Aksara Rania

Aksara Rania
laki laki harusnya..


__ADS_3

Marlin yang kesal pada kesal pada Aksara tidak masuk sama sekali ke ruangan Aksara, ia bahkan tidak mengajak makan siang seperti biasanya.


Hal itu membuat Farhan geleng geleng kepala,


" Kalau sudah marah kau lebih mirip seorang wanita.. berhenti bicara dan menyapa..


itu bukan hal yang menyenangkan, aku saja benci di diamkan istriku saat dia sedang marah.." komentar Farhan duduk di hadapan Marlin.


" Malas aku sudah, mau nya ku tampar itu, sayang nya perempuan.. tapi di biarkan kelakuannya makin kurang ajar.


Kesal juga aku dengan Aksa,


bodoh itu bisa bisa nya dia diam mendengarkan si ular itu berbicara buruk tentang istrinya?!"


Marlin mengomel, terlihat sekali meski sudah berlalu beberapa hari ia masih kesal.


" Kau tau Aksara itu hanya berusaha tidak membuat masalah yang baru, kalau sampai ada masalah rencananya untuk pindah bisa bisa tidak di ACC.. "


" Aku tau, tapi kesal.. itu istri Aksara juga tidak mau mengalah ikut kesini, dia tidak tau apa bagaimana kalau ada ular yang selalu mengincar suaminya disini?!"


Keduanya diam, cukup lama..


hanya terdengar helaan nafas keduanya yang bergantian.


" Dulu aku juga jauh dari istri.. tapi bukan istriku yang tidak mau ikut, tapi mertua ku yang tidak memperbolehkan..


Masalah sedikit demi sedikit timbul ketika aku mulai lelah, perhatianku sempat hilang saat aku berfikir istriku sengaja membiarkan aku sendiri..


padahal dia juga berharap aku menjemput nya..


andai saja saat itu aku lebih berani meminta istriku dengan tegas pada mertua dan menjemputnya mungkin kami tidak akan bertikai selama setahun lebih..


kalau di suruh mengingat, aku tidak mau mengingat bagaimana aku pernah memaki istriku karena kesalahpahaman, aku menyesalinya..


harapanku Aksara tidak seperti aku dulu..


yang kurang pintar membaca situasi.."


Farhan menyandarkan kepalanya ke bahu kursi.


" Hanya kita yang Aksa miliki disini.. jadi jangan terlalu keras padanya..


aku akan memanggilnya, kita makan siang sama sama.." Farhan bangkit dari duduknya dan berjalan keluar.


Wanita bertubuh tinggi itu melepas sepatunya,


" Dari mana jam segini baru pulang?" tanya laki laki yang tak kalah tinggi dan berwajah menawan, ia tampak muda meski usianya sudah 40 tahunan, kulitnya bersih, penampilannya pun tampak menarik dan rapi.


" Mampir sebentar ke mall"


" jadi setiap hari kau mampir ke mall?, sudahi pemikiran mu yang tidak masuk akal itu.


Kau bukan anak muda lagi, aku tidak bisa terus memaafkan mu hanya demi anak kita.


Aku akan membawa anakku kalau kau tidak bisa berubah"


Suasana hening, si wanita tidak menjawab apapun, ia seperti acuh tak perduli.


" Wulan, aku ini suamimu.. aku sudah cukup menutup mata selama ini, aku bisa menerima jika kau tidak mencintaiku,


tapi tolong, jaga nama baikku sebagai suamimu?! " tegas si laki laki.


" Aku lelah, aku mau istirahat" ujar Wulan berlalu begitu saja di hadapan suaminya.


" Pagi.. " Radit berdiri di depan pagar,


" Lho? pak Radit?" Rania berjalan keluar dan membuka pintu pagar,


" kebetulan saya lewat.. mungkin ini bisa buat cemilan di sekolah.." Radit menyerahkan sekotak brownies pada Rania.


" Aduh?! jangan repot repot pak.. kan Safa sudah tidak disini?" Rania menolak,


" Kan tidak apa apa bu, hanya kue.. di terima saja.. " Radit tersenyum manis,


" ya sudah.. kalau begitu saya terima nggeh pak.."


