
.
Ara ke luar dari kamarnya. Ia memanggil-manggil nama asisten pribadinya itu dengan raut wajah sedih, marah, juga panik.
"MIRA!!!... MIRAA!!!" teriaknya sambil mondar mandir, kesana-kemari. "Dimana si asisten idi*t itu?" geramnya.
Ny.Kattie segera ke luar dari kamarnya karena mendengar suara teriakan anaknya, pagi-pagi sudah membuat berisik seisi rumah.
"Ara! Kenapa kau tidak pernah menjaga kesopananmu? Kau selalu saja berteriak saat memanggil seseorang?" ucap Ny.Kattie.
"Ck, dia hanya asisten pribadi saja, kesopanan tidak diperlukan untuk pekerja seperti mereka," decak Ara, sombong. "Bu, apa kau tahu dimana asistenku?"
"Mira?... Ibu menyuruhnya untuk mengupas buah di dapur. Ada apa?" tanya Ny.Kattie terheran.
Ara tak menjawab pertanyaan dari ibunya itu. Ia mengabaikannya, dan malah berlalu meninggalkannya menuju dapur.
Dasar, anak itu!! Ada apa lagi dengannya? Selalu saja berbuat ulah. Sampai-sampai Nana dan Tn.Aganor menyuruh aku dan Chan untuk mengirimnya ke luar Negeri. (Batin Ny.Kattie)
Sesampainya di dapur.
"Mira!... Ikut aku," ucap Ara, singkat. Kemudian, ia berjalan kembali menuju perpustakaan pribadinya.
Mira sedikit bimbang, di satu sisi ia harus menyajikan buah untuk Ny.Kattie, di satu sisi tuannya sedang memerintah.
"Kenapa diam saja? Apa kau mau aku pecat?" kecam Ara, raut wajahnya sangat tidak bersahabat.
__ADS_1
"A-emm... ba-baik, Nona!" Akhirnya, Mira berjalan mengikutinya dari belakang, karena jika ia menentang Ara, Mira pasti dalam masalah besar.
Sesampainya di perpustakaan pribadinya. Ara segera mengunci pintu rapat-rapat. Mira terkejut dan sedikit ketakutan, apa yang akan Ara lakukan di dalam sini?
"Mira, cepat hubungi lagi orang suruhanmu yang kemarin. Bilang padanya, aku minta data lengkap selengkap-lengkapnya tentang Esmeralda! Data yang kemarin masih kurang, karena itu hanya sebagian kecilnya saja. Aku tidak puas dengan itu. Suruh mereka gali masa lalunya, temukan yang menarik untukku!" titah Ara.
"Mm... tapi, untuk apa? Bukankah Nona bilang wanita itu sudah pergi ke Indonesia hari ini?"
"Kau sudah berani berbasa-basi denganku?"
"A-emm... maaf, Nona. Aku... aku tidak berani." Mira menunduk ketakutan. Ia segera menghubungi orang suruhannya itu dan mengatakan semua ucapan yang Ara ucapkan barusan.
Setelah menunggu beberapa jam. Ponsel Mira berdering. Orang suruhannya itulah yang menghubunginya. Mereka sudah dapat semua data menarik mengenai Esme, tapi orang suruhannya itu meminta bayaran yang lebih tinggi dari sebelumnya.
Mira menyanggupinya, lalu orang suruhannya itu segera mengirimkan beberapa data ke ponsel Mira. Mira segera menyerahkannya pada Ara.
Saat membaca keseluruhan data mengenai Esme, kedua mata Ara terbelalak dan berbinar ria. Kemenangan bagaikan sudah terlihat jelas di depan matanya.
"Dikhianati oleh mantan kekasihnya dan keluarganya? Batal menikah dihari pernikahan?.. Ah! Ada yang lebih mengejutkan lagi... ternyata dia sudah dipakai oleh mantan kekasihnya itu sampai hamil dan keguguran?" Kedua mata Ara terbelalak. "Juga pernah diperkosa oleh 3 orang penculik sampai terkena sindrom pelecehan seksual? Huaaahhahahaa... ternyata wanita ini tidak lebih buruk dari pelac*r, bahkan pelac*r pun masih bisa dibilang lebih bernilai dari dirinya. Ini-lah yang aku cari!!" ucap Ara penuh ambisi.
Mira hanya tertunduk. Ia tak berani ikut-ikutan senang seperti tuannya.
"Simpan semua data itu!... Aku akan menjadikan masa lalunya sebagai kelemahannya, sampai wanita gatal itu tahu diri siapa yang lebih pantas menjadi menantu keluarga Aganor." Ara terduduk santai di kursi goyang sambil tersenyum jahat.
Mira sangat sigap, ia segera menuruti apapun yang Ara perintahkan. Kemudian, Mira melangkah menuju pintu keluar.
__ADS_1
"Mira!" panggilnya.
Apa lagi? (Batin Mira)
Mira terhenti, lalu menoleh kembali. "Ya, Nona? Ada yang bisa saya bantu lagi?" tanyanya sungkan.
"Berikan ide yang brilian untuk menghukum wanita gatal itu. Jika aku merasa puas dengan idemu, aku akan menaikkan 3 kali lipat dari gajimu. Tapi, jika idemu membuatku kurang puas, aku akan memotong gajimu 3 bulan ke depan!"
Glek...
Mira menelan salivanya. Ara, benar-benar tak berperikemanusiaan! Sangat menyesal ia masuk dan mengabdi padanya, tapi apa boleh buat, keadaanlah yang memaksa Mira untuk menjadi budak penurut seperti ini. Harga dirinya hancur berantakan, sudah masa bodo.
Mira segera memikirkan cara yang sangat kejam, karena pasti itulah yang Ara inginkan saat ini. Demi kepuasan tuannya, Mira rela ikut-ikutan tak berperikemanusiaan seperti Ara. Semua ini ia lakukan demi kedua orang tuanya di kampung yang sedang sakit parah dan membutuhkan biaya banyak.
"Bagaimana kalau .... -" Mira berbisik pada telinga Ara. Ara manggut-manggut, ia terlihat serius menanggapi usul jahat dari Mira.
Ctak...
Ara menjentikkan jari tangannya. "Bagus!" Ia berseringai. "Aku akan memberimu bonus 3 kali lipat dari gajimu bulan ini. Sekarang, aku mau kau hubungi orang suruhanmu itu untuk mencari tahu orang yang bernama Leomord, dan berikan aku kontak ponselnya. Setelah rencana ini berhasil, aku akan mengungkap masa lalunya yang kelam itu ke hadapan semua keluarga Aganor. Aku yang akan menyaksikannya paling depan saat dia di tendang dan dicoret dari daftar keluarga. Hahahaaaa...." Ara beranjak dari duduknya. Ia berjalan melewati Mira begitu saja, keluar dari perpustakaan pribadinya dengan wajah yang begitu bahagia.
...
BERSAMBUNG !!!
Jangan lupa LIKE, KOMEN & TIPS ❤
__ADS_1