
Harap bijak membacanya, ya!! 21+
.
Di waktu yang bersamaan.
Kadita baru saja keluar dari kamar mandi, ia memakai handuk kimono berwarna putih dengan handuk kecil yang melilit di rambutnya.
Kemudian, Kadita ke luar dari kamarnya, ia membuka lemari pendingin lalu mengambil susu dan menuangkannya ke dalam gelas.
Tidak ada siapa-siapa disini. Suasananya sangat hening. Dimana Garry?
"Apa dia mau susu?" gumamnya sambil memperhatikan segelas susu yang sedang ia genggam. Tanpa sadar, rasa perhatiannya pada Garry mulai muncul lagi, tapi dengan suka hati. Bukan muncul karena paksaan.
Kadita menuangkan susu itu dan menghangatkannya di atas kompor. Lalu, ia segera membawa segelas susu hangat itu ke kamar Garry. Kadita melangkahkan kakinya perlahan.
Tok... tok... tok...
"Garry? Aku membawakanmu susu hangat," ucap Kadita di balik pintu.
Tidak ada jawaban.
Kadita membuka pintu itu. "Eh, pintunya tidak dikunci." Ia mengintip dulu sebelum masuk.
Tidak ada siapa-siapa di dalam. Kemana Garry? Apa Garry sedang ke luar?
Kadita berjalan masuk ke kamar Garry, lalu ia meletakkan susu itu di atas meja kerja yang posisinya berada di samping tempat tidur Garry.
Kadita berjalan ke luar, tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka. Spontan, Kadita menoleh.
Garry ke luar dari kamar mandi dengan keadaan telanjang dada. Tubuhnya terlihat sangat segar karena habis mandi. Ia mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil, rambut basahnya menjadi berantakan, itulah yang membuatnya terlihat sexi.
Uh, dia... ternyata dia sedang mandi. (Batin Kadita sambil memalingkan wajahnya ke arah lain)
"Sedang apa kau di kamarku?" tanya Garry yang baru sadar di dalam kamarnya ada orang lain.
"Mm... aku, aku hanya -"
Garry melangkah cepat menghampiri Kadita. "Hanya apa?" Ia memalingkan tubuh Kadita secara paksa.
Tatapan mereka beradu.
Kadita dan Garry menatapnya lebih dalam.
Glek..
Kadita menelan salivanya, melihat dada bidang Garry membuatnya sangat gugup. "Aku hanya membawakan susu hangat untukmu," Kadita segera menundukkan wajahnya.
"Susu?" Garry menaikkan halis kirinya, lalu ia menoleh ke meja yang berada di samping ranjangnya, memeriksa keberadaan susu yang Kadita bawa.
Kadita segera berbalik, dan membuka pintu kamar Garry.
Bruk...
Pintu kamar itu tertutup kembali, Garry lah yang menutupnya. "Aku tidak mau susu yang itu," ucapannya penuh maksud.
Lalu, susu yang mana?? (Otak Kadita sudah benar-benar eror)
Ia segera menarik tangan Kadita. "Kenapa wajahmu sangat merah? Apa kau memikirkan hal nakal?" ucap usil Garry.
Kadita yang sedang tertunduk langsung terbelalak. "Siapa yang berpikiran seperti itu?" bantahnya dengan raut wajah yang malu-malu. Kadita membalikkan badan lagi, ia memunggungi Garry.
Garry berseringai, ia menjil*t bagian bibirnya, tatapan matanya seakan-akan melihat mangsa lezat sedang berada di hadapannya.
__ADS_1
Garry meletakkan dagunya di bahu Kadita. Ia memeluknya dari belakang.
"Kadita, apa kau tahu? Kau sudah masuk ke kandang singa liar, dan kau tidak bisa ke luar dengan selamat," bisik Garry di telinga Kadita, hingga nafasnya membuat leher Kadita geli.
Otot-otot tubuh Kadita menegang. Instingnya sudah tahu bahwa akan ada hal gila yang akan terjadi. "A-apa... apa yang mau kau lakukan?" ucap Kadita, gemetar.
Garry tidak menjawabnya, karena ia akan menjawabnya dengan tindakan.
Tangannya mulai liar, mencari kenyamanan, kelembutan, dan kenikmatan. Garry merem*s kedua buah dada Kadita dengan sangat lembut dan hati-hati, hingga buah dadanya hampir tumpah ke luar dari dalam handuk kimono yang sedang di pakainya.
Blush...
Tubuhnya mulai memanas.
Kadita langsung menahan tangan Garry. "Garryyy...," panggilnya manja.
Garry mengecup-kecup leher Kadita dari belakang. "Jangan berusaha menolak lagi. Kita sudah membicarakan ini tadi sore. Kau sudah sepakat denganku, 'kan!"
Deg...
Deg...
Deg...
Nafsunya semakin naik level, Garry semakin merem*s kasar bulatan lembut yang sedari tadi ia mainkan.
"Uh, Garry... hey!" Kadita membalik paksa tubuhnya. Ia menahan tangan Garry agar tidak semakin menggila. "STOP!!!"
Jari telunjuknya mendarat di bibir Garry.
