
.
Saat Roger masih dibalut rasa kekesalan karena tingkah Esme, tiba-tiba Leo masuk ke dalam ruang kerjanya. Ia terheran dengan raut wajah Roger yang sangat kusut, tak enak dipandang.
"Ada apa dengan wajahmu?" tanya Leo, sambil meraih cermin kecil di atas meja kerja rekannya itu, lalu ia merapikan rambutnya.
"Aku benci dengan direktur pemasaran baru itu !" geram Roger. "Berani sekali dia membuat aku sangat jengkel, di hari pertamanya bekerja !" sambungnya, dengan tangan yang mengepal erat.
Leo tersenyum kecil, dengan lirikan meledak ke arahnya.
"Apa kau meledekku?" tanya Roger dengan wajah datar. Leo malah terdiam, sambil terus saja terfokuskan pada ketampanan dirinya di dalam cermin itu.
"Bagaimana dengan anting ini?" tanya Leo tiba-tiba, sambil memperlihatkan telinga sebelah kirinya. "Apakah aku semakin memikat?" sambungnya.
Roger mengerutkan keningnya, karena terheran.
Sejak kapan Leo suka memakai anting? (Batin Roger)
"Ah ! Apakah kau ada hubungan khusus dengan si direktur pemasaran itu?" tanya Roger, serius.
Leo tak menjawab pertanyaan rekannya itu, ia hanya tersenyum ke arahnya sambil berkata, "Bukankah dalam tiga menit lagi kita akan mengadakan rapat?" ucapnya, sambil berjalan dengan memasukan tangan di kedua saku celananya dan meninggalkan Roger begitu saja.
Roger terbelalak dan langsung memeriksa jam tangannya. Benar, tiga menit lagi rapat akan segera dimulai. Roger bergegas menuju ruang rapat dengan panik.
...............
Di lain tempat.
Esme sedang berjalan menuju ruang kerjanya. Tiba-tiba ia bertabrakan dengan seorang wanita. Hampir saja Esme tersungkur, dan beberapa lembaran kertas yang sedang wanita itu genggam berhamburan kemana-mana di lantai.
"Ah ! M-maaf, aku sedang tidak fokus," ucap Esme sambil mengambil lembaran-lembaran yang terjatuh di bawah kakinya.
"Uh, maaf. Aku juga sedang tidak fokus," tutur wanita itu dengan menyusun kembali lembaran miliknya yang berantakan.
Saat Esme memberikan lembaran yang sudah ia susun pada wanita itu, Esme terbelalak karena wanita itu adalah Kadita, teman SMA nya.
"Kadita !"
"Esmeralda ?"
Mereka terhentak kaget setelah melihat wajah masing-masing. Perlahan senyum mereka muncul sambil memeluk satu sama lain.
"Esme, kau !!" Kadita membelalakan matanya, melihat dari ujung kaki sampai ujung kepala Esme. "Wah ! Lama tidak bertemu, kau semakin berkelas saja," seru Kadita dengan pandangan berbinar.
Esme tersenyum karena pujian temannya itu. "Sedang apa kau disini?" tanya Esme terheran.
"Aku kemari untuk bertemu direktur baru. Aku ditunjuk untuk menjadi sekretarisnya. Kau sendiri... ?" jelasnya, sambil kembali bertanya pada Esme.
__ADS_1
"Kebetulan sekali. Cepat, beritahu petinggi departemen pemasaran, delapan menit lagi kita akan mengadakan rapat !" perintah Esme ini membuat Kadita terjeda sesaat untuk mencerna perkataan yang membuatnya kebingungan.
Kemudian, Ia langsung menyadarinya sendiri tanpa perlu jawaban jelasnya.
"Apa ... kau direktur baru disini?" tanyanya, dengan ekspresi wajah terkejut.
Esme tersipu malu, ia langsung menganggukan kepalanya. Kadita menganga tak percaya, karena pimpinannya adalah teman SMA nya sendiri.
Esme memutar tubuh Kadita yang masih menganga disitu. "Sudah tidak ada waktu. Cepat, beritahukan rapatnya sekarang !" titahnya lagi.
"B-baik !" ucap gugup Kadita, sambil berjalan cepat dengan paniknya.
...
Waktu rapatpun tiba. Esme masuk ke ruang rapat, nampak disitu sudah hadir beberapa orang dengan seragam yang rapi.
