Air Mata Pengantin

Air Mata Pengantin
Berita


__ADS_3

.


Bruk...


Alucard dan Esme ke luar dari mobil. Esme dengan setelan kerja yang sangat modis berjalan terpincang-pincang.


"Honey, ada apa denganmu?" tanya Alucard. Ia mencoba membantu Esme berjalan, tapi Esme langsung menepisnya.


"Jangan pura-pura tidak tahu. Aku sampai kesulitan berjalan ini semua gara-gara kamu!"


Alucard langsung tersadar. "Ah! Yang semalam?" gumamnya sambil tersenyum nakal. "Suruh siapa kau terjebak dan meminum obat perangsang itu. Aku kan hanya menyembuhkanmu, bukankah seharusnya kau berterima kasih padaku?"


"Ck! Kesempatan dalam kesempitan. Dasar maniak!" gumam Esme. "Sudah! Jangan banyak bicara. Papah aku masuk ke dalam."


"Hihi... dengan senang hati, Nyonya."


Mereka berdua pun masuk ke perusahaan bersama. Saat menunggu pintu lift terbuka, tiba-tiba Roger datang menghampiri mereka. Ia pun menunggu pitu lift terbuka.


"Selamat pagi, Presdir," sapanya pada Alucard. "Selamat pagi, Direktur Esmeralda."


Saat Esme menoleh, ia sangat terkejut. "Eh, Roger! Kau?" Matanya terbelalak, bak melihat seekor gorila.


"Ya, ini aku... aku kembali. Tapi, kenapa kau sangat terkejut melihatku? Bukankah semalam kita berdua sudah bertemu?" ucap Roger.


"Bertemu?" gumam Esme. Kedua matanya diciutkan. Ia tak mengingat kejadian semalam.


Ting...


Pintu lift terbuka. Alucard segera menyeret tangan Esme masuk ke dalam lift, diikuti dengan Roger. Roger terheran-heran, kenapa Alucard dan Esme terlihat sangat dekat?


Selama di dalam lift, Alucard berada di tengah-tengah mereka. Alucard menjauhkan Esme dari Roger. Karena hawa ketertarikan Roger pada Esme terasa sangat pekat sekali.


Pintu lift pun terbuka. Mereka bertiga ke luar dari lift.


"Aku duluan," ucap Esme. Ia menerobos tatapan mata dua pria yang sedang berambisi itu.

__ADS_1


"Tunggu! Aku akan antar kamu ke kantormu," seru Alucard.


"Tidak perlu. Aku sudah baikan. Dah!" Esme berjalan cepat meninggalkan mereka berdua.


"Ah, kebetulan ruang kerjaku searah dengannya." Roger berusaha memanas-manasi Alucard. "ESME!! Tunggu!" Ia pun berlari mengejar Esme.


"Hey! Hey! KAU???" geram Alucard. "Apa dia tidak tahu statusku dan Esme saat ini?"


Alucard merogoh saku bajunya dengan rasa kesal di jiwa, ia mengambil ponsel dan menelepon sekretaris Kim.


Ternyata sekretaris Kim baru saja sampai. Ia melihat Alucard sedang berdiri di depan lift dengan ponsel yang di tempelkannya di telinga. Sekretaris Kim langsung berlari menghampirinya.


"Ah... maaf, Presdir. Saya terlambat." Sekretaris Kim merapikan jasnya dengan nafas yang terengah-engah.


"Haiss, kau ini... apa kau -"


"Stop! Bukan waktu yang tepat untuk memarahi saya." Sekretaris Kim membekap mulut Alucard.


Alucard segera menepis tangan sekretaris Kim. "Ada apa?" tanyanya penasaran.


"Apa Anda belum melihat berita pagi ini?" Raut wajah sekretaris Kim sangat panik.


"Aduh, Presdir. Ini gawat!!" Sekretaris Kim segera memberikan ponselnya pada Alucard. Di dalamnya berisi suatu berita. "Silahkan, dibaca!"


Saat membaca berita tersebut kedua mata Alucard terbelalak, bulatannya sangat sempurna. Merah padam di wajahnya bukan main.


"Kapan berita ini tersebar?" tanya Alucard, tangannya menggenggam erat ponsel milik sekretaris Kim, sepertinya ingin diremas-remasnya sampai hancur.


