Air Mata Pengantin

Air Mata Pengantin
Pengantin Baru


__ADS_3

.


Setelah sampai di depan gedung apartemen, Alucard membuka pintu mobil bagian Esme, mempersilahkan Esme keluar. Mereka pun berjalan masuk menuju apartemennya.


"Ayo, masuk. Takut ada seseorang yang mengintip," kata Alucard sambil tersenyum genit.


Ceklek...


Pintu tertutup.


Leo yang mengintip dari jauh, merasa geram melihatnya. Rahangnya mengeras, tangannya dikepalkan.


"Esme, kau dan dia... bagaimana mungkin? Kau kan hanya menyukaiku seorang? Kita tumbuh bersama, kita telah berbagi suka maupun duka selama ini. Aku tidak percaya, kau menikah begitu saja dengan pria yang baru kau kenal," gumam Leo, sambil berpikir yang aneh-aneh.


Sepertinya, si Alucard itu memaksa Esme untuk menikah dengannya. Tidak bisa dibiarkan! Esme hanya milikku seorang, dia masih mencintaiku. Aku yakin itu! (Batin Leo terus mendumel)


....


Saat memasuki apartemen, kedua mata Esme terbelalak. Pasalnya sepanjang lantai penuh dengan taburan bunga mawar yang berwarna merah, bukan hanya itu saja. Di atas ranjang pun ada taburan bunga mawar berbentuk love.


"Al, i-ini...?"


"Abaikan saja kalau kau tidak suka. Ini pasti kerjaan ibuku," kata Alucard sambil berusaha menyingkirkan kelopak bunga mawar yang berhamburan di lantai.


"Tidak, tidak!" Esme menahan tangan Alucard. "Jangan dibuang begitu saja, ibumu 'kan berniat baik. Kita hargai dong. Aku tidak terlalu mempermasalahkan ini. Aku menyukainya, ini terasa sangat manis," ucap Esme sambil tersenyum lebar.


"Ya sudah. Perhatikan saja kelopak bunga itu sampai layu. Aku mau mandi dulu," tutur Alucard.


"Ah! Tunggu, tunggu...," Esme berlari dan berdiri mengalangi langkah kakinya.


"Apa?"


"Kamar mandinya, aku dulu yang pakai. Aku sudah sangat gatal dan tidak nyaman," kata Esme sambil berjalan masuk.


Alucard membatu.


Dia sama sekali tidak merasa sungkan, ya. Mm... jadi begitu, baiklah. Akupun tidak akan sungkan-sungkan lagi. (Batin Alucard)


Setelah menunggu sekian lama, akhirnya Esme ke luar juga dari kamar mandi, dengan rambut basah yang dililit handuk. Tubuhnya pun tertutup handuk kimono berwarna putih.


Ia berjalan menghadap cermin. Dimana Alucard?


Esme berjalan mengendap-endap masuk ke dalam kamar mencari keberadaan Alucard, karena ia sudah menyiapkan air mandi untuknya.


Langkah kakinya terhenti di ambang pintu, matanya terbelalak. Ternyata Alucard sedang tertidur di atas ranjang, lelaki itu tidak memakai baju.


Aduhh... bagaimana ini? Air untuknya mandi 'kan sudah terlanjur aku siapkan. (Batin Esme)


"Ah, tidak apa-apa. Ini kan Alucard. Dia tidak mungkin macam-macam padaku," gumam Esme yang sepertinya sudah sangat mengenal Alucard.


Esme memberanikan diri berjalan menghampiri Alucard. Langkah kakinya terhenti di samping ranjang.


Kemudian, ia menggoyang-goyangkan bahu Alucard.


"Al, baguunnn! Bukannya kau mau mandi?" ucap Esme sambil berhati-hati membangunkannya.


Bisa-bisanya lelaki ini tertidur dengan tubuh yang kotor, apa sebegitu melelahkannya acara pernikahan tadi? (Batin Esme)


Alucard tak kunjung bangun.


"Aiss, tidurnya seperti kebo saja," gumam Esme. Esme kembali menggoyangkan bahu Alucard. "Hey, aku sudah menyiapkan air mandinya... cepat mandi dulu, nanti dilanjut tidur lagi. Ini badanmu sangat lengket, tahu!"


Tiba-tiba tanpa di duga, Alucard membalikkan tubuhnya, tangan Esme terseret dah tertindih oleh tubuh Alucard. Tubuh Esme terjatuh di atas tubuh Alucard. Pandangan mereka beradu.


Deg... deg... deg...


Masih bertatapan....


Deg... deg... deg...


Masih bertatapan....


"Aaaaa!!!!!" Alucard menjerit. "Sedang apa kau disini? Kau mau merusak kesucianku, ya?" kata Alucard dengan mata yang membulat.


"Dasar laknat! Siapa yang merusak kesucian siapa?" Esme menggeram.


"Kau!!! Kalau tidak, kenapa kau berada di atas tubuhku?" katanya.


