
.
Alucard memarkirkan mobilnya di area parkir rumah sakit. Ia berjalan masuk dengan seikat bunga mawar.
Cklek...
Pintu terbuka. Terlihat Esme yang sedang terduduk menatap ke luar jendela dengan baju pasien. Raut wajahnya datar tanpa ekspresi. Pandangannya kosong melompong.
Alucard berjalan mendekatinya.
Ia menyodorkan bunga mawar itu ke hadapannya. Tapi, Esme tidak memalingkan wajahnya, ia hanya terus menatap ke luar jendela.
"Esme, aku membawakan bunga cantik ini untukmu," ucap lirih Alucard sambil tersenyum. "Lihat nih, warna bunganya merah merona seperti kedua pipimu yang memerah saat melihatku," sambungnya. Alucard berusaha membuat Esme tergerak dengan ucapan narsisnya. Tapi sayangnya, Esme masih terdiam membisu, keadaannya tak kunjung membaik.
Menurut psikolog, Esme sedang mengalami sindrom trauma pelecehan seksual. Mentalnya terganggu akibat pelecehan seksual yang dialaminya sudah masuk mempengaruhi dirinya.
Esme menganggap kejadian itu sebagai kejadian menyiksa yang mengancam nyawanya, karena kondisi ini sudah mempengaruhi alam bawah sadarnya.
Psikolog menyuruh Alucard untuk terus medorongnya agar ke luar dari zona yang membuatnya terus memikirkan itu, karena jika terus-terusan diselimuti pikiran buruk seperti ini, pasti akan lebih berpengaruh buruk pada kesehatannya.
Sudah lewat satu hari dari sejak kejadian penculikan itu, ia tak pernah bersuara. Esme hanya terus-terusan mengurung diri, nafsu makan dan tidurnya pun terganggu. Jika ia memaksakan makan dengan porsi yang banyak, Esme akan memuntahkan seluruh isi perutnya secara paksa.
Alucard menjejakan lututnya di lantai, ia mendongakkan wajahnya menatap getir wajah Esme.
"Esme yang bisa menyembuhkanmu adalah dirimu sendiri. Jiwamu harus tergerak untuk bangkit. Hindari dan jangan pernah memikirkan hal itu lagi. Hancurkan perasaan yang membuatmu terus terpuruk seperti ini. Ayo, hancurkan!!" Alucard mencoba mengikuti arahan dari psikolog.
"Kau harus terus bertahan hidup, jangan membiarkan musuhmu berkeliaran di bumi. Sebelum sindrom trauma ini masuk lebih dalam menggerogoti habis pikiranmu, kau harus segera menghentikannya. Jika kau terus memikirkannya, kau akan hancur. Jangan membuat musuhmu menang, tanam itu dipikiranmu. Esme... dari sudut pandanganku, kau adalah wanita yang cerdas dan tangguh, kau pasti bisa kembali seperti semula. Aku berjanji aku akan menjagamu, Esme. Datanglah padaku, aku tidak akan membiarkan siapapun menyentuhmu apalagi membuatmu seperti ini lagi," ucap Alucard dengan tatapan sedih.
Tiba-tiba saja, Esme mengambil bunga mawar dari genggaman tangan Alucard.
Kedua matanya mengedip manja.
Alucard langsung memeluknya, raut wajahnya begitu bahagia sekali. "Ya, seperti ini... aku tahu kau pasti bisa. Dorong pikiranmu untuk ke luar. Kau berhak bendapatkan kehidupan yang layak, Esme. Kau perlu bertahan hidup untuk membalaskan dendam pada orang yang telah membuatmu seperti ini. Ayo, bangkit dan balaskan perbuatan mereka. Aku akan berdiri dibelakangmu, memperhatikanmu dalam diam. Ketika kau menyuruhku untuk menggigit, maka aku akan langsung menggigit musuhmu."
Bimsalabim Abrakadabra.
