
.
Saat Tn.Roky akan mengangkat tubuh Esme. Leo segera mendorong tubuhnya.
"Menyingkir kau! Jangan sentuh seincipun dari tubuhnya!" ucap Leo. Tatapannya sangat menakutkan.
Ara berjalan menghampiri mereka. Ia menggerakkan matanya agar Tn.Roky segera pergi dari sini. Tn.Rokypun berlalu meninggalkan mereka.
Ara berbisik pada Leo. "Leo, apa kau tahu... Esme pernah hamil anakmu, tapi sayangnya dia keguguran. Dan, sekarang aku akan membantumu untuk bisa kembali padanya. Aku sudah memesan ruangan VVIP, buatlah dia puas, karena itulah obat penawarnya."
"A-apa? Jadi...." Kedua mata Leo bergetar hebat. "Beberapa bulan yang lalu aku pernah kesini dengan Esme, dan kita tak sengaja melakukan itu. Aku tak menyangka dia... dia ternyata hamil? Dia pernah mengandung anakku? Ya Tuaaann... jadi, ketika Esme mengetahui perselingkuhanku dia sedang hamil anakku? Aku benar-benar sangat jahat!" Leo mengutuk dirinya sendiri. Penyesalan yang teramat besar semakin menghantuinya.
Leo segera mengangkat tubuh Esme. "Esme, kenapa kau tidak memberitahuku? Jika aku tahu kau pernah hamil anakku, aku akan terus mempertahankan hubungan kita. Maaf kan aku, Esme." Leo berjalan, ia membawanya menuju ruangan VVIP yang sudah Ara pesankan.
Alice yang sedang asik menonton pertunjukkan musik, tak tahu menahu. Rencananya malah menjerumuskan suaminya sendiri.
Ara segera menyuruh wartawan untuk siap siaga. Lalu, ia pun menelepon Alucard dan Claude. Memberitahukan bahwa dirinya ada di Indonesia dan ingin bertemu di Sky Club. Susah payah membujuk Alucard, akhirnya Alucard dan Claude pun menyanggupinya. Mereka akan tiba di Club 10 menit lagi.
"Yuhuu...." Ara sangat bahagia.
Pria misterius yang terduduk di lantai atas masih saja memperhatikan tingkah laku Esme.
...
Sesampainya di ruangan VVIP, Leo segera membaringkan Esme di atas ranjang.
"Esme, wajahmu sangat merah. Sepertinya kau meminum minuman itu terlalu banyak. Aku adalah obat penawarnya. Jadi, aku harus melakukannya," gumam Leo.
Leo segera membuka bajunya. Perlahan ia merayap ke atas ranjang, dan akan memulai aksinya.
__ADS_1
Saat sudah membungkukkan tubuhnya di atas tubuh Esme. Tiba-tiba, Esme membuka matanya. Ia segera memukul titik lemah di bagian leher Leo. Seketika, pukulan itu pun membuat Leo langsung pingsan.
Brukk...
Leo terbukur kaku di atas ranjang. Esme segera beranjak.
"Huffff... tidak sia-sia aku mempelajari ilmu bela diri saat SD," gumam Esme, ia berseringai ria. "Maaf Leo, kau memang sangat baik padaku. Tapi, perlakuanmu padaku seperti ini, hanya akan mengulang sejarah yang sama."
Esme mengambil ponselnya, ia segera menelepon Hanabi.
"Halo, Hanabi... bagaimana?" tanya Esme di balik telepon.
"Aku sedang bersama pelayan itu. Mau di apakan dia?" Hanabi sedang menyekik leher si pelayan yang sudah berani memasukan obat perangsang di minuman Esme.
"Suruh dia melayani Ara, masukan obat perangsang itu pada minum yang akan disuguhkan pada Ara. Pastikan Ara meminumnya!" ucap Esme.
"Huff, baiklah. Aku kira malam ini aku akan berolahraga." Hanabi pun mematikan panggilan telepon itu.
"Dengar aku baik-baik kalau tidak mau mati sia-sia! Kau harus melayani orang yang menyuruhmu. Masukkan sisa obat perangsang yang kau punya diminuman orang yang menyuruhmu. Pastikan dia meminumnya!" titah Hanabi.
"Ta-tapi... aku, aku tidak berani," ucapnya gugup. Tubuh si pelayan itu sudah diguyur keringat ketakutan.
"Kau tunduk pada orang yang salah. Jika kau menolak, aku khawatir dengan nasib hidupmu karena Esme lebih menakutkan dari wanita itu," kecam Hanabi. "Cepat! Lakukan apa yang aku suruh. Jika kau melakukannya dengan baik, aku akan meringankan hukumanmu."
Hanabi mendorong-dorong tubuh si pelayan. Ia tak mau membuat Esme menunggu terlalu lama.
Si pelayan pun melakukan tugasnya. Ia menghampiri Ara yang sedang duduk santai menunggu kehadiran Alucard dan Claude.
"Nona, kau sudah melakukan rencana yang sangat baik. Untuk menyegarkan tubuhmu, aku membawakan minuman ini. Minumlah, aku jamin staminamu akan langsung kembali," ucap si pelayan sambil menyodorkan segelas minuman pada Ara. Jiwanya bergetar hebat, ketakutan.
__ADS_1
"Wah, kau sangat perhatian. Baiklah, tenggorokanku memang terasa kering." Tak segan-segan, Ara mengambil gelas berisi minuman itu lalu meneguknya habis.
"Aahhh... segarnyaaa...."
Ara merogoh isi tasnya, ia mengambil amplop lalu memberikannya pada si pelayan.
"Itu bayaran untukmu dan ayahmu (Tn.Roky). Kalian sudah bekerja dengan baik. Pergilah," ucapnya.
Si pelayan segera mengambilnya. "Te-terima kasih, Nona. Terima kasih." Si pelayan pun langsung kabur. Ia tak ingin Ara menyadari bahwa dirinya sudah di beri obat perangsang.
Tidak lama, obat perangsang itu mulai bekerja. Ara kepanasan, wajahnya memerah.
"Apa pergantian suhu di Indonesia secepat ini. Tadi sedikit agak dingin, sekarang menjadi sangat panas," gumam Ara. Ia mengipas-kipaskan tangannya.
Semakin ditahan semakin panas dan semakin menggila. "Uh, aku... tidak tahan! Ada apa denganku?" Ara menggit bibir bawahnya ia melepaskan kancing bajunya, hingga membuat belahan dadanya terlihat.
Pandangannya semakin tidak jelas. "Ah, ada apa dengaku. Huh... huh...."
Panas... panas... dan semakin panas...
Seseorang berjalan menghampirinya. Entah itu pria atau wanita, karena pandangan Ara semakin tidak jelas. Dalam benaknya, semoga saja yang datang dan yang sedang menggendongnya ini adalah Alucard. Ingin sekali ia mencium Alucard.
"Kak Al, aku... huh... aku ingin melakukannya denganmu. Apa kau mau?" Ara jadi hilang kendali, ia mengecup leher Hanabi yang dipikirnya adalah Alucard.
Uh, sangat menjijikan wanita ini. (Batin Hanabi, ia menahan ke-jijikannya sekuat mungkin)
Esme sudah menunggu mereka di luar pintu. "Hanabi!" panggilnya. Esme menggerakan tangannya menyuruh Hanabi membawa Ara masuk ke dalam ruangan VVIP tersebut.
...
__ADS_1
Heh, Heh! Mau kemana? LIKE & KOMEN DULU DONG!! Aku pundung nih... :(