Air Mata Pengantin

Air Mata Pengantin
Gertakan Alucard


__ADS_3

.


Brak...


Alucard melemparkan gelas kaca ke tembok dinding. Rahangnya mengeras, jiwanya sangat panas. Ingin sekali mencabik-cabik wanita keji di depannya itu.


"Mo-mohon ampun, Tuan. S-saya berkata jujur, Nona Ara yang menyuruh saya menulis berita seperti itu," ucap si jurnalis dengan lutut yang bergetar.


"Tangan dibawah tidak sanggup melawan tangan di atas. Sudah sering menerima, pasti akan sungkan menulis kritis. Jika ingin menjadi seorang jurnalis yang baik, tolak penyuapan! Jika tidak kuat dengan godaan uang, ketimbang melacurkan diri, lebih baik berhenti jadi jurnalis, cari pekerjaan lain sesuai keahlianmu yang mengulurkan tangan dengan telapak tangan terbuka. Tidak kasihankah dengan jurnalis yang independen dan idealis, disangka sama dengan jurnalis pemisif amplop sepertimu!" ucap Alucard tajam.


Deg...


Jiwa si jurnalis langsung meremuk hancur tertampar oleh ucapan Alucard. Terlihat sangat ketakutan dan gelisah.


"Maaf, Tuan. Saya mengaku bersalah, sebelumnya saya tidak tahu siapa yang saya lawan ini. Saya berjanji, tidak akan mengulanginya lagi." Si jurnalis mengusap keringat di dahinya.


"Tidak perduli dengan status tinggi atau rendah, sebagai jurnalis yang baik, seharusnya kau menulis berita sesuai dengan fakta. Berita yang kau tulis mengenai istriku, merupakan sebuah kebohongan besar. Aku akan menuntutmu karena penyuapan dan pencemaran nama baik!" gertak Alucard.


Kedua mata si jurnalis terbelalak besar. Matanya berkaca-kaca, ia langsung melompat dan memeluk kaki Alucard.


"Tidak, Tuan. Jangan laporkan saya ke polisi. Saya tidak mau di penjara. Saya mempunyai seorang anak yang masih sekolah dan seorang istri yang sedang mengandung. Saya mohon, Tuan. Maafkan perbuatan saya." Jurnalis ini terus merengek.


"Kau pikir perasaanku akan melunak? Heh... sekarang kau sudah tahu siapa yang kau lawan. Berani mengusik wanitaku, berarti kau cari mati," bisik Alucard. "KIM! Seret dia keluar, dan urus masalah ini ke jalur hukum!"


"Baik, Tuan!"


Sekretaris Kim menyeret tangannya, tapi si jurnalis tetap bersikekeh. "Jangan, Tuan. Saya tidak mau. Kasihanilah sayaaa. Huaaaa... hiksss, hikss. NONA ARA, TOLONG SAYA!!"

__ADS_1


Ara yang sedang duduk menunduk hanya terdiam membisu.


Brak...


Pintu tertutup.


Alucard berjalan mendekati Ara. Langkah kaki Alucard yang terdengar semakin mendekat, membuat bulu kuduk Ara merinding.


"Ara, aku akan berbicara padamu sebagai Kakak pada adiknya. Apa kau tahu, kenapa berita tentang kau dan Leo di Club saat itu tidak ada di berita?" tanya Alucard dengan hawa yang menakutkan.


Ara menggelengkan kepalanya sambil memainkan jari jemari tangannya karena gugup.


"Aku menyuruh Claude untuk mengejar si wartawan yang sudah mengambil fotomu saat telanjang di atas ranjang dengan Leo. Lalu, aku menyuruh Claude untuk menghancurkan kameranya. Apa kau tahu, kenapa aku melakukan itu padamu?" tanya Alucard lagi.


Ara menggelengkan kepalanya.


Jadi... Kak Alucard yang membantuku menghancurkan foto-foto aku dan Leo dari wartawan? (Batin Ara)


"Ara, sepertinya aku terlalu baik hati padamu, dan sekarang aku benar-benar sangat menyesalinya. Kau dikasih hati malah minta jantung." Alucard berdiri tegak membelakangi Ara. "Aku sudah berusaha menghancurkan bukti foto-fotomu dan tidak membiarkan beritamu tersebar, tapi kenapa dengan teganya kau malah membuka masa lalu Esme, membiarkannya menjadi konsumsi publik, apalagi sampai melebih-lebihkan fakta yang ada. Menghasut banyak orang untuk membencinya? Apa kau ini benar-benar manusia?" gertak Alucard.


