
Janji, ya... sesudah baca part ini kalian harus like, komen & VOTE 🤧
.
Di atas ranjang sudah ada Leo yang masih belum sadarkan diri. Hanabi meletakkan tubuh Ara di samping tubuh Leo.
"Haahh... wanita ini tubuhnya terlihat kecil tapi ternyata sangat berat," gumam Hanabi.
"Hanabi, kerja bagus," puji Esme. "Ayo, kita ke luar. Dia akan masuk perangkapnya sendiri."
"Huahahaha... Esme, kau sangat cerdas. Jika aku pria aku akan segera mengencanimu, karena aku sangat tertarik dengan karaktermu yang seperti ini." Hanabi merangkul bahu Esme. Mereka pun berjalan ke luar dari situ.
Brukk...
Pintu tertutup.
"Sss... uh, Kak Alucard? Kau dimana?" gumamnya sambil terengah-engah. Ara meraba kesana kemari dengan tubuh yang bergairah. "Ah? Ternyata kau disini. Sudah ku bilang, kau itu menyukaiku. Malam ini, kita harus melakukannya. Sepertinya si pelayan sialan itu memasukan obat perangsang juga di minumanku. Tapi, tidak apa-apa... aku tidak keberatan jika kaulah obat penawarnya," ucap Ara menggunakan bahasa Korea. Ara tidak tahu sebenarnya yang sedang tidur di sampingnya adalah Leo, bukan Alucard.
"Kak, kau sudah persiapan, ya? Bajumu sudah terlepas, aku akan melepas celananya sekarang."
Ara meraba ke bawah. Ia menarik celana Leo. "Uh, susah sekali. Cepat bantu aku, aku sudah tidak kuat lagi."
Tiba-tiba, Leo mengerjapkan matanya karena sentuhan Ara yang kasar.
"Hah? No-Nona Ara?" Leo terbelalak. "Kemana Esme?" Matanya mencari-cari wanita yang dicintainya.
Ara memeluknya erat. Lalu ia mencium bibir Leo. "A-umm... mmm," Leo tak bisa bernafas.
"Hentikan, Nona!" Sergahnya. Ia mendorong tubuh Ara, lalu beranjak dan memakai kembali kemejanya.
Tapi, Ara tak melepaskannya. Obat perangsang ini sangat kuat, hingga membuat Ara menggila. Ara menarik paksa tangan Leo.
"Ayolah Kak, jangan ragu. Aku tahu kau ingin," ucap Ara.
"Sadarlah! Aku ini Leomord!"
...
Di waktu yang bersamaan.
Alucard dan Calude berjalan masuk ke Club. Ia mencari-cari Ara. Dimana tempat duduknya? Ini sudah jam 10 lewat, Alucard harus pulang.
"Claude, kau saja yang menemuinya. Aku harus pulang, ini sudah malam," kata Alucard.
"Tapi, kita sudah datang kesini, Kak. Aku tidak enak nanti bicara pada Ara," sergah Claude.
Tidak sengaja, Alucard dan Claude mendengar percakapan dua orang wanita seksi di sampingnya.
__ADS_1
"Hey, aku tadi mendengar di ruang VVIP sedang ada pasangan yang bercinta."
"Ah, yang benar?"
"Aku tidak bohong. Bukan hanya aku saja yang mendengarnya, tapi Kak Ana dan Kak Yeni juga juga mendengarnya."
"Bukankah penjagaan dan peraturan di Club ini sangat ketat? Tidak ada yang boleh sampai melakukan itu disini. Lihat ke atas sana, pemiliknya yang sedang duduk di atas situ tuh?"
"Oh, yang itu? Wah... tampan sekali, ya."
"Iya, dia itu adalah pemilik Club ini. Dia baru pulang dari luar Pulau karena urusan pekerjaan. Katanya, jika ada yang mengotori Clubnya, dia tidak akan membiarkan orang itu pulang dengan sehat."
"Uh, aku jadi penasaran orang seperti apa yang berani mengotori Club ini. Ayo, antar aku kesana... aku juga mau melihatnya."
Tiba-tiba Alice datang dan bergabung dengan mereka.
"Orang yang sedang berzinah itu adalah Direktur Pemasaran dari Perusahaan Mord. Dia kemari dengan seorang investor, katanya sih urusan bisnis, tapi tidak tahunya malah berbuat zinah disini. Ayo, ikut aku... aku akan menunjukkannya pada kalian." Alice menggiring beberapa wanita untuk lebih meramaikannya. Ia pun segera menyuruh si wartawan masuk ke dalam untuk meliputnya.
