Air Mata Pengantin

Air Mata Pengantin
Dering Ponsel


__ADS_3

.


Suasana menjadi sepi. Esme merasa bosan.


Ia beranjak dari sofa, berjalan menuju jendela yang terbuka, melihat ke bawah gedung.


Lalu lintas sedang macet parah di sana.


Cuaca siang ini begitu terik disertai angin yang berhembus kencang, hingga menyapu halus helaian rambut panjang Esme, membuatnya sedikit berantakan.


Kling... kling...


Tiba-tiba saja terdengar ponsel yang berdering. Ia langsung kembali menuju sofa, merogoh tasnya dan mengambil ponsel miliknya. Esme segera memeriksa ponselnya, melihat siapa yang mengiriminya pesan.


Setelah dilihat, ternyata tidak ada pesan ataupun panggilan telepon. Esme mengernyit heran, lalu ia mengabaikannya begitu saja, dengan kembali menuju jendela sambil menggenggam ponselnya.


Kling... kling...


Dering ponsel itu kembali terdengar. Esme menoleh, dengan tatapan melihat ke sekeliling ruangan. Ia menciutkan kedua matanya, menajamkan pendengarannya, sambil berjalan mengendap menuju sumber suara.


Suara itu berhenti tepat di meja kerja Leo. Esme terjeda sesaat, ia mengerutkan keningnya dengan tatapan penuh kecurigaan. Rasa ragu menghampirinya bersamaan dengan rasa penasaran yang begitu besar.


Kemudian, Esme meningkatkan kewaspadaannya karena takut Leo kembali dan memergoki aksinya. Ia pun mulai menggeledah seisi meja kerja Leo dengan sangat hati-hati.


Setelah menggeledah laci-laci kecil dan mengangkat beberapa dokumen yang menumpuk, Esme tak mendapatkan hasil yang ia mau. Jiwa ketidak puasannya meronta.


Ia menggigit jarinya, menatap heran ke arah meja kerja Leo sambil masih terus mencari.


Dering ponselnya tidak terdengar lagi, itu membuat Esme menempuh jalan buntu, dan menjadikannya sedikit frustasi.


Hmm, sudahlah...


Kemudian, ia berbalik mengarah ke sofa sambil mengerucutkan bibirnya, dengan perasaan tidak puas.


Saat akan berjalan menuju sofa, tiba-tiba dering ponselnya terdengar lagi.


Langkah kaki Esme terhenti, ia menajamkan kembali pendengarannya, dengan menciutkan kedua matanya.


Sebelum dering ponsel itu berhenti, Esme segera mengambil langkah, untuk mencarinya lagi.


Tapi, rasa kewaspadaannya sudah mulai melemah, karena waktu terus berjalan. Esme seperti diburu waktu. Bagaimana jika Leo sudah selesai membuatkan teh untuknya dan kembali kesini?


Jantungnya berdetak hebat.


Dikarenakan, rasa penasarannya lebih besar dari rasa takutnya. Lalu, Esme menepis pikiran pengecutnya itu. Tak pikir panjang lagi, Esme segera mencari ponsel itu. Menggeledah ulang seisi meja kerja Leo.


Kling... kling...


Saat membuka laci kecil kedua, Esme terhenti. Ia mendekatkan telinganya kesitu.


Benar, dering ponselnya terdengar sangat nyaring di dalam laci kecil kedua ini.


Tapi, di dalam laci itu kosong melompong. Tidak ada apapun, bahkan selembar kertaspun tidak ada.


Esme semakin penasaran, ia merogoh laci kecil itu dengan tangan kanannya. Menggeledah ke sisi kanan dan sisi kiri, tapi masih saja tak mendapatkan apa-apa disitu.


Kemudian, Esme membalikan telapak tangannya, ia meraba langit-langit laci itu, menggesernya ke kiri, ke kanan, ke atas dan ke bawah.


Tiba-tiba tangannya terhenti, ia merasa menyentuh sebuah benda.


Apa ini?


Esme berusaha menariknya dari langit-langit laci itu, tapi sangat susah.

__ADS_1


Kenapa begitu susah menariknya? Seperti ada yang melekat sangat kuat di balik benda ini. (Batin Esme)


Kling... kling...


Dering ponsel itu terdengar semakin jelas bersamaan dengan getaran di benda yang sedang Esme pegang itu.


"Benar! Benda ini ternyata adalah ponselnya," gumam Esme. Kemudian, Esme menariknya sekuat tenaga. Ia sudah tak mencemaskan jika Leo memergokinya lagi.