Tapi, mereka menundukan kepalanya terlihat murung ketakutan. Esme mengernyitkan dahinya, ia sedikit terheran.
Sebenarnya saat Kadita memberitahu pada petinggi perusahaan untuk mengadakan rapat dadakan, ia mengingatkan beberapa hal pada mereka. Kadita berkata pada mereka bahwa direktur barunya itu tidak suka di bantah, bermata elang, dan begitu disegani. Maka dari itu nyali meleka menciut saat kedatangan Esme diruang rapat ini.
"Perkenalkan, saya Esmeralda ! Doktor fakultas ekonomi dari University of California, yang sekarang menjabat sebagai direktur pemasaran disini. Saya suka menyelesaikan pekerjaan dengan hasil yang maksimal. Semoga kalian pun seperti itu !" jelas Esme dengan suara lantang. Sikapnya ini disalah artikan oleh mereka. Pandangan mereka terhadap Esme adalah sebagai wanita arogan. Dan, suara lantangnya itu lah yang membuat para petinggi semakin bergidik ketakutan.
Suasana semakin sunyi....
"Aku merasa terasingkan, disini. Ini adalah pertemuan pertama kita, seharusnya kalian memberikan kesan baik padaku. Tapi, ada apa dengan kalian? Kalian terlihat seperti takut padaku ! Apa karena posisisku disini sebagai seorang pemimpin?" tanyanya dengan sorotan mata yang begitu tajam.
"Heh !" Esme tersenyum nyeleneh sambil berjalan-jalan mengelilingi mereka. "Ubah pola pikir kalian jika memang kalian menganggap bahwa pemimpin itu sangat menakutkan. Karena itu merupakan kesalahan besar !" ucap Esme. Semua yang ada disitu tertunduk, diselimuti rasa gugup.
Glek...
Matilah aku !
Tatapan matanya seperti menyiratkan bahwa jika aku melihatnya aku akan mati.
(Batin para petinggi yang gemetar ketakutan)
"Kita adalah sebuah tim, kita perlu berkomunikasi, dan saling tukar informasi agar tujuan kita bisa tercapai. Disini semuanya merupakan anggota, tapi dalam sebuah tim kita membutuhkan pemimpin untuk memimpin timnya. Jika kalian takut pada pemimpin, itu hanya akan menciptakan jarak diantara kita dan itu akan berpengaruh buruk dalam bisnis. Segan boleh, tapi jangan pernah merasa takut padaku !" sambungnya sambil melipat kedua tangan diatas perut.
Semua orang yang menghadiri rapat, akhirnya mendapat titik terang mengenai arti kepemimpinan dan sebuah tim yang sebenarnya untuk kesuksesan bisnis mereka.
Esme menarik nafas panjang. "Apakah kita sudah bisa memulai rapatnya?" Esme melirik wajah-wajah yang masih terlihat tegang. "Santai saja. Kalian bebas berpendapat, kok. Aku tidak akan langsung melumpuhkan pemikiran kalian saat kalian mengungkapkan pendapat masing-masing nantinya. Kita akan mengolah pemikiran kita bersama-sama." Esme pun akhirnya duduk di kursi pimpinan sambil menyeruput segelas air minum yang telah disediakan, karena tenggorokannya terasa kering.
Akhirnya ketakutan mereka terhadap Esme langsung sirna dengan sendirinya. Dengan adanya rapat itu, membuat mereka mengetahui langsung sikap Esme yang sebenarnya.
Para petinggi itu langsung memelototi Kadita, karena telah menipu mereka. Kadita malah tertawa kecil, saat melihat wajah ketakutan mereka, menurutnya itu sangatlah lucu.
...
__ADS_1
Setelah selesai rapat, tiba-tiba saja Leo datang menghampiri Esme. Leo membuka pintu ruang rapat bersamaan dengan para petinggi yang juga akan berjalan keluar. Sontak saja, ia menjadi sorotan utama para staf disana.
Ada hal penting apa hingga presdir menyempatkan datang kemari?
"Leo?" Esme sedikit terkejut dengan kedatangannya.
Para petinggi pun terhentak kaget, karena Esme tidak segan-segan memanggil atasan mereka dengan namanya langsung.
Mereka langsung menundukkan kepalanya, menyapa Leo dengan rasa hormat. Kemudian, Leo menggerakan kepalanya, menyiratkan agar mereka segera keluar. Mereka pun keluar dengan segudang pertanyaan dibenaknya.
