata Alucard dengan tatapan curiga.


Roger langsung mati kutu dan bingung harus berbicara apa lagi. Ia beranjak sambil membenarkan posisi jasnya.


"Ehem...," Roger melonggarkan sedikit kerah dan dasinya. Ia tak berani menatap wajah Esme dan Alucard, karena sangat malu.


Roger segera berjalan ke luar dari kantin tersebut, perasaannya jadi dilema.


Duk...


Esme menendang kecil tulang kaki Alucard.


"Uh...," Alucard merintih kesakitan.


"Kenapa kau berbicara seperti itu padanya?" bisik Esme, ia tak ingin membuat keributan di kantin.


"Tidak tahu, ah. Aku sangat lapar, kau diam dan temani aku makan disini. Sebentar lagi ada rapat, kita harus menghadirinya!" kata Alucard. Alucard mulai memakan semur jengkol itu dengan lahap.


"Sedikit bau sih. Tapi, lumayan enak juga," gumam Alucard sambil terus mengunyah.


Hah? Rapat? Sudah memakan jengkol dia akan memimpin rapat? Buahahaa... sepertinya aku harus memakai masker penutup hidung. Pasti ruang rapat akan di penuhi aroma tidak sedap! (Batin Esme yang tertawa ria di dalam hatinya)


Setelah menghabisi satu porsi semur jengkol dan nasi hangat, Alucard menyeruput minuman dingin yang sudah di pesannya.


"Ayo, kita hadiri rapatnya. Masih tersisa tiga menit lagi sebelum terlambat." Alucard beranjak diiringin dengan Esme yang menutup hidungnya sambil tertawa kecil di belakangnya.


Mereka berjalan masuk kedalam lift.


Kemudian tidak lama, pintu lift terbuka.


"Ayolah, cepat sedikit. Kenapa lambat sekali?" kata Alucard.


Esme menahan nafasnya, sambil memaksakan tersenyum pada Alucard.


Huftt... untung saja di dalam lift sedang tidak ada orang. Bisa pingsan kalau ada yang mencium aroma jengkol yang keluar dari dalam mulut naganya itu. (Batin Esme)


Alucard dan Esme berjalan masuk ke ruang rapat. Terlihat Roger, Garry dan beberapa anggota rapat lainnya sudah duduk menanti mereka.


Mati kau Alucard!!!! (Esme mengutuknya sambil berusaha menahan tawa)


Alucard tersenyum pada semuanya, memperlihatkan image baiknya.


Yang lainpun menyambut hangat Direktur baru mereka. Mereka semua langsung bersalaman dengan Alucard.


"Basa-basinya nanti saja. Apakah sekarang bisa di mulai rapatnya?" ucap Alucard, ramah.

__ADS_1


Aroma tidak sedap mulai tercium sepintas di hidung para anggota rapat. Mereka semua saling bertatap muka, tapi tak berani bertanya bau apakah sebenarnya ini.


Esme dan Roger menutup mulutnya saat melihat raut wajah para petinggi, mereka menyembunyikan tawa di dalam tangannya.


Garry hanya terdiam. Ia tak tahu apa-apa.


Alucard sudah siaga, ia mulai memimpin rapat dengan tingkat kepercayaan diri yang cukup tinggi.


"Baiklah, kita mulai rapatnya. Disini saya akan meminta para manager divisi, khususnya manager pemasaran, manager produksi maupun manager keuangan untuk mengevaluasi hasil penjualan produk baru yang sudah kita luncurkan. Untuk manager pemasaran, Esmeralda. Bagaimana hasil pemasaran produk kita dalam satu bulan terakhir ini?" tanya Alucard.


Berapa kata sih, yang sudah ia ucapkan? Sangat panjang dan lebar. Hingga membuat para anggota rapat menutup hidungnya masing-masing, karena aroma tidak sedap itu semakin menusuk kedalam hidung mereka.


Esme menggigit bibir bawahnya, ia benar-benar sudah tak tahan ingin tertawa bebas.


Alucard mengernyitkan dahinya. Kenapa semua orang terdiam dan malah menutupi hidungnya?


