Air Mata Pengantin

Air Mata Pengantin
Supermarket


__ADS_3

.


Sepulang dari acara pernikahaan Esme, Garry mengajak Kadita ke sebuah taman. Garry ingin lebih mengenal sosok istrinya yang sudah lama ia abaikan. Ia pun ingin memecahkan dan menyelesaikan akar masalah rumah tangganya dengan Kadita.


Mereka mulai berbincang, hingga lupa waktu.


Ini sudah sore, langit pun sudah berwarna jingga.


Angin di sore hari sangat segar. Hembusan angin membuat rambut Kadita berantakan.


Satu helai daun yang sudah mengering terjatuh tepat di atas kepala Kadita.


Garry langsung menyingkirkan daun kering itu.


"Kadita, di antara kita sudah tidak ada lagi kesalah pahaman. Jadi... bagaimana kalau kita juga menjalankan kewajiban kita sebagai pasangan suami istri? Kali ini kau tidak boleh menolak!" ucap Garry. "Kau harus menjalankan kewajibanmu sebagai istri 'kan?"


Kadita tertunduk sambil menelan salivanya.


Ia merasa gugup dan malu membicarakan hal sensitif ini dengan Garry.


"Tapi... tapi, aku -"


"Sudah! Tidak ada tapi-tapian. Ayo kita pulang, ini sudah sore." Garry menarik lembut tangan Kadita.


"Garry, tunggu!" Kadita menarik tangannya kembali.


"Apa?"


"Mm... aku takut," celetuk Kadita.


"Apa yang kau takutkan?" tanyanya sambil tersenyum licik. "Kau takut sakit?"


Kadita menutup matanya, ia benar-benar malu. Lalu, ia menganggukan kepalanya.


Garry berjalan perlahan menghampiri Kadita, ia memeluk dan mengusap punggung Kadita.


"Jangan takut, aku akan bermain dengan lembut," ucap Garry sambil tersenyum. "Kita ke Supermarket dulu, ya, membeli pengaman."


Pengaman? Ma-maksudnya kond*m? Dia dan aku benar-benar akan melakukan itu...???? (Batin Kadita yang gemetar gugup)


Garry menarik tangan Kadita, mereka masuk ke dalam mobil dan melaju menuju Supermarket.


.....


Di waktu yang bersamaan.


Esme dan Alucard sampai di Supermarket.


Alucard memarkirkan motor mewahnya. Esme menekan pundaknya, kemudian ia turun dan melepaskan helmnya.


"Nih," kata Esme sambil menyodorkan helm itu pada Alucard.


Alucard mengambilnya dan menyimpan helmnya bersamaan dengan helm yang ia pakai di atas jok motor.


Alucard memberi isyarat pada tukang parkir untuk menjaga motor mewahnya.


Kemudian mereka berjalan masuk ke dalam Supermarket.


"Al, apa kau tidak lihat tadi di sepanjang jalan, orang-orang memperhatikan kita?" bisik Esme sambil berjalan di samping Alucard


"Apa kau tidak tau, mereka melihat ketampanan dan karismaku saat mengendarai motor. Beruntunglah kau memiliki suami seperti aku!" ucap narsis Alucard.


Aku sangat menyesal sekali berbicara seperti itu padanya. Entah makhluk dari mana dia, bisa senarsis itu. (Batin Esme dengan wajah datarnya)


Alucard dan Esme masuk ke dalam Supermarket.


Saat masuk kedalam, mereka langsung di sambut pertugas Supermarket.


"Selamat sore Kakak," sapa petugas lelaki itu sambil tersenyum ramah pada Esme.


Alucard menyiutkan keningnya. Ia menyalah artikan pelayanan petugas Supermarket itu.


"Kenapa lelaki itu hanya menyapa dan tersenyum pada Esme saja? Jangan-jangan dia saingan yang tersembunyi. Tidak bisa dibiarkan!"


Aku sudah menyingkirkan Roger ke luar pulau. Aku tidak akan membuka sedikit celahpun untuk mereka, para sainganku!! (Batin Alucard)

__ADS_1


Esme berjalan sambil mencari kemana arah yang isinya adalah camilan?


"Apa ada yang bisa saya bantu, Kak?" petugas lelaki itu tersenyum lebar sambil menatap lembut pada Esme.


"Mm... tempat makanan-makanan ringan dimana, ya?" tanya Esme.


Petugas Supermarket yang ingin menjawab pertanyaan Esme langsung terhenti, ia tertunduk takut, karena di belakang Esme ada seseorang yang memelototinya dengan menakutkan.


Ya, Alucard yang memelototinya.


Tatapan matanya sangat menakutkan, seperti mengatakan bahwa kau akan mati jika terus tersenyum dan menatap wajah istrinya.


Alucard mendorong tubuh Esme.