Perkataan Alucard seperti sebuah mantra.
Alucard bisa langsung membuat rasa aman dalam diri Esme yang belum pernah ia rasakan. Bagaikan memiliki sesuatu yang akan siap untuk menjaganya seumur hidup.
Rasa yang terus membuatnya takut ini pun langsung tersapu habis.
Tanpa sadar, Esme menggerakan tangannya, ia mengelus-elus punggung Alucard yang sedang memeluknya. Ia merasa nyaman, hangat dan damai dalam pelukan Alucard.
Alucard sangat senang, Esme memang wanita paling luar biasa yang pernah ia temui. Pikirannya tidak dapat di taklukan begitu saja oleh sindrom trauma itu. Kegigihan dalam dirinya membuat Alucard lebih tertarik padanya.
Alucard melepaskan pelukannya.
"Apa kau sudah kembali seperti semula, Esme?" tanyanya penasaran.
Esme menganggukan kepalanya perlahan.
"Kita pulang, ya. Beberapa minggu lagi aku dan keluargaku akan bertamu ke rumahmu, membahas pernikahan," celetuk Alucard.
Esme langsung terbelalak, pipinya merah merona, jantungnya berdegup kencang.
Perlahan, ia menggelengkan kepalanya.
"Tidak apa-apa, Esme. Jangan takut padaku. Aku menikahimu agar bisa menjagamu. Aku tidak seperti mereka, aku tidak akan menyakitimu. Mulai dari sekarang, kau harus membuka lembaran baru, aku yang akan mengisi hari-harimu nanti. Aku akan berusaha melumpuhkan ingatanmu. Kita bangun sebuah keluarga yang normal, yang benar-benar layak di sebut keluarga," jelas Alucard agar Esme semakin yakin.
__ADS_1
"Bagaimana?" tanyanya.
Esme terdiam menunduk, ia berpikir keras, memprediksikan hal apa yang akan terjadi jika ia menyetujui lamaran Alucard.
Esme menatap kedua bola mata Alucard, sepertinya ia sudah mendapatkan jawaban yang tepat.
Perlahan Esme menganggukan kepalanya.
Senyuman diwajah Alucard semakin mengembang, mengembang, dan merekah sempurna.
"Tapi... bukankah, kita beda agama?" Esme mulai bicara lagi, dan itu membuat kebagaiaan Alucard bertambah.
Pertahankan, Esme! Kau bisa hidup normal lagi. Jangan kembali terpuruk. Biarkan semuanya berlalu. Ada aku disini... (Batin Alucard)
Alucard menghela nafas lega. "Kemarin aku sudah belajar dan sedikit mengetahui tentang agamamu, aku merasa tertarik, dan memutuskan untuk menjadi mualaf. Jika aku sudah menjadi mualaf, aku akan langsung menikahimu," jelas Alucard.
"Apa kau menjadi mualaf dikarenakan ingin menikah denganku?" tanya Esme.
"Salah satunya memang itu, bukankah menikah adalah ibadah? Dan, setelah tahu sedikit tentang agamamu aku menjadi semakin tertarik untuk masuk islam," jelasnya penuh percaya diri.
"Baiklah. Setelah menikah, aku akan mengajarimu bagaimana menjadi imam yang baik dalam keluarga." Esme tersenyum samar.
Jiwa bahagia Alucard meronta-ronta. Ingin cepat-cepat menikah dengan Esme.
"Tapi, aku tidak menduganya kau akan langsung menyetujui lamaranku ini. Sebenarnya aku sangat syok, tahu!" Alucard memalingkan wajanya, ia menjadi gugup.
"Bukankah tadi kau bilang aku adalah wanita yang cerdas? Jika hal itu menguntungkan dan membuatku menjadi lebih baik, maka aku tidak akan pikir panjang berbelit-belit, atau menyianyiakannya lagi. Aku akan langsung memutuskannya," jelas Esme.