Ponsel itupun terlepas setelah Esme menariknya sangat kuat, hampir saja tubuhnya terbentur ke dinding.


Ternyata ponsel ini keluaran terbaru dari merk ternama, dan bukanlah milik Leo.


Jantungnya yang semakin berdebar kencang dengan nafas yang terengah-engah, Esme pun segera memeriksa ponsel itu.


Tujuh pesan dari Minimouse?


Esme mengernyitkan dahinya.


"Siapa itu Minimouse? Bukankah Minimouse adalah salah satu karakter dari komik Disney yang berupa tikus wanita?" gumamnya, dibuat bertanya-tanya karena nama kontaknya begitu unik.


Ponselnya tidak dikunci, jadi Esme bisa langsung memeriksa isi pesan itu.


Ah, tidak! Jangan gegabah. Jika aku menekan begitu saja kotak pesan ini, maka pesannya otomatis sudah terbaca. Leo bisa curiga, karena dia 'kan belum membaca pesan ini. (Esme menenangkan dirinya, agar otak cerdasnya mengalir)


"Ah, aku tahu!" Kedua matanya tiba-tiba berbinar.


Karena ponselnya sudah sangat canggih, ia menyapu layar atas ponsel itu. Dan semua isi dari pesan itupun telihat.


•Temui aku setelah pulang kerja.


•Aku akan memberitahukan hasilnya disini. Jangan coba-coba untuk kabur dariku!


•Kenapa kau tidak membalas pesanku, apa kau sedang sibuk?


"Temui?" gumam Esme, dengan tatapan sangat curiga.


Dada Esme tersayat, saat membaca pesan yang ke empat itu. Siapa sebenarnya Minimouse, sampai sebegitu perhatian pada lelakinya.


"Aku harus menyuruh Hanabi untuk membuntuti Leo sepulang kerja," gumamnya.


Esme langsung tersadar. "Ah, Hanabi! Aku kan ada janji dengannya siang ini !" Esme terbelalak sambil menepuk jidatnya.


Baru juga membaca empat pesan, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang semakin mendekat. Esme terhentak, kepanikan melanda.


Ia segera menempelkan kembali ponsel itu di langit-langit laci dan menutup laci itu perlahan. Kemudian, Esme mengatur nafasnya, menenangkan dirinya dan kembali menuju sofa.


Ceklek...


Pintu terbuka.


Terlihat Esme yang sedang duduk sangat anggun di sofa, sambil memainkan ponselnya.


Leo tersenyum ke arahnya tanpa rasa curiga. Ditangannya ia membawa nampan dengan secangkir teh hangat. Leo segera meletakan nampan itu di atas meja dengan tangan yang bergetar hebat, karena ketakutannya menjatuhkan cangkir teh yang sudah susah payah ia buat untuk Esme.


"Silahkan, Nyonya!" sindirnya.


Esme tak menanggapi Leo, ia hanya fokus pada ponselnya saja. Esme mengirim pesan pada Hanabi, meminta maaf karena membuatnya menunggu lama di kafe 86 yang telah ia janjikan padanya.


Leo merasa terabaikan, ia mengernyitkan dahinya dengan raut wajah sedikit marah.


"Hey, sebegitu asiknya kah isi didalam ponselmu itu? Hingga teganya kau mengabaikan aku yang sudah bersusah payah membuatkan teh untukmu dan membawanya dari lantai dasar ke lantai 11 ini. Apa kau tahu? Seluruh staf di kantor menatapku aneh, karena tak biasanya aku masuk ke dapur untuk membuatkan teh hangat," ucap Leo dengan kecepatan bicaranya sambil menyandarkan punggung di sandaran sofa.


Esme melirik ke arahnya. "Uh, maaf. Baiklah aku akan mencicipi teh buatanmu." Ia menyimpan ponselnya kedalam tas, dan segera menyeruput teh khusus buatan Leo.

__ADS_1


"Aahhh.... tehnya enak." Setelah menyeruput setengah dari secangkir penuh teh hangat itu, Esme segera beranjak dan merapikan pakaiannya.


Leo mendongakkan wajahnya, ia menatap ke arah Esme, karena Esme sudah bersiap.


"Mau kemana? Tehnya 'kan belum habis," katanya, menghentikan langkah kaki Esme.


Esme menghela nafas panjang. "Jam istirahat sudah hampir selesai. Sudah waktunya aku kembali ke kantorku," ucap Esme dengan raut wajah datar tanpa ekspresi. Membuat Leo bertanya-tanya.


Kemudian Esme membuka pintu, dan langkah kakinya terhenti lagi.


