
.
"Roger, dimana kau dan Esme berada?" tanya Alucard dibalik telepon.
"Aku diperusahaan," jawabnya singkat.
"Di perusahaan? Bagaimana bisa? Apa ini yang kau sebut dengan menangani Esme?" gertaknya.
"Jangan dulu menghakimiku. Dia sendiri yang bersikeras ingin tetap berada di perusahaan! Bukankah kau suaminya, seharusnya kau tahu sikap keras kepalanya itu!" Roger balik emosi.
"Ck!" decak Alucard, ia mematikan panggilan telepon begitu saja.
Esmeee... kenapa kau susah sekali di arahkan? Aku hanya menghawatirkan kesehatanmu. (Batin Alucard)
"Pak, putar balik. Pergi ke perusahaan," ucap Alucard.
Ara yang duduk di sampingnya, hanya terdiam membisu. Ia sedang memikirkan bagaimana caranya agar tidak bertemu dengan Esme, apalagi sampai meminta maaf padanya.
"Trik apa lagi yang sedang kau pikirkan?" Alucard seakan-akan bisa membaca pikiran kotor Ara.
Ara sedikit terkejut. "A-aku tidak memikirkan apapun."
"Jangan coba-coba berulah lagi. Kau menjahati Esme 100x, aku akan membalasnya 1000x!" ancam Alucard.
Ara menggertakkan giginya, hingga rahangnya mengeras. Dadanya sangat sakit sekali setiap kali Alucard membela Esme di hadapannya.
Sampailah mereka di perusahaan Mord. Alucard keluar dari mobil, lalu ia mengetuk kaca jendela bagian Ara.
"Keluar!" ucapnya dingin.
Mau tak mau, Ara pun keluar dari dalam mobil.
"Temui Esme dibagian divisi pemasaran!" kata Alucard, raut wajahnya datar tanpa ekspresi.
"A-emm... aku tidak tahu kemana arahnya," kata Ara yang berusaha mengelak.
"Apa kau sedang mengejek perusahaanku? Di perusahaanku ada resepsionis, dia bisa beberapa bahasa. Mau berinteraksi dengan bahasa kambing pun, akan dilayani. Ayo, jangan mengelak lagi," kata Alucard.
"Ah! Emm, ya... tapi, aku akan mengunjungi Kak Esme nanti, bukan sekarang."
"Kebakarannya hari ini, maka harus dipadamkan hari ini juga." Alucard mendorong-dorong tubuh Ara, mereka pun masuk ke perusahaan.
Minta maaf, ya minta maaf. Kenapa aku jadi sangat gugup? (Batin Ara)
"Hey, kau!" Alucard menunjuk si resepsionis.
__ADS_1
"Saya?... Saya Laras, Presdir." Si resepsionis tersipu malu.
"Aku tidak perduli. Kemari!" Alucard menggerakan jari telunjuknya. "Antar dia menemui Direktur Pemasaran, Esmeralda."
"Oh, em, baik." Si resepsionis menunjukkan arah langkahnya, ia mempersilahkan Ara berjalan mengikutinya.
Rrghh... sial! Aku tidak bisa meloloskan diri. Ekspresi wajah Kak Alucard sangat menakutkan. (Batin Ara)
Alucard mengeluarkan ponselnya, lalu menelepon sekretaris Kim.
"Bawakan yang aku suruh, sekarang. Aku tunggu di lobi!" titahnya. Perasaan marah Alucard masih membara.
Selama menunggu sekretaris Kim, beberapa staf sedang membicarakan Esme secara sembunyi-sembunyi. Dan, itu membuat Alucard semakin marah.
Tidak lama, sekretaris Kim berjalan menghampiri Alucard. "Presdir, ini rekaman cctv hari ini."
Alucard segera mengambil dan memeriksanya. "Hmm... ternyata ada banyak karyawan yang idiot disini. Kim, bantu aku!"
Alucard berjalan melewati beberapa staf, diikuti dengan sekretaris Kim. "Kamu, kamu, kamu dan kamu. Kalian di pecat, kemasi semua barang kalian sekarang juga!"
Deg...
"A-apa?" Para staf yang ditunjuk Alucard tercengang. "Presdir, apa salah saya?" tanyanya dengan tatapan getir sambil berjalan menyusul Alucard.