"Direktur pemasaran, Esmeralda! Apakah perlu saya ulangi pertanyaannya?" ucap Alucard.


Anggota rapat saling terheran dan bertatap muka. Mereka di buat sangat resah. Ingin mempertanyakan asal muasal aroma tersebut tapi tidak jadi, karena merasa sungkan pada Alucard.


Sekretaris Kim segera mengendus-endus asal usul aroma tidak sedap itu. Kemudian, aroma tidak sedap itu terhenti di mulut atasannya sendiri.


"Presdir! Apa yang baru saja kau makan di kantin?" bisik Sekeretaris Kim, ia mulai curiga.


Alucard mengernyitkan dahinya. "Memangnya kenapa? Aku memakan satu porsi semur yang nikmat," katanya tidak tahu malu.


"Semur? Apakah semur jengkol?" bisik Sekretaris Kim lagi.


Alucard langsung mengangguk cepat.


What? Yang benar saja dia makan semur jengkol sebelum rapat? Bisa malu tujuh turunan nih, kalau tidak segera dihentikan! (Batin Sekretaris Kim mendumel)


Sekretaris Kim berjalan dan berdiri di hadapan para anggota rapat.


"Ehem... para hadirin, maaf sekali. Presdir mendadak tidak bisa berbicara. Jadi, rapatnya akan dilanjutkan besok siang di waktu yang sama!"


Alucard terbelalak. Apa maksud sekretarisnya itu. "H-hey, Kim! Apa yang kau -"


"Penjelasannya nanti saja, Presdir. Kita pergi ke tempat sepi dulu!" katanya sambil bersusah payah mendorong tubuh kekar Alucard.


"Loh, kok?"


"Hah, kenapa tiba-tiba sekali?"


"Iya, ya. Bukankah saat Presdir masuk, pita suaranya baik-baik saja?"


Perbincangan para anggota rapat.


Esme menutupi wajahnya dengan dokumen tebal yang tergeletak di atas meja. Ia tertawa terbahak-bahak disana.


Kenyang sekali mendengar Esme tertawa ria seperti itu, seperti hidup tanpa beban saja. Begitulah menurut Roger yang sedari tadi memperhatikan wajahnya.


******


Pukul 20:00 WIB


Alucard memakai masker yang menutupi mulutnya, raut wajahnya sangat menakutkan, karena begitu kesal pada Esme yang sudah membuatnya malu di hadapan para manager divisi saat rapat.


Alucard berdiri di samping pintu perusahaan, ia menunggu Esme ke luar. Sudah sangat gatal tangannya ingin segera memberi perhitungan pada Esme.


Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya Esme ke luar juga dari perusahaan.


Alucard segera menarik tangannya, lalu membawanya ke gang yang sepi.


Aksi Alucard yang tiba-tiba menarik tangannya itu membuat jantung Esme hampir copot. Ia benar-benar terkejut sekali.


"Hey, Alucard! Kenapa kau selalu berbuat seenakmu?" Esme bersuara tinggi sambil berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Alucard.


Alucard tak menghiraukannya. Ia mendorong tubuh Esme hingga punggungnya terhentak dinding, lalu mengurungnya dengan kedua tangan di sisi kanan dan kirinya.


"Esmeralda! Berani-beraninya kau membuatku malu di hadapan para manager divisi!" geram Alucard dengan sorotan mata yang tajam.


"Ah! Mm...." Esme terbelalak dan mulai gugup. Ia melupakan sifat dendam Alucard.

__ADS_1


Aduh... bagaimana ini? Seharusnya aku pulang lebih cepat tadi! (Batin Esme)


BRUKK...


Tiba-tiba tanpa di duga, seseorang menendang wajah Alucard dengan sangat keras hingga tubuhnya terguling ke aspal.


"A-Alucard!!!!" Esme terbelalak. Jantungnya berdetak kencang, ia sangat-sangat terkejut sekaligus cemas. Siapa orang yang berani menendangnya?


