Air Mata Pengantin

Air Mata Pengantin
Sesuatu Yang Tidak Pantas


__ADS_3

.


Esme segera menarik tangan Alucard ke luar dari ruang pasien tersebut, meninggalkan Ara. Ara tak bisa lagi berkutik. Bahkan, bernafaspun rasanya sangat sesak sekali.


Ekspresi wajah Esme sangat menakutkan. Ia sudah bagaikan Hulk, menurut Alucard.


"Sayaaangg...," ucap Alucard. Ia kesulitan mengikuti Esme yang semakin mempercepat langkah kakinya.


Esme tak menghiraukannya, pandangan matanya lurus ke depan, keluar dari rumah sakit ini.


"Dimana mobilmu?" tanya Esme, tajam.


"Ahm... disana," tunjuk Alucard ke arah mobilnya.


"Mana kunci mobilnya?"


"Nih,"


"Masuk!"


"B-baik, Nyonya," sindir Alucard, berpura-pura patuh layaknya bawahan pada atasan.


Alucard membukakan pintu mobil untuknya, kemudian ia pun masuk di bagian kemudi, dan segera menancap gas menuju kediaman Aganor.


Sesampainya di rumah, Esme masuk begitu saja tanpa melirik sama sekali pada Alucard. Wajahnya datar tanpa ekspresi. Rasa kesal, marah dan tidak terima, masih menyelimutinya.


"Hey, Esme!!... Esme!!" Alucard berusaha mengejarnya.


Tn.Aganor, Ny.Bae dan ketiga anaknya yang sedang makan malam, dibuat terheran-heran dengan tingkah Alucard. Bisa juga lelaki itu memasang wajah takut pada wanita, begitu menurut adik-adik Alucard.


Esme melangkah lurus ke depan, bahkan ia pun tidak menyadari sudah mengabaikan mertua dan adik iparnya yang sedang makan malam.


"Alucard!!" panggil Tn.Aganor.


Langkah kaki Alucard langsung terhenti. Ia menoleh ke arah ayahnya. "Apa kakek tua?"


"Brengsek kau!! Apa tidak bisa memanggilku dengan sebutan ayah?" geram Tn.Aganor. "Ada apa dengan kalian?"


"Raut wajah istrimu sangat marah, matanya penuh kesedihan. Pasti kau berbuat ulah 'kan?" tutur Ny.Bae, dengan tatapan mata yang meneliti.


"Ck!... Pokoknya, ayah dan ibu tolong beritahu paman Chan, segera kirim anaknya ke luar angkasa. Anaknya yang manja itu sudah menganggu rumah tanggaku!" Alucard kembali melangkah menuju kamarnya. Ia berlalu begitu saja.


Tatapan mata Tn.Aganor dan Ny.Bae beradu. Begitu juga dengan ketiga adik Alucard.


"Mungkinkah yang Kakak bicarakan itu adalah Kak Ara?" ucap Akai.


"Hufff...," Ny.Bae meletakkan sendok dan garpu di atas meja. "Dia itu memang tertarik pada Alucard sejak kecil. Mungkin, dia tidak terima, Alucard pulang ke Korea sudah membawa istri."


"Ya, aku sudah tahu sipatnya. Ara itu sangat licik, dia akan melakukan segala cara bahkan sampai mengorbankan apapun demi mendapatkan apa yang dia mau," ucap Aldous.


Ny.Bae mengerutkan keningnya. Ia merasa khawatir dengan rumah tangga anaknya setelah mendengar ucapan Aldous.


"Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Mereka berdua harus bisa menyelesaikan persoalan rumah tangga. Aku akan menghubungi Chan nanti," Tn.Aganor berusaha meredakan rasa cemas yang tergambar dari wajah istrinya. "Apa kau mau aku suapi pakai mulutku?" goda Tn.Aganor.


Prangg...


Ketiga anaknya meleparkan sendok ke atas meja kaca. Wajah mereka datar tanpa ekspresi, sebab mereka sangat geli mendengar ayahnya yang sedang mencoba menggoda ibunya di hadapan mata mereka langsung.


"Ayah! Apa ayah tidak menghargai kami sebagai para jomblo?" ucap Adamson dengan tatapan yang tajam.