"Oh ya. Jangan menuangkan gula terlalu banyak, tehnya sangat manis. Bisa menimbulkan penyakit, " ucapnya tanpa menoleh. Esme segera keluar, meninggalkan Leo begitu saja.


Leo mengernyitkan dahinya.


"Ada apa dengan Esme? Mungkin benar apa yang Roger bilang. Esmeralda adalah wanita yang bisa memutar balikkan hati seseorang. Ah, bukan! Sepertinya lebih tepat, dia sangat cepat merubah emosi dirinya sendiri. Pada awalnya, dia datang dengan ruat wajah yang begitu lembut, tapi pulang dengan raut wajah dingin menyeramkan seperti itu. Aku tak habis pikir dengannya, sejak kapan Esme mempunyai sifat yang aneh seperti itu?" gumamnya sambil berpikir keras.


Setelah berjalan keluar dari ruang kerja Leo, Esme segera masuk ke dalam lift menuju lantai dasar.


Ia berogoh tasnya, mengambil ponsel miliknya dan menelepon Hanabi.


Pintu lift terbuka bersamaan dengan Hanabi yang mengangkat telepon dari Esme.


"Hallo, Hanabi? Aku sudah meminta maaf melalui pesan, jadi aku tidak akan meminta maaf lagi melalui telepon. Aku mempunyai tugas untukmu -"


Bruk...


Tak sengaja Esme menabrak seseorang.


"Ah, maaf. Aku tidak melihat jalan," ucap Esme tanpa melihat siapa yang ia tabrak itu. Esme hanya berjalan lurus ke depan.


"Halooo... Esme!" panggil Hanabi dari balik telepon.


Esme menempelkan kembali ponselnya, sambil berjalan tergesa-gesa karena waktu istirahatnya hampir habis.


"Ya, aku disini. Tadi, aku tak sengaja menabrak seseorang. Oh ya, Hanabi aku ingin kau mengikutinya saat dia pulang kerja. Kau harus sudah berada di perusahaan Mord jam 7 malam. Perintah selanjutnya, akan aku hubungi kau lagi," kata Esme yang sudah berada diluar perusahaan Mord.


Pria berdarah dingin yang Esme tabrak, ternyata masih terus memandanginya hingga Esme sudah tak terlihat lagi keberadaannya.


"Tuan Muda, apa kau baik-baik saja? Apa perlu aku urus wanita ceroboh yang sudah menabrakmu itu?" tanya salah satu pengawalnya.


Pria dingin itu langsung manaikan tangannya, menyiratkan agar para pengawalnya itu tak perlu mengurus wanita yang sudah membuat perhatiannya teralihkan itu.


Melihat isyarat dari tangan tuannya, para pengawal itu langsung patuh, mereka terdiam menunduk.


Tiba-tiba, salah satu pengawal yang lain menghampirinya, sambil menyodorkan sebuah ponsel padanya.


"Maaf mengganggu, Tn.Aganor dan Ny.Bae ingin berbicara dengan anda, Tuan muda," katanya sangat hormat.


Pria itu langsung menoleh, dan mengambil ponsel itu, lalu menempatkanya di telinga kananya.


"Mm... ada apa?" ucapnya dingin, tanpa ekspresi.


"Apa, apa. Hey, Alucard! Kau ini sudah tidak pulang beberapa bulan. Apa kau sudah tidak menganggap ayah dan ibumu lagi, yang sudah susah payah membesarkanmu? Semakin dewasa, semakin jarang kau mengunjungi orang tuamu. Dasar anak nakal! Jarak Korea - Indonesia memang lumayan jauh. Tapi, apa kau tidak bisa naik pesawat! Apa kau tahu, ibumu selalu mengkhawatirkan keadaanmu. Pokoknya, ayah tidak mau tahu lagi. Minggu ini, kau harus pulang kesini, dan jangan lagi beralasan! Oh ya, jangan lupa belikan oleh-oleh untuk ibu dan adik-adikmu," ucap Tuan Djordi Aganor dengan kecepatan bicaranya.


Pria itu menghela nafas panjang. "Ya, baiklah aku akan pulang minggu ini. Sampaikan salam rinduku pada ibu." Ia langsung menutup panggilan itu begitu saja.


Dasar, kakek tua yang menyebalkan!!!Kupingku sangat sakit karena mendengar ocehannya. (Batinnya, mendumel pada ayahnya)


....


BERSAMBUNG !!!


Oya, author lupa kasih tau. Novel ini lanjutan dari novel Surrounded Several Boys, ya.

__ADS_1


Ayo dukungannya. Like, Komen & Vote 💕


__ADS_2