
Dimas masuk kedalam kantor kembali, padahal dia sudah pamit pulang beberapa menit yang lalu.
" Suamimu di luar.. " beri tahu Dimas pada Rania yang masih sibuk mengemasi buku nya,
" Mas Aksa? "
" Memangnya suami mu berapa maemunahhh?! pake nanya.. " jawab Dimas sambil menggelengkan kepalanya.
" Tapi dia akan berangkat ke bandara dua jam lagi.. kenapa masih kesini?"
" itu suami mu Ran, wajar saja dia menjemputmu dan ingin bersamamu sebelum dia berangkat.." Dimas sedikit geram.
" dimana ilmu pemahaman mu bu guruuuu.... "imbuh Dimas berlalu pergi.
Aksara memasukkan motor Rania ke dalam garasi,
lalu mengikuti Rania masuk ke dalam rumah.
" Mas sudah makan?" tanya Rania masih memakai seragam nya yang berwarna khaki.
" Belum.. " jawab Aksara sambil memperhatikan Rania yang sibuk melepas Kaos kakinya.
" kalau begitu Mas harus makan.. sebentar sebentar.." Rania berlari ke kamar mandi dan kembali tak lama kemudian.
" Packing bajuku.. nanti saja aku makannya.." ujar Aksara lalu berjalan ke arah kamar mereka, Rania mengikuti Aksara masuk ke kamar.
Padahal Aksara paling tidak suka barangnya di sentuh orang, tumben sekali dia meminta Rania mem packing baju bajunya yang sebenarnya tidak banyak itu.
Aksara duduk di tepi tempat tidur, Memandangi Rania yang memasukkan bajunya satu persatu ke dalam koper.
" sepatunya?" tanya rania melihat 2 pasang sepatu yang belum masuk,
" tinggal saja disini, memangnya aku tidak akan kembali kesini? " jawab Aksara menatap Rania lekat, kesedihan masih terlihat jelas di matanya,
ada sesuatu yang berat sekali untuk di tinggalkan disini.
__ADS_1
Rania menyadari itu, ia duduk di hadapan suaminya itu..
menggenggam tangan Aksara lembut,
" Mas benar benar mau kembali hari ini?" tanya Rania juga berat,
" Aku punya tanggung jawab disana.. meskipun aku tidak ingin kembali aku harus kembali.. " jawab Aksara pelan, hatinya benar benar tidak nyaman membayangkan Rania berada di rumah ini sendirian.
" Aku sebenarnya tidak ingin meninggalkanmu disini.. , aku ingin membawamu bersamaku.. "
Aksara menyentuh pipi kiri rania, tatapan Aksara yang sulit di jelaskan membuat perasaan Rania campur aduk..
wajahnya tiba tiba terasa hangat dan merona.
Meskipun mereka adalah suami istri, tapi Rania tak pernah membayangkan Aksara akan mengatakan hal seperti itu padanya,
di tambah lagi dengan sentuhan dan suara yang lembut.
Apakah karena terpukul atas kepergian Bapak dia bersikap seperti ini.. , tanya Rania dalam hati, ia sedikit ragu..
apalagi sebentar lagi kenaikan kelas.." jelas Rania hati hati,
" Lalu kau mau aku bagaimana..." suara Aksara masih tenang dan lembut,
" Mas adalah kepala keluarga sekarang.. aku akan patuh apapun keputusan Mas, Asal itu baik bagi kita berdua.." jawab Rania sambil mengulas senyum, menenangkan hati Aksara dan hatinya sendiri.
" Jaga dirimu baik baik.. selama aku tidak ada.. " suara Aksara berat, Ia tak henti menyentuh wajah Rania..
setelah memandang Rania cukup lama akhirnya Aksara tak sanggup juga,
ia mencium wanita di hadapannya itu..
perlahan dan lembut.
Rania yang di perlakukan selembut itu tentu saja tidak melawan,
__ADS_1
ia pasrah saja ketika Aksara memindahkan tubuhnya ke pangkuan Aksara.
Keduanya cukup lama berciuman, hingga pelukan Aksara semakin erat dan Rania juga membalas ciuman itu.
Namun Aksara tiba tiba menghentikan ciumannya ketika ia menyadari tangannya sudah meraba ke mana mana.
" Maafkan aku.. " suara Aksara bergetar, ia menyandarkan kepalanya di bahu Rania,
berusaha keras menenangkan hasratnya.
Ia takut menyakiti Rania seperti malam itu, padahal ia sudah berjanji tidak akan memaksa Rania, tapi lagi lagi ia lepas kendali..
Rania pasti kecewa sekali padanya.. pikir Aksara.
" Bagaimana bisa aku meninggalkanmu sendiri disini.. bagaimana aku bisa...
Bapak sudah tidak ada, lalu siapa yang akan menjagamu..?" suara Aksara lemah dan penuh kebimbangan, lagi lagi air mata muncul begitu saja setiap mengingat Bapaknya.
" Ikutlah bersamaku.. kumohon, rasanya dada ku sesak membayangkan mu sendiri dirumah ini..
rania.. ?" Aksara mengangkat kepalanya dan menatap istrinya yang sedang berada di pangkuan nya itu.
Ada kepedihan yang merayapi hati Rania mendengar permohonan Aksara, laki laki yang kemarin kemarin acuh ini.. sekarang memohon padanya dengan ekspresi selemah ini.
Rania pun sebenarnya berat melepas Aksara pergi, sungguh.. ia belum siap sendirian..
Bapak baru 10 hari meninggal, dan sekarang Aksara juga harus pergi.
Bagaimana dia menahan kesepian tanpa Bapak dan Aksara..
" Jangan begini Mas.. jangan begini.." Rania memeluk Aksara, ia tak kuasa menahan kepedihan hatinya,
" cepat kembali.. pulanglah sebelum 40 hari bapak.. "
Mendengar itu Aksara mengangguk pasti,
__ADS_1
" Aku akan dirumah sebelum 40 hari bapak..".