"Ck! Lihat nih, tanganku tertindih oleh tubuhmu. Cepat menyingkir! Ini sakit, tahu," decak Esme.


Ahaaa... aku punya ide, aku tidak akan membiarkan kesempatan ini lolos begitu saja. (Batin Alucard yang mulai memainkan trik cintanya)


"Uh... uh, Esme... u-uh," rintihan Alucard. Ia tiba-tiba memegang dadanya. Nafasnya sangat berat.


Sontak Esme terkejut. "A-ada apa? Kenapa deganmu?" tanya Esme panik.


"Uh, Esme! Dada... dadaku terasa sesak," rintihnya.

__ADS_1


Esme semakin panik dan cemas. Ia segera mengangkat tubuh Alucard untuk duduk.


"Kenapa tiba-tiba seperti ini? Apa kau punya penyakit asma?" tanya Esme panik yang masih berusaha membangunkan tubuh Alucard.


"Tunggu! Jangan-jangan... kau! Kau terserang penyakit corona? Iya 'kan?" Esme menjauhkan tubuhnya dari Alucard.


Apa! Corona? (Batin Alucard terheran-heran)


Alucard langsung menarik tangan Esme, hingga tubuh Esme mendarat lagi di atas dada bidangnya. "Corona apa yang kau maksud? Aku ini sedang sesak nafas, tahu!!"


"I-itu buktinya kau sesak nafas?" kata Esme dengan polosnya.


"Aku sesak nafas karena separuh nafasku ternyata ada di kamu," Alucard mengigit bibir bawahnya, ingin sekali tertawa geli mendengar ucapannya sendiri.


Blush...


Kedua pipi Esme memerah.


Apa!... jadi dia cuma bercanda? Dia hanya sedang menggombaliku? Benar-benar keterlaluan! (Batin Esme)


Esme langsung berwajah datar.


"Kau ini, ya!!! Aku kira kau benar-benar sakit parah!" Esme beranjak dan mendorong tubuh Alucard, hingga tubuhnya terhempas jatuh ke atas ranjang.


Alucard tersenyum lebar.


"Sudah! Cepat mandi. Aku sudah menyiapkan air mandinya," kata Esme sambil memalingkan wajahnya.


Tiba-tiba Esme termenung, ia memainkan jari jemari tangannya.


"Mmm... Al?" panggilnya ragu-ragu.


Alucard beranjak. "Apa?" ucapnya sambil berjalan mengambil handuk.


Esme melirik kesana kemari, ia sangat gugup. "Aku... aku belum bisa melakukannya sekarang, maaf!" ucapnya lirih.


Alucard tersenyum genit.


"Melakukan apa?" Ia sengaja bertanya, untuk mendorong Esme agar mengatakannya dengan jelas.


"I-itu loh. Mm...." Kedua pipi Esme memerah. Ia meremas handuk kimononya karena sangat gugup mengatakannya.


"Apa??" Alucard semakin jahil.


"Itu... mm, yang seharusnya dilakukan orang setelah menikah." Esme menelan salivanya.


"Yang dilakukan orang setelah menikah? Apa? Memangnya orang setelah menikah harus melakukan apa?" Alucard berjalan mendekat menghampiri Esme. Jarak wajah mereka sangat dekat.


Deg....


Deg....


Deg....


"Sudah ah, tidak usah dibahas! Aku tahu kau sengaja 'kan? Cepat pergi mandi!!!!" Esme mendorong-dorong tubuh Alucard menuju kamar mandi.


Alucard tertawa lebar tanpa suara.


Iiiiiiii dasar gilaa... dia benar-benar membuat jantungku hampir copot. Otakku jadi eror, gara-gara membahas hal itu!! (Batin Esme mendumel sambil menggigit handuknya)


Pintu kamar mandi tertutup.


Ini sudah sore.


Esme segera memilih baju santai yang ada di dalam tas, ia belum membenahi bajunya kedalam lemari.


Sore ini, Esme berniat pergi ke Supermarket untuk membeli minuman dan beberapa camilan untuk menemani malamnya.


Esme, jangan gugup. Terus berpikir positif! Kau harus bisa menjadi orang normal lagi!! (Batin Esme, menyemangati dirinya sendiri)


Saat sudah siap, dan akan melangkah keluar dari apartemen, Alucard dengan tubuh yang masih basah kuyup keluar dari kamar mandi. Handuk kecilnya hanya melilit di bagian bawah tubuhnya saja.


"Hey, mau kemana?" tanya Alucard penasaran.


Langkah kaki Esme terhenti. Ia menoleh.


Ups, perut sixpack dan dada bidang Alucard membuat jantungnya berdetak tak karuan.


Esme langsung memalingkan wajahnya ke arah lain. "Aku mau ke Supermarket!" katanya, sambil melanjutkan langkah kakinya.


"Tunggu! Tunggu! Jangan bergerak!" teriaknya.


Langkah kaki Esme terhenti lagi.


