
.
Pagi hari.
pukul 07:00 WIB
Nampak, Esme yang sudah bersiap diri dengan pakaian kantornya. Esme begitu anggun, bagaikan sosok wanita kelas atas sungguhan, saat memakai pakaian itu. Ia menatap tajam dirinya sendiri di hadapan cermin, menyemangati kembali jiwanya yang sempat menciut, karena hari ini adalah hari pertamanya bekerja.
Seperti biasa, setelah ia keluar dari kamarnya, Esme menuju ruang makan untuk sarapan. Ny.Hilda selalu menjadi ibu yang sigap, karena setiap pagi hari, sarapan sudah tersedia di atas meja untuk keluarga tercintanya.
Esme mengambil roti bagiannya, tapi sorotan matanya menatap heran, karena kakak gendutnya itu tak biasanya telat untuk sarapan. Balmond selalu menjadi nomor satu yang hadir, saat Ny.Hilda memanggil mereka untuk sarapan.
Tiba-tiba, Lolyta keluar dari kamarnya dan menuruni tangga dengan wajah yang berseringai. "Selamat pagi kak Esme. Selamat bagi ibuku yang cantik, lucu, dan imut," sapanya dengan senyum merekah. Lolyta sangat rapi saat ia memakai seragam putih abunya itu.
Ny.Hilda tersenyum ke arah anak bungsunya itu, dengan tangan yang sibuk menyiapkan sarapan di atas meja.
"Ada apa sayang? Sepertinya, kau sangat senang pagi ini," seru Ny.Hilda, sambil membenarkan posisi dasi di seragam Lolyta. Kemudian, Ny.Hilda meletakkan makanan dengan berwadahkan aluminium foil yang berbentuk cup di atas meja makan, lalu menyodorkannya pada Lolyta.
Esme menatap tajam ke arah Lolyta. Ia sebenarnya sangat penasaran, kemana Lolyta saat kakak kandungnya sendiri sedang dilamar oleh kekasihnya.
Ah, seusia Loly sangat sensitif jika ditanyai dengan pertanyaan yang memojokan dirinya. Itu hanya akan menciptakan kesalahpahaman di antara kita. (Batinnya, Esme berusaha berpikir positif)
"Apa ini, bu?" tanya Lolyta, sambil terus memperhatikan makanan itu. Sepertinya makanannya baru selesai keluar dari oven. Hawa panasnya sangat terasa, dan terlihat begitu lezat.
"Sesuatu yang ibu khususkan untuk meningkatkan kualitas otakmu. Salmon and meatballs cheese mentai," jelas Ny.Hilda.
"Wah! Salmon? Salmon memang sangat baik untuk kesehatan otak !" tutur Esme, sambil mengunyah roti. Tapi, tatapan matanya melihat fokus ke makanan itu karena memang terlihat sangat lezat.
"Kau akan mengahadapi ujian nasional. Mulai sekarang ibu akan membuatkan makanan yang berfungsi baik untuk otakmu," sambung Ny.Hilda sambil membersihkan kedua tangannya menggunakan kain.
"Mm... bu, dimana Balmond dan ayah?" tanya Esme, cemas.
"Apa kau tidak tahu, sejak kemarin dia keluar masuk kamar mandi dan malam ini keadaannya semakin parah. Ayah mengantarnya ke rumah sakit, sekalian bekerja. Tadinya, ibu mau mengantarnya tapi dia bersikekeh menolak," jelas Ny.Hilda sambil berjalan dan mengambil tasnya.
"Oh, ya... Ibu dan bi Inah akan pergi ke pasar sekarang, kalian habiskanlah makanannya. Esme kau antarkan Loly, ya!" ucapnya dengan nada sedikit meninggi, kemudian berlalu meninggalkan kedua anaknya itu.
Esme melirik arlojinya. Sudah pukul tujuh tiga puluh, ia bergegas mengambil tas dan memeriksa ulang isi didalamnya sebelum berangkat kerja. "Loly, ini kan sudah lewat dari jam masuk sekolahmu? Kenapa kau masih saja bersantai?" tanyanya.
