
Aksara terduduk di depan ruang operasi, seluruh tubuhnya lemas, tangan dan kakinya masih gemetar.
" Minum dulu lee.. " om Surya memberi sebotol air mineral pada aksara.
" Tidak om, aku mau lihat istriku dan anakku baik baik saja.."
Om Surya dan tante Irma saling memandang.
" Istri dan anakmu pasti baik baik saja le.." tante Irma yang sebenarnya juga khawatir berusaha meyakinkan Aksara bahwa istrinya akan baik baik saja, karena melihat kondisi Aksara yang sekarang, jika ia sampai mendapat kabar buruk, tante Irma takut keponakannya itu tidak akan bisa menahan emosinya.
" Tante.. bodohnya aku.. andai aku tidak menyusulnya, dia tidak akan terburu buru.." ratap Aksara sembari menutup matanya dengan telapak tangan kanannya.
Bahunya berguncang menahan tangis.
Sedangkan om dan tante Irma hanya bisa diam mendengar itu dan melihat apa yang terjadi, mereka benar benar kehabisan kata kata, mereka juga frustasi, ketar ketir melihat pintu ruang operasi.
" Aku bodoh.. harusnya aku diam menunggunya dirumah..
kalau sampai anak istriku celaka gara gara aku, bagaimana aku bisa menanggung ini semua om, tante?!!"
" wes le.. wess.. berdoa le, berdoa..
tangisanmu tidak ada gunanya tanpa doa..." ujar tante Irma merangkul keponakannya yang sudah tak karu karuan itu, wajahnya pucat, matanya di penuhi kekhawatiran.
Tante Irma rasanya tidak punya hati untuk melihat Aksara yang seperti itu,
kondisinya persis ketika ia kehilangan bapaknya.
Beberapa jam kemudian, pintu ruang operasi terbuka, dua orang perawat mendorong sebuah kotak kaca dimana di dalam nya terdapat seorang bayi.
Aksara bangkit, ia buru buru mendekat.
" Suami dari ibu Rania?" panggil salah satu perawat.
" Saya?!" jawab Aksara tegas, matanya tak henti menatap penuh kekhawatiran pada bayi yang terlihat tenang sekali itu.
" Bagaimana kondisi anak saya??" tanya Aksara,
" Alhamdulillah, putranya sehat.. " jawab si perawat,
mendengar itu mata Aksara berkaca kaca, ada rasa haru yang menyeruak, namun haru itu hilang seketika saat ia mengingat istrinya masih di dalam ruang operasi.
" Lalu bagaimana dengan ibunya??" suara Aksara tertahan.
" Ibunya masih di dalam, nanti saja langsung ke dokter ya.. bayinya kami bawa dulu.." jelas si perawat.
" Tunggu?! boleh saya gendong sebentar?" tanya Aksara penuh harap.
Dua perawat itu saling berpandangan, dan perawat yang lebih senior menganggukkan kepalanya.
" Sebentar saja ya pak.." ujar si perawat.
Dengan bantuan perawat si bayi mungil itu di turunkan di lengan kokoh Aksara.
Di pandanginya putranya itu lekat,
__ADS_1
kepala si bayi bergerak, se akan tau sedang berada di pelukan bapaknya.
" Bismillah.." ucap Aksara menguasai hatinya yang hatinya yang amburadul, perlahan ia mendekatkan wajahnya ke telinga mungil putranya.
Dengan suara pelan namun jelas ia mengumandangkan azdan.
Tante Irma dan Om surya tak bisa menahan rasa harunya melihat pemandangan di hadapannya, bayi itu selamat, dan sekarang sedang berada di gendongan Aksara.
Tak lama setelah Aksara selesai mengumandangkan adzan untuk putranya, ia kembali menyerahkan putranya itu ke pada si perawat.
" Kami bawa ya pak, kalau mau lihat silahkan di lihat dari luar ruangan bayi.." jelas si perawat.
" Biar tante ikut ke sana.. kau disini saja dengan om mu.." ujar tante Irma mengikuti langkah dua perawat itu.
Perasaan Aksara sedikit lega karena telah melihat bayinya baik baik saja.
Sekarang ia harus menunggu kabar lagi dari ruang operasi tentang kondisi istrinya.
Tak lama dokter keluar dari Ruang operasi.
" Istri saya dok?! bagaimana kondisinya??" Aksara mendekat dan langsung bertanya, detak jantungnya berlarian saking takutnya dengan hasil yang akan di katakan dokter.
" Mari ke ruangan saya.." ucap dokter itu sembari berjalan terlebih dahulu.