Direktur Pemasaran dan seorang investor?Jangan-jangan!!! (Batin Alucard, keningnya mengerut tajam)
Alucard menoleh, dan... "Bukankah itu wanita yang pernah membuat Esme menderita sindrom pelecehan?" gumam Alucard. Giginya menggertak keras. "Claude, ikut aku!" Alucard berjalan tergesa-gesa mengikuti mereka.
Alice dan beberapa wanita seksi berjalan menuju ruangan VVIP tersebut, diikuti dengan seorang wartawan yang menyamar. Saat Alice akan membuka pintu itu, Alucard segera menyergahnya.
"Jangan dibuka!" teriak Alucard. Ia berjalan mendekat, lalu menghalangi pintu ruang VVIP tersebut. Jika di dalam memang benar Esme, Alucard tidak ingin itu dijadikan tontonan. Perasaannya sangat cemas.
"Ah... oh baby, yes... Owh."
Terdengar suara desahan dari dalam ruang VVIP tersebut.
Tubuh Alucard langsung menegang setelah mendengarnya. Pikirannya hancur berantakan. Dari tadi memang perasaannya tidak tenang.
Esme? Apa kau yang ada di dalam? Apa kau dijebak lagi oleh wanita ini? (Batin Alucard)
"Permisi, Tuan. Aku harus mendobrak pintunya, karena pasangan diruangan ini sudah mengotori Club ini," ucap Alice.
Huh, kemana Ara dan Leo? Seharusnya mereka melihat pertunjukan ini. (Batin Alice)
Alice menyingkirkan tubuh Alucard.
"Ada apa Kak?" tanya Claude yang belum paham situasi saat ini. Alucard hanya terdiam, percaya tak percaya.
"Ayo, cepat dobrak pintunya!" teriak beberapa wanita yang tak sabar ingin melihat pasangan berbuat mesum.
Brukk...
Alice dengan perut buncitnya memaksakan mendobrak pintu tersebut. Senyum bahagianya terlukis indah di wajah Alice.
__ADS_1
"Wwaaahhh...." Semua mata terbelalak melihatnya.
"Pak, tolong segera liput kejadian ini," kata Alice.
Saat Alice menoleh ke arah ranjang di ruang VVIP itu, tubuhnya langsung terdiam membatu, senyumnya menyusut, jiwanya bergetar hebat, lututnya gemetar dan matanya membulat sempurna.
"K-Kak Leo? Ara?" Bagaikan terhantam batu besar seberat 1 ton. Alice sangat-sangat terkejut melihat suaminya sendiri sedang berciuman dengan wanita lain, yaitu Ara teman sekongkolannya.
Siapa katanya? L**eo dan Ara? (Batin Alucard, penasaran)
"Tidak! Ini... bagaimana bisa begini?... Suamiku?" gumam Alice. Tatapan matanya kosong. "Lalu, d-dimana Kak Esme?"
Cekrek... cekrek... cekrek...
Wartawan terus saja memotretnya. Ini akan menjadi berita utama, besok.
Alucard segera masuk ke dalam ruangan VVIP itu, ingin melihat yang terjadi sebenarnya.
Uh, parfum apa ini? Aroma parfumnya sangat menyengat. (Batin Alucard)
"A-apa!!" Kedua mata Alucard terbelalak. "Apa-apaan ini, Ara dan Leo? Uh, menjijikan. Claude kau urus mereka!" Alucard berlari ke luar dari Club. Ia segera mencari Esme.
"Uh, Kak Al... kau pelan sedikit," ucap Ara yang masih berada di dalam ilusi.
"Esme, akhirnya kita berasama juga." Begitupun dengan Leo, ia pun tenggelam dalam ilusi karena menghirup aroma parfum yang sangat pekat diruangan itu.
"Rghhh... dasar orang-orang yang menjijikan!!" Apa Ara sengaja menyuruhku kemari untuk melihatnya seperti ini?" geram Claude.
Ckrek... ckrek...
Alice mendorong kasar tubuh si wartawan. "Jangan memotretnya lagi!!! Pergi kau!! Pergiiii...."
Esme dan Hanabi yang sudah ke luar dari Club itu tertawa terbahak-bahak. Kemenangan masih ada di pihak Esme!
"Kau hebat Hanabi, sebelum meninggalkan ruang VVIP itu kau menyemprotkan banyak sekali parfum perangsang. Hahahaa...."
"Iya dong, kita harus adil. Kalau wanitanya terangsang, kenapa tidak membuat si prianya terangsang juga. Hihihi... aku yakin, mereka membuat adegan panas yang sangat ekstrim di atas ranjang. Hahahaaa."
Huh, jaket berbulu dari Alucard jadi basah. Aku harus cepat pulang. (Batin Esme)
...
BERSAMBUNG !!!
Author mau nagih nih. Mana LIKE, KOMEN & VOTE TERBANYAK dari kalian? 🤧🤧
__ADS_1