Air Mata Pengantin

Air Mata Pengantin
Ruang ICU


__ADS_3

.


Setelah keluar dari apartemen Alucard, Esme kembali ke rumah sakit diantar olehnya. Ia ingin melihat keadaan ayahnya di ruang ICU.


"Al, aku turun disini saja," kata Esme sambil menyentuh tangan Alucard, berniat menghentikannya.


Alucard terbelalak, dan malah berbalik memegang tangan Esme. "Kenapa lagi ini?" Ia melihat tangan kanan Esme yang di balut perban itu penuh darah. "Apa yang terjadi? Bukankah lukamu sudah di obati?"


"Uh...," Esme merintih, saking banyaknya memikul beban, ia melupakan jahitan yang sempat robek lagi karena di injak oleh Lolyta.


Esme menarik tangannya, melepaskan genggaman tangan Alucard. "Mm... mungkin tidak sengaja jahitannya robek lagi," katanya berusaha menutupi yang sebenarnya.


Alucard segera memarkirkan mobilnya, lalu berjalan membuka pintu mobil bagian Esme, ia segera menarik Esme ke luar tanpa berucap apa pun, dan membawanya masuk ke dalam rumah sakit.


"Hey, aku bisa mengatasinya sendiri. Jangan seperti ini, tidak enak dilihat orang!" bisik Esme yang sedang mengikuti langkah kaki Alucard.


Alucard tak menghiraukannya, ia menghentikan perawat yang sedang berjalan di hadapannya. "Dimana dokter? Cepat obati tangannya sekarang juga!"


Si perawat sedikit terkejut saat melihat balutan perban penuh darah. Ia segera membawa Esme ke ruang operasi untuk di jahit lagi.


Alucard masih saja mengikuti mereka sampai masuk ke dalam ruangan.


"Kenapa kau ikut ke dalam? Perhatian sekali...," Esme menciutkan kedua matanya. "Jangan-jangan... kau -"


"Jangan-jangan apa? Asal kau tahu, ya... aku ini adalah atasan yang paling sempurna. Bukan hanya tampan dan kaya, aku juga sangat baik hati. Jika ada pegawaiku yang terluka, maka aku akan langsung menolongnya...," bantahnya.


Ya ampuunnn... ingin sekali aku comot bibirnya itu !!! (Batin Esme)


"Dok, bisakah kau usir pria ini keluar? Aku rasa dia kabur dari rumah sakit jiwa!" celetuk Esme sambil memutar bola matanya ke arah lain.


Apa!!


Dokter dan perawat sedikit terkejut dan tak menyangka, mereka langsung mengeluarkan Alucard dengan paksaan.


"H-hey! Kau... berani-beraninya kau bilang aku pasien rumah sakit jiwa!" Alucard mengepalkan tangannya dengan tatapan mata yang menakutkan. Ia ingin masuk lagi memberikan pelajaran untuk Esme, tapi kedua perawat itu mendorong kasar tubuhnya dan langsung menutup pintu.


"Arrgghh!!! Awas saja kau, Esmeralda!" teriaknya.


.


*******


Tn.Harits masih terbujur kaku di atas bangsal, dengan beberapa selang yang menempel di tubuhnya. Aroma rumah sakit tercium sangat pekat sekali. Ny.Hilda mengelus-elus tangan suaminya, rasa tidak tega menyelimuti jiwanya.


"Harits... aku sangat kecewa padamu. Kau lebih memprioritaskan anak wanita itu dari pada Lolyta, kedua matamu menyiratkan betapa kau sangat menyayanginya. Apakah sampai saat ini kau masih tidak bisa melupakan wanita itu?" gumam Ny.Hilda sambil menatapnya hampa.

__ADS_1


Lolyta masuk menghampiri ibu dan ayahnya dengan pakaian steril. Ia menatap wajah Ny.Hilda yang sedang tertunduk sedih.


"Ibu...," panggilnya lirih, sambil mengelus lembut kedua bahu Ny.Hilda. "Ibu belum makan dari siang. Ayah akan sedih jika melihat ibu seperti ini," bujuknya. "Ayo kita cari makan ke luar!"


Ny.Hilda memaksakan tersenyum. "Apa kau lapar, sayang?" Lolyta langsung mengangguk cepat.