Garry langsung menatap kecewa. Kenapa? Apa lagi yang salah dengannya? Garry sudah meminta maaf padanya, dan Kadita pun sudah memaafkannya. Sudah tidak ada lagi kesalahpahaman di antara mereka. Lalu, kenapa Kadita bilang berhenti saat Garry akan memulainya?
"Apa lagi?" ucap getir Garry.
"Jangan disini? Lalu dimana?" Garry mulai menggodanya lagi dengan senyum yang merekah.
Rrghh... kenapa dia semakin menggodaku? Apa aku harus terang-terangan juga? Aku kan benar-benar sangat malu dan gugup. (Batin Kadita)
"Tidak mau menjawab?... Baiklah." Garry segera melepaskan tali handuk kimono yang melilit di tubuh Kadita.
"H-hey!!!"
Tubuh Kadita sudah hampir terlihat semua. Garry langsung membawanya ke atas ranjang. Ia menindih tubuh Kadita dengan tubuhnya. Kadita menahan dada Garry dengan kedua tangannya.
Bagaimana bisa, kedua dada bidangnya sangat lembut, harum dan menggoda. Oh Tuhaaannn!!! (Batin Kadita meronta-ronta di dalam)
"Apa kau sudah yakin?"
Aku sangat yakin, dasar bodoh. Masih saja terus mempermainkan aku!!!! (Kadita mulai jengkel)
"Hey, aku bertanya padamu. Apa kau sudah yakin? Karena jika kau masih ragu untuk menyerahkan dirimu padaku, aku tidak akan melakukannya sekarang, aku akan menunggu sampai kau -"
"Bac*t!!"
Kadita merangkulkan kedua tangannya di leher Garry, lalu ia menariknya ke bawah dan mulai mencium bibir Garry... menciumnya lebih dalam... dan lebih dalam lagi.
Garry terbelalak. Ia langsung membatu. Garry mendapatkan perlakuan yang tak terduga dari istri polosnya.
Kadita melepaskan ciumannya.
"Apakah ini sudah cukup membuktikan bahwa aku benar-benar sudah yakin?" tanya Kadita sambil tersenyum lebar.
"Ternyata kau...," Garry menatap tak percaya pada istri polosnya itu. "Baiklah, aku suka kau yang seperti ini,"
__ADS_1
Garry meredupkan pencahayaan dikamarnya. Ia membuka handuk kimono yang dipakai Kadita, membukanya hanya setengah dari badannya saja.
Garry mengecup beberapa kali lehernya, hingga ia meninggalkan jejak merah dimana-mana.
Lalu, mundur perlahan ke bawah.
Pusat dari kedua buah dada Kadita yang berwarna sedikit gelap dari kulit tubuhnya sudah berdiri menantangnya. Garry langsung melahapnya, hingga membuat tubuh kadita semakin menegang.
"Ah,"
Kedua mata Kadita sudah terlihat sayu.
Garry mencium bibirnya lagi sebelum memulai permainan yang sebenarnya.
Kadita mengusap kasar kepala bagian belakang Garry. Nafsunya sudah benar-benar memuncak.
Garry tahu, Kadita sudah tidak tahan.
Garry segera melepaskan haduknya dan handuk kimono yang masih menghalangi tubuh mereka. "Kadita, maaf jika ini membuatmu sakit. Tapi, aku harus melakukannya,"
Lalu, perlahan Garry mulai...
Cleb...
"Ahh...,"
Kerutan di dahinya menunjukan bahwa ia benar-benar kesakitan. Kadita menggigit bibir bawahnya sambil menyengkram keras punggung Garry.
Rasanya sangat-sangat perih, bagaikan tertusuk benda tajam yang menyobek bagian sensitifnya itu.
Garry berusaha menekannya lebih dalam.
Air mata Kadita perlahan muncul, lalu mengalir dari sudut matanya.
Garry mengecup bibirnya. "Apakah begitu sakit?" tanya Garry.
Kadita menganggukan kepalanya sambil terus menahan rasa sakit yang menusuk itu.
"Haruskan kita menyudahinya?"
Kadita menggelengkan kepalanya cepat. "Tidak! Kita lanjutkan sampai tuntas," bantahnya penuh percaya diri.
"Kau yakin? Karena aku akan lebih buas dari ini"
"Tidak masalah, aku ingin melihat kemampuanmu," Kadita menarik kepala Garry, lalu mencium bibirnya kasar, agar mendorong Garry untuk melakukannya lebih dari ini.
Garry yang merasa tertantang, segera melakukan aksi liar yang sebenarnya.
"Dengan senang hati, jika kau yang memintanya,"
Garry mempercepat ritmenya.
"Uh, Garry... kau-" Kadita menarik dan menyengkram sprei itu secara kasar. "Awh... kau benar-benar... ah, ah... jahat!!!"
*********
Catatan : Garry itu berdarah Italia, sedangkan Alucard berdarah Korea.
....
BERSAMBUNG!!!!
__ADS_1
Coba absen, siapa aja sih yang baca novelku ini? ADA BERAPA ORANG YANG KOMENTAR? 🤣