"Aku juga tahu, kenapa harus bertanya padanya?" geram Alucard. "Sini, Ikuti aku"


Ada apa lagi dengannya? (Batin Esme)


....


Kadita dan Garry sampai di Supermarket.


Mereka keluar dari mobil, dan berjalan masuk.


Tapi langkah kaki Kadita langsung terhenti saat melihat seseorang yang tidak asing baginya.


"Ada apa?" tanya Garry terheran. "Ayo,"


"Tunggu! Tunggu sebentar," Kadita menciutkan kedua matanya. "Bukankah itu Leo?"


Garry melihat kemana arah pandangan mata Kadita. "Ah, iya. Itu Leo, kebetulan sekali bertemu dengan mantan Presdirku disini," kata Garry sambil tersenyum meledek.


Kenapa dia mengendap-endap seperti itu? Seperti maling saja. Eh, jangan-jangan dia sedang menguntit seseorang? (Batin Kadita)


Kadita menarik tangan Garry menghampiri Leo. Leo yang sedang membungkukkan tubuhnya sambil menatap ke dalam Supermarket itu langsung terkejut, saat Kadita menepuk kasar pundaknya dari belakang.


"K-Kadita? Garry?"


"Sedang apa kau disini?" tanya Kadita. "Kau sedang menguntit seseorang, iya 'kan?" Kadita meninggikan suaranya.


"Apa maksudmu? Datang-datang langsung menuduh yang tidak-tidak!" bantah Leo.


Tapi, Kadita tidak menemukan jawabannya.


"Lalu kenapa kau mengendap-endap seperti maling? Apa kau sebegitu miskinnya, sampai mau mengambil sesuatu dari dalam Supermarket?" celetuk Kadita.


Leo menggeram, dan langsung menoleh tajam ke arahnya. "Jaga ucapanmu! Meskipun aku sudah tidak memiliki apa-apa, aku tidak akan berani mencuri!" ucapnya mengotot.


"Hey, rendahkan nada bicaramu. Berani-beraninya kau membentak Kadita," Garry mendekatkan tubunya seperti menantang.


Leo mengerutkan keningnya sambil menatap Garry dengan tatapan menakutkan.


"Sudah, sudah!" Kadita memisahkan mereka.


"Leo, aku mau tanya... bagaimana hubunganmu dengan Alice? Kapan kau akan menikahinya? Dia sudah tidak lulus Sekolah karena khamilannya sudah tersebar luas kemana-mana," ucap Kadita.


"Menikahi Alice? Apa kau gila? Dia sudah mencelakai Esme, aku tidak mau dia menjadi istriku," bantahnya.


"Heh, kepar*t!! Meskipun begitu, tapi kau sudah menghamilinya, setidaknya kau harus bertanggung jawab. Yang di dalam kandungan Alice itu adalah anakmu sendiri, bukan anak kucing!" kata Kadita.


"Aku akan mengurus anaknya, tapi tidak dengan menikahinya. Alice bukan wanita yang patut dikasihani. Dia benar-benar iblis," Leo mengeraskan rahangnya.


"Apa kau ingin aku melaporkanmu ke polisi? Sudah menghamili anak di bawah umur? Pokoknya, kau harus bertanggung jawab!" ancam Kadita. "Alice tinggal di salah satu kontrakan di Bandung. Orang tuanya sudah angkat tangan mengenai masalah ini. Akhir minggu ini, kita kesana. Aku akan membawa penghulu, untuk menikahkan kalian."


Leo terbelalak.


"Hey, Kadita! Kau tidak bisa seenaknya memutuskan pilihanku sendiri." Leo sangat jengkel.


"Masa bodo!! Jangan membantahnya lagi, dan jangan berani untuk kabur. Perutnya makin hari semakin membesar. Alice tidak memiliki siapa-siapa lagi sekarang. Dia akan lebih menderita jika kau tidak kunjung menikahinya." Kadita berlalu meninggalkan Leo begitu saja. Ia tidak ingin keributan ini menjadi lebih panjang.


"Kadita!!!"


Garry mendekatkan mulutnya ke telinga Leo.


"Jangan cuma mau lubangnya saja. Jadilah lelaki yang bertanggung jawab," celetuk Garry sambil tersenyum licik, kemudian ia segera menyusul Kadita yang sudah hampir masuk ke dalam Supermarket.

__ADS_1


Leo menggeram. Ia menggertakkan giginya hingga rahangnya mengeras, karena ia tidak rela dirinya terus saja di dorong ke wanita iblis itu oleh Kadita.


....


Di dalam Supermarket.


"Kadita!" panggil Garry sambil terus mengejarnya.


Kadita dengan wajah marahnya terus saja berjalan, ia tidak mengkhiraukan Garry yang terus memanggilnya. Sapaan ramah dari petugas Supermarket pun ia acuhkan.