Ny.Hilda beranjak mengambil tas, lalu merogohnya dan membuka isi dompet.


Ia terjeda sesaat sambil menatap hampa isi dompetnya.


Uangku tersisa 550 ribu. Bagaimana dengan biaya sekolah Loly dan keseharianku? Balmond tidak bisa di andalkan! Dan, Ini sudah mendekati awal bulan, aku juga harus membayar gaji bi Inah dan pak Lampir. Belum lagi, biaya rumah sakit suamiku... Huh, aku benar-benar sangat pusing! Pokoknya, aku harus segera menemui Leo !! (Batin Ny.Hilda)


Pluk..


Lolyta menepuk pundaknya. "Ibu, ada apa?" tanyanya, penasaran.


"Ah, tidak... tidak ada apa-apa." Ny.Hilda mengambil uang 50 ribu dan segera menyimpan kembali dompetnya ke dalam tas.


"Nih, kamu minta antar Balmon saja untuk mencari nasi bungkus." Ny.Hilda memberikan uang 50 ribu itu pada Lolyta.


Lolyta mengernyitkan dahinya. "Bu, uang segini hanya cukup untuk membeli 3 nasi bungkus saja!" decaknya, ia merasa tak rela menerima uang 50 ribu itu.


"Ya, memang untuk membeli makanan saja 'kan? Bukankah kamu bilang tadi lapar?"


Rasa panas mulai membara di tubuh Lolyta, ia merasa kesal. Kenapa ibunya menjadi tidak peka seperti ini sekarang? Biasanya ia selalu memberikan uang lebih.


"Loly... kau tahu 'kan, keuangan ibu sudah menipis semenjak bisnis ayahmu bangkrut. Kau mengertilah sedikit, sekarang yang paling penting isi dulu perut kita," kata Ny.Hilda, ia berusaha membuat Lolyta mengerti dengan keadaannya saat ini.


Lolyta melipat kedua tangannya di atas perut. Saat Ny.Hilda menyentuh bahunya, ia langsung menepisnya.


"Bukankah ada Kak Leo? Apa susahnya tinggal minta uang padanya. Jika ibu meminta, pasti Kak Leo langsung memberikan uang itu!" Dengan tidak tahu malu ia berbicara enteng seperti itu.


Esme yang saat itu baru masuk ke ruang ICU dan tak sengaja mendengar ucapan Lolyta, langsung mendorong tubuhnya hingga tubuh Lolyta terhentak ke dinding. "Ah !" rintihnya.


Ny.Hilda terbelalak dan langsung menarik tangan Esme. "Heh! Apa-apaan ini? Kenapa kau mendorongnya begitu saja?" geramnya.


Esme tak menghiraukan Ny.Hilda. Tatapan matanya hanya mengarah tajam pada Lolyta.


Esme berjalan mendekat hingga tatapan mereka beradu.


"Apakah kau sadar dengan apa yang kau ucapkan barusan pada ibumu? Kau menyuruh ibumu sendiri mengemis dengan cara meminta uang pada orang lain?" Esme memelototinya, hingga Lolyta tertunduk ketakutan.


Lalu, Esme beralih mendekat ke arah Ny.Hilda.


"Ny.Hilda yang terhormat, seperti inikah cara bicara anakmu pada ibunya? Kau diperlakukan layaknya budak oleh anakmu sendiri? Apa kau tidak mengajarinya dengan benar?" Esme melipat kedua tangannya, ia berjalan mengelilingi Ny.Hilda.

__ADS_1


"Oooh... aku ingat! Dari kecil kau selalu memanjakannya. Ketika dia membentakmu atau memukulmu karena kesal, kau tidak menghentikannya. Kau malah menyalahkan dirimu sendiri atas kesalahannya. Dan, inilah hasilnya... dia tumbuh menjadi sosok yang tidak tahu malu!" sambung Esme.


Anak ini, di biarkan malah semakin sombong! (Batin Ny.Hilda)


Ny.Hilda menggertakan giginya hingga rahangnya mengeras. "Kau itu masih kecil, belum tahu tentang bagaimana cara mendidik anak. Jangan berani-beraninya kau mengajariku! Aku mendidik anakku sudah sangat benar." Ia menatap tajam ke arah Esme.