"Oh, ya. Kamu, kamu, kamu dan juga... kamu yang pakai baju abu-abu monyet. Kalian berempat dipecat. Kemasi semua barang kalian masing-masing."
"A-apa!! Ki-kita juga kena?"
Alucard berjalan lurus ke depan, masih diikuti sekretaris Kim. Ia menghiraukan begitu saja para karyawan yang mengeluh karena pemecatan. Suruh siapa punya mulut tidak di jaga?
"Dari mana presdir tahu? Padahal kita bergosip di tempat yang sangat sepi!"
"Aduuhhh, ini semua gara-gara kamu. Kamu yang mengajakku bergosip kan?"
"Huaaa... padahal aku sudah ditagih uang kostan, dan masih ada utang pulsa juga. Hikss...."
...
Di waktu yang bersamaan.
"Yaa, ini diluar dugaanku. Mau bagaimana lagi, dari pada menghindar mending dihadapi," ucap Esme yang sedang menelepon Kadita.
"Kalau tahu begitu, aku akan memaksakan masuk kerja hari ini. Rgghh... rasanya gatal sekali tanganku ini, ingin menampar bibir-bibir jahat mereka!" geram Kadita.
"Sudahlah, aku bisa menangani ini sendiri. Kau perbanyaklah istirahat, jaga kandunganmu baik-baik," kata Esme.
__ADS_1
"Ck! Kali-kali, kalau mau tempur ajak aku juga. Uh, uh, se-sebentar... hooeeekkk... hoeeekkk... hoss, hoss, Esme! Kita bicarakan nanti lagi, ya aku... hoeeekkk."
Tut... tut... tut...
Panggilan terputus.
"Haiss, dasar Kadita." Esme menggelengkan kepalanya. Ia jadi teringat masa lalu, saat dirinya pernah mual-mual seperti Kadita tadi. Tanpa sadar, kedua matanya berkaca-kaca, mengingat langkah demi langkah yang sudah ia lalui susah payah sampai saat ini. Perjuangannya demi hidup bahagia sangat terasa sekali.
Tok... tok... tok...
Tiba-tiba saja terdengar suara ketukan pintu. Itu membuat lamunan Esme membuyar. Esme menyapu sedikit air matanya.
"Masuk!"
Resepsionis pun masuk diikuti dengan Ara. "Bu Direktur, ada yang ingin bertemu dengan anda."
Esme sedikit kebingungan saat melihat Ara. Ia menggerakkan tangannya, menyuruh si resepsionis ke luar dari ruang kerjanya.
"?" Esme yang sedang duduk dengan tampang arogannya, melihat Ara dari ujung kaki hingga ujung kepalanya. Wajah Ara menunduk, tak berani menatapnya, lututnya sedikit gemetar, jari tangannya ia mainkan, matanya melirik kesana kemari tak karuan.
"Sepertinya kamu biang keroknya!" celetuk Esme.
Glek...
Ara menelan salivanya dalam-dalam.
Seperti biasa, mata elang dan insting tajamnya tidak pernah melesat sedikitpun. Selalu tepat sasaran.
Esme beranjak dari duduknya. Ia berjalan perlahan mendekati Ara.
"Disini, siapa korbannya? Kenapa malah kamu yang terlihat gugup dan ketakutan? Aku hanya mengambil nafas dan berkedip, lututmu langsung gemetar. Semenyeramkan itukah aura yang terpancar dari dalam tubuhku?" sindirnya.
Sial!! Dia sengaja membuatku semakin gugup . (Batin Ara)
Esme berlalu, dan duduk di sofa yang berada di ruang kerjanya. Wajahnya dibiarkan setenang dan sedamai mungkin. Tapi, jangan salah, air yang tenang bukan berarti tiada ombaknya.
"Sepertinya kau memiliki unek-unek untuk disampaikan padaku. Kemari, duduk disampingku, dan bicarakan langsung. Kita ngobrol mesra," sindiran Esme semakin membuat Ara gugup dan kehilangan nyali.
....
BERSAMBUNG!!!
Jangan lupa, LIKE, KOMEN & VOTE ❤
__ADS_1