"Ya! Apa ayah sengaja mengatakan itu pada ibu di hadapan kami?" tutur Aldous.


"Sudahlah! Aku jadi tidak berselera makan...," kata Akai. "Ayo, Kak!" ajaknya pada kedua kakaknya.


Nampak, wajah Tn.Aganor merasa sangat bersalah. Ny.Bae menutupi mulutnya dengan tangan kanan, ia tertawa kecil disana.


"Ayah khilaf, maaf. Sudahlah, cepat kembali duduk!" perintahnya.

__ADS_1


Ketiga anaknya mengabaikan ucapannya. Mereka malah semakin menentang ayahnya, dengan ke luar dari rumah.


"Hey, hey!!! Kalian mau kemana?" teriak Tn.Aganor.


"Kita akan pergi mencari wanita. Kita akan memanas-manasi ayah jika ibu sedang tidak berada dirumah!" kata ketiga anaknya.


Tn.Aganor menggertakan giginya. Ia ingin melemparkan piring, mangkuk, beserta sendok ke arah mereka.


"Hey! Tenanglah...," ucap Ny.Bae.


"Rrgghh... aku 'kan tidak sengaja berkata begitu. Aku juga tidak tahu perasaan anak-anakku menjadi se-sensitif ini." Tn.Aganor menggeram. "Nana! Kenapa kau melahirkan semua anak yang pembangkak begitu. Apalagi si Alucard itu! Kalau aku tahu mereka tumbuh menjadi sosok yang seperti itu, aku akan memasukkannya kembali ke dalam perutmu!"


Ny.Bae mengelus-elus punggung Tn.Aganor, agar sedikit tenang sambil tersenyum-senyum.


"Sudahlah! Aku jadi tidak nafsu makan. Ayo, masuk ke kamar. Pijiti aku!" ucap Tn.Aganor.


"Kau duluan saja. Aku akan berbicara dan membawakan sesuatu untuk istri Alucard."


"Hmmm... jangan lama-lama, ya?"


"Iyaa...."


...


Di waktu yang bersamaan.


Esme mendiamkan Alucard, ia tidak berbicara apalagi melirik suaminya. Esme masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri, tujuan jelasnya untuk membersihkan pikirannya karena sudah terkotori dengan perdebatannya di rumah sakit dengan Ara.


"Esme!!" panggil Alucard sambil menggedor-gedor kecil pintu kamar mandi. Perasaannya diselimuti rasa bersalah.


Air keran dan air shower semakin terdengar kencang, seperti menyiratkan pada Alucard untuk tidak menganggunya.


"Huff... baiklah," Alucard berjalan dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


Tidak lama, Esme membuka pintu kamar mandi itu dengan wajah dan tubuh yang terlihat segar, aroma sabun mandi pun mendominasi seluruh kamar ini.


"Bicaralah, jangan mendiami aku begitu!" kata Alucard, dengan nada yang seperti sedang tertindas.


Esme tetap tak mengkhiraukannya. Ia terus saja mendiami Alucard, karena masih sangat kesal padanya saat Alucard tidak mendengarkan penjelasan Esme ketika Ara terjatuh dari tangga.


Esme berjalan menatap cermin dengan menempelkan piyama berwarna kuning cerah, cocok atau tidaknya piyama itu dipakainya. Pelukan Akucard pun masih menempel di perutnya.


Aroma sabun mandi yang menempel ditubuh Esme sangat harum, membuatnya sedikit tergoda. Alucard segera memutar balikkan paksa tubuh Esme.


Esme menolak, ia memutar kembali tubuhnya menghadap cermin.


Alucard tak kehabisan ide, ia melepaskan dua kancing kemejanya, hingga memperlihatkan dada bidangnya. Kemudian, ia meraih tangan Esme dan menempelkannya di dadanya sendiri.


"Ayolahh... apa kau tetap tidak akan berbicara padaku setelah tanganmu menyentuh dada bidangku ini?" ucap Alucard berusaha menggoda Esme.


"Cih! Omong kosong. Itu hanyalah sepasang otot dada yang sedikit tebal dan besar. Aku tidak mudah tergoda!" Esme memalingkan wajahnya ke arah lain, sambil melepaskan tangannya.