" harus donk bu.." senyum Radit cerah sekali,


" emhh.. kalau begitu saya berangkat dulu, ibu juga mau berangkat kan?"


" iya pak.. saya mau berangkat, tinggal pakai sepatu.. "

__ADS_1


" apa mau berangkat bareng dengan saya? saya antar sekalian?" tanya Radit semangat,


" tidak usah pak, saya bawa motor kok.. bapak berangkat saja, nanti malah terlambat.." tolak Rania halus,


" ya sudah kalau begitu.. hati hati dijalan bu.." Radit berbalik, menaiki motor nya dan berlalu pergi.


Rania menaruh sekotak brownies itu di atas meja nya,


" Ada jam?" Dimas mendekat dan duduk di kursi, di depan meja Rania.


" nanti, jam ke dua.. " jawab Rania sambil mengeluarkan buku paket dari laci.


" Baik sekali kakaknya Safa, pagi pagi kirim makanan.." gerutu Dimas sambil membuka kotak brownies itu dan memakannya tanpa bertanya.


" lhoo.. ? tau dari mana?" Rania sedikit kaget,


" Aku lewat depan rumah mu, kau saja yang terlalu fokus bicara pada kakak Safa sampai tidak melihatku.."


" owalah.. aku juga kaget dia pagi pagi kerumah.."


" jaga jarak.." ujar Dimas santai namun penuh peringatan,


" suami mu akan membuat ku seperti ayam geprek kalau sampai ada hal hal yang tidak dia inginkan terjadi padamu.." lanjutnya,


" Maksudnya ?" Rania mengerutkan dahi,


" Radit itu sejak awal terlalu perhatian padamu, harusnya tidak begitu Ran..


sewaktu aku mengambil motormu waktu itu dia juga banyak bertanya, dia kira aku suamimu.."


" jangan berfikir buruk Dim, dia hanya merasa berhutang budi karena Safa..


lagi pula Safa mulai minggu depan sudah masuk pesantren.. ku kira ini masih wajar.." Rania tidak berfikir terlalu banyak.


" ya sudah lah.. yang penting aku sudah menasehati mu.." Dimas bangkit karena bel masuk sudah berbunyi.


" Kau tidak usah makan, biar ku bawa ke lapangan.. ku beri ke anak anak.." katanya sambil mengambil sekotak brownies itu dan membawanya pergi cepat cepat.


" Astaga Dim.. Dim.." Rania hanya bisa menggeleng gelengkan kepalanya.


Aksara yang baru saja memejamkan matanya terpaksa harus bangun kembali gara gara HPnya yang berdering.


" posisi?"


" ijin, Bantimurung"


Aksara mematikan HPnya, ia langsung mengambil kunci mobilnya dan berjalan ke arah garasi, sebenarnya ia tak perlu turun tangan langsung, tapi ia tidak suka membiarkan sebuah masalah terlalu lama, jadi mau tidak mau ia harus turut menyelesaikannya, meskipun dengan caranya sendiri.


" Bu, tidak usah masak untuk saya, mungkin saya pulang malam, kunci saja rumahnya seperti biasanya" ujarnya pada asisten rumah tangga yang sedang menyapu teras depan.


Aksara mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Jarak antara rumahnya dan Bantimurung lumayan jauh, sekitar satu sampai satu jam setengah, tergantung kecepatan dan macet atau tidak.


Apalagi hari minggu begini, pasti jalan penuh dengan orang yang sibuk menikmati hari libur.


Sebenarnya ia bisa lebih cepat jika menggunakan motor, tapi panasnya setengah mati.


Karena ia lahir di tempat yang dingin, itu membuatnya tidak begitu tahan dengan panas, namun karena tuntutan pekerjaan..


tidak ada yang bisa dia lakukan dengan cuaca yang terik ini setiap hari.


Panas mulai berkurang memasuki are bantimurung.


Ini adalah area wisata, wisata kupu kupu dan air terjun, mungkin ia bisa mengajak Rania kesini sewaktu waktu, karena suasananya cukup dingin.


Tapi sekarang ia harus menyelesaikan urusannya terlebih dahulu.


Aksara turun dari mobilnya, berjalan ke arah pintu masuk sambil mengotak atik HPnya untuk menghubungi salah satu anggotanya.


