Aksara Rania

Aksara Rania
Rumah Nanda


__ADS_3

Aksara menatap langit, ia sedikit gelisah..


" seperti mau hujan ya Dim?" Aksara bangkit dan berjalan ke arah pagar, memperhatikan langit beberapa detik, lalu kembali duduk di teras,


" iya e Mas, tiba tiba mendung saja.. Rania bawa mantel nggak ya? Jihan juga bawa mantel nggak ya??" gumam Dimas terdengar oleh Aksara,


" bawa motor semua?" Aksara menatap Dimas serius,


" iya e Mas, lha mau saya antar pake mobil sekolah nggak mau, padahal saya ini sedikit khawatir kalau membiarkan para perempuan itu kerumah orang tua Nanda.."


jawab Dimas sambil menyalakan rokok,


" memangnya kenapa?"


" bapaknya nanda itu sudah terkenal tukang mabuk dan suka memukul orang se enaknya, kelakuannya kayak preman begitu Mas.."


" ya masa dia mau tidak sopan pada guru anaknya? tidak mungkin kan?"


" ah.. nggak tau lagi, sepengetahuan ku dia selalu ngajak ribut orang yang mencampuri urusan nya,"


" lalu kenapa Rania malah kesana?"


" karena nanda sudah tidak masuk 2 hari Mas, biasalah perasaan perempuan.. mereka belum lega kalau belum lihat muridnya itu baik baik saja.. takutnya ada sesuatu pada nanda.. begitu kata Rania dan bu Ina.."


Dimas meminum kopinya, dan sama sama memandang langit seperti aksara.


" kau tau rumah murid mu itu?" tanya Aksara dengan wajah gusar tiba tiba,


" tau Mas.. di tinggal komplek perumahan timur pasar.."


Aksara diam sejenak, ia berfikir pelan dan tenang, namun tetap saja ia tak bisa menyingkirkan rasa khawatirnya.


" Kita lihat saja, hatiku tidak tenang mendengar ceritamu yang seperti itu" Aksara bangkit dan mengambil kunci mobil,


" Ayo..!" Aksara berjalan duluan ke arah garasi tanpa menunggu Dimas,


" Tapi Mas?" Dimas bimbang,


" gausah tapi tapi, kita awasi saja dari luar, kalau tidak ada kondisi yang di khawatirkan kita balik kanan, sekalian beli cemilan.." ujar Aksara sembari masuk ke dalam mobil.


" Mau dia sekolah atau tidak itu urusan saya! dia anak saya!" bentak laki laki berusia 45 tahun itu pada Ina,


Jihan dan Rania yang berada di samping Ina saling memandang,

__ADS_1


mereka ingin pergi tapi mereka tidak tega melihat Nanda yang di tarik masuk ke dalam kamar dan di kunci, padahal Nanda baru berbicara beberapa kalimat pada bu Ina, tapi Ayahnya Nanda yang baru masuk rumah tiba tiba berkata keras dan menarik Nanda masuk, sementara ibu Nanda hanya bisa berdiri di hadapan pintu kamar Nanda sambil menahan isak tangis.


" Kami datang kesini bukan untuk mendengar teriakan bapak.. kami hanya ingin tau kabar murid kami karena dia sudah tidak masuk sekolah 2 hari dan tanpa kabar,


meskipun sebagai orang tua, bapak tidak menunjukkan contoh yang baik pada Nanda.. pantas saja nanda tertekan dan sempat beberapa kali pingsan di sekolah.." Nada Ina masih tenang dan sopan meski dia sudah di teriaki beberapa kali,


" Harapan saya Nanda bisa memperoleh ijin untuk kembali masuk sekolah.." lanjut Ina,


" Telingamu tuli ya?!" tuding Ayah Nanda keras pada Ina,


" jangan Yah??! mereka gurunya Nanda??!" ibu nanda yang sejak tadi diam memberanikan diri menenangkan suaminya yang tampak sudah emosi sekali pada bu Ina,


" berani beraninya ikut campur! kau minta ku hajar?!!!" laki laki itu menampar istrinya ,


" pukul saja sampai puas, asal ijinkan anakku sekolah???" mohon ibu Nanda, bukannya luluh laki laki itu semakin kasar,


ia mendorong tubuh istrinya sampai tersungkur,


" Bapak keterlaluan! kami akan laporkan perbuatan bapak ke pihak yang berwajib!"


tegas Rania memberanikan diri, sementara Ina dan Jihan ketakutan melihat ibu Nanda yang di pukul.


" Kalian ini masuk rumah ku tidak permisi!


