
.
Esme menutup mata dalam-dalam. Ia berusaha mengendalikan dirinya sendiri, agar tidak termakan dengan situasi kacau saat ini. Karena keterpurukannya akan membuat musuh tertawa bahagia.
"Ayo, ikut aku. Aku akan membawamu ke tempat yang tenang." Roger menarik tangan Esme.
Esme langsung melepaskannya.
"Ada apa?" tanya Roger.
Esme merogoh isi tasnya, ia mengeluarkan headset, dan memakainya di kedua telinganya.
Roger melongo. "Kenapa kau malah memakai headset?"
"Berita itu sudah terlanjur disebar. Mungkin ratusan atau jutaan orang saat ini sedang membacanya. Dan, puluhan staf disini sedang membicarakan hal buruk tentang masa laluku. Aku tidak akan sanggup kalau harus membungkam mulut mereka satu persatu. Tapi, aku kan punya telinga, aku hanya perlu menutup telingaku untuk tidak mendengarkan kicauan mereka. Aku punya mata, aku berhak memerintahkan mataku untuk tidak melihat apa yang sedang terjadi," jelas Esme.
Aku kira dia telah berubah menjadi wanita lemah karena semalam dia menangis tersedu-sedu di pelukanku. Ternyata dia masih Esmeralda yang aku kenal dulu. (Batin Roger)
Esme membalikkan tubuhnya, membelakangi Roger. Ia mengutak-atik ponselnya, lalu menyetel musik dangdut.
Tiba-tiba headsetnya ditarik oleh Roger, hingga terlepas dari telinganya. Esme sedikit kesal, ia menoleh ingin memarahi Roger.
"Diam, jangan bergerak!" seru Roger.
"Apa yang kau -"
Roger mengeluarkan earphone dari dalam tasnya, lalu memakaikannya di telinga Esme.
__ADS_1
"Kau benar, kita tidak akan sanggup membungkam mulut mereka satu persatu. Tapi, jangan menutup telinga dengan alat yang kecil seperti ini, tidak akan mempan. Pakai earphone-ku, ukuran speakernya jauh lebih besar dari headset-mu." Roger tersenyum kecil, senyumnya seperti menyiratkan pada Esme ayo semangat kau pasti bisa melewati ini.
Esme pun tersenyum karena sangat tersentuh dengan perlakuan lembut dari Roger.
"Roger, terima kasih. Pertama kali bertemu denganmu, aku kira kau pria yang menyebalkan. Tapi, sekarang aku melihat sisi lain dari dirimu," ucap Esme, seketika ia mengingat kejadian semalam saat Roger memeluknya.
Blush... (Kedua pipi Roger memerah, jantungnya pun berdegup kencang)
"Maka dari itu... jika menilai seseorang, harus dari faktanya bukan dari katanya," ucap Roger.
Ting!!
"Aku punya ide!" Tiba-tiba, sebuah ide brilian mincul di otak Esme.
"Apa?"
"Roger, apa kau percaya dengan berita itu?" tanya Esme.
Ctak...
Esme menjentikkan jarinya. "Itulah motif utamanya, membuat aku dibenci orang banyak dengan memanfaatkan beberapa fakta dari masa laluku. Jika aku menjelaskan pada semua orang tentang kebenaran pun, percuma saja. Kalau semua orang berpikiran sepertimu, jika di jelaskan pasti langsung mengerti. Tapi, kalau aku menjelaskannya pada orang yang bodoh, itu hanya akan menghabiskan waktu berhargaku. Jadi, hanya ada satu cara, yaitu dengan membuktikannya." Esme berjalan kembali menuju divisinya, diikuti oleh Roger.
Wanita ini membuatku terkagum-kagum. Tapi, sayang sekali, aku terlambat satu langkah dari Alucard. (Batin Roger yang sedang berjalan mengikuti Esme)
"Lihat, lihat! Wanita tidak tahu malu itu kembali lagi."
"Sepertinya, dia akan mengambil semua barangnya lalu pergi dari perusahaan."
__ADS_1
"Bodoh sekali, untuk apa dia pakai earphone ke kantor? Hahaa...."
Bisikkan para staf yang bermulut ember.
Saat Esme melewati mereka dengan sedikit berjoget karena sedang mendengarkan musik dangdut, tiba-tiba tangannya di tahan oleh seorang staf wanita yang sangat usil. Ia berniat menyindir Esme, untuk membuatnya lebih malu di depan semua orang.
"Ada apa?" Esme membuka earphonenya.
"Bu Direktur, gosip tentang masa lalumu yang kelam sudah beredar. Semua orang di perusahaan pun sudah tahu, apa kau tidak malu datang ke kantor dengan wajah yang sombong seperti itu?" tanyanya dengan tatapan mengejek.
Semua staf sedang menatap ke arahnya.
Esme tersenyum menungging. "Apa kau mempercayainya?"
"Emm... ya, berita dari Kompos.com tidak mungkin salah, gosipmu sudah tersebar luas dari mulut ke mulut. Bukan hanya sekedar tidur dengan Pak Leo saja, tapi katanya, kau sempat hamil dan malah menggugurkan kandunganmu itu," kata staf wanita itu yang masih belaga sombong.
"Katanya? Dari mulut ke mulut? Hahaha... aku ingin tanya, gunanya matamu ini untuk apa, jika kamu menilai orang menggunakan telinga?... Dengar, ya! Gosip itu dibuat oleh orang iri, disebarkan oleh orang bodoh, dan diterima dengan baik oleh orang I-DI-OT!"
Jleb, jleb, jleb...
Bak tertancap seribu anak panah. Bukan hanya staf wanita di hadapannya saja yang membatu dan menganga, tapi ucapan Esme pun membuat seluruh para staf yang sudah menggosipinya langsung terdiam, menutup mulutnya rapat-rapat, mereka dibuat tak bisa berkutik.
Huh, baru diberi teguran kecil seperti itu saja kalian langsung kikuk. Nanti, aku akan membuktikannya dengan sebuah tindakan, hingga tidak akan ada lagi yang berani bergosip mengenai aku. (Batin Esme)
"Huahahahahaaa... skakmat!" Suara gelak tawa dari Roger. Sangat renyah sekali mendengar tawanya.
....
__ADS_1
BERSAMBUNG !!!
Jangan lupa LIKE, KOMEN & TIPS nya.