"Hari ini, aku hanya melakukan ekstrakulikuler saja disekolah. Tidak terlalu diburu waktu," jawabnya sambil terus memakan salmon mentai itu.
"Tapi jika kau sesantai ini, aku akan telat pergi ke kantor. Ayo, cepat! Apa kau mau pergi ke sekolah naik angkot?" sindir Esme.
Lolyta langsung membulatkan kedua bola matanya, karena ia pernah mengalami hal buruk saat berada di dalam angkot. Lolyta langsung bergegas dan berjalan mendahului Esme.
__ADS_1
...
Saat di perjalanan mengantar adiknya, Esme mengintip Lolyta yang duduk di jok belakang dari kaca spion. Lolyta begitu imut dengan rambut hitam lebat sedadanya. Namun, ia terlihat risih dengan rambutnya yang berantakan karena dibiarkan terurai tertiup angin. Lalu, Esme merogoh kantung bajunya, ia menyodorkan ikat rambut berbentuk bunga matahari ke arah Lolyta.
"Apa ini?" tanya Lolyta, terheran.
"Pakailah! Jangan biarkan penampilanmu menjadi buruk karena rambut yang tidak rapih itu," ucap Esme acuh, sambil memokuskan pandangannya kedepan.
Karena ikat rambutnya sangat unik dan lucu, tak pikir panjang Lolyta langsung memakainya.
"Bagaimana?" tanya Lolyta sambil menunjukkan hasil rambut yang telah ia ikat.
"You look so beautiful," ucap Esme sambil tersenyum.
Kemudian, tidak lama mereka sampai di sekolah. Lolyta langsung bersalaman pada kakaknya dan keluar dari mobil itu. Esme pun karena diburu waktu, ia langsung menancap gas menuju kantor.
Di gerbang sekolah.
Lolyta yang sedang berjalan masuk, ditepuk pundaknya dari belakang oleh sahabatnya, Alice. Hingga membuatnya terhentak kaget.
"Kau membuat jantungku hampir copot !" seru Lolyta sambil mengusap dadanya.
"Sepertinya yang mengantarmu bukan Tn.Harits. Mobil siapa itu?" tanya Alice terheran, ia menatap rambut Lolyta yang di ikat. Tak seperti biasanya.
"Ya, itu mobil kak Esme," jawabnya.
Sebenarnya, memang Lolyta tak pernah mau mengikat rambutnya, kecuali sedang ada pelajaran olahraga.
Lolyta tersadar, lalu ia menyentuh rambutnya. "Ah! Menurutku ikat rambutnya sangat lucu loh, " katanya. "Lihat nih," sambung Lolyta sambil menundukkan kepalanya.
"Wah! Bunga matahari." Kedua bola mata Alice langsung terbelalak. "Uh, ini benar-benar sangat lucu." Alice berseringai, karena bunga matahari adalah bunga yang paling ia sukai. Hingga ia pernah meminta lahan tanah kosong kepada ayahnya, untuk ditanami bunga matahari.
...
Di lain tempat, yaitu di Mord Group.
Sampailah Esme di perusahaan, kemudian ia langsung menuju ruang direktur personalia, direktur Garry Harley.
Tok... tok... tok...
"Masuk saja¡"
Esme pun tak sungkan-sungkan, ia langsung masuk dengan percaya diri. "Direktur Gerry, aku datang untuk registrasi," katanya.
__ADS_1
Garry sedikit kehilangan konsentrasinya, saat melihat keelokan Esme dengan pakaian kantoran yang dikenakannya. Kemudian, ia mengerjapkan mata, dan langsung melirik ke arah jam dinding yang berada di samping kepala Esme. "Ehemm, hari ini kau datang lebih awal," ucap Garry, sambil melirik ke sembarang arah karena menjadi gugup.
Garry menyuruhnya duduk, lalu ia meletakan beberapa lembar yang berisikan kontrak kerja perusahaan dengannya, di atas meja.