Rania mundur selangkah,


" Ran?? jangan Ran, ayo pulang saja?!" Ina memegangi tangan Rania.


" jangan coba coba menyentuh kami, ini negara hukum!" tegas Rania sok berani, ia tidak mungkin menunjukkan ketakutan nya, karena semakin ia takut ia akan semakin di tindas.


" Perempuan ini!" laki laki itu mendorong Rania, namun Jihan dengan cepat menghalangi dan berdiri tepat di depan Rania.


"Brakk!!" Jihan di dorong sampai tubuhnya terlempar dan terbentur kursi kayu,


" Jihan??!!" teriak Rania dan Ina bersamaan keduanya berjalan cepat ke arah Jihan, ingin menolongnya namun ayah nanda itu belum puas, Ia menarik Rania,


" ini yang harus di terima orang yang sudah sok menggurui ku di rumah ku sendiri!" bentak ayah Nanda sembari mengangkat tangannya bertujuan memukul wajah Rania,


" jangan yahh!!!" teriak Istrinya menarik baju dan lengan suaminya, namun lagi lagi ia di tendang.


Rania yang sudah tidak bisa bergerak sebenarnya sangat ketakutan,


tapi tidak ada yang bisa ia lakukan selain pasrah, ia menutup matanya ketika tangan yang besar itu sudah mendekat ke wajahnya.

__ADS_1


" Bugghhhhh!!!!" Satu pukulan,


" Braakkkkk!!!" satu tendangan hingga ayah nanda tersungkur di bawah kursi,


" Sudah Mas?!! sudah Mas?!!!" Dimas memegangi Aksara yang berniat menambah pukulannya pada ayah Nanda yang sudah meringkuk di lantai karena ulu hatinya di pukul dan di tendang oleh Aksara.


Wajah Aksara merah padam, amarahnya meluap luap melihat istrinya di perlakukan dengan kasar.


" Kau berani menyentuh istriku? kau mau mati?" nada Aksara tenang namun wajahnya menyiratkan niat membunuh


" Lihat istrimu Mas?? tenangkan dirimu??" suara Dimas masih menenangkan sembari memegangi pinggang Aksara agar tak mendekat ke arah ayah Nanda, karena Dimas tau, Aksara masih belum puas memukul laki laki itu.


" Jangan menakuti istrimu Mas??!" imbuh Dimas membuat Aksara sedikit tersadar,


emosinya pelan pelan menurun melihat istrinya yang masih menutup mata karena ketakutan.


Rania yang baru saja membuka mata karena mendengar suara Dimas dan Aksara itu terkejut, ia sama sekali tak menyangka melihat suaminya berdiri di hadapannya.


Padahal beberapa detik yang lalu ia mengira dirinya akan terjatuh karena menerima pukulan dari tangan yang besar dan kejam itu.


Siapa yang menyangka Aksara datang di saat yang tepat untuk menolongnya.


" Mas???" suara Rania gemetar, tiba tiba saja air mata yang di tahannya sejak tadi mengalir.


" Sudah, jangan takut.. aku disini.." Aksara sigap memeluk istrinya ketika melihat air mata istrinya itu mengalir deras.


Sedangkan Dimas buru buru membantu Jihan yang masih syok dan terduduk di lantai,


" Pak Dimas..??" suara Jihan lirih, wajahnya pucat pasi,


" Maafkan aku menyuruhmu ikut kesini.." ujar Dimas menyesal melihat kondisi Jihan, tanpa sadar ia menyentuh wajah Jihan lembut,


lalu menggendongnya ke luar dan mendudukkannya di teras depan.


Dimas menggenggam tangan Jihan, itu terasa dingin sekali, seperti bukan tangan seseorang yang hidup, apa karena saking shock nya.. pikir Dimas, ia bahkan tak menangis atau gemetar seperti Rania dan Ina.


" jangan Masuk, diam disini.. sebentar saja.." suara Dimas tenang sembari menyentuh wajah Jihan lagi, ia tak mau jihan semakin syok melihat ayah Nanda yang kesakitan karena pukulan Aksara itu.


Beberapa saat kemudian rumah itu Ramai di datangi ketua RT dan para tetangga karena laporan Dimas,


Aksara yang tidak terima Istrinya di perlakukan seperti itu ngotot akan melaporkan hal ini ke pihak berwajib, Dimas pun setuju dengan hal itu, namun Nanda dan ibunya memohon agar menyelesaikan permasalahan ini secara kekeluargaan.


Aksara yang sudah kesal setengah mati memutuskan akan tetap melaporkan perbuatan ayah Nanda ke pihak berwajib, ia tidak bisa di bujuk oleh siapapun, termasuk istrinya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2