Alucard membuka kancing ketiga dan ke empat. "Bagaimana dengan yang ini? Maukah kau melihat atau mencicipi sedikit perut six-pack suamimu? Kau mungkin akan merubah pikiranmu setelah melihatnya?"


Blush...


"Kau benar! Aku tarik kembali ucapanku. Kunci jendela dan pintunya, tutup tirai dan redupkan sedikit pencahayaan, lalu berbaringlah!" celetuk Esme.


Ha!!! Kena kau!... Tidak mudah tergoda katanya, hahahaa... (Batin Alucard)


Alucard segera melaksanakan perintah dari Ibu Negara. Setelah jendela, pintu dan tirai di tutup, cahayapun sudah meredup, ia pun terpelungkup di atas ranjang empuk.


"Come here, honey!"


Esme melepaskan handuk kecil yang melilit di rambutnya. Ia berjalan mendekati Alucard dan berbaring di sampingnya.


"Sayaaaaangg... lihat aku!" Alucard menyentuh pipi kiri Esme. Esme pun menoleh.

__ADS_1


"Hem, apa?"


"Kau sudah tidak marah lagi?"


"Emm... sedikit," jawabnya singkat.


"Apa kau marah karena aku tidak mendengarkan penjelasan darimu?"


Esme mengangguk.


"Maaf, ya? Itu karena aku sangat syok melihat darah dari kening Ara." Alucard memeluk erat tubuh Esme yang masih memakai handuk kimono.


"Yaa... aku tahu kau tidak akan mengabaikan aku begitu saja."


Alucard menghela nafas lega. "Esme!"


"Hem??"


"Apa kau sadar dengan apa yang kau ucapkan pada Ara saat di rumah sakit?"


"Ucapan aku yang mana?"


"Ucapan yang membuka aibku!"


Blush...


Esme teringat kembali dengan perkataan itu, pipinya langsung merah merona. "Ehm... oh yang itu. Memangnya kenapa?"


"Aku sangat malu, loh... apa benar saat klimaks aku terlihat sangat menggoda?" tanya Alucard, tatapan matanya mulai nakal.


Esme membalikkan tubuhnya, ia memunggungi Alucard. Benar-benar malu membahasnya.


"Kenapa memunggungi aku? Kau malu, ya?" Alucard tertawa tak bersuara.


"Bahas yang lain saja!"


"Tidak mau! Karena kau sudah membuka aibku pada orang lain, maka aku akan memberimu sedikit penerangan. Aku terlihat menawan dan menggoda bukan hanya saat klimaksnya saja, tapi juga saat prosesnya, tahu!" goda Alucard. Ia terududuk dan membalikkan tubuh Esme.


Tatapan mereka beradu.


"Kau mau apa?"


"Aku mau menunjukkan seberapa jantannya aku. Diam, ya?" Alucard berseringai ria. Ia melepaskan handuk kimono yang Esme pakai.


Ia menahan kedua tangan Esme, kemudian mulai mengecup bibir Esme.


Tok... tok... tok...


Tiba-tiba, suara ketuk pintu menghentikan aksinya. Wajah Alucard mendatar. Ia beranjak dan membuka pintu kamarnya dengan tidak bersemangat.


"Ibu?... Ada apa?" tanya Alucard sambil menahan pintu agar ibunya tidak melihat Esme yang sedang memakai kembali handuk kimononya.


"Kenapa kau tidak pakai baju? Aku mau memberi sup ini untuk Esme. Minggir!" ucap Ny.Bae.


Alucard masih terjaga, tidak melonggarkan pertahanannya. Ia segera mengambil mangkuk sup itu.


"Terima kasih untuk supnya. Sebaiknya ibu kembali ke kamar ibu, dan tolong jangan mengetuk pintu malam-malam, atau ibu akan melihat sesuatu yang tidak pantas!"


Bruk...


Alucard menutup kembali pintu kamarnya.


"A-apa tadi yang dia bilang? Sesuatu yang tidak pantas?" gumam Ny.Bae.


...


BERSAMBUNG !!!!

__ADS_1


Jangan lupa LIKE, KOMEN & VOTE ❤


__ADS_2