"Satu jam yang lalu, Presdir. Dan, saat ini berita tentang Nyonya sudah membuat seisi perusahaan gempar. Bukan hanya di Indonesia saja, berita ini sudah meluas ke Korea juga. Dan, itu semua berdampak besar bagi keluarga Aganor," jelas sekretaris Kim.


Glek...


Sekretaris Kim menelan salivanya. Tubuhnya gemetar, ia menunduk tak berani menatap wajah Alucard, karena aura hitam menakutkan sudah terpancar jelas dari dalam tubuhnya.


"Fitnah! Siapa yang berani menyebarkan berita bohong ini?" Wajah Alucard saat ini terlihat datar tanpa ekspresi seperti seorang yang berdarah dingin, tapi dalam jiwanya berkobar-kobar api yang ingin segera menghanguskan seseorang.

__ADS_1


"S-saya sudah mencari tahunya. Tapi... belum menemukan siapa pelaku dibalik semua ini, Presdir." Sekretaris Kim mengusap keringat di dahinya.


Alucard mengepalkan tangannya. Ia juga terlihat sedang berpikir keras. Siapa yang sudah berani menggali dan membocorkan masa lalu Esme pada publik?


"Masalah ini bukan masalah kecil. Kali ini, aku yang harus turun tangan sendiri. Aku takut mental Esme kembali terganggu," gumam Alucard.


"Kim, untuk saat ini matikan semua jaringan, berita, dan koran, lalu kendalikan semuanya, beberkan kebenarannya. Jangan biarkan siapapun mengorek berita itu lagi. Tenggelamkan berita tentang istriku dengan berita baru yang lebih menghebohkan. Perintahkan semua anak buahku untuk melacak siapa yang menyebarkan berita ini, sampai dapat," titahnya. Alucard berjalan cepat menuju ruang kerja Esme.


"Presdir, kau mau kemana?" teriak sekretaris Kim.


"Jangan banyak tanya. Suruh supir, dan siapkan mobil di depan perusahaan!"


"Baik!"


Esme, semoga kamu tidak melihat beritan ini! (Batin Alucard, sambil berlari menuju divisi pemasaran)


...


Diwaktu yang bersamaan.


Esme berjalan menuju kantornya di ikuti oleh Roger. Roger mengalihkan kecurigaan Esme dengan berpura-pura mengutak-atik ponselnya.


Tiba-tiba langkah kaki Roger terhenti saat tak sengaja ia melihat berita tentang Esme.


Esmeralda, Direktur Pemasaran dari Perusahaan Mord. Dibalik kesuksesannya saat ini ternyata ada masa lalu yang sangat kelam dan kotor. Dia pernah berhubungan badan dengan mantan kekasihnya sampai hamil, dan sayangnya entah malu atau apa dia malah menggugurkan kandungannya. Dia juga pernah dilecehkan oleh beberapa pria hidung belang sampai mengidap sindrom trauma pelecehan seksual. Entah keberuntungan apa yang didapatnya bisa sampai menikah dengan pemuda kaya raya, bernama Alucard yang pada saat ini statusnya sebagai CEO di Perusahaan Mord. Usut punya usut sih katanya dia merangkak ke atas ranjang Alucard, memanfaatkan tubuhnya demi membungkam masa lalu yang bisa dibilang hina ini agar karirnya tidak hancur.


Roger benar-benar sangat terkejut membaca berita di pagi hari ini. Membuat pikirannya bertanya-tanya tentang kebenaran itu.


"Esme!" panggilnya ragu, dengan tatapan mata yang tak tega.


Gawat! Sepertinya wanita arogan ini belum tahu berita mengenai dirinya. (Batin Roger)


Sayangnya, Esme sudah menjauh dari pandangannya. Roger segera berlari mengejar Esme. Hari ini, perusahaan sangat ramai, pasti semua karyawan di perusahaan sudah tahu tentang masalah ini. Roger hanya mencemaskan pandangan para karyawan pada Esme.


...

__ADS_1


BERSAMBUNG !!!


Kalian yang nyuruh up terus, jangan lupa LIKE, KOMEN & TIPS nya dong.


__ADS_2