
.
Hari sudah malam. Ini lah yang Esme tunggu-tunggu. Ia sudah memesan satu restoran hanya untuknya dan suaminya saja.
Di dalam kamarnya, Esme terlihat sedang sibuk memilih beberapa gaun yang cocok untuknya malam ini.
Warna pink tidak cocok. Warna biru juga ditolak. Warna merah terlalu mencolok kayak cabe-cabean, apalagi warna kuning. Warna hijau pun takut dikira Hulk.
Nah, ini dia... gaun elegan yang pertama kali Alucard belikan untuknya. Gaun bermerk yang super mahal, dan edisi terbatas. Dipadukan juga dengan tas bermerk warna hitam.
Ulalaaa... Esme, kau terlihat sangat cetar membahana.
Sebelum pergi ke restoran, Esme memeriksa dulu kue ulang tahunnya. Takutnya tampilannya jadi rusak. Tapi, ternyata tidak. Kue ulang tahun buatannya masih terlihat bagus.
Ini adalah kue ulang tahun pertama buatannya. Di bawah topper tulisan Happy Birthday, Esme menempelkan tespek yang sudah ia bungkus dengan plastik transparan.
Jadi, nanti ketika Alucard sudah meniup lilinnya, Esme akan menyuruhnya untuk menarik topper tulisan Happy Birthday tersebut, hingga si tespek itu ke luar dari dalam kue, lalu Alucard akan terkejut, dan saking terkejutnya ia sampai menangis haru.
Ah, pokoknya begitulah kejutan dan bayangan yang sudah Esme persiapkan.
Esme bergegas masuk ke dalam mobil. Sebelum menyalakan mesin mobil, ia mengirim pesan pada Alucard.
"Sayang, aku sedang menuju ke restoran. Apa kau sudah pulang?" Esme mengirimkan pesan seperti itu.
Ia menyimpan ponselnya dan menancap gas menuju restoran.
Sesampainya di restoran. Esme masuk ke dalam sana. Wah... matanya langsung berbinar-binar saat melihat dekorasi ulang tahun yang simple tapi tetap terlihat elegan. Cocok sekali dengan gaun yang ia pakai. Pendekor yg Esme suruh, sangat pandai memadukan warna.
Esme merasa sangat puas. Ia berjalan duduk sambil menunggu kedatangan Alucard.
Selama menunggu Alucard tiba, senyumnya selalu terlukis di wajahnya, tidak pernah menyusut.
Gimana guys? Tampilan Esme udah cetar membahana 'kan?
Suasana disini tidak sepi, meskipun hanya ada dirinya dan beberapa pelayan saja, karena alunan musik romantis mendominasi seluruh restoran ini.
"Aduuhhh, lama sekali dia itu!" decaknya. Ia mengambil ponsel, lalu menelepon Alucard.
"Halo? Sayang, kau masih dimana?"
"Aku masih dijalan, tadi terjebak macet. Sebentar lagi sampai, kok. Tunggu, ya?"
"Hufff... baiklah. Hati-hati!"
__ADS_1
Panggilan telepon pun berakhir. Esme menyuruh beberapa pelayan segera menutup pintu restoran, nanti jika ada seseorang yang datang, para pelayan itu disuruhnya untuk melemparkan konfeti (potongan kertas, milar atau bahan logam).
Esme sudah menunggu hampir 1 jam disana. Tapi, Alucard tak kunjung datang. Perasaannya jadi tidak enak.
Tiba-tiba saja terdengar suara mobil yang terparkir.
Esme segera beranjak dan menyuruh para pelayan untuk siap di posisinya.
Para pelayanpun menyanggupinya. Mereka sudah siap di posisi masing-masing. Dan, Esme sudah berdiri di hadapan pintu yang tertutup dengan memegang kue ulang tahun.
Saat pintunya dibuka.
Dorrr... konfeti itu segera dilemparkan, warna warni kertas yang mengkilap itu melayang-layang diudara.
Esme tersenyum lebar, sudah sangat gatal hatinya ingin melihat ekspresi terkejutnya Alucard.
Tapi, senyum Esme tiba-tiba menyusut.
Ini... yang datang bukan Alucard, melainkan Sekretaris Kim.
Sekretaris Kim membersihkan seluruh tubuhnya yang terkena konfeti dengan wajah yang sangat panik.
"Di-direktur? Ah, ma-maksud saya, Nyonya -"
"Dimana Alucard? Kenapa yang pertama masuk malah kamu?" Esme sedikit jengkel jadinya hingga memotong ucapan Sekretaris Kim.
Deg!!
Detak jantungnya seperti langsung terhenti saat itu juga. Esme menganga tak percaya, tulang-tulang di tubuhnya terasa meremuk dan melemah sampai-sampai kue ulang tahun yang ia pegang, jatuh ke lantai.