Dasar wanita ajaib. Sedang seperti inipun pemikirannya masih tetap logis. Apa dia sadar, sikapnya yang seperti ini semakin membuatku tergila-gila padanya. (Batin Atucard)
"Sekarang, kau ingin aku melakukan apa pada mereka?" tanya Alucard, kedua tanduknya muncul dengan senyum jahat yang samar.
Dari mana dia tahu dalangnya adalah mereka? Aku benar-benar tidak habis pikir dengan cara kerja otaknya. (Batin Alucard terheran-heran)
"Tidak perlu membalaskan dendampun, mereka sudah menderita dengan sendirinya," ucap Esme santai.
Apa? Santai sekali bicaranya. Tidak boleh dibiarkan !!!
"Tapi, kau sudah banyak menanggung derita. Kau sudah mau mengalah demi dia dan membatalkan pernikahanmu. Seharusnya dia yang mengalami ini, bukan kau Esme," geram Alucard.
"Ya, memang benar. Aku sangat bodoh jika membiarkan mereka begitu saja." Esme menoleh, menatap Alucard. "Jika kau bersikeras ingin memberi pelajaran untuk mereka, maka lakukanlah atas namaku. Aku benar-benar sudah lelah, aku tidak ingin menambah musuh, aku tidak ingin terjadi apa-apa lagi pada diriku sendiri," jelas Esme.
"Baiklah." Alucard berseringai. "Bukankah wanita itu hamil dan masih sekolah? Aku akan menyuruh sekolahannya melakukan tes keperawanan. Dia tidak akan bisa lulus dari sekolahnya dan akan menanggung malu keluarga. Lalu, bagaimanan dengan ibumu?"
"Apakah ayahku sudah tahu, aku seperti ini karena istrinya?" tanya Esme.
Alucard menggelengkan kepalanya.
"Bagus. Hubungi ayahku, katakan padanya apa yang sudah dia perbuat padaku hingga aku mengalami sindrom trauma seperti ini. Ibu sangat mencintai ayah, apa jadinya jika ayah mengetahui dalang penculikan ini adalah istrinya sendiri. Ayah pasti akan marah sejadi-jadinya, lalu tanpa sadar ayah akan mengusirnya dari rumah. Dan yang lebih bagusnya lagi, jika ayah menceraikannya. Ayahku tidak pantas bersanding dengan wanita ular seperti dia." Esme menunggingkan senyumnya.
Semakin menarik. Aku akan terus melatihnya seperti ini, menjadi kucing liar yang buas. Hingga tidak ada yang bisa mengambilnya dariku. (Batin Alucard)
Alucard segera menghubungi Tn.Harits, ia menceritakan kejadian Esme di culik hingga Esme mengalami sindrom trauma karena pelecehan seksual itu.
Tn.Harits sangat terkejut, nafasnya menjadi sesak setelah mendengarnya. Kemudian, sebelum panggilan itu di akhiri, Alucard memberitahukan siapa dalang dari penculikan Esme.
"Dalangnya adalah Alice dan Ny.Hilda, istrimu sendiri."
Ctarr ⚡⚡
__ADS_1
Suara gemuruh petir menyerang dan menghantam jiwanya.
Tn.Harits yang sedang berdiri di balkon kamarnya, langsung berjalan masuk menghampiri Ny.Hilda yang sedang membenahi isi lemari pakaian.
Plak...
Ny.Hilda terkejut sejadi-jadinya, ia mendapatkan tamparan keras tak terduga dari suaminya sendiri.
"Dasar wanita keji. Jadi ini alasanmu bersikeras mengusir Leo kemarin?" teriak Tn.Harits. Amarahnya sudah tak bisa lagi di redam.
Sebenarnya kemarin Leo bertamu dengan amarah dijiwa, ia ingin membuat perhitungan pada Ny.Hilda. Tapi, Ny.Hilda menyuruh Pak Lampir & Bi Inah untuk mengusirnya.