Esme membaca sedikit isi kontrak itu dan segera menandatanganinya. Saat mata Esme sedang fokus menatap lembar kontrak itu. Tanpa sadar, Garry memandanginya dari sudut yang berbeda.
Rambut hitam panjang terurai, kulit putih mulus, bulu mata lentik, pipi merah merona, bibir mungil, dagu lancip dengan postur tubuh ideal. Menurutnya, Esmeralda adalah tipe yang sempurna. Garry baru menyadarinya saat itu.
"Aku sudah selesai menandatanganinya!" seru Esme, sambil menatap heran ke arah Garry karena Garry menatapnya terus tanpa sadar.
Esme mengetuk tangan kanan Garry dengan pulpen. Hingga membuat lamunan Garry membuyar. "Ah! M-maaf. Bagaimana, apakah sudah tanda tangannya?" bicaranya sangat gugup dengan pipi yang memerah.
Esme mengangguk cepat sambil tersenyum.
Setelah itu, Garry membawanya mengelilingi perusahaan dan menuju ruang wakil direktur yaitu, Roger. Tanpa mengetuk pintu, Garry langsung membuka pintu itu dengan santainya. "Roger, Direktur pemasaran baru, Esmeralda, sudah melakukan administrasinya," ucap Garry sambil melipat kedua tangannya.
"Oh, ya! Duduklah," titahnya.
Kemudian, Garry meninggalkan mereka berdua.
"Tak perlu kau suruh aku pun akan langsung duduk, karena Direktur Personalia itu telah membawaku mengelilingi perusahaan, dan kini aku sangat kelelahan!" ucap Esme dengan kecepatan bicaranya sambil menghembuskan nafas panjang. Ia seperti sudah akrab saja dengan Roger, bicara dengan tanpa basa-basi.
Roger membulatkan matanya, karena kecepatan bicara Esme membuatnya terkejut. "Santai!" katanya, sambil tersenyum lebar dan berjalan mengambil sesuatu. Roger langsung menyodorkan botol minuman jus pada Esme "Mungkin sebotol jus lemon ini akan mengembalikan semangatmu untuk menyombongkan diri lagi," sindirnya sambil mengingat kejadian interview kala itu.
"Apa menurutmu aku sangat angkuh?" tanya Esme sambil mendelekan matanya dan meminum jus lemon itu. "Tapi, memang seperti itulah aku," sambungnya dengan mengusap air lemon yang berantakan di sisi bibirnya.
Roger hanya tersenyum sinis melihat tingkah uniknya itu sambil menggelengkan kepalanya. "Kau sudah masuk Mord Grup, tapi kau belum menjadi karyawan tetap disini. Aku akan memberimu tugas, masa percobaannya adalah satu bulan. Jika dalam satu bulan kau bisa menaikan pendapatan menjadi 2% maka -" (Bicara Roger terhenti)
"Aku sudah mengetahui tugasku. Leo sendiri yang memberitahukannya langsung," tutur Esme.
Mendengar ucapan Esme itu, membuat Roger menganga, terheran. "Lalu, untuk apa kau kemari?" tanyanya sinis, dengan raut wajah kesal.
"Heh...." Esme tersenyum meledek. Lalu ia bangkit dari duduknya. "Hanya ingin melihat, bagaimana cara bicara wakil direktur dari Mord Grup, karena saat pertama kali bertemu saja, sudah membuatku jengkel." Esme memutar tubuhnya dan berjalan keluar dari ruangan itu sambil tersenyum kecil.
A-apa!!!
Roger terkejut, ia membulatkan matanya dengan raut wajah yang memerah karena dibuat kesal hati oleh tingkahnya dan ucapannya itu. Ia benar-benar tak habis pikir dengan sikap wanita yang baru saja berhadapan dengannya itu.
Apa yang masuk kedalam otaknya, sampai berani membuat wakil direktur sangat kesal.
Wanita ini, ternyata bukan wanita biasa. Bukan hanya angkuh, sepertinya juga sangat pintar memutar balikkan suasana hati seseorang! (Geram Roger dalam hatinya)
...
__ADS_1
BERSAMBUNG !!!
Ayo, Like, komen & vote ❤