" Eh.. kakak..?" terdengar suara perempuan dari balik punggung Aksara,


" iya?" jawab Aksara pada dua orang perempuan berkulit putih dan bertubuh sintal yang memanggilnya.


" eh, itu kak.. boleh minta kita punya nomor ?" dua orang perempuan itu melempar senyum,


" nomor kita?" ulangi Aksa, ' kita' dalam bahasa mereka berarti ' anda' , karena Aksara sudah lama berdinas disini sedikit banyak dia mengerti tata bahasa disini.


" iya mi.. boleh kah..?"


Aksara tersenyum sekilas dan berjalan menjauh begitu saja tanpa menjawab.

__ADS_1


" Ijin!" seorang anggotanya berjalan cepat cepat ke arahnya.


" Dimana?"


" kami amankan di ruangan informasi"


" pindahkan ke mobil.. kita bawa ke kantor.." perintah Aksara dengan tenang.


Aksara melirik Jam tangannya, sudah cukup malam ternyata, dari ruangan sebelah ia mendengar erangan dan permintaan ampun sesekali.


Sambil melihat keluar jendela Aksara menyalakan sebatang rokok,


" Iya Ran?" jawabnya saat tiba tiba Rania menelfon,


" Aku menelfon Mas berapa kali, coba lihat?!" suara Rania sedikit kesal,


" Masa? aku tidak mendengarnya.. "


" memangnya Mas itu dimana sampai sampai nggak bisa dengar suara telfon?"


" Aku dari bantimurung tadi,sekarang aku di kantor.." jawab Aksara sambil menghembuskan asap rokoknya,


" ini kan minggu Mas? sudah malam lagi?"


" Iya.. ada masalah di kantor, sudah makan Ran?" suara Aksara tenang,


" Sudah lah Mas, orang sudah malam begini..


Mas buruan pulang, jangan malam malam.." suara Rania sedikit sewot karena telfonnya di acuhkan berkali kali.


" iya, nanti kalau sudah selesai aku pulang..ya sudah, tidurlah dulu.."


" Ya sudah.. hati hati Mas.."


" tentu saja.., tidurlah yang nyenyak.." Aksara mematikan sambungan telfonnya.


sejam berlalu, Aksara memasuki ruangan sebelah, ia melihat seorang anggotanya yang sudah menghilang selama ber minggu minggu itu babak belur.


" Ijin.. ampun.. ampun...siap salah.." suara laki laki yang terduduk di lantai itu tidak berdaya.


" Siap apa.." suara Aksara tenang sembari duduk di kursi,


" siap salah..." laki laki itu menangis,


" saya tidak akan ulangi.. saya tidak akan sia sia kan istri saya lagi.." entah dia menangis karena memang merasa dirinya bersalah atau karena takut pada Aksara.


" Kan sudah ku tanya baik baik waktu itu..


kau mau baik baik tidak dengan istrimu..


kau jawab iya..


tapi setelah di beri kesempatan kau malah kabur dari kesatuan.." ujar Aksara masih tenang,


" ijin.. salah.. salah.."


" kalau kau sudah berani kabur, berarti kau sudah tidak takut di pecat.. baguslah.. pusing aku punya anggota sepertimu.. "


" ijin.. tidak.."


" sekarang kau bilang tidak.. kemana saja kau ber minggu minggu ini? senang senang?"


Aksara menatap laki laki di hadapannya itu dengan seksama,


" sekarang ku tanya.. kenapa kau perlakukan istrimu seperti itu?" Aksara mendekat, rahangnya mengetat menahan geram.


" laki laki di beri tubuh yang gagah bukan untuk menindas perempuan..


kalau memang kau sudah tidak suka pada istrimu jangan seperti itu kelakuanmu.." suara Aksara tenang namun penuh tekanan.


"Jangan bertingkah seperti pengecut memukuli perempuan lalu lari,


kau pikir masalah selesai setelah kau lari?


sebagai laki laki harusnya kau tau itu!


apa gunanya kau berseragam kalau kau tidak bisa melindungi keluargamu?!! jangankan melindungi..


kau malah menindas nya sedemikian rupa..


kau membuatku malu sebagai atasanmu!".

__ADS_1


__ADS_2