"Emm, a-a-aku... -"


"Ara, aku tidak menunjukkan kekerasanku padamu, karena kau adalah keponakanku. Anak paman Chan. Di keluarga Aganor tidak ada yang tidak bermoral, semuanya memiliki moral, berbudi luhur, dan berkelakuan baik, kita juga sangat menjunjung tinggi martabat seorang wanita! Tapi, kau? Ada apa dengan otakmu? Dari semua keluarga Aganor, hanya kau saja yang tidak waras!" Amarah Alucard semakin bergejolak.


"Aku... aku hanya tidak suka padanya," ucapnya gugup.


"Tidak menyukai seseorang apa harus sampai melakukan trik jahat seperti ini? Apa kau sadar, semua yang telah kau lakukan merupakan tindak kejahatan! Aku sebagai suaminya bisa saja menuntutmu ke polisi!"

__ADS_1


Kedua mata Ara terbelalak. "Tidak!" ucapnya dengan nada bicara tinggi. "Kak... aku melakukan semua ini karena aku menyukaimu. Aku mempunyai rasa cinta padamu dari saat kita masih kecil. Rasa cinta yang sudah mendarah daging ini membuatku buta. Kakak jangan terus menyalahkan aku, aku hanya sedang mempertahankan sesuatu yang harus aku perjuangkan!" bantahnya.


Alucard melirik tajam ke arah Ara. "Itu berarti... perjuangan yang kau lakukan selama beberapa tahun, hanya membuang-buang waktu saja! Aku tegaskan padamu, aku tidak pernah mempunyai rasa khusus terhadapmu Ara. Kepedulianku padamu di masa lalu hanyalah kepedulian sebagai Kakak pada adiknya. Kau dan aku merupakan bagian dari keluarga Aganor, kita tidak akan mungkin bisa bersama. Seharusnya, sebelum kau menyukaiku, lihat dulu setatus kita. Dan, lagi... jika dibandingkan kau dan Esme, tentu saja Esme adalah yang terbaik dimataku!"


Air mata Ara mengalir deras. "Cukup! Aku tidak ingin mendengarnya lagi. Aku sudah sangat sakit ketika Kakak menikah dengan wanita itu, jangan membuatku lebih sakit lagi dengan ungkapan perasaanmu yang sebenarnya. Aku tahu Kakak tidak memiliki rasa khusus padaku, tapi tidak bisakah kau berbohong sedikit, jangan berkata lagi bahwa kau tidak menyukai aku!"


"Aku mengatakan itu agar kau sadar dan tahu diri." Alucard menujuk-nunjuk Ara.


"Apakah jatuh cinta sebuah kesalahan? Hikss, hikss...." Air mata Ara mengalir deras.


Alucard menghela nafas panjang, sambil memijat keningnya.


"Ara, jangan menghabiskan waktu demi seseorang yang tidak mencintaimu. Kau terlahir dari keluarga terhormat, bersikaplah dengan sebaik-baiknya. Jangan mempermalukan nama keluarga!" Alucard berjalan mengambil coatnya, lalu menarik tangan Ara. "Sekarang, ikut aku!"


"Kakak mau bawa aku kemana? Apa kau mau membawaku ke Korea, membicarakan masalah ini dengan ayah, ibu dan kakek?" Ara berjalan cepat mengikuti langkah kaki Alucard dengan rasa ketakutan.


"Ya! Tapi, sebelum itu... kau harus meminta maaf pada Esme. Biarkan Esme memberimu sedikit pelajaran!" Alucard membuka pintu mobil. "MASUK!!"


"Aw!!... Bisakah Kakak bersikap lebih lembut sedikit?" teriak Ara.


"Sayangnya tidak bisa, karena perlakuan lembutku hanya aku tunjukan pada Esme seorang!" Alucard mendorong tubuh Ara agar masuk ke dalam mobil.


"Argghhh... CUKUP!! Aku tidak ingin mendengar Kakak menyebut nama wanita itu lagi di hadapanku!" teriaknya semakin kencang. Wajah Ara saat ini sangat merah menahan amarah dan menahan rasa kesal.


...


BERSAMBUNG !!!

__ADS_1


Jangan lupa LIKE, KOMEN & VOTE ❤


__ADS_2