Kadita masuk lebih dalam, tanpa sadar langkah kakinya menuntunnya ke tempat dimana ada pengaman (komd*m) itu berada.


Garry terus saja mengejarnya, hingga langkah kakinya terhenti saat melihat Kadita mengambil beberapa merek pengaman itu.


"Hey! Sadarlah. Lihat, berapa banyak yang kau ambil," kata Garry sambil menahan tangan Kadita agar tidak mengambilnya lagi.


Kadita langsung tersadar. Ia membuyarkan amarah dan rasa benci di pikirannya karena Leo.


Kedua matanya langsung terbelalak. "Uh, apa yang aku lakukan?" gumamnya. Kadita menyimpan kembali semua pengaman yang ada di tangannya.


Garry tersenyum jahil. "Aku tidak tahu kau seantusias ini. Ayo, ambillah yang banyak. Aku akan berusaha memuaskanmu di ranjang, hihihi...,"


Blush...


Tubuh Kadita langsung menegang. Kedua pipinya merah merona. Jantungnya berdegup kencang.


Aduuhh... bikin malu saja kau Kadita!!! (Batin Kadita mencaci maki dirinya sendiri)


"Mm... kita beli seperlunya saja," ucap Kadita sambil memalingkan wajahnya, ia tak ingin pipi merahnya terlihat oleh Garry.


*Di*a semakin menggemaskan saja ketika sedang gugup. (Batin Garry yang sudah tidak sabaran)


Saat Kadita mengambil bungkusan pengaman itu. Tiba-tiba, pandangannya beradu dengan Esme yang sedang mendorong keranjang yang isinya sudah penuh dengan beberapa camilan.


"Kadita? Garry? Kalian...???" Esme mengernyitkan dahinya karena tangan Kadita sedang menggenggam bungkusan pengangaman.


Esme?... Oh, jadi begitu. Ternyata Leo menguntit Esme. (Batin Kadita)


"Kalian... mau melakukan apa dengan itu?" tanya Esme sambil menunjuk bungkus pengaman di tangan Kadita.


Sedikit terbesit dipikirannya, Esme kembali mengingat kejadian pelecehan itu.


"Uh," pandangan Esme jadi kabur. Ia menyengkram erat bajunya. Otot-otot tubuhnya mulai menegang.


Tidak, Esme!!! Kau harus melawannya. Pikirkan yang membuat hatimu senang saja. Senyuman ayah, kebaikan Alucard dan yang lainnya. Kau harus bisa!!! (Batin Esme berusaha keluar dari pikirannya sendiri)


Begitu melihat tingkah aneh Esme, Alucard langsung berlari menghampirinya. Ia menyimpan kembali ice cream yang sudah ia pilihkan untuk Esme ke tempatnya semula.


"Esme!! Esme kau kenapa?" tanyanya cemas.


Esme hanya terdiam. Ia berusaha mengontrol pikirannya sendiri.


Kadita merasa dirinya sudah tau penyebab Esme seperti itu. Ia segera menutupi tempat yang isinya pengaman semua dengan tubuhnya.


"Esme!! Esme maafkan aku, aku tidak bermaksud membuatmu mengingat kejadian itu," Kadita menggenggam erat tangan Esme. "Alucard, cepat kau bawa Esme ke rumah sakit!" Kadita semakin panik.


Saat Alucard akan menggendong tubuh Esme. Esme langsung menahan tangannya.


"Tidak, tidak!" Esme terengah-engah. kemudian ia mengatur nafasnya, "Aku sudah tidak apa-apa," ucap Esme dengan keringat yang mengucur deras.


"Tidak apa-apa bagaimana? Wajahmu sudah sangat pucat begini!" Alucard menjadi kesal karena sangat mencemaskan Esme.


"Tenang dulu. Aku sedang mengontrol pikiranku! Kalian jangan membuatku semakin panik," kata Esme berusaha memberikan pengertian pada mereka yang panik dengan keadaannya.


Alucard dan Kadita terdiam. Mereka memberi ruang untuk Esme mengendalikan pikirannya.


Garry merasa terheran, memangnya harus separah ini sindrom yang di derita Esme?


"Bagaimana, sudah baikan?" tanya Alucard yang masih mencemaskannya. "Kita cari tempat duduk, ya?" Alucard menarik lembut tangan Esme.


"Kadita, aku ingin mendengar penjelasan darimu tentang hubunganmu dengan Garry," bisik Esme sambil terus berjalan.


Ah, iya. Aku kan berhutang penjelasan tentang pernikahan tersembunyiku pada Esme. (Batin Kadita)


....

__ADS_1


BERSAMBUNG !!!!


Semangatin dong sama Like, Komen & Vote ❤


__ADS_2