Bajing*n mana yang berani menendang wajahku !!!! (Batin Alucard)


Esme berjalan menghampiri Alucard, tapi tangannya langsung di tarik oleh orang itu.


Wajahnya ditutupi kain. Tidak tahu siapa, yang jelas orang itu adalah seorang pria.


"Esme!!" teriak Alucard sambil berusaha memulihkan penglihatannya.


Alucard tertatih-tatih, pandangannya semakin lama semakin tidak jelas, karena tendangan itu sangat keras hingga ujung halisnya berdarah dan membuat kepalanya pening.


Sekretaris Kim yang melihat dari kejauhan segera mendekat dan menahan orang itu yang sedang menarik Esme.


"Lepaskan! Atau aku telepon polisi sekarang juga!" ucap Sekretaris Kim dengan tubuh yang gemetar hebat.


Orang itu menyengkram kedua tangan Esme hingga Esme mengerang kesakitan. "Rrgh... uh," rintihnya.


Kemudian, orang itu berjalan mendekati Sekretaris Kim. Hawa seorang pembunuh terpancar jelas.


Sekretaris Kim semakin gemetar ketakutan.


"J-jangan mendekat! Atau aku akan -"


Bicara Sekretaris Kim terhenti saat melihat kepalan tangan orang itu terangkat tinggi.


Sekretaris Kim segera merangkul tubuhnya.


"Jangan pukul aku, Tuan! Aku masih memiliki orang tua dan adik yang harus di beri makan. Aku juga memelihara kucing garong di rumahku yang harus aku urus. Maafkan aku, maaf."


Orang itu menghempaskan tubuh Sekretaris Kim seperti menghempaskan debu.


Alucard mengedipkan matanya cepat, sambil berjalan mendekati orang yang sedang menyengkram tangan Esme itu. Ia berjalan bagaikan orang mabuk.


"Aku bilang, LEPASKAN TANGANNYA !!" teriak Alucard. Ia semakin menggila ketika melihat sepintas Esme yang sedang merintih menahan sakit.


Brakk.. Brukk..


Alucard memukul ke sembarang arah karena pandangannya belum juga kembali normal.


"Dasar bajing*an !! Beraninya pada perempuan!"


Pukulan yang Alucard layangkan tidak ada yang mengenai orang itu. Seharusnya ia memukul ke arah jam sepuluh, Alucard malah memukul ke arah jam dua.


Menghadapi orang ini sangatlah tidak mudah. Sepertinya orang ini memiliki kemampuan bela diri yang handal. Esme yang biasanya memberontakpun menjadi tidak berdaya saat menghadapi orang ini.


Orang itu semakin tidak sabaran ingin membawa kabur Esme. Ia takut para warga akan segera datang karena mendengar keributan ini. Ia segera menendang perut Alucard dengan sangat kencang. Hingga tubuhnya lagi-lagi terguling ke aspal.


"Uhuk... uhuk..." Mulut Alucard mengeluarkan darah.


Esme terbelalak.


"ALUCARD!" Kedua mata Esme memerah karena ia mengeluarkan seluruh nafasnya untuk meneriaki nama Alucard.


Tubuh Esme bergetar hebat. "Sudah, sudah... Jangan memukulnya lagi. Aku mohon jangan memukulnya lagi ! Bawa saja aku." Tanpa sadar Esme menitikan air matanya.


Wajah Esme sudah sangat pucat saat melihat Alucard mengeluarkan darah dari mulutnya, tatapan matanya kosong melompong. Orang itu segera membawa Esme masuk kedalam mobilnya.


Alucard tergeletak lemah sambil menyengkram perutnya yang terasa sakit menusuk. Cairan kental berwarna merah itu masih terus mengalir dari mulutnya dan menodai kemeja putihnya.


"Presdir!!! Presdir!!!" Sekretaris Kim sangat cemas, ia mengangkat tubuh Alucard, dan segera membawanya ke rumah sakit.


...


BERSAMBUNG !!!!!


Udah hari SENIN nih, ayo dong bantu VOTE. Biar pembacanya meningkat. Nanti aku adain visualnya loh... 🤧🤧🤧

__ADS_1


__ADS_2