Ny.Hilda terbelalak sambil menyentuh pipi kirinya. "A-apa?? A-ada apa denganmu?" ucapannya bergetar. Ia pura-pura bodoh.
"Selama ini, aku sudah salah menilaimu, Hilda! Berani-beraninya kau menjebak Esme. Apa kau tahu dampak yang telah kau perbuat ini!!!"
Deg...
Tubuh Ny.Hilda langsung menegang, matanya terbelalak, lututnya gemetar ketakutan.
Tn.Harits mengambil nafas dalam-dalam. "Anakku dilecehkan 2 kali oleh penculik yang kau suruh! Kesuciannya dirampas oleh tiga orang pria." Tn.Harits mengangkat tinggi-tinggi ketiga jarinya. "BIADAB SEKALI KAU, HILDAAA!!"
Brak...
Tn.Harits memukul lemari itu hingga pintu lemarinya hancur. Kemarahan seorang ayah yang mengetahui hal tercela terjadi pada anaknya sendiri.
"Dan yang lebih tragisnya, dia sampai mengalami kekerasan bahkan mengalami sindrom trauma pelecehan seksual!!! APA LAYAK KAU DI SEBUT MANUSIA?" Bentak Tn.Harits hingga uratnya terlihat timbul.
"Salah apa Esme padamu, dasar wanita tak berotak!!! Kau sudah mengkhianatinya, dengan parahnya kau membuat dia seperti itu!!! ... Jelas, aku sangat marah seperti ini, karena pelecehan dan kekerasan yang menimpa anakku disebabkan oleh ibunya sendiri. Bagaimana jika dia dibunuh? Apa kau tidak berpikir sampai situ?... Aku sudah tak habis pikir lagi padamu. Sekarang kemasi barang-barangmu... pergi dari rumahku. Aku sudah muak melihat tampangmu itu."
Ny.Hilda langsung mendongakan wajahnya. Kedua matanya bergetar hebat. "Apa yang... apa yang kau bicarakan barusan?" tanyanya.
"Tidak usah memperlihatkan wajah menyedihkanmu itu. Aku tidak akan terpedaya lagi!" kecamnya.
"Harits kau!!! Kau berani mengusirku?" Kerutan di dahi Ny.Hilda sudah bukan main, ia merasakan sesak yang teramat menusuk.
"Ceraikan saja aku kalau kau berani!" teriaknya, penuh Emosi.
"Bagus! Aku akan segera ke pengadilan agama, mengurus surat perceraian kita!!"
A-apa? Dia... dia serius? (Batin Ny.Hilda terhentak)
"Tidak! Aku tidak ingin bercerai denganmu! Jika kita bercerai bagaimana dengan Loly? Dia akan menjalani Ujian Nasional, pikirannya akan terganggu," ucapnya.
"Aku akan membawanya, dan mendidiknya dengan benar, agar tidak tumbuh menjadi sosok wanita kejam seperti ibunya! Sebelum itu terjadi, kau harus meminta maaf dulu pada Esme!" Tn.Harits berjalan tergesa-gesa mengambil kunci mobil, ia berlalu meninggalkan Ny.Hilda begitu saja, menuju rumah sakit untuk melihat keadaan Esme.
Tubuh Ny.Hilda merosot jatuh ke lantai. Ia menangis menjerit sejadi-jadinya.
Keluarga yang dulunya harmonis sudah musnah karena ulahnya sendiri yang terus menerus memprioritaskan materi, hingga menjadikannya sosok ibu yang jahat.
Mau promosi sedikit. Bagi kalian yg punya aplikasi NovelM*, boleh mampir ke karya ke 3 aku, ya. Judulnya 'Wife of a Prisoner'.
...
BERSAMBUNG !!!
Tabung dulu dong votenya untuk hari senin. Bantu agar novel ini banyak pembacanya, hikss pahala loh... 🤧
__ADS_1