"Presdir kemari seorang diri tanpa supir. Saya mengikutinya dari belakang. Saat di jalan, karena tergesa-gesa, Presdir menyalip dari arah kanan, dan ternyata di depannya ada pengendara motor yang juga menyalip ke arah yang sama. Presdir langsung membanting setir, tapi na'as... di belakangnya ternyata ada truk tronton yang sedang melaju dengan kecepatan tinggi. Kecelakanpun tak bisa dihindari. Mobil Presdir ringsek dan terseret sejauh 50 meter."
Air mata Esme langsung menetes. Perasaannya sangat-sangat hancur.
"Hahaha... itu tidak mungkin, kau... kau pasti bercanda. Iya 'kan?" Esme menghapus air matanya, dengan bibir yang gemetar. Ia menolak apa yang baru saja Sekretaris Kim kabarkan.
"Nyonya, saya mengerti apa yang anda rasakan saat ini. Tapi, sebaiknya kita ke rumah sakit dulu untuk mengurus jenazah Presdir."
Esme langsung memelototi Sekretaris Kim. "Apa kau bilang? Jenazah?" Ia menyengkram kemeja Sekretaris Kim.
Sekretaris Kim menciut ketakutan. Ia tak berani melawan Esme, karena dia adalah istri dari tuannya.
"Nyonya, jangan seperti ini. K-kau harus menerima kenyataan." Sekretaris Kim tak berani menatap wajah Esme.
Air mata Esme kembali menetes. Ia mengusap perutnya dengan penuh kesedihan.
__ADS_1
"SEBENARNYA APA YANG SEDANG KAU BICARAKAN, KIM? ALUCARD TIDAK MUNGKIN KECELAKAAN!" Esme meninggikan suaranya. "Beberapa menit yang lalu, dia masih berbicara denganku di telepon! Katanya, dia terjebak macet, dia akan kemari. Dan menyuruhku untuk menunggunya disini! Kalau mau bercanda jangan seperti ini. Ini tidak lucu sama sekali! Hikss... hikss."
Sekretaris Kim mencoba memahami kondisi Esme. "Sudah, Nyonya... sebaiknya sekarang kita ke rumah sakit. Saya akan mengantar Nyonya kesana."
"Tidaaakkk... Alucard tidak mungkin kecelakaan, apalagi sampai meninggalkan aku sendiri di dunia ini. Aku tidak akan terima! Aku tidak terima jika harus kehilangan diaaaaa.... huaaa... aaaa.... aku tidak terima!" 😭 Esme menjatuhkan tubuhnya ke lantai, air matanya tak henti-henti mengalir.
Tiba-tiba, ia terbangun dari tidur lelapnya karena mendengar suara telepon yang sangat berisik.
Esme mengerjapkan kedua matanya. Pipinya sudah sangat basah karena air mata.
Ia menatap dengan tatapan yang aneh. Melirik kesana kemari seperti orang bingung.
"I-ini... aku berada di dapur?" Esme menatap sekeliling dapurnya. Ia mendapati kue ulang tahun yang sudah ia buat barusan ada di atas meja dengan posisi yang sama.
"Jadi... yang tadi cuma mimpi?" Ia mengusap air matanya dengan perasaan yang amat lega.
Ponsel yang berdering sedari tadi diabaikan olehnya. Tapi, kali ini langsung ia angkat.
Dari Alucard!
"Halo, Al? Kau dimana? Kau baik-baik saja 'kan? Kau belum pergi ke restoran 'kan?" Rasa cemas yang bertubi-tubi.
"Haiiss... ada apa denganmu. Tentu saja aku baik-baik saja. Aku meneleponmu dari tadi kenapa tidak di jawab? Lihat, ini sudah jam berapa? Aku hanya ingin memastikan apakah jadi makan malam di restorannya?"
"Hufff, syukurlah." Esme benar-benar sangat lega mendengar Alucard baik-baik saja. Eh. ngomong-ngomong ini sudah jam???
Jam 7 malam? Esme berjalan tergesa-gesa ke kamarnya.
"Halo, Esme. Kau sedang apa sih? Tidak jadi kah ke restorannya?"
"Ah, iya, iya. Jadi, kok sayang, jadi. Barusan aku ketiduran."
Tunggu, tunggu. Aku sedikit takut dengan apa yang terjadi di dalam mimpi**ku. (Batin Esme)
"Halo, Al? A-aku akan ganti tempat restorannya."
"Ada apa? Kenapa begitu tiba-tiba?"
"Ah, pokoknya aku akan kirim alamatnya. Sekarang, aku harus siap-siap dulu. Dah, sampai bertemu disana."
Tut... tut...
Panggilan di akhiri.
...
__ADS_1
BERSAMBUNG!!!
Jangan lupa LIKE, KOMEN & TIPS nya ❤