"Apa? Kau mau nitip sesuatu?" tanyanya.


Alucard membuka lemari pakaiannya. Ia segera memakai baju kaos.

__ADS_1


"Kita ke Supermarket berdua. Aku akan mengantarmu," kata Alucard.


Hmm... baiklah. Aku bersama dengannya itu tidak buruk. Dia bisa menjagaku. (Batin Esme)


Esme berjalan duduk di atas sofa, ia memberikan waktu untuk Alucard memakai baju.


"Ayo. Kita berangkat!!!" seru Alucard penuh percaya diri. "Eh, iya. Kita ke Supermarket dengan motor baru, ya?"


"Motor? Kau membeli motor? Sejak kapan?" tanya Esme penasaran.


"Bukan aku yang membelinya. Motor ini hadiah dari kak Sean, kak Kai dan kak Chan. Katanya, motornya sudah terparkir di bawah. Ayo, brangkat...," ucap Alucard sambil menyodorkan lengannya. "Kaitkan tanganmu."


"Apa? ... Ah! Tidak perlu, kita jalan masing-masing saja," Esme merasa gugup.


"Sudah sini," Alucard mengaitkan sendiri tangan Esme. "Kau tidak boleh takut padaku, aku ini 'kan suamimu. Kita harus membiasakan sentuhan-sentuhan kecil seperti ini. Aku sudah berjanji pada ayahmu untuk membuatmu sembuh," ucap Alucard.


Perkataan Alucard membuat perasaan Esme tersentuh. Lembut dan terasa menyejukan.


Mereka mulai berjalan menuju lantai dasar, lalu mencari motor hadiah itu.


"Ini dia...,"


Esme terbelalak. "I-ini... ini motornya?"


Pantas saja 3 sepupunya hanya memberikan 1 hadiah. Karena motor ini sepertinya tidak akan sanggup jika membelinya seorang diri. Betul-betul motor ter-WAH yang belum pernah aku lihat seumur hidup. (Batin Esme)


Motor ini adalah motor dengan bentuk yang luar biasa keren. Memiliki nilai futuristik yang tersaji sempurna. Hampir semua sisinya dibuat dengan ketelitian tingkat tinggi, termasuk bagian yang sangat kecil sekalipun.


Para kreatornya adalah orang-orang yang ahli dibidangnya selama bertahun-tahun. Untuk warnanya, motor ini mengadaptasi metalik, sehingga membuatnya terlihat garang dan eksotis. Harga motor ini cukup fantastis, sesuai dengan tampilan motornya, yaitu 7,8 milyar. WAW!!!


"Sudah lihat-lihatnya. Ayo kita pergi, sebelum kesorean." Ucapan Alucard membuyarkan imajinasi Esme.


Alucard memasangkan helm di kepala Esme. Kemudian, dengan gagahnya ia menaiki motor itu. "Hati-hati naiknya," ucapnya penuh perhatian.


Esme menuruti semua perkataan Alucard.


Ia duduk di belakangnya.


"Pegangan yang erat. Kalau tidak, motor ini akan mengamuk dengan sendirinya," perkataannya penuh dengan maksud.


Cih, mana ada motor bisa ngamuk dengan sendirinya. Ini pasti cuma akal-akalannya saja! (Batin Esme)


Esme sedikit ragu melingkarkan kedua tangannya di perut Alucard. Tapi, perlahan ia mulai merasa nyaman.


Alucard tertawa bahagia di dalam helm nya.


Brum... brum...


Alucard mulai mengendarai motor barunya.


Semua mata tertuju pada motor yang menyilaukan itu.


"Waw! Lihat, lihat!!! Motor yang hanya ada 3 unit di dunia!!"


"Oh my god! Aku tidak percaya, bisa melihatnya langsung."


"Orang kaya mana yang mengendarainya? Hebat sekali! Benar-benar keren."


Ucap para pejalan kaki.


....


Ditengah perjalanan.


Suasana hati Esme sangat senang sekali. Ia merasa dirinya sudah terbebas dari kesakitan masalalunya. Cahaya besar seperti sedang menuntunnya masuk menuju kebahagiaan.


"ESME!" panggil Alucard yang sedang menggendarai motor.


"Apa?"


"Ztsuhsgsjvlpsnj," ucap Alucard.


Esme mengernyitkan keningnya. Ucapan Alucard tidak bisa di dengar dengan jelas, karena suara angin yang besar masuk kedalam telinga menutupi pendengarannya.


"Kau bilang apa tadi?" tanya Esme.


"Bzkgjskzhbgsbtyzz," ucap Alucard lagi.


"Oh, iya!" celetuk Esme.


Sebenarnya dia bilang apa sih? Yang terdengar cuma gublug gublug anginnya doang. Dasar kampret!! (Batin Esme)


....


BERSAMBUNG !!!!


Hayoo... siapa yang senyum-senyum bacanya? LIKE, KOMEN & VOTE dong.

__ADS_1


Biar aku semangat up.


__ADS_2