Aksara memandang om Surya.
" Pergilah.." ujar om Surya.
Aksara mengikuti langkah dokter itu dengan berat hati, beberapa kali ia memejamkan matanya, ia berdoa agar semua baik baik saja.
Ia berusaha duduk setenang mungkin.
Sekuat apapun dia, ia tetap seorang suami yang mencintai istrinya..
apa yang terjadi sekarang adalah sebuah goncangan untuk jiwa Aksara.
" Jangan khawatir.. istri anda akan baik baik saja..
tapi untuk sementara waktu, istri anda hanya boleh berbaring.. mungkin untuk beberapa minggu ke depan..
ada benturan di kepalanya, itu yang menyebabkannya tidak sadarkan diri.." jelas si dokter,
Aksara yang tak tenang bertanya lagi pada dokter, tentang luka luka istrinya yang lainnya dan apakah akan berpengaruh ke depannya.
Dokter yang mengerti dengan kekhawatiran Aksara menjelaskan dengan jelas, luka yang di derita oleh Rania memang sedikit serius, namun tidak akan berpengaruh ke depannya asal Rania berhati hati.
Aksara reflek menyentuh dadanya, rasa lega menyelimuti hatinya, ia tak bertanya apapun lagi, hanya mengangguk patuh akan nasehat nasehat dokter untuk perkembangan kesehatan istrinya.
Kekhawatirannya yang luar biasa akan anak dan kondisi istrinya sudah berangsur sirna sekarang, meski Aksara belum melihat Rania, tapi Aksara cukup yakin dengan kata kata dokter bahwa Rania akan sembuh seperti sedia kala.
Segala syukur pada sang Pencipta ia panjatkan dalam hati,
" Cukup cukup ya Allah.. jangan hukum aku lagi seperti ini..
aku akan lebih menghargainya.. biarkan aku bersamanya hingga kami menua.." ucap Aksara dalam hati.
__ADS_1
Tante Irma melihat Anak Aksara dari balik kaca, ia menangis keras sekali, tampakmua haus..
tante Irma gelisah, ia tak tega..
tangannya Rasanya gatal ingin mengambil anak itu, tapi ada perawat yang berkata, harus menunggu sedikit waktu lagi untuk memberi Aksara junior itu minum.
" Sabar ya bu.." perawat menenangkan.
Tidak ada yang bisa tante Irma lakukan selain menunggu dengan sabar.
Dimas dan Jihan berjalan dengan tergesa gesa, keduanya keluar dari lift rumah sakit dan segera menuju ruangan Rania.
Dimas membuka pintu ruang rawat Rania perlahan.
" Mas?" Dimas melihat Aksara sedang duduk diam memandangi istrinya yang masih terpejam.
" Mas??" panggil Dimas lagi,
Aksara yang sedang melamun itu kaget, ia tak sadar kalau Dimas dan Jihan sudah masuk.
" Dim.." Aksara bangkit dari duduknya,
" sabar ya mas.." ucap Dimas sembari memeluk Aksara, memberi Aksara semangat dan dukungan.
" Terimakasih Dim.." Aksara kembali duduk, ia terlihat menghela nafas berkali kali.
" Bagaimana kata dokter mas?" tanya Dimas,
" alhamdulillah.. tidak ada masalah.. tinggal pemulihan saja.." jawab Aksara tenang,
" lalu? bayi kalian??"
" dia masih di ruangan bayi.." jawab Aksara,
" tapi sehat kan mas??"
" alhamdulillah.. sehat.. "
" alhamdulillah..." ujar Dimas ikut melepas kekhawatirannya.
Jihan mendekat ke arah Rania, menyentuh jemari Rania dengan hati hati.
" Kasihannya..." ucap Jihan dalam hati.
" Terimakasih bu Jihan.. mohon doanya untuk istri saya.." ujar Aksara tiba tiba,
" tentu saja pak.. saya akan berdoa untuk kesembuhan bu Rania.. beliau adalah salah satu teman yang baik.." Jihan tersenyum.
" Tidak ada satu orangpun di dunia ini yang meminta musibah atau hidup susah mas..
ke depannya kalian berdua yang sabar ya mas, jangan mudah menyerah karena kesusahan kesusahan ini.." Dimas menambahi,
Aksara tersenyum dengan wajahnya yang masih sedikit sembab.
" Aku mencintainya Dim.. bagaimanapun dia.." jawab Aksara sembari memandang istrinya yang masih terbaring tak berdaya di atas tempat tidur.
__ADS_1