Esme menghentikan langkah kakinya.


"Untuk banyak tau, tak mesti jadi tua...," Esme menoleh ke arah Ny.Hilda yang sedang membusungkan dadanya. "Ibu, apa kau tahu, aku belajar dewasa dari saat kalian menghianati aku. Tanpa tekanan hidup, otakku akan tetap kekanak-kanakkan seperti kalian. Maka dari itu, aku akan menjalani proses-proses yang menyakitkan ini agar menjadi lebih dewasa, agar menjadi tidak sejajar dengan kalian!" Esme tersenyum tipis.


Ny.Hilda langsung menoleh tajam ke arahnya dengan tangan yang dikepal erat. Urat di lehernya terlihat timbul karena menahan amarah yang besar.


"Jaga ucapanmu itu, Esme! Apa kau masih memiliki sopan satun?"


Esme tersenyum. "Kepada siapa aku harus bersopan santun? Apakah perlu, kesopan santunanku ditunjukan di hadapan musuh?" Esme mendekatkan bibirnya di telingan Ny.Hilda. "Sepertinya, Ibu masih belum mengerti juga, kenapa ucapanku berubah menjadi kejam seperti ini?" Ny.Hilda mengerutkan keningnya.


Esme semakin mendekatkan mulutnya di telinga Ny.Hilda. "Bukankah ayah pernah berselingkuh dan mengkhianatimu? Lalu, sebesar apa kemarahanmu saat membayangkan ayah tidur dengan ibuku sampai hamil dan melahirkan aku?" Wajah Ny.Hilda langsung memerah, jiwa nya mulai terbakar api. Esme sengaja mengingatkannya pada masa lalu yang membuatnya begitu sakit dan sesak.


"Apakah saat itu Ibu sangat marah? Benar-benar marah hingga ingin membunuh si pengkhianat itu? ... Tepat! Seperti itulah perasaanku saat ini!" kata Esme.


"Sayangnya, ibu sangat kejam. Sudah tahu sakitnya di khianati itu seperti itu, tapi kenapa Ibu mengulang lagi sejarahnya? Dengan teganya kau membuat aku menderita separah ini! Apa Ibu pikir aku tidak akan terluka?"


Kedua bola mata Ny.Hilda bergetar hebat. Ia mematung dengan tatapan kosong melompong, merasa kalah.


Lolyta yang dari tadi berdiam diri pun menyimak semua ucapan Esme. Ucapannya begitu menusuk hati. Sebenarnya, ia sangat tidak tega melihat ibunya dibuat mati kutu seperti itu oleh Esme. Tapi, semua perkataan yang di lontarkan Esme memang benar. Lolyta pun jadi tidak berani.


Esme menunggingkan senyumnya. Ia berlalu dan berjalan mendekati ayahnya.


Esme mengelus tangan ayahnya dan mencium dahinya yang masih tergeletak lemas di atas bangsal.


Esme tidak menyadari, ternyata...


Rambut hitam ayahnya sudah mulai memutih. Kulitnya terlihat kusam dengan kerutan dimana-mana. Telapak tangannya sangat kasar, tidak selembut dulu lagi. Penglihatan dan pendengarannya sudah mulai berkurang, tidak setajam dulu.


Esme termenung, ia menitikan air matanya.


Ayah... orang-orang di luar sangat jahat, dan saat ini aku hanya memiliki ayah seorang. Ayah adalah pria terbaik yang pernah aku temui. Mau sampai aku tuapun, aku akan selalu membutuhkan sosok ayah dihidupku. Entah seperti apa hidupku jika aku kehilangan ayah 😢 Ayah mengajarkan aku pengorbanan dan kekuatan, hingga sampai detik ini pun aku kuat menjalani hidup yang pahit setelah mengorbankan perasaanku. 😢 Ayah... aku selalu berdoa pada Allah untuk kesehatanmu. Semoga ayah panjang umur, semoga Allah tidak memisahkan kita secepatnya...



....


BERSAMBUNG !!!!


Jangan lupa Like, Komen & Vote.

__ADS_1


Kalau mau Vote ditabung dulu ya, buat hari senin, hehe... Bantu novel ini biar pembacanya banyak 😁😁


__ADS_2