Leo menutup pintunya, dan langsung menghampiri Esme yang sedang berdiri. Lalu, ia duduk di atas meja sambil melipat kedua tangan di atas perutnya.
"Leo untuk apa kau kemari? Bukankah kau sangat sibuk?" tanya Esme, penasaran.
"Tadinya aku ingin menghadiri rapatmu disini, melihat performa kekasihku saat memimpin rapat. Tapi, akupun mengadakan rapat di perusahaanku. Sayang sekali aku tidak bisa melihat bagaimana raut wajahmu ketika berbicara di depan petinggi mengenai strategi bisnis," jelasnya sambil tersenyum kecil dan menatap lembut ke arah Esme. Membuat kedua pipi Esme memerah saja.
"Dengar ya ! Mau segugup atau semencekam apapun situasinya, wajahku ini akan tetap terlihat oke." Bicaranya tanpa keraguan sambil menarik hidung Leo, karena dibuat gemas dengan wajah kekasihnya itu. Tiba-tiba pandangan Esme tak sengaja melihat sesuatu yang menempel di telinga kiri Leo.
"Apa ini?" Esme langsung mengerutkan keningnya sambil meraba benda yang menempel di telinga Leo. "Sejak kapan kau suka memakai anting? Berarti telingamu ditindik? Cepat lepas ! Kau terkesan sebagai lelaki playboy jika memakainya," geram Esme sedikit mengotot, karena ia tak suka lelaki beranting. Anting hanya digunakan oleh wanita saja, menurutnya.
"Uh, aku tidak tahu jika kau sekecewa itu dengan anting ini. Ku kira aku terlihat lebih tampan jika memakainya," bantah Leo sambil menarik anting itu. "Lihat ! Ini hanya anting magnet, aku tidak sampai menindik telingaku... huh !" Leo mengerucutkan bibirnya, dengan kehampaan diwajahnya.
Esme memang benar-benar wanita yang bisa memutar balikan perasaan seseorang.
Ia jadi merasa bersalah pada Leo.
"Tidak memakai anting pun, kau sudah sangat tampan, Leo. Maafkan bibirku yang tak bisa dikontrol ini," ucap Esme, sambil menepuk-nepuk bibirnya.
Tiba-tiba saja bibir Leo mendarat di bagian punggung tangan Esme, yang sedang menepuk bibirnya itu.
Sontak saja Esme terkejut, ia langsung membelalakan kedua bola matanya, karena Leo begitu dekat dengannya. Jika tidak ada tangannya yang menghalangi, bibir mereka pasti sudah saling bersentuhan.
Pipi Esme semakin memerah, jantungnya pun berpacu lebih cepat. Esme langsung tersadarkan. Ia dengan cepatnya menoleh ke arah kiri, memalingkan wajahnya. Nafasnya terasa berat, ia mengelus-elus dadanya sambil berkedip panik.
Apa yang Leo lakukan, barusan? (Batin Esme meronta-ronta)
Leo malah tersenyum melihat tingkah gugup kekasihnya itu karena keusilannya. "Esme, malam ini aku mengadakan sebuah pesta untukmu di sebuah club. Aku akan menjemputmu pukul delapan malam." Leo mengelus-elus tangan Esme, lalu ia menciumnya.
"Pesta untukku?" Esme menaikkan alis kirinya.
"Ya, aku mengadakan pesta karena kau sudah bergabung di perusahaan ku. Aku hanya mengajak Roger, Garry dan Kadita. Kau tidak bisa menolak, karena ini adalah pestamu !" seru Leo sambil tersenyum dengan menepuk kedua bahu Esme.
Tapi, pikiran Esme terganggu dengan tempat pestanya. Kenapa harus di sebuah Club?
Esme ingin sedikit mengeluh pada Leo. Tapi, Leo langsung beranjak dari duduknya.
"Aku masih ada kerjaan di kantor. Jika tidak ada hal lain, kau di perbolehkan pulang lebih awal," ucapnya dengan tatapan menggoda pada Esme. "Ingat ya ! Jam delapan malam," sambungnya sambil berbisik di telinga Esme. Nafas Leo begitu lembut menyentuh lehernya, membuat Esme terpaku disana dengan tatapan kosong.
__ADS_1
Uh, betul-betul godaan yang sangat kuat. Mengapa dia sangat tampan dan seksi ? (Esme berusaha menepis bayangan Leo